LAPORAN
KERJA LAPANG
BALAI
PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL DAN HIJAUAN PAKAN TERNAK PADANG MENGATAS KABUPATEN LIMA PULUH KOTA
PROPINSI SUMATERA BARAT
OLEH:
Tamrin
Simbolon
E1C014054
Laporan
ini dibuat sebagai syarat lulus Mata Kuliah Kerja Lapang
di
Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
Telah
disetujui oleh Dosen Pembimbing dan Koordinator Mata Kuliah Kerja Lapang
Mengetahui
Dosen Pembimbing Koordinator
Kerja Lapang
Dr. Irma Badarina, S.Pt, M.P
NIP.
197001231997022001
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur atas
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan hasil Kerja Lapangan ini dengan tepat waktu.
Laporan ini
merupakan salah satu tugas yang diberikan pada mata kuliah Kerja Lapang di
Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
Penulis mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada Bapak Ir.Sutriyono, MS, selaku dosen pembimbing Dr.Irma
Badarina, S.Pt, M.P ,dan koordinator mata kuliah yang telah membimbing dan
memberi tambahan ilmu yang bermanfaat untuk menyelesaikan laporan ini.
Dalam
kesempatan ini juga penulis mengucapakan banyak terimakasih kepada semua pihak
di BPTU HPT Padang Mengatas yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya,
yang telah banyak membantu penulis dalam kegiatan kerja lapang di BPTU HPT Padang Mengatas sendiri, dan juga
kepada teman-teman yang telah bekerja sama selama kegiata Kerja Lapangan.
Akhir kata
penulis mengucapkan mohon maaf apabila masih terdapat banyak kekurangan.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa
yang akan datang. Semoga laporan Kerja Lapangan ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Amin.
Bengkulu, February
2017
Tamrin Simbolon
NPM : E1C014054
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kerja
lapangan adalah salah satu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa Jurusan
Peternakan Universitas Bengkulu. Karena kerja lapangan merupakan mata kuliah
wajib. Kuliah lapangan merupakan mata
kuliah yang mempunyai bobot 1 SKS. Dalam hal ini, Kuliah Lapang yang kami lakukan yaitu di Balai Pembibitan Ternak
Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Padang Mengatas. Sehingga calon sarjana
menerapkan teori yang sudah didapat di dalam kelas dan menuangnya di dalam kehidupan
nyata, sehingga ilmu dan pengalaman sebagai calon sarjana dapat bertambah dan
dapat mengoreksi ilmu yang didapat di dalam kelas dengan ilmu yang didapat pada
saat Kuliah Lapang.
Pengembangan
pembibitan sapi potong memiliki potensi yang cukup besar dalam rangka
mengurangi ketergantungan impor produk daging maupun impor bibit sapi potong.
Produk utama peternakan sapi potong adalah daging, baik berupa anak-anak sapi
yang dilahirkan maupun sapi hasil pembesaran dan penggemukan. Sapi Simental
merupakan salah satu jenis sapi potong impor yang biasa dipelihara peternak.
Sapi Simmental dipilih karena memiliki beberapa keunggulan yaitu mudah
beradaptasi didaerah tropis, memiliki pertambahan bobot badan yang cepat serta
produktivitasnya yang tinggi. Sehingga, diharapkan mampu memberikan produksi daging
sapi yang maksimal. Usaha penggemukan sapi cukup menguntungkan apabila
didukung terpenuhinya pakan secara kualitas maupun kuantitas
dengan harga seefisien mungkin. Pakan hijauan saja tidak cukup untuk
penggemukan sapi, melainkan perlu dukungan pakan konsentrat yang memadai.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan
Pakan Ternak (BPTU- HPT) Padang Mengatas merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Indonesia yang berperan
penting dalam penyediaan bibit sapi potong yang berkualitas berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pertanian nomor 292/kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002,
yang memiliki tugas melaksanakan pemuliaan, produksi dan pemasaran bibit sapi
potong yang unggul. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
menerapkan manajemen recording (pencatatan) ternak dalam upaya pembibitan sapi
potong yang baik. Recording sangat penting dilakukan sebagai landasan dasar
untuk mengambil keputusan yang tepat dalam kebijakan peternakan, karena recording
dapat memberikan informasi secara lengkap
terkait semua kegiatan yang dijalankan. Dari hasil recording tersebut
maka dapat dilakukan program pembibitan sapi potong melalui seleksi terhadap
pedet, calon induk dan calon pejantan unggul yang akan digunakan sebagai
replacement stock, sedangkan sisanya dapat diculling atau dipotong.
Adapun
Tujuan Pelaksanaan Kerja Lapang (KL) yaitu:
- Dapat
mengetahui manajemen pemeliharaan, manajemen pembibitan, manajemen
kesehatan ternak, manajemen pakan hijauan dan konsetrat, dan manajemen
sarana dan prasarana di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan
Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas.
- Mampu
mengaplikasikan dan mengembangkan pengetahuan tentang manajemen
pemeliharaan, manajemen pembibitan, manajemen kesehatan ternak, manajemen
pakan hijauan dan konsetrat, dan manajemen sarana dan prasarana di dunia
peternakan dan juga dapat berguna dalam pembentukan pola piker di kalangan
masyarakat.
- Mahasiswa
mampu melatih diri didalam dunia kerja, agar dapat menciptakan kader-kader
sarjana peternakan yang mampu terjun langsung ke masyarakat.
1.3 Manfaat
Kerja
Lapang (KL) ini diharapkan mampu memberikan manfaat antara lain:
1. Dapat
menghubungkan teori-teori yang diperoleh selama kuliah dengan praktik di lapangan,
khususnya manajemen pemeliharaan, pakan, keswan dan pembibitan sapi potong di
BPTU-HPT Padang Mengatas meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,
pengawasan dan evaluasi.
2. Dapat
menganalisis permasalahan yang dihadapi BPTU-HPT Padang Mengatas dan dapat
menemukan solusi pemecahan yang tepat, sehingga dapat diterapkan guna melakukan
perbaikan manajemen recording di masa mendatang.
3.
Meningkatkan hubungan
antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat sehingga
dapat meningkatkan mutu pelaksanan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Manajemen
Manajemen merupakan suatu kegiatan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan yang dilakukan oleh setiap
organisasi guna mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien (Siagian,
2003). Menurut Reksohadiprojo (1992), manajemen bisa berarti fungsi, peranan
maupun keterampilan. Manajemen sebagai fungsi meliputi usaha perencanaan,
perorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan. Manajemen sebagai
peranan adalah antarpribadi sebagai pemberi informasi dan pengambilan
keputusan. Manajemen sebagai keterampilan yaitu teknis, manusiawi dan konseptual.
Handoko (1999) menyatakan bahwa manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi,
karena tanpa manajemen semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan
lebih sulit. Tiga alasan utama diperlukannya manajemen yaitu untuk mencapai
tujuan, untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling
bertentangan dan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas.
Perencanaan
Perencanaan merupakan suatu fungsi manajer
yang mencakup pemilihan kegiatan yang akan dijalankan, bagaimana menjalankan
dan kapan dimulai dan diselesaikannya pekerjaan itu, untuk membantu tercapainya
tujuan organisasi. Perencanaan juga merupakan suatu proses pengambilan
keputusan yang mengandung unsur-unsur fakta, asumsi dan kegiatan yang dipilih
dan akan dilakukan di masa mendatang (Asri dan Suprihanto, 1986). Perencanaan
organisasi mempunyai dua maksud yaitu perlindungan dan kesepakatan (protective
dan affirmative). Maksud protektif adalah meminimalkan resiko dengan mengurangi
ketidakpastian di sekitar kondisi bisnis dan menjelaskan konsekuens tindakan
manajerial yang berhubungan.
Tujuan afirmatif adalah untuk meningkatkan
tingkat keberhasilan organisasi, selain itu tujuan perencanaan adalah membentuk
usaha terkoordinasi dalam organisasi. Tanpa adanya perencanaan biasanya
disertai dengan tidak adanya koordinasi dan timbulnya ketidakefisienan
(Wiratno, 2001).
Pengorganisasian
Perorganisasian merupakan suatu fungsi
manajemen yang dipandang sebagai alat yang dipakai oleh orang-orang atau
anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama secara efektif (Asri dan
Suprihanto, 1986). Pengorganisasian adalah proses membentuk kerjasama antara
dua individu atau lebih dalam sebuah struktur tertentu untuk mencapai tujuan
atau seperangkat tujuan. Tujuan yang berbeda memerlukan struktur yang berbeda, sehingga
diperlukan upaya penyusunan struktur organisasi melalui desain organisasi
(Harsono, 2004). Menurut Handoko (1999), pengorganisasian meliputi 1) penentuan
sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan 2) perencanaan
dan pengembangan organisasi yang akan membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan
3) penugasan tanggungjawab tertentu 4) pendelegasian wewenang yang diperlukan
kepada individu untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
Pengarahan
Pengarahan adalah proses mengarahkan dan
mempengaruhi anggota organisasi secara individual maupun keseluruhan dalam
melaksanakan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan atau seperangkat tujuan
(Harsono, 2004). Fungsi pengarahan secara sederhana adalah untuk membuat atau
mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan harus mereka
lakukan. Fungsi ini melibatkan kualitas gaya dan kekuasaan pemimpin serta
kegiatan kepemimpinan seperti leading, directing, motivating, actuating atau
lainnya (Handoko, 1999).
Pengawasan
Pengawasan didefinisikan sebagai
usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan
standar, rencana atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk
menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil
tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia
dan sumber daya perusahaan lainnya digunakan seefektif dan seefisien mungkin di
dalam mencapai tujuan perusahaan (Wiratno, 2001). Tiga unsur penting dalam
pengawasan adalah standar kinerja, pengukuran kinerja yang telah dilaksanakan
dan perbandingan antara kinerja yang dilaksanakan dengan standar kinerja
(Harsono, 2004). Menurut Reksohadiprojo (1992), faktor-faktor yang menyebabkan
pentingnya pengawasan adalah: 1)perubahan yang selalu terjadi baik di luar maupun
di dalam organisasi memerlukan perencanaan dan tentu saja pengawasan 2)
kekomplekan organisasi memerlukan pengawasan formal karena adanya
desentralisasi kekuasaan 3) kesalahan-kesalahan atau peyimpangan yang dilakukan
anggota organisasi memerlukan pengawasan dan pembenahan.
