Senin, 15 Mei 2017

LAPORAN KERJA LAPANG BPTU-HPT PADANG MENGATAS 2017

LAPORAN KERJA LAPANG

BALAI PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL DAN HIJAUAN PAKAN TERNAK  PADANG MENGATAS KABUPATEN LIMA PULUH KOTA PROPINSI SUMATERA BARAT

 

OLEH:
Tamrin Simbolon
E1C014054

Laporan ini dibuat sebagai syarat lulus Mata Kuliah Kerja Lapang
di Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing dan Koordinator Mata Kuliah Kerja Lapang

Mengetahui

Dosen Pembimbing                                                              Koordinator Kerja Lapang


Dr. Irma Badarina, S.Pt, M.P
NIP. 197001231997022001



KATA PENGANTAR

            Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan  karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil Kerja Lapangan ini dengan tepat waktu.
Laporan ini merupakan salah satu tugas yang diberikan pada mata kuliah Kerja Lapang di Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.
          Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Ir.Sutriyono, MS, selaku dosen pembimbing Dr.Irma Badarina, S.Pt, M.P ,dan koordinator mata kuliah yang telah membimbing dan memberi tambahan ilmu yang bermanfaat untuk menyelesaikan laporan ini.
Dalam kesempatan ini juga penulis mengucapakan banyak terimakasih kepada semua pihak di BPTU HPT Padang Mengatas yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya, yang telah banyak membantu penulis dalam kegiatan kerja lapang  di BPTU HPT Padang Mengatas sendiri, dan juga kepada teman-teman yang telah bekerja sama selama kegiata Kerja Lapangan.
Akhir kata penulis mengucapkan mohon maaf apabila masih terdapat banyak kekurangan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang. Semoga laporan Kerja Lapangan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.




                                                                                                Bengkulu,   February  2017

                                                                                                  

Tamrin Simbolon
                                                                                                 NPM : E1C014054







BAB I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kerja lapangan adalah salah satu kegiatan yang wajib dilakukan oleh mahasiswa Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu. Karena kerja lapangan merupakan mata kuliah wajib. Kuliah lapangan  merupakan mata kuliah yang mempunyai bobot 1 SKS. Dalam hal ini, Kuliah Lapang yang  kami lakukan yaitu di Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Padang Mengatas. Sehingga calon sarjana menerapkan teori yang sudah didapat di dalam kelas dan menuangnya di dalam kehidupan nyata, sehingga ilmu dan pengalaman sebagai calon sarjana dapat bertambah dan dapat mengoreksi ilmu yang didapat di dalam kelas dengan ilmu yang didapat pada saat Kuliah Lapang.
Pengembangan pembibitan sapi potong memiliki potensi yang cukup besar dalam rangka mengurangi ketergantungan impor produk daging maupun impor bibit sapi potong. Produk utama peternakan sapi potong adalah daging, baik berupa anak-anak sapi yang dilahirkan maupun sapi hasil pembesaran dan penggemukan. Sapi Simental merupakan salah satu jenis sapi potong impor yang biasa dipelihara peternak. Sapi Simmental dipilih karena memiliki beberapa keunggulan yaitu mudah beradaptasi didaerah tropis, memiliki pertambahan bobot badan yang cepat serta produktivitasnya yang tinggi. Sehingga, diharapkan mampu memberikan produksi daging sapi yang maksimal. Usaha penggemukan sapi cukup menguntungkan apabila didukung terpenuhinya pakan  secara kualitas maupun kuantitas dengan harga seefisien mungkin. Pakan hijauan saja tidak cukup untuk penggemukan sapi, melainkan perlu dukungan pakan konsentrat yang memadai.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU- HPT) Padang Mengatas merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Indonesia yang berperan penting dalam penyediaan bibit sapi potong yang berkualitas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 292/kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002, yang memiliki tugas melaksanakan pemuliaan, produksi dan pemasaran bibit sapi potong yang unggul. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan manajemen recording (pencatatan) ternak dalam upaya pembibitan sapi potong yang baik. Recording sangat penting dilakukan sebagai landasan dasar untuk mengambil keputusan yang tepat dalam kebijakan peternakan, karena recording dapat memberikan informasi secara lengkap  terkait semua kegiatan yang dijalankan. Dari hasil recording tersebut maka dapat dilakukan program pembibitan sapi potong melalui seleksi terhadap pedet, calon induk dan calon pejantan unggul yang akan digunakan sebagai replacement stock, sedangkan sisanya dapat diculling atau dipotong.   

Adapun Tujuan Pelaksanaan Kerja Lapang (KL) yaitu:
  1. Dapat mengetahui manajemen pemeliharaan, manajemen pembibitan, manajemen kesehatan ternak, manajemen pakan hijauan dan konsetrat, dan manajemen sarana dan prasarana di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas.
  2. Mampu mengaplikasikan dan mengembangkan pengetahuan tentang manajemen pemeliharaan, manajemen pembibitan, manajemen kesehatan ternak, manajemen pakan hijauan dan konsetrat, dan manajemen sarana dan prasarana di dunia peternakan dan juga dapat berguna dalam pembentukan pola piker di kalangan masyarakat.
  3. Mahasiswa mampu melatih diri didalam dunia kerja, agar dapat menciptakan kader-kader sarjana peternakan yang mampu terjun langsung ke masyarakat.