Evaluasi
Evaluasi merupakan fungsi manajemen yang
terakhir. Evaluasi adalah fungsi untuk mengukur prestasi kerja manajemen.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai pekerjaan yang didapatkan dan
membandingkan dengan apa yang direncanakan semua (Handoko, 1999). Menurut
Widiati dan Santosa (2008), hasil evaluasi ini diperlukan untuk mengadakan
perbaikan bagi kegiatan-kegiatan berikutnya atau mengembangkan gagasan baru
dalam memilih kegiatan-kegiatan baru.
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah
salah satu yang memegang
peranan penting dalam kelancaran proses
belajar mengajar dan peningkatan prestasi akademik siswa (internet). Sarana dan prasaranaadalah semua bentuk perantara yang dipakaiorang untuk
menyebar ide, sehingga ide tersebut bias sampai pada penerima. Prasarana OR: Tempat / ruang,
termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan OR dan penyelenggaraan OR.. Sarana OR: Peralatan / perlengkapan
yang digunakan untuk kegiatan
OR.(hamalik 1980:23)
Sarana dan prasarana OR adalah
suatu kegiatan yang dimanfaatkan dalam melaksanakan pendidikan jasmani yang meliputi
lapangan dan bangunan OR beserta perlengkapan untuk melaksanakan proses belajar mengajar pendidikan jasmani.(soepartono
2006:699)
Sapi
Simmental
Sapi
Simmental (Bos taurus) merupakan bangsa sapi yang memiliki kelebihan mampu
membentuk perdagingan yang baik dan kompak dengan perlemakan yang tidak begitu
banyak, berat badan untuk jantan dewasa bisa mencapai 1000 sampai 1200 kg dan
betina 550 sampai 800 kg, memiliki temperamen jinak, adaptable terhadap
lingkungan Indonesia, menjadikan bangsa ini salah satu pilihan untuk tetap
didatangkan dari luar negeri (Suhada et
al., 2009). Simmental adalah bangsa Bos taurus, berasal dari
daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih
cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe pedaging, warna bulu coklat
kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor
berwarna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang
betina dewasanya 800 kg.
Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong yang mempunyai
volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi
diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang
cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur (Talib dan Siregar, 1999).
Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan sapi potong di
Indonesia dibedakan menjadi tiga, yaitu: intensif, ekstensif, dan usaha
campuran (mixed farming). Pada pemeliharaan ekstensif, ternak dipelihara di
padang penggembalaan dengan pola pertanian menetap atau di hutan (Suryana,
2009).
Pemberian
pakan
Pakan
merupakan sarana produksi yang sangat penting bagi ternak karena berfungsi
sebagai bahan pemacu pertumbuhan. Pakan yang sempurna mengandung kelengkapan
protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral (Iswoyo dan Widyaningrum,
2008). Tersedianya pakan yang cukup jumlah maupun mutunya dan berkesinambungan
merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan
peternakan (Guntoro et al., 2000).
Pemberian pakan yang baik dan manajemen yang efisien diperlukan untuk menjamin
suatu proses reproduksi yang normal dan baik (Endrawati et al., 2010). Pakan hijauan diberikan pada sapi sebanyak 10 – 12 %
dan pakan konsentrat 1 – 2 % dari bobot badan ternak. Pemberian hijauan dapat
dilakukan 2 kali sehari yakni pada pukul 08.00 pagi dan pukul 17.00 sore hari,
sedangkan pakan konsentrat diberikan pagi hari sebelum pemberian hijauan.
Ketersediaan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting
diperhatikan. Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20 – 40 liter/ekor/hari,
namun sebaiknya diberikan secara ad libitum (tidak terbatas) (Syafrial et al., 2007).
Penanganan
kesehatan
Kesehatan
hewan adalah suatu kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusun dan
cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis berfungsi secara normal (Akoso
1996). Kegiatan pencegahan penyakit meliputi memandikan sapi tiga hari sekali
untuk menghindari lalat atau caplak, membersihkan tempat pakan ternak satu kali
sehari, serta membersihkan kotoran dan sanitasi lingkungan sekitar kandang dua
kali sehari. Pencegahan penyakit lainnya berupa pemberian obat cacing untuk
ternak sapi bakalan yang baru datang (Budiraharjo, 2011). Vaksinasi dan
deworming adalah pelayanan kesehatan yang harus dilakukan secara teratur kepada
sapi potong. Kegiatan deworming atau pengobatan cacing juga harus dilakukan
secara teratur untuk membunuh cacing yang berada di tubuh sapi (Nainggolan,
2013).
Perkandangan
Penyediaan
kandang untuk sapi yang digemukkan dimaksudkan sebagai tempat bernaung terhadap
cuaca dan untuk membatasi ruang gerak agar penimbunan daging dan lemak cepat
terjadi serta pertambahan bobot badan lebih cepat. Persyaratan kandang yang
baik yaitu letak kandang terpisah dari rumah dengan jarak lebih dari 10 meter,
kandang harus berada di lokasi yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, untuk
menghindari genangan air pada saat musim penghujan, dibelakang kandang dibuatkan
lobang untuk menampung kotoran ternak, ventilasi kandang cukup baik, lokasi
kandang dekat dengan sumber air, bahan bangunan kandang terbuat dari kayu,
bambu atau bahan lain yang kuat serta kandang dilengkapi dengan tempat pakan
dan tempat minum, peralatan lain seperti sapu, cangkul dan sekop untuk
membersihkan kandang (Syafrial et al.,
2007). Bahan kandang hendaknya dipilih bahan lokal yang banyak tersedia dan
minimal tahan digunakan untuk jangka waktu 5 – 10 tahun. Ukuran kandang untuk
seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m, untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2
m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor (Farida et al., 2010). Secara umum terdapat dua tipe kandang yaitu kandang
individual dan kandang koloni. Kandang individu digunakan bagi satu ekor sapi
dengan ukuran 2,5x1,5m, dibandingkan dengan tipe kandang individual,
pertumbuhan sapi di kandang koloni relatif lebih lambat karena ada energi yang
terbuang akibat gerakan sapi yang lebih leluasa (Nainggolan, 2013).
Pemasaran
Pemasaran
merupakan aspek yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan dalam menjalankan
suatu usaha peternakan. Peternak harus melewati beberapa kegiatan pemasaran
antara lain pengumpulan informasi pasar, penyimpanan, pengangkutan dan
penjualan produk (Rianto dan Purbowati, 2010). Semakin panjang rantai pemasaran
maka semakin besar pula margin pemasarannya (Nurhayati, 2000).
BAB III.
DESKRIPSI BPTU-HPT
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan
Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Kementerian Pertanian Republik Indonesia
dan Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang berperan penting dalam penyediaan bibit
sapi potong yang berkualitas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian
nomor 292/kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002, yang memiliki tugas
melaksanakan pemuliaan, produksi dan pemasaran bibit sapi potong yang unggul.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan manajemen recording
(pencatatan) ternak dalam upaya pembibitan sapi potong yang baik. Recording
sangat penting dilakukan sebagai landasan dasar untuk mengambil keputusan
yang tepat dalam kebijakan peternakan, karena recording dapat memberikan
informasi secara lengkap terkait semua kegiatan yang dijalankan. Dari hasil recording
tersebut maka dapat dilakukan program pembibitan sapi potong melalui
seleksi terhadap pedet, calon induk dan calon pejantan unggul yang akan digunakan
sebagai replacement stock, sedangkan sisanya dapat diculling atau
dipotong.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan
Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas merupakan unit pelaksana teknis di
bidang peternakan yang bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian. BPTU-HPT Padang Mengatas pada awalnya
didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1918 dan ternak yang
digembalakan adalah kuda. Tahun 1935 didatangkan sapi zebu dari India dan berkembang
dengan baik. Namun tahun 1945 sampai 1949 peternakan ini berhenti karena
terjadi pergolakan pada zaman revolusi dan tahun 1950 dibangun kembali oleh
wakil presiden Bapak Dr. H.M Hatta dan dijadikan kembali station peternakan
pemerintah dan diberi nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.
Tahun 1955 sampai 1957, Padang Mengatas
merupakan station peternakan terbesar di Asia Tenggara dan ternak yang
dipelihara adalah kuda, sapi, kambing dan ayam. Namun tahun 1958 sampai 1961
terjadi pergolakan PRRI, dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis
pertahanan PRRI sehingga ITT Padang Mengatas rusak berat. Dibenahi kembali oleh
Pemerintah Daerah Sumatera Barat pada tahun 1961. Tahun 1973 sampai 1974
Pemerintah Jerman mengadakan kajian di ITT Padang Mengatas maka pada tahun 1974
sampai 1978 dilakukan kerjasama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara
pemerintah RI & Jerman melalui proyek Agriculture Development Project
(ADP) untuk pengembangan peternakan. Ternak yang dipelihara adalah sapi Simmental,
Brahman dan Peranakan Ongole.
Tahun 1982, ITT berubah nama menjadi Balai
Pembibitan Ternak/ Hijauan Makanan Ternak (BPT/HMT) Padang Mengatas (SK Mentan
313 Thn 1982) dengan wilayah kerja 3 (tiga) proponsi (Sumbar, Riau dan Jambi).
Tahun 2002, BPT/HMT berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU)
Sapi Potong Padang Mengatas dan pada bulan Mei 2013 berubah menjadi Balai
Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas
dan dijadikan sebagai pusat pembibitan Sapi Simmental, Sapi Limousine dan Sapi
Pesisir.
Visi BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu menjadi
pusat penghasil bibit sapi potong unggul nasional. Misi yang diemban BPTU-HPT
Padang Mengatas yaitu meningkatkan populasi sapi potong, meningkatkan produksi
dan produksi bibit sapi potong, menyediakan bibit sapi potong unggul yang
bersertifikat, melakukan distribusi bibit sapi potong unggul, meningkatkan
kualitas sumber daya manusia aparatur dan pelaku usaha sapi potong,
melaksanakan pelayanan teknis dan jasa di bidang sapi potong, menerapkan
inovasi teknologi sapi potong.
BPTU-HPT Padang Mengatas berlokasi di
Padang Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Propinsi Sumatera
Barat. BPTU-HPT Padang Mengatas berjarak ± 12 km dari Pusat Kota Payakumbuh dan
± 136 km dari Kota Padang, pusat ibukota Sumatera Barat. BPTU-HPT Padang
Mengatas sebelah utara berbatasan dengan Kenagarian Mungo dan Bukit Sikumpar,
sebelah selatan berbatasan dengan Gunung Sago, sebelah timur berbatasan dengan
Dusun Talaweh dan sebelah barat berbatasan dengan Kenagarian Sungai Kamuyang
Timur.
Luas areal BPTU-HPT Padang Mengatas ± 280
Ha dengan ketinggian 700 sampai 900 m DPL, beriklim tropis dan temperatur
berkisar antara 18 sampai 280C (rata-rata 230C). Kelembaban 70% dengan curah
hujan 1800 mm/th. Jenis tanah pedsolik merah kuning dengan tekstur liat, pH
tanah 5,6. Status tanah merupakan milik Negara bersertifikat hak pakai
Kementrian 18 Pertanian No.5 tahun 1997.
Berikut gambar denah lokasi BPTU-HPT Padang
Mengatas:
Plot Padang Penggembalaan (Pastura)
Plot yang ada di BPTU padang
mengatas terbagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah barat dan wilayah timur,
untuk wilayah barat terdapat 1-23 plot dan wilayah timur terdapat dari plot
A-F.
Plot
Wilayah Barat
|
Plot
|
Luas Plot
(Ha)
|
|
I
|
5.23
|
|
II
|
3.2
|
|
III
|
0.75
|
|
IV
|
2.5
|
|
Kebun Koleksi
|
0.5
|
|
VI
|
2.5
|
|
VII barat
|
2.41
|
|
VIII
|
5.09
|
|
IX
|
5.6
|
|
X
|
5.65
|
|
XI
|
8.7
|
|
XII A
|
6.7
|
|
XII B
|
8.9
|
|
XIII Barat
|
6.9
|
|
XIV Barat
|
6.09
|
|
XV Barat
|
6.9
|
|
XVI
|
10.5
|
|
XVII Barat
|
5.43
|
|
XVIII Barat
|
7.1
|
|
XIX A
|
6
|
|
XIX B
|
8.9
|
|
XX
|
5.45
|
|
XXI
|
3.1
|
|
XXII
|
6
|
|
XXIII
|
4.7
|
|
Restorasi
|
0.6
|
Plot
Wilayah Timur
|
Plot
|
Luas (Ha)
|
|
A
|
2.9
|
|
B
|
5.6
|
|
C
|
4
|
|
VII Timur
|
4.66
|
|
XIII Timur
|
5.2
|
|
XIV Timur
|
6.7
|
|
XV Timur
|
8.91
|
|
XVII Timur
|
5.73
|
|
XVIII Timur
|
10.62
|
|
F A
|
15
|
|
F B
|
10
|
Sumber
: BPTU-HPT Padang Mangatas 2016
Dari keseluruhan data plot beserta
luasnya (Ha), Plot yang paling luas yaitu plot F A dengan luas 15 Ha dan plot
yang paling kecil yaitu plot Kebun Koleksi dengan Luas 0.5 Ha. Untuk pemupukan
ke semua plot tolak ukurnya berdsarkan luas plotnya masing-masing. Dan pemberian
pupuknya berdsarkan rumput yang terdapat di plotnya masing-masing.
Struktur organisasi BPTU-HPT Padang
Mengatas terdiri dari Kepala Balai, Sub bagian Tata Usaha, Seksi Pelayanan
Teknik, Seksi Prasarana dan Sarana Teknis, Seksi Informasi dan Jasa Produksi
dan Kelompok Jabatan Fungsional.
Kepala Balai bertanggung jawab memimpin,
mengkoordinasikan dan mengendalikan seluruh pelaksanaan kegiatan balai dan
pembibitan ternak sapi potong. Sub bagian Tata Usaha bertugas melakukan
penyiapan penyusunan program rencana kerja dan anggaran, pelaksanaan kerjasama,
penyiapan evaluasi dan pelaporan serta pelaksanaan urusan kepegawaian,
keuangan, rumah tangga dan perlengkapan.
Seksi pelayanan teknis produksi bertugas
melakukan pemberian pelayanan teknis pemeliharaan bibit ternak unggul yang
meliputi pemeliharaan dan pengawasan bibit ternak unggul antara lain
pemeliharaan dan pengawasan kesehatan ternak, penyediaan pakan ternak, produksi
dan pemuliaan ternak unggul, serta pengelolaan unit pembenihan/ pembibitan,
pemeliharaan produksi dan pengembangan hijauan pakan ternak. Seksi prasarana
dan sarana teknis bertugas melakukan pengelolaan prasarana dan sarana teknis
meliputi instalasi kandang bibit ternak unggul, kebun bibit hijauan pakan
ternak, ladang penggembalaan, sarana teknis dan sarana pendukung. Seksi
informasi dan jasa produksi bertugas melakukan pemberian informasi dokumentasi,
penyebaran dan distribusi bibit ternak unggul dan hijauan pakan ternak.
Kelompok jabatan fungsional terdiri dari
pengawas bibit ternak (wasbitnak), pengawas mutu pakan (wastukan), medik
veteriner dan paramedik veteriner yang bertugas sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Selain itu untuk lebih memudahkan dalam
pembagian kerja, kelompok jabatan fungsional juga dibagi-bagi menjadi beberapa
penanggungjawab seperti penanggungjawab pemeliharaan ternak di kandang,
pemeliharaan ternak di padang penggembalaan, reproduksi ternak, recording ternak,
pakan konsentrat, pakan hijauan pastura maupun rumput potong, kesehatan ternak
dan sebagainya..
BPTU-HPT Padang Mengatas, untuk
menunjang kinerja dan kegiatan produksi
dilengkapi dengan sarana prasarana
yang lengkap. Sarana prasarana tersebut dapat dilihat pada
tabel berikut ini :
Tabel Sarana dan Prasarana
|
No
|
Nama
|
Jumlah
|
|
1
|
Kantor
|
1 unit
|
|
2
|
Gedung
Pertemuan
|
1 unit
|
|
3
|
Aula
|
1 unit
|
|
4
|
Laboratorium
|
2 unit
|
|
5
|
Mess
|
2 unit
|
|
6
|
Rumah
Dinas
|
23 unit
|
|
7
|
Kandang
|
11 unit
|
|
8
|
Gudang
|
3 unit
|
|
9
|
Bengkel
|
1 unit
|
|
10
|
Kendaraan
Roda 2
|
11 unit
|
|
11
|
Kendaraan
Roda 4
|
5 unit
|
|
12
|
Traktor
|
4 unit
|
|
13
|
Hand
Tractor
|
3 unit
|
|
14
|
Hand
Mower
|
2 unit
|
|
15
|
Trailer
|
2 unit
|
|
16
|
Mixer
|
1 unit
|
|
17
|
Copper
|
1 unit
|
|
18
|
Biosecurity
|
1 unit
|
|
19
|
Timbangan
Ternak
|
2 unit
|
|
20
|
Padang
Penggembalaan
|
280 ha
|
|
21
|
Kebun
Rumput
|
17 ha
|
|
22
|
Kebun
Koleksi
|
1 unit
|
|
23
|
Masjid
|
1 unit
|
|
24
|
Kantin
|
1 unit
|
|
25
|
Lapangan
Olahraga
|
1 unit
|
|
26
|
Pos
Satpam
|
1 unit
|
Beberapa sarana dan prasarana yang
ada di BPTU-HPT Padang Mengatas berdasarkan fungsinya masing-masing akan di
jelaskan sebagai berikut:
- Kantor,
merupakan tempat sebagai tolak ukur bagi semua tenaga kerja BPTU-HPT untuk
melaksanakan tugas mereka masing-masing, baik yang bekerja di kantor
maupun di lapangan.
- Gedung
pertemuan, digunakan untuk mengadakan rapat yang diadakan oleh pegaawai
BPTU-HPT Padang Mengatas.
- Aula
atau Gedung Serba Guna, dapat digunakan untuk menerim tamu dalam jumlah
banyak ataupun melaksanakan kegiatan, seperti mengadakan acara-acara dan
kunjungan peternaka.
- Laboratorium,
untuk meneliti segala sesuatu yang berhubungan dengan sapi seperti uji
penyakit yang menyerang sapi, uji kualitas pakan.
- Mess,
digunakan sebagai tempat tinggal yang bersifat sementara baik bagi para
pengunjung maupun siswa/mahasiswa yang melaksanakn magang di BPTU-HPT
Padang Mengatas.
- Rumah
Dinas, sebagai tempat tinggal bagi semua pegawai BPTU-HPT upaya untuk
mempermudah jalannya proses kinerja yang dilakukan para pegawai dan untuk
menunjang kinerja agar berjalan secara baik, teratur dan optimal
- Kandang
di BPTU-HPT Padang Mengatas, terdiri dari kandang tempat sapi yang sakit
yaitu kandang klinik, kandang jepit untuk sapi yang sakit yang akan
ditangani, kandang restorasi untuk melakukan proses ppembibitan dan
produksi. Dari keseluruhan kandang dapat menampung sapi sebanyak lebih
dari 300 ekor.
- Gudang,
adalah sebagai tempat penyimpanan pakan konsentarat sekaligus tempat mixer
konsentrat dan juga gudng sebagai tempat menyimpan alat-alat, seperti
sekop,cangkul,sapu lidi, dan lain-lain.
- Bengkel,
merupakan tempat untuk melakukan service, modifikasi dan perbaikan alat-alat
yang akan digunakan di lapangan.
- Kendaraan
roda dua, digunakan untuk mempermudah para pegawaai melaksaan pekerjaan di
lapangan. Contohnya, melaksanakan pemeliharaan ternak dari kandang satu ke
kandang lainnya.
- Kendaraan
roda empat, untuk mengangkut bibit hijauan dalam jumlah banyak dan sebagai
sarana transportasi.
- Traktor,
digunakan untuk mengantar pakan konsentrat ke kandang dan padang
penggembalaan dan juga pakan hijauan ke kandang, untuk memangkas rumput
yang ada di padang penggembalaan.
- Hand Traktor, digunakan untuk mengolah
dan membajak tanah yang akan ditanami bibit hijauan yag baru.
- Hand
Mower, digunakan untuk memotong rumput khususnya rumput yang ada di
pinggiran jalan.
- Trailer,
digunakan untuk memuat pakan hijauan dan pakan konsentat yang nantinya
akan di bawa oleh traktor.
- Mixer,
merupakan alat pengaduk bahan konsentarat.
- Copper,
digunakan untuk menyacah rumput.
- Biosecurity,
untuk mensterilkan semua kendaraan yang masuk kedalam Balai demi keamanan
lingkugan Balai.
- Timbangan
Ternak, digunakan untuk melakukan proses penimbangan ternak
- Padang
Pengembalaan, sebagai tempat untuk semua ternak sapi yang akan digembalakan
- Kebun
Rumput, yaitu kebun yang ditanami rumput yang nantinya akan digunakan
sebagai pakan hijauan ternak dan sebagai tempat penyediaan pakan hijauan.
- Kebun
Koleksi, yaitu kebun yang ditanami macam-macam jenis rumput yang digunakan
sebagai bahan bibit hijauan.
- Masjid,
digunakan sebgai tempat melaksanakan ibadah bagi semua muslim yang berada
di lokasi Balai maupun sekitarnya.
- Kantin,
yaitu tempat yang sering digunakan oleh para pegawai untuk beristirahat
sekaligus makan maupun minum.
- Lapangan
Olahraga, yaitu sarana yang digunakan para pegawai untuk berolahraga seperti voli, futsal
dan tenis.
- Pos
Satpam, digunakan sebagai tempat petugas keamanan/satpam Balai untuk
menjaga gerbang sekaligus menerima pelaporan setiap orang yang keluar
maupun masuk .
Untuk semua
sarana dan prasarana yang lainnya dapat diketahui tanpa dijelaskan secara
detail tetapi dapat diketahui ketika melakukan pekerjaan secara langsung.
Sebagai tanggapan untuk persediaan sarana yang ada di BPTU dapat dikategorikan
lengkap dan cukup untuk melaksanakan semua proses pekerjaan yang dilaksanakan
dan kelancaran proses pelaksanaannya.
Tenaga Kerja
Tenaga Kerja
di BPTU-HPT Padang
Mengatas diklasifikasikan berdasarkan
Pendidikan dan Golongan.
Tenaga Kerja tersebut
sebagian besar berasal dari
daerah sekitar Padang Mengatas, sedangkan tenaga kerja (karyawan)
yang tempat tinggalnya
jauh dari Balai disediakan Kompleks
Perumahan Dinas untuk menunjang kinerja agar berjalan secara baik,
teratur dan optimal.
Untuk
penjelasan tenaga kerja yang ada di BPTU pada saat ini secara keseluruhan
berjumlah sebanyak 107 tenaga kerja dari semua bidang, teridiri dari 90 orang
PNS dan 17 orang honorer.
PELAKSANAAN DAN KEGIATAN
Jadwal
kegiatan kerja lapangan di Balai
Pembibitan Ternak Unggul Dan Hijauan Pakan Ternak ( HPT ) Padang Mengatas Kabupaten Lima Puluh
Kota Propinsi Sumatera Barat.
|
KEGIATAN
|
Jadwal
kegiatan ( 16 januari s.d 27 januari 2016)
|
|||||||||||
|
16
|
17
|
18
|
19
|
20
|
21
|
22
|
23
|
24
|
25
|
26
|
27
|
|
|
Manajemen
Pemeliharaan, Produksi bibit dan Keswan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Manajemen
Pakan dan HMT
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Manajemen
Sarana dan Prasarana
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Evaluasi
dan pelaporan kerja
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penutupan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jadwal Kegiatan
Masuk/Pulang : 07.30/16.00 WIB
Istirahat : 12.00-13.00 WIB
Keterangan : Kel 1 Warna Biru Muda
Kel 2 Warna Kuning
Kel 3 Warna Biru
Warna Hijau Semua Kelompok dan warna merah
Hari libur.
5.2 Hasil
Kegiatan Kerja Lapang
Kerja
lapangan (KL) di Balai Pembibitan Ternak
Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mangatas, Kabupaten Lima
puluh Kota, Sumatera Barat dilaksanakan
pada tanggal 16 Januari 2017 sampai degan 26 Januari 2017, di BPTU-HPT Padang
Mangatas, Sumatera Barat.
Jadwal
kegiatan kerja lapangan di Balai Pembibitan Ternak Unggul Dan Hijauan Pakan
Ternak ( HPT ) Padang Mengatas Kabupaten
Lima Puluh Kota Propinsi Sumatera Barat.
Jadwal kegiatan Masuk/Pulang
pukul 07.30/16.00 WIB dan Istirahat pukul 12.00-13.00 WIB.
Kegiatan Hari ke-1 ( Senin, 16 Januari
2017)
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 08.30
|
Upacara Bendera
|
Sambutan Dari pihak BPTU HPT
Padang Mangatas.
|
|
08.30 – 10.00
|
Praktik Lapagan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Penggiringan
ternak bunting dari padang pengembalaan ke tempat pemberian konsenrat
2. Pemberian
konsentrat untuk ternak bunting
|
|
10.00 – 12.00
|
Praktik Lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Penggiringan
ternak ke kandang spring
2. Penyemrotan
Caplak
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Diskusi
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Diskusi
Umum dengan drh. Darwis
|
Kegiatan
hari ke-2 ( Selasa, 17 januari 2017 )
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Sanitasi
kandang sapi pesisir
2. Pemberian
konsentrat dan pakan hijauan di sapi pesisir
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Pemotongan
rumput BD
2. Diskusi
Umum dengan drh. Darwis
3. Penanganan
ternak yang terkena kangker mata.
|
Kegiatan
hari ke-3 ( Rabu, 18 Januari 2017 )
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Sanitasi
kandang di sapi pesisir
2. Pemberian
Konsentrat dan pakan hijaunan dikandang sapi pesisir.
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
1. Sanitasi
lingkungan
2. Pengisian
data Recording dikantor fungsional.
|
Kegiatan
hari ke-4 ( Kamis 19 januari 2017)
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Sanitasi
kandang di sapi pesisir
2. Pemantauan
dan pengontrolan sapi pesisir dipadang pengembalaan
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
1. Penimbangan
sapi lepas sapih dikandnag 5
|
Kegiatan hari ke-5 ( jum’at, 22 januari
2017 )
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Pengantaran
Hijauan pakan dari depan kebun koleksi ke kandang sapi pesisir.
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Kuliah
Umum dengan drh. Indah wati, MP
|
Kegiatan
hari ke-6 ( Sabtu, 23 Januari 2017)
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Pengecekan
dan pengontrolan air dari pegunungan
2. Pengecekan
dan pengontrolan pagar listrik.
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Kerja Setengah Hari
|
-
|
Kegiatan
hari Ke-7 (Senin 23 Januari 2017)
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Pemotongan
rumput untuk peremajaan dipeddock timur
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Pengenalan
alat – alat Sarana dan Prasaranaa
|
Kegiatan
hari ke-8 ( Selasa, 24 januari 2017 )
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Perawatan
rumput dipeddock 23
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Membolak
balikan Hay dipeddock 16
|
Kegiatan
hari ke-9 ( Rabu, 25 Januari 2017 )
|
Jam
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Kegiatan yang dilakukan :
1. Mix
konsentrat digedung pakan
|
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
1. Pengambilan
rumput gajah dipeddock 3
2. Penimbangan
ternak yang lepas sapih
|
Kegiatan
Hari Ke-10 (Kamis, 26 Januari 2017)
|
Jam
(WIB)
|
Kegiatan
|
Keterangan
|
||
|
07.30 – 12.00
|
Praktik lapangan
|
Mix konsentrat
digedung pakan
|
||
|
12.00 – 13.00
|
Istirahat
|
Ishoma
|
||
|
13.00 – 16.00
|
Praktik lapangan
|
1. Memanen
Leguminosa jenis Indigofera Aracta disamping gedung penyimpanan pakan
2. Pemberian
Vitamin untuk bill sebanyak 19 ekor dengan Dufhapral Multi.
|
||
BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Populasi Ternak
BPTUHPT Padang mangatas memiliki
3 bangsa sapi yang dipelihara yaitu bangsa sapi
Simmental, Limousin dan Pesisir. Populasi sapi yang dipelihara sebanyak
1200 ekor. Bangsa sapi yang banyak dipelihara di BPTUHPT Padang Mangatas adalah
sapi Simmental.
4.2 Manajemen Recording
Perencanaan
recording di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan oleh Kepala Seksi
Pelayanan Teknis Produksi beserta anggotanya untuk kemudian diajukan kepada
Kepala Balai agar ditindaklanjuti.
-
Sistem Recording
Sistem recording yang
dilakukan di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari dua macam, yaitu recording
secara manual dan recording secara elektrik. Recording secara
manual yaitu pencatatan segala kejadian tentang ternak dengan menggunakan buku
tulis untuk selanjutnya disalin ke dalam Microsoft excel. Sedangkan recording
secara elektrik dilakukan dengan menggunakan microchip untuk selanjutnya
diinput ke dalam website.
Sistem recording
secara manual di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari recording perkembangan
populasi ternak, perkawinan secara Inseminasi buatan (IB), pemeriksaan
kebuntingan (PKB), partus (kelahiran), penyapihan, uji performa ternak
dan pemeriksaan kesehatan, dimana masing-masing data recording tersebut
dicatat dalam satu buku khusus.
Sistem recording
secara elektrik menggunakan microchip terdiri dari 3 komponen utama yaitu: 1) Reader, yang berfungsi sebagai
pembaca, pengisian data, dan pengirim data ke website untuk recording 2)
Eartag/chip, merupakan tag identitas individu ternak yang
berisikan nomor urut penomoran ternak yang di pasangkan di telinga
masing-masing ternak sapi 3) Website, merupakan server untuk mencatat seluruh
kejadian per individu ternak yang dikirim melalui reader.
Langkah-langkah
yang dilakukan dalam recording secara elektrik antara lain:
1.
Pasangkan eartag pada
telinga sapi menggunakan eartag tang sesuai dengan nomor urut, dimana di
dalam eartag tersebut terdapat chip.
2.
Lakukan entri data
individu ternak ke website menggunakan reader. Proses ini harus dilakukan per
individu sapi, karna sapi yang tidak terdaftar di web tidak bisa dilakukan recording.
3.
Item yang bisa
dilaporkan dan dilihat pada website BPTU-HPT Padang Mengatas antara lainanimal
transfer (perpindahan ternak antar plot), Animal treatment (pengobatan
kesehatan hewan), artificial Insemination (IB), feeding (pakan), pregnant
check (pemeriksaan kebuntingan), performance test (uji performan).
Animal
transfer berisi data mengenai
perpindahan sapi dari satu plot ke plot yang lain, dengan demikian akan
mempermudah melakukan kontrol terhadap ternak. Animal Treatment berisi
data mengenai kesehatan dan pengobatan ternak termasuk pemberian dosis per
individu ternak yang mendapatkan treatment tertentu.Artificial
Insemination berisi data tentang inseminasi buatan yang terdiri dari nomor
ternak yang di-IB, Kondisi Birahi, Semen yang digunakan serta tanggal
pelaksanaan IB. Feeding berisi data tentang pemberian pakan ternak baik
hijauan maupun konsentrat. Pregnant Check berisi data tentang umur
kebuntingan, posisi kebuntingan (letak embrio).Performance Test berisi
data tentang pengukuran ternak, antara lain: Panjang badang, tinggi badan,
lingkar dada, lingkar skrotum (jantan) dan penilaian Body Conditions Score (BCS).
Alur input data recording
secara elektrik dilakukan melalui beberapa tahap antara lain
1)
scanning chip
pada individu sapi yang akan dicatat
2)
entri data sapi sesuai
fakta di lapangan antara lain animal transfer (perpindahan ternak antar
plot), treatment ternak (pengobatan kesehatan hewan), artificial
Insemination (IB), feeding (pakan), pregnant check (pemeriksaan
kebuntingan), performance test (uji performan).
3)
upload data recording
sapi yang sudah dientri ke dalam website.
-
Identifikasi
Ternak
Identifikasi
ternak sapi potong di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan dengan pemasangan eartag.
Bagian depan eartag berisi nomor identifikasi ternak yang diurutkan
berdasarkan tanggal lahir maupun tanggal masuk ternak ke Balai, sedangkan di
bagian belakang eartag berisi nomor induk sapi. Pemasangan eartag dilakukan
maksimal 3 hari sampai 1 minggu setelah partus. Untuk sapi yang baru
datang dilakukan karantina di pelabuhan selama 2 minggu, kemudian dilakukan
karantina kembali di Balai untuk adaptasi selama 1 bulan baru kemudian
dilakukan pemasangan eartag dan nomor eartag disesuaikan dengan
nomor urut ternak terakhir di balai
Gambar Eartag (Kanan : Bagian
Depan. Kiri: Bagian Belakang)
Pemasangan eartag
dilakukan dengan cara sapi dibaringkan pada tanah/lantai, kemudian eartag
dipasang dengan menggunakan alat bantu berupa eartag tang, setelah
itu sapi disemprot dengan gusanex untuk mencegah kerumunan lalat. Eartag pada
sapi jantan dipasang pada telinga kanan, sedangkan pada sapi betina eartag dipasang
di telinga kiri.
Gambar
Pemasangan eartag pada pedet
-
Recording Silsilah
Ternak (pedigree).
Recording silsilah ternak di BPTU-HPT Padang
Mengatas dilakukan melalui catatan kelahiran ternak yang memuat informasi
mengenai tanggal lahir ternak, nama bapak dan induk, nomor ear tag anak,
jenis kelamin (sex), berat lahir (BL), panjang badan (PB), lingkar dada (LD)
dan tinggi badan (TB). Recording silsilah ternak dilakukan pada saat
sapi induk mengalami partus dan hanya memuat nama bapak dan nama induk
tidak termasuk nama kakek dan nenek, sedangkan penimbangan berat lahir pedet,
pengukuran tinggi badan (TB), lingkar dada (LD), panjang badan (PB) dan
penentuan jenis kelamin (sex) dilakukan kurang dari 24 jam setelah sapi partus
seperti pada gambar
Gambar
Pengukuran dan Penimbangan Pedet baru lahir
4.3 Proses
Produksi Ternak
Pemilihan Bangsa
BPTU-HPT Padang
Mengatas sejak tahun 1974 telah melakukan pembibitan sapi Simmental.Tahun 2012
mulai melakukan pembibitan sapi Limousine dan tahun 2013 mulai melakukan
pembibitan sapi Pesisir. Alasan dipilihnya sapi Simmental dan limousine karena
memiliki bentuk tubuh yang besar, pertumbuhan cepat, ADG bisa mencapai 2 kg,
daya reproduksinya baik dan secara turun temurun sudah mempunyai daya adaptasi
yang baik di lingkungan tropis, sedangkan pemilihan sapi Pesisir dilakukan
karena sapi Pesisir merupakan aset sapi nasional yang mempunyai daya adaptasi
yang baik, dapat mencerna serat kasar dengan baik dan tidak peka terhadap
penyakit parasit.
Pengadaan Bibit
Sapi induk Limousine
dan Simmental yang digunakan untuk pembibitan di BPTU-HPT Padang Mengatas pada
awalnya adalah sapi impor dari Australia, sedangkan induk sapi Pesisir berasal
dari beberapa Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di Provinsi Sumatera Barat
atau penjaringan sapi masyarakat secara ketat. Proses pembelian induk sapi
tersebut dilakukan secara lelang dengan membentuk tim khusus pengadaan bibit.
Dalam proses pengadaan bibit tersebut dibentuk pula tim khusus seleksi yang
ditunjuk oleh Kepala Balai untuk melakukan seleksi ternak.
Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit sapi
betina dilakukan sesuai standar yang ditetapkan oleh BPTU-HPT Padang
Mengatas.Kriteria yang disyaratkan yaitu bangsa, sifat genetik, bentuk luar dan
kesehatan. Kriteria bibit sapi yang dipilih yaitu:
1.
Mempunyai bulu tebal,
berwarna coklat atau sedikit merah bata, muka, keempat kaki dari lutut sampai
tracak kaki dan ekor berwarna putih (untuk sapi Simmental), bulu tebal berwarna
merah kecoklatan, sekitar mata dan kaki dari lutut ke bawah berwarna agak
terang (untuk sapi Limousine), bulu tipis, warna merah bata kekuningan, bulu
mata terang, kaki dari paha ke bawah berwarna keputih-putihan, rambut ekor
berwarna hitam (untuk sapi Pesisir).
2.
Tidak bertanduk atau
kalau bertanduk sudah harus dipotong (untuk sapi Simmental dan Limousine),
mempunyai tanduk kecil (untuk sapi Pesisir).
3.
Ambing besar dan
keempat puting berbentuk simetris.
4.
Bersertifikat dengan
kualifikasi registered pedigree heifer/bull (untuk sapi Simmental dan
Limousine).
5.
Kaki besar, pendek dan
kokoh, paha sampai pergelangan kaki penuh berisi daging (untuk sapi Simmental
dan Limousine), Kaki kecil, pendek dan kokoh (untuk sapi Pesisir).
6.
Bentuk tubuh segi
empat, pertumbuhan tubuh bagian depan, tengah dan belakang serasi, garis badan
atas dan bawah sejajar (untuk sapi Simmental dan Limousine).
Penjaringan Bibit
Penjaringan
bibit sapi betina dilakukan untuk mendapatkan bibit ternak yang unggul
dilakukan melalui pengamatan, pengukuran, pemeriksaan sampel darah dan
pemeriksaan data sapi bibit.Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan bibit sapi
yang sesuai dengan persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Pengamatan fisik
meliputi: 1) eksterior, pengamatan terhadap performa ternak 2) warna, memilih
warna bulu ternak sesuai bangsanya 3) bentuk badan balok dan punggung lurus 4)
sehat alat reproduksi, dilakukan melalui palpasi rektal. Kondisi yang
diharapkan adalah tidak adanya kelainan vulva, uterus dan serviks serta antara
jarak tulang pelvis longgar 5) kebuntingan, sapi bunting tersebut dibeli pada
umur rata-rata 12 sampai 14 bulan dengan kebuntingan 4 bulan disertai
sertifikat sapi dengan tiga generasi tetuanya yang dikeluarkan oleh Asosiasi
Breeder Australia. Tahun 2014 BPTU-HPT Padang Mengatas berencana membeli calon
induk sapi Simmental sebanyak 75 ekor, sapi Limousine 75 ekor dan sapi Pesisir
55 ekor.
Pemeliharaan
sapi potong di BPTU-HPT padang mengatas tidak hanya dilakukan di kandang saja
tetapi juga dilakukan dengan cara digembalakan. Sapi yang bunting tua (pre partus),
sapi yang melahirkan (partus), sapi yang disapih dan sapi-sapi yang
sakit dipelihara di kandang agar kontrol pada ternak lebih mudah dilakukan,
sedangkan sapi lepas sapih, dara, jantan (calon bull), bull dan
sapi induk betina dipelihara di padang penggembalaan, hal ini dilakukan agar
kondisi sapi yang dipelihara lebih nyaman karena sesuai dengan alamiahnya dan
lebih animal welfare. Selain itu hijauan pakan ternak juga tersedia
secara kontinyu, sehingga diharapkan pertumbuhan sapi menjadi baik dan tidak
mengalami stress.
Jenis sapi yang di pelihara di BPTU – HPT
Padang Mengatas terdiri dari sapi limousin, simental Serta sapi pesisir. Sapi
limousin dan simental merupakan sapi jenis bos taurus yang berasal dari eropa
sedangkan untuk sapi pesisir merupak jenis sapi bos indicus yang bersal dari
india dan merupakan sapi lokal Sumatra Barat serta bertujuan untuk menjaga
kelestarian sapi lokal.
Pemeliharaan sapi potong meliputi sanitasi
atau kebersihan kandang yang biasanya di bersihkan setiap pagi, kemudian
pemberian pakan tambahan berupa konsentrat yang di berikan setiap hari dengan
pemberian sebanyak 1 – 3% dari berat badan sapi dengan formulasi yang terdiri
dari 40% dedak, konsentrat pabrik 40%, bungkil kelapa 16%, garam 2% serta
mineral 2% dengan protein sebesar 14% per ekor sapi.
Pemberian hijauan diberikan setiap hari
yaitu sebanyak 10% dari berat badan sapi dimana jenis rumput yang diberikan
pada sapi yang dikandangkan adalah jenis rumput potong seperti rumput gajah,
rumput raja, rumput setaria dan rumput mexico.serta jenis rumput yang
digembalakan yaitu rumput BD, Bh serta star gress akan tetapi untuk sapi yang
digembalakan biasanya sangat susah di perkirakan berapa banyak pakan yang di
konsumsi karena pakan diberikan secara adlibitum atau tidak terbatas. Untuk
ternak sapi yang digembalakan biasanya dilakukan dengan sistem rotation gress
dimana ternak akan di pindahkan dari plot 1 ke plot selanjutnya sesuai
kebutuhan.
Sapi yang dikandangkan di BPTU – HPT
Padang Mengatas terdiri dari pejantan Bull, sapi induk dan anak, sapi yang
sakit dan sapi karantina yang baru di datangkan dari Australia. Sedangkan untuk
sapi yang digembalakan yaitu sapi bunting, sapi kosong, serta sapi lepas sapih,
dan sapi induk anak.
Pemeliharaan sapi potong tidak hanya
mencakup pemberian pakan dan pembersihan kandang tetapi juga meliputi
pembibitan ternak, kesehatan ternak serta pengontrolan. Pembibitan ternak
mencakup populasi ternak, manajemen recording, perkawinan secara inseminasi
buatan, pemeriksaan kebuntingan yang mencakup partus, penyapihan uji performa
ternak dan pemeriksaan kesehatan.
Pengontrolan ternak dilakukan dengan
cara pemisahan sapi yang beranak, bunting, sapi sakit, sapi dara, sapi kosong
serta sapi yang lepas sapi yang berlansung di kandang restorasi dimana
pemisahan ini berfungsi untuk mempermudah pengontrolan sapi. Sapi yang
dipisahkan akan di lepaskan pada plot – plot yang berbeda kecuali sapi sakit
yang membutuhkan perawatan lebih di kandang klinik dan akan dilepaskan kembali
setelah sapi sehat. Pengontrolsn bertujusn untuk mempermudah pemeliharaan sapi
dan mencegah terjadinya penularan penyakit.
Program kesehatan hewan BPTU-HPT
Padang mengatas meliputi perawatan yang bertujuan untuk pemeliharaan ternak
agar tetap sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Dimana dengan perawatan yang
baik sapi yang dihasilkan akan lebih berkualitas serta menghasilkan bibit
ternak sapi potong unggul yang nantinya mampu mencukupi kebutuhan bibit sapi
unggul di indonesia. Selanjutnya yaitu pencegahan yang dilakukan dengan cara
sanitasi kandang,vaksinasi,pemberian vitamin B12 serta biosecurity. Pencegahan
penyakit juga dilakukan melalui penyemprotan disinfektan berupa obat anti
caplak, dilakukan setiap seminggu dua kali. Bioscurity dilakukan untuk
mencegah masuknya bakteri pembawa penyakit ke dalam lokasi peternakan baik di
kandang maupun padang penggembalaan.
Disinfektan yang digunakan adalah Neguvon. Pencegahan ini dilakukan agar ternak tidak
mudah terserang penyakit.
Selain perawatan dan
pencegahan,pengamatan juga perlu dilakukan agar kita dapat mendiagnosis
penyakit apa yang menyerang ternak sehingga kita dapat menanganinya dengan
tepat. Kemudian penanganan dapat dilakukan secara langsung dengan tim kesehatan
hewan sesuai dengan penyakit yang diderita ternak tersebut.
Pengamatan merupakan kegiatan yang
dilakukan untuk mengamati kondisi kesehatan ternak. Kegiatan ini terbagi
menjadi dua yaitu pengamatan langsung dan tidak langsung. Pengamatan langsung
adalah dengan cara mengamati ternak secara langsung di lapangan dan dilihat
bagaimana kondisinya. Ternak yang sakit biasanya memiliki ciri-ciri, yaitu
selalu menjauh dari kelompoknya karena kalah dalam persaingan pakan, terlihat
lebih lemas dan tidak banyak beraktivitas. Pengamatan tidak langsung adalah
pengamatan melalui data recording kesehatan yang tersaji dalam bentuk
catatan dan softfile di komputer. Jika pada data terdapat tanda-tanda
perubahan yang tidak wajar, maka ternak yang dimaksud akan langsung diperiksa
untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Penanganan dilakukan agar penyakit yang
menyerang sapi tidak menular ke sapi lain,Penanganan secara tepat sangat
penting karna apabila penanganan yang dilakukan tidak tepat dapat berakibat
fatal terhadap sapi,Penanganan dilakukan tergantung penyakit yang menyerang
ternak.Eliminasi dilakukan terhadap ternak yang afkir atau ternak yang
produksinya jelek,biasanya ternak yang afkir akan dijual ke RPH.
·
Pelaksanaan Kesehatan Ternak
Pelaksanaan kesehatan ternak di
BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari perawatan, pencegahan penyakit,
pengamatan, penanganan penyakit dan eliminasi ternak. Perawatan Ternak. Perawatan merupakan
kegiatan yang bertujuan untuk merawat ternak agar tetap dalam kondisi yang
sehat. Kegiatan perawatan di balai meliputi, pemotongan rambut, dehorning, dan
pemotongan kuku. Pemotongan rambut merupakan kegiatan memotong rambut pada
bagian sekitar penis ternak jantan. Kegiatan ini dilakukan pada saat
penimbangan setiap bulan. Tujuannya agar rambut- rambut tersebut tidak
menghalangi keluarnya semen saat pengambilan semen. Dehorning merupakan
kegiatan pemotongan tanduk yang dilakukan pada ternak jantan dan betina pada
umur satu bulan. Tujuan pemotongan adalah untuk mencegah terjadinya luka ketika
ternak-ternak dikumpulkan dalam satu plot atau kandang. Terjadinya luka
biasanya disebabkan ternak- ternak yang suka saling beradu satu sama lain.
Pemotongan kuku merupakan kegiatan memotong kuku-kuku ternak yang sudah panjang
agar tidak mengganggu ternak saat berjalan dan mencegah masuknya kotoran ke
dalam kuku yang dapat menyebabkan terjadinya radang kuku. Kegiatan ini
dilakukan tidak setiap hari, namun melihat kondisi ternak. Jika ada ternak yang
sudah panjang kukunya, baru dilakukan pemotongan.
·
Pencegahan penyakit.
Pencegahan
penyakit pada ternak dilakukan melalui kegiatan sanitasi yang baik, vaksinasi
dan bioscurity. di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan pemberian vitamin B12
pada sapi yang kurus dan terlihat gejala penyakit seperti letih, lemah, lesu.
Pencegahan penyakit juga dilakukan melalui penyemprotan disinfektan berupa obat
anti caplak, dilakukan setiap seminggu dua kali. Desinfektan yang digunakan
adalah Neguvon.
Sanitasi dilakukan dengan membersihkan kandang
dari kotoran ternak dan sisa pakan
Kotoran dan sisa pakan diangkut menggunakan drum untuk digunakan sebagai
pupuk dasar ke lahan penggembalaan dan sisa-sisa kotoran yang masih menempel di
lantai kandang disiram menggunakan air. Pembersihan kotoran dilakukan setiap
pagi mulai pukul 07.30 sampai 10.00 WIB.
Bioscurity di BPTU-HPT Padang Mengatas
terdapat di dekat gerbang balai dan pos satpam. Bioscurity dilakukan untuk
mencegah masuknya bakteri pembawa penyakit ke dalam lokasi peternakan baik di
kandang maupun padang penggembalaan. Ketika kendaraan roda empat masuk melewati
bioscurity, maka satpam akan memencet tombol untuk melakukan penyemprotan
bioscurity pada kendaraan tersebut.
·
Pengamatan.
Pengamatan
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengamati kondisi kesehatan ternak.
Kegiatan ini terbagi menjadi dua yaitu pengamatan langsung dan tidak langsung.
Pengamatan langsung adalah dengan cara mengamati ternak secara langsung di
lapangan dan dilihat bagaimana kondisinya. Ternak yang sakit biasanya memiliki
ciri-ciri, yaitu selalu menjauh dari kelompoknya karena kalah dalam persaingan
pakan, terlihat lebih lemas dan tidak banyak beraktivitas. Pengamatan tidak
langsung adalah pengamatan melalui data recording kesehatan yang tersaji dalam
bentuk catatan dan softfile di komputer. Jika pada data terdapat tanda- tanda
perubahan yang tidak wajar, maka ternak yang dimaksud akan langsung diperiksa
untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
·
Jenis - jenis Penyakit dan
Penanganannya (Lemah)
Lemah
dalam istilah balai adalah kelemahan umum merupakan penyakit yang sering
diderita ternak. Tanda-tanda penyakit ini adalah lesu, demam dengan suhu di
atas 390 oC, dan nafsu makan menurun. Terapi yang dilakukan adalah
dengan pemberian Sulpidon dan Biosalamin. Sulpidon merupakan obat yang efektif
menurunkan panas atau antipiretik, sedangkan Biosalamin merupakan obat yang
berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pemberian obat sesuai dengan
dosis yang dianjurkan.
Defisiensi vitamin merupakan salah satu
penyakit yang sering timbul ditandai dengan demam yang tinggi, lemas, lesu dan
lemah. Terapi yang diberikan adalah dengan Sulpidon dan vitamin. Dosis
pemberian sesuai dengan anjuran. Radang
kuku. Radang kuku merupakan infeksi yang terjadi pada kuku yang luka sehingga
timbul peradangan. Penanganan pertama yang dilakukan adalah membersihkan dengan
Iodiun Tincture, kemudian disemprot dengan Gusanek pada luka. Iodium Tincture
adalah antiseptik yang diberikan sebelum penanganan luka lebih lanjut,
sedangkan Gusanek adalah pembasmi larva pada luka dan mempercepat penyembuhan
luka pada hewan karena mengandung antiseptik.
Ulcus. Ulcus merupakan suatu keadaan patologis yang menimbulkan
kerusakan seluruh lapisan epitel dan jaringan di bawahnya. Penyebabnya adalah
pencabutan kutil, sehingga menimbulkan kerusakan lapisan epitel. Penanganan
pertama yang dilakukan adalah membersihkan dengan Iodiun Tincture, kemudian
disemprot dengan Gusanek pada luka.
Parasit darah adalah penyakit yang disebabkan
oleh babesia yang merupakan parasit obligat intraceluler. Vektor penyakit ini
adalah caplak. Terapi yang dilakukan adalah pemberian Sulpidon, Biosalamin,
Imizol dan Calcidex. Imizol adalah agen anti jamur, sedangkan Calcidex adalah obat
untuk mengatas defisiensi kalsium.
Infeksi sekunder. Infeksi
sekunder infeksi yang awalnya bukan diakibatkan oleh mikroorganisme (misalnya
alergi), namun akibat penanganan yang tidak sesuai maka akhirnya mikroorganisme
turut terlibat di dalamnya. Tanda-tanda yang muncul adalah peningkatan suhu
tubuh hingga lebih dari 390C. Terapi yang dilakukan adalah pemberian Sulpidon,
Hematopan dan Vet-Oxy LA. Hematopan adalah merupakan vitamin yang berguna untuk
menambah stamina, nafsu makan dan mengatas anemia. Vet-Oxy LA adalah obat yang
meredakan infeksi karena mengandung Oxytetracycline.
Myasis adalah kerusakan pada jaringan otot
yang luka akibat belatung yang telah bersarang pada luka. Tanda-tanda Myasis
adalah munculnya belatung pada luka. Penanganan pertama yang dilakukan adalah
membersihkan belatung dari luka, kemudian dibersihkan kembali dengan Iodiun
Tincture, kemudian diolesi dengan Vet-Oxy LA.
Papilloma. Papilloma adalah penyakit kulit atau tumor jinak yang menyerang
kulit. Tanda-tanda penyakit ini adalah munculnya kutil-kutil pada bagian-bagian
tubuh. Penanganan yang dilakukan adalah dengan Ivomex. Fungsi Ivomex adalah
melumpuhkan dan membunuh parasit.
Coccidiosis adalah penyakit parasit yang
menyerang usus disebabkan oleh organisme mikroskopis. Tanda-tanda penyakit ini
adalah diare dengan feses yang konsistensinya encer, kemudian diikuti dengan
demam yang tinggi di atas 390C. Penanganan yang dilakukan adalah dengan
pemberian Sulpidon, Vet-Oxy LA, Sulfa Strong dan Biogreen. Sulfa Strong adalah
membunuh mikroorganisme yang peka terhadap sulfa. Colibacilosis. Colibacilosis adalah penyakit
infeksius yang disebabkan oleh Eschericia coli. Gejala awal yang terjadi hampir
sama dengan coccidiosis, yaitu diare dengan feses yang konsistensinya encer,
kemudian diikuti dengan demam yang tinggi di atas 390 C. Penanganan yang
dilakukan adalah dengan memberikan Colibact dan Biogreen. Colibact adalah
kombinasi sulfadiazine dan trimethoprim yang efektif dan bekerja saling
menguatkan (potensiasi) dengan hasil peningkatan efek antibakteri yang sangat
tinggi/bakterisidal.
Cervicitis adalah peradangan pada serviks
atau leher rahim. Tidak ada gejala-gejala khusus yang timbul pada ternak jika
terkena penyakit ini. Terapi pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan
palpasi rektal, jika ditemukan pembekakan pada servik, maka diobati dengan
Metritin. Metritin adalah obat yang digunakan untuk mengurangi pembekakan pada
cervik. Abses. Abses merupakan koleksi
tertutup nanah pada jaringan, organ atau ruang terbatas pada tubuh. Tanda-tandanya
adalah munculnya pembekakan yang mengandung nanah dan meradang. Penanganan yang
dilakukan adalah mencukur rambut pada
bagian abses, kemudian tusuk Abses, cairan nanah dikeluarkan. Iodium Tincture
cair dimasukan kedalam Abses ditambah PenStrep LA, kemudian semprotkan Gusanek
pada luka. PenStrep LA merupakan kombinasi antibiotik paling aman dan ampuh
untuk pengobatan radang. Eliminasi ternak.
Eliminasi ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan apabila ternak
terserang penyakit berbahaya dan menular serta tidak dapat dilakukan penanganan
lagi seperti Brucellosis, antraks dan IBR. Apabila tidak dilakukan eliminasi
maka akan berdampak buruk pada penularan penyakit pada sapi- sapi yang lain.
Dari hasil kerja lapang yang dilakukan pada
tanggal 15-30 Januari 2015 di BPTU-HPT Padang Mengatas didaerah Kecamatan Luak
Kabupaten Lima Puluh Kota Payakumbuh Sumatera Barat, bahwa bahan pakan yang
digunakan di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri atas rumput padang penggembalaan
dan rumput potong, selain juga diberikan pakan tambahan yaitu konsentrat.
Waktu
Sapi yang ada di kandang diberikan hijauan
2 kali dalam sehari, yaitu pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB dan sore hari
sekitar pukul 15.00 WIB. Sedangkan pemberian konsentrat dilakukan pada sekitar
pukul 08.30 WIB. Jadi konsentrat diberikan terlebih dahulu sebelum hijauan.
karena konsentrat mengandung protein yang tinggi. jika hijauan diberikan
terlebih dahulu ada kemungkinan ternak tidak mau lagi memakan konsentrat karena
telah kenyang duluan sedangkan protein yang terkandung dalam konsentrat lebih
tinggi dari pada hijauan. konsentrat keseluruhan mengandung 14% protein.
Hijauan Pakan Ternak
Jenis rumput hijauan pakan ternak ada dua
macam yaitu :
1. Rumput
Potong.
2. Rumput
Padang Penggembalaan.
Rumput potong yaitu rumput mexico (Eucaena mexicana), rumput gajah (Pennisetum purpereum), rumput raja ( Pennisetum purpuides), rumput setaria (setaria spacelata), dan rumput benggala
(Panicum Maximum). tapi yang ditanam
di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas adalah rumput gajah, rumput raja dan
rumput benggala. Kandungan PK rumput benggala 10,9%, rumput gajah PK 8,69%.
Rumput padang penggembalaan antara lain
rumput karpet (Axonopus compressus),
rumput BD (Braciaria decumbens),
rumput BH (Braciaria humidicola),
rumput signal (Cinodon Dactilon) dan
rumput bintang (Star grass), yang
ditanam dan dipergunakan di BPTU-HPT ini adalah rumput karpet dan BD. Kandungan
PK rumput karpet 8,15%, rumput BD PK 9,83%, rumput signal PK 10,2%, star grass
PK 10,7%.
Sedangkan
legum ada dua jenis yaitu :
1. Legum
Pohon.
2. Legum
Menjalar.
Legum menjalar antara lain adalah
putri malu (Mimosa pudica), kacang
arcis (Aracis pintoi), sentro (Centocema pubescen), Stilo (stylocantes) dan
Desmodium. Yang ada dan digunakan di BPTU-HPT adalah kacang arcis, sentro dan
siratro. Kandungan PK sentro 16,8%, stilo PK 15,6%, desmodium PK 16,7%. Tanaman
tersebut dijadikan bibit dan dijuual ke masyarakat yang membutuhkan seharga Rp
250.000 per kg. Legum pohon terdiri dari
lamtoro (Leucaina Leucochephala), turi (Sesbania glandifora), indogo
(Indigofera arrecta), gamal (Gliricidae maculata), kaliandra (Kaliandra).
Kandungan PK lamtoro 24,2%, turi PK 29,2%.
Jenis-jenis rumput yang diberikan pada
ternak sapi simental dan limousine yaitu rumput gajah (Penisetum purperium), rumput raja (Penisetum purpoides), rumput benggala (Panicum maximum) dan legum yaitu sentrosema (Sentrosema pubescens) dan lain sebagainya yang akan di cacah
menggunakan mesin pencacahan yaitu mesin cooper. pencacahan tersebut bertujuan
untuk memudahkan ternak mencerna hijauan. dalam sehari hijauan yang dicacah
sebanyak 3 ton sedangkan seekor ternak sapi membutuhkan hijauan sebanyak 10 %
dari berat badannya.
Rumput yang ada di padang penggembalaan
yaitu rumput BD (Braciaria decumbens).rumput
tersebut sangat cocok di daerah Padang Mengatas yang berada di dataran tinggi
hal ini sesuai dengan pernyataan Miles et al., 1996 bahwarumput Brachiaria
Decumbens ditanam pada padang penggembalaan permanen dan sistem cut and carry.Ditanam
sebagai penutup tanah yang digembalai pada perkebunan dan sebagai penutup yang
baik untuk menahan erosi pada daerah yang miring.
Konsentrat
Formulasi ransum yang ada di BPTUHPT Padang
Mengatas berupa dedak padi 40%, dengan kandungan PK 13%, konsentrat pabrik 162
sebanyak 40%, mix cattle 2%, mineral 2% dan bungkil kelapa 16% dan mengandung
PK 21,3% yang dicampur kedalam mesin mixer selama 30 menit. Fungsi mineral untuk sapi potong :
Pertumbuhan
sapi.
Perkembangan
reproduksi, baik itu sapi perah maupun sapi potong.
Membantu
metabolisme protein.
Katalisator.
Biosintesa
zat-zat makanan esensial.
Kosentrat adalah
campuran bahan-bahan makanan yang dicampur sedemikian rupa sehingga menjadi
suatu bahan makanan yang berfungsi untuk melengkapi kekurangan gizi dari bahan
makanan lainnya (hijauan). Pakan konsentrat mempunyai kandungan serat kasar
rendah dan mudah dicerna. Pemberian pakan konsentrat per ekor per hari ± 1%
dari berat badan. Selain itu konsentrat mempunyai fungsi yaitu :
·
Untuk hidup pokok/ mempertahankan
kelangsungan hidup.
·
Untuk berproduksi/pertumbuhan.
·
Untuk reproduksi sapi bunting.
Pakan sangat berpera dalam
menentukan sukses atau tidaknya dalam peternakan sapi karena pakan adalah
kebutuhan utama sapi. Dalam pakan ternak sapi terdapat berbagai macam nutrisi
yang diperlukan dalam kelancaran pertumbuhan dan perkembangbiakan.
Dedak padi yang berkualitas baik protein
rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4 %, lemak 13,6% dan serat kasar 11,6%.
Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung.
Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. berikut ini
merupakan tabel komposisi pakan hijauan dan konsentrat yang ada dan digunakan
di BPTUHPT Padang Mengatas.
Tabel Kandungan Zat Makanan
|
Bahan Pakan
|
BK (%)
|
Kandungan
|
||||||
|
PK(%)
|
LK(%)
|
SK(%)
|
BETN(%)
|
CA(%)
|
P(%)
|
TDN(%)
|
||
|
Brachiaria decumbens
|
27,5
|
9,83
|
2,36
|
28,9
|
51,8
|
0,240
|
0,180
|
61,7
|
|
Axinopus compressus
|
26,8
|
8,15
|
1,84
|
29,3
|
50,1
|
0,343
|
0,130
|
57,4
|
|
Cynodon dactylon
|
30,6
|
10,2
|
2,28
|
29,7
|
46,9
|
0,417
|
0,253
|
57,4
|
|
Star grass
|
27,1
|
10,7
|
2,03
|
33,5
|
45,1
|
0,324
|
0,284
|
55,8
|
|
Panicum maximum
|
23,6
|
10,9
|
2,43
|
32,9
|
41,3
|
0,618
|
0,268
|
53,6
|
|
Pennisetum purpureum
|
22,2
|
8,69
|
2,71
|
32,3
|
43,7
|
0,475
|
0,347
|
52,4
|
|
Centrocema pubescens
|
24,1
|
16,8
|
4,04
|
33,2
|
36,5
|
1,20
|
0,377
|
60,2
|
|
Stylosanthes spp
|
21,4
|
15,6
|
2,09
|
31,8
|
41,6
|
1,16
|
0,424
|
59,8
|
|
Dedak padi
halus
|
87,5
|
13,0
|
8,64
|
13,9
|
50,9
|
0,079
|
1,23
|
|
|
Bungkil
kelapa
|
88,6
|
21,3
|
10,9
|
14,2
|
45,4
|
0,165
|
0,616
|
|
Fungsi dari cattle mix adalah melengkapi
kebutuhan temak akan vitamin dan mineral, mencegah terjadinya hypocalcaemia
& grass tetany, mencegah defisiensi vitamin dan mineral, meningkatkan
produktivitas (kesuburan) dan stamina tubuh. Kemudian ransum yang sudah
tercampur rata dimasukkan ke dalam karung yang beratnya 30 kg. Dalam sehari
sapi yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas memerlukan sebanyak 1.471 kg untuk
935 ekor.
Pemberian pakan untuk sapi yang bunting,
beranak dan yang sakit diberikan lebih banyak dibandingkan ddengan ternka yang
ada di padang gembalaan karena lebih banyak membutuhkan nutrisi untuk menunjang
pertumbuhan berat badan dan kesehatannya. Sapi yang ada di padang gembalaan
juga diberikan konsentrat dengan cara digiring ke kandang restorasi sekalian
untuk mengontrol kesehatan ternak tersebut. Kemudian sapi yang berada di plot
atau padang penggembalaan yang cukup jauh pemberian konsentrat diberikan dengan
cara diantarkan menggunakan kendaraan traktor lalu konsentrat tersebut
ditebarkan di padang penggembalaan. Selain
itu juga untuk pemberian pakan pada ternak sapi pesisir hanya diberikan pakan
konsentrat satu kali dalam seminggu yaitu pada hari jumat.
Konsentrat pada umumnya dibutuhkan oleh
ternak sebanyak 1%, selain yang disebutkan diatas berikut ini adalah kosentrat
tambahan beserta tambahannya :
·
Yodium,
untuk membantu perkembangan otak dengan cara membentuk zat tirosin pada
kelenjar tiroid.
·
Flour,
untuk membentuk lapisan email gigi yang melindungi dari segala macam gangguan
pada gigi.
·
Sulfur
untuk membentuk protenin di dalam tubuh.
·
Natrium, untuk membentuk garam di dalam
tubuh dan untuk menghantar impuls dalam serabut syaraf dan tekanan osmosis pada
sel yang menjaga keseimbangan cairan sel dengan cairan yang ada di sekitarnya.
·
Kalium,
untuk aktivitas otot jantung.
·
Kalsium,
untuk kekuatan tulang dan gigi serta otot.
BPTU-HPT Padang Mengatas terdapat dua
bagian plot padang pnggembalaan yaitu plot barat dan plot timur. Plot sebelah
barat terdiri dari plot 1 – 23 sedangkan plot bagian timur terdiri dari plot A
– F dengan masing masing ukuran plotnya bervariasi antara 5 – 12 ha. Jenis
tanah yang ada di BPTUHPT ini adalah plot sholit merah kuning. Luas lahan keseluruhan
yaitu 280 ha.
Budidaya HPT :
·
Pembersihan lahan
·
Pengolahan tanah
·
Pengasaman
·
Pemberian pupuk kandang
·
Penanaman
·
Penyiangan
·
Pemupukan
·
Pemanenan
Kesimpulan dari Kerja Lapang ini adalah :
- Untuk
menghasilkan bibit ternak yang unggul dan sehat diperlukan manajemen atau
tata laksana
yang baik pula yang meliputi manajemen pemeliharaan, sarana dan prasarana,
pakan dan konsentrat, kesehatan serta
produksi bibit ternak.
- Pengetahuan
tentang manajemen tata laksana yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas sangat
berguna dan dapat diaplikasikan ke
masyarakat khususnya mahasiswa peternakan Universitas Bengkulu.
- Sebaiknya susunan ransum yang ada di
BPTU-HPT
Padang Mengatas lebih disesuaikan lagi berdasarkan kebutuhan ternak
seperti ternak yang bunting, beranak, sakit atau dalam kondisi fisik yang
lemah.
- Sebaiknya dilakukan vaksinasi sesuai
waktu dan umur ternak untuk menunjang kesehatan ternak itu sendiri.
Asri, M dan
J. Suprihanto. 1986. Manajemen Perusahaan Edisi 1. BPFE. Yogyakarta..
Budiharjo, K., M. Handayani dan G. Sanyoto.
Analisis profitabilitas usaha penggemukan sapi potong di kecamatan Gunung Pati
kota Semarang. Fakultas Peternakan Univrsitas Diponegoro. Semarang. J 7 (1) :
1-9.
Dwiyanto, K. 2003. Pengelolaan Plasma
Nutfah Untuk Mendukung Industri Sapi Potong Berdaya
Saing. Proc. Seminar Pengembangan Sapi Lokal. Fakultas Peternakan. Universitas Gajah Mada.
Endrawati, E., E. Baliarti dan S. P. S.
Budhi. 2010. Peformans induk sapi silangan Simmental peranakan ongole dan induk
sapi peranakan ongole dengan pakan hijauan dan konsentrat. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah mada. Yogyakarta. Buletin Peternakan 34 (2) : 86-93.
Guntoro, B., S. Nurtini, A. Musofie, dan N.
Kusumawardhani. 2000. Penilaian teknologi untuk produksi sapi potong rakyat di
Kabupaten Bantul. Research Report. Lembaga Penelitian Universitas Gadjah
Mada,Yogyakarta.
Hadi, P. U
dan N. Ilham. 2002. Problem dan Prospek Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi Potong di Indonesia. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Hamalik.
1980. Manajemen Edisi 2. BPFE.
Yogyakarta.
Handoko dan apakan
kosentrat, H. 1999. Manajemen Edisi 2. BPFE.
Yogyakarta.
Hikmah, Z., Zuraida, R. dan R.S. Eni.2002. Analisa
Kelayakan Usaha Ternak Sapi Potong Melalui Perbaikan Manjemen Pada Kelompok
Ternak Kawasan Baru. Seminar nasional teknologi peternakan dan Veteriner.
Iswoyo dan P. Widyaningrum. 2008. Peformans
reproduksi sapi peranakan Simmental (psm) hasil inseminasi buatan di kabupaten
Sukoharjo Jawa Tengah. J Ilmu Peternakan 11 (3) : 125-133.
Laporan hasil BPTU Sapi potong Padang
Mengatas 2009
Merkel, J.A. 1981. Managing Livestock
Wastes. West Port. Connecticut : AVI Pubilshing Company Inc.
.
Mersyah, R. 2005. Desian Sistem Budidaya
Sapi Potong Berkelanjutan Untuk Mendukung Pelaksanaan
Otonomi Daerah di Kabupaten Bengkulu Selatan. Disertai, Sekolah pasca Sarjana, Institut
Pertanian Bogor.
Nurhayati. 2000. Analisis efisiensi
pemasaran ternak sapi siap potong di Kabupaten Grobogan. Tesis. Program Pasca
Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Partodihardjo,S., 1980. Ilmu Reproduksi
hewan. Mutiara. Jakarta.
Pola
Kemitraan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan.
Banjarbaru.
.
Prihandini, P. W dan U. Umiyasih. 2008.
Pembibitan Sapi Lokal (PO) di Peternakan Rakyat
Rakor Kegiatan .2016. Membangun
Komitmen antara Bidang Sarpras, Pertanian dan Penyuluh se-Kabupaten Pandeglang:
Banten
Reksohadiprojo, S. 1992. Dasar-dasar
Manajemen. BPFE. Yogyakarta.
Rianto, E. dan E. Purbowati. 2010. Panduan
Lengkap Sapi Potong. Cetakan ke 2. Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiawan, A., T. Benito dan A. H. Yuli.
2013. Pengelolaan limbah ternak pada kawasan budidaya ternak sapi potong di
kabupaten Majalengka. Fakultas Peternkan, Universitas Padjadjaran. J Ilmu
Ternak 13 (1) : 24-30.
Siagian, R. 2003. Pengantar Manajemen
Agribisnis. UGM Press. Yogyakarta.
Soeparno.1992. Ilmu dan Teknologi Daging.
Gadjah Mada University Press,Yogyakarta.
Soepartono. 2006. Bahan Ajar
Perencanaan dan Evaluasi Proyek Peternakan. Fakultas Peternakan UGM.
Yogyakarta.
Stiadi, D. 2011. Memilih Bakalan Sapi Untuk
Di Gemukan. Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukra. Sukra.
Sugeng, Y.B., 2003. Pembiakan Ternak Sapi. Gramedia.
Jakarta.
Suhada, H., Sumadi dan N. Ngadiyono. 2009.
Estimasi parameter genetic sifat produksi sapi Simmental dibalai pembibitan
ternak unggul sapi potong Padang Mangatas, Sumatera Barat. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah mada, Yogyakarta. Buletin peternakan 33 (1) : 1 -7.
Suryana.
2009. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis dengan Pola
Kemitraan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan.
Banjarbaru.
Susanty, I. 2009. Pengelolaan Biogas
Sebagai Mesin Listrik dan Kompor Rumah Tangga. Badan Penelitian dan
Pengembangan Daerah (BALITBANGDA) Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar.
Talib, C. dan A.R.
Siregar. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pedet PO dan
crossbrednya dengan Bos indicus dan Bos taurus dalam pemeliharaan tradisional. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan
Veteriner. Puslitbangnak. Bogor.
Widiati, R
dan K. A. Santosa. 2008. Bahan Ajar Perencanaan dan Evaluasi Proyek Peternakan. Fakultas Peternakan UGM.
Yogyakarta.
Winugroho M. 2002. Strategi Pemberian Pakan
Tambahan Untuk Memperbaiki Efisiensi Reproduksi
Induk Sapi. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 21. No 1.
Winugroho M. 2002. Strategi Pemberian Pakan
Tambahan Untuk Memperbaiki Efisiensi Reproduksi
Induk Sapi. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 21. No 1.
Wiratno, M. 2001. Pengantar Kewiraswastaan.
BPFE Yogyakarta.