1.3 Manfaat


Kerja Lapang (KL) ini diharapkan mampu memberikan manfaat antara lain:
1.      Dapat menghubungkan teori-teori yang diperoleh selama kuliah dengan praktik di lapangan, khususnya manajemen pemeliharaan, pakan, keswan dan pembibitan sapi potong di BPTU-HPT Padang Mengatas meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
2.      Dapat menganalisis permasalahan yang dihadapi BPTU-HPT Padang Mengatas dan dapat menemukan solusi pemecahan yang tepat, sehingga dapat diterapkan guna melakukan perbaikan manajemen recording di masa mendatang.
3.      Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi terkait, dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanan Tri Dharma Perguruan Tinggi.








BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen

   Manajemen  merupakan suatu kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan yang dilakukan oleh setiap organisasi guna mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien (Siagian, 2003). Menurut Reksohadiprojo (1992), manajemen bisa berarti fungsi, peranan maupun keterampilan. Manajemen sebagai fungsi meliputi usaha perencanaan, perorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan. Manajemen sebagai peranan adalah antarpribadi sebagai pemberi informasi dan pengambilan keputusan. Manajemen sebagai keterampilan yaitu teknis, manusiawi dan konseptual. Handoko (1999) menyatakan bahwa manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa manajemen semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Tiga alasan utama diperlukannya manajemen yaitu untuk mencapai tujuan, untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan untuk mencapai efisiensi dan efektivitas.
Perencanaan
 Perencanaan merupakan suatu fungsi manajer yang mencakup pemilihan kegiatan yang akan dijalankan, bagaimana menjalankan dan kapan dimulai dan diselesaikannya pekerjaan itu, untuk membantu tercapainya tujuan organisasi. Perencanaan juga merupakan suatu proses pengambilan keputusan yang mengandung unsur-unsur fakta, asumsi dan kegiatan yang dipilih dan akan dilakukan di masa mendatang (Asri dan Suprihanto, 1986). Perencanaan organisasi mempunyai dua maksud yaitu perlindungan dan kesepakatan (protective dan affirmative). Maksud protektif adalah meminimalkan resiko dengan mengurangi ketidakpastian di sekitar kondisi bisnis dan menjelaskan konsekuens tindakan manajerial yang berhubungan.
Tujuan afirmatif adalah untuk meningkatkan tingkat keberhasilan organisasi, selain itu tujuan perencanaan adalah membentuk usaha terkoordinasi dalam organisasi. Tanpa adanya perencanaan biasanya disertai dengan tidak adanya koordinasi dan timbulnya ketidakefisienan (Wiratno, 2001).

Pengorganisasian
Perorganisasian merupakan suatu fungsi manajemen yang dipandang sebagai alat yang dipakai oleh orang-orang atau anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama secara efektif (Asri dan Suprihanto, 1986). Pengorganisasian adalah proses membentuk kerjasama antara dua individu atau lebih dalam sebuah struktur tertentu untuk mencapai tujuan atau seperangkat tujuan. Tujuan yang berbeda memerlukan struktur yang berbeda, sehingga diperlukan upaya penyusunan struktur organisasi melalui desain organisasi (Harsono, 2004). Menurut Handoko (1999), pengorganisasian meliputi 1) penentuan sumber daya dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan 2) perencanaan dan pengembangan organisasi yang akan membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan 3) penugasan tanggungjawab tertentu 4) pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
Pengarahan
 Pengarahan adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi anggota organisasi secara individual maupun keseluruhan dalam melaksanakan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan atau seperangkat tujuan (Harsono, 2004). Fungsi pengarahan secara sederhana adalah untuk membuat atau mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan. Fungsi ini melibatkan kualitas gaya dan kekuasaan pemimpin serta kegiatan kepemimpinan seperti leading, directing, motivating, actuating atau lainnya (Handoko, 1999). 
Pengawasan
            Pengawasan didefinisikan sebagai usaha sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar, rencana atau tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan untuk mengambil tindakan penyembuhan yang diperlukan untuk melihat bahwa sumber daya manusia dan sumber daya perusahaan lainnya digunakan seefektif dan seefisien mungkin di dalam mencapai tujuan perusahaan (Wiratno, 2001). Tiga unsur penting dalam pengawasan adalah standar kinerja, pengukuran kinerja yang telah dilaksanakan dan perbandingan antara kinerja yang dilaksanakan dengan standar kinerja (Harsono, 2004). Menurut Reksohadiprojo (1992), faktor-faktor yang menyebabkan pentingnya pengawasan adalah: 1)perubahan yang selalu terjadi baik di luar maupun di dalam organisasi memerlukan perencanaan dan tentu saja pengawasan 2) kekomplekan organisasi memerlukan pengawasan formal karena adanya desentralisasi kekuasaan 3) kesalahan-kesalahan atau peyimpangan yang dilakukan anggota organisasi memerlukan pengawasan dan pembenahan.
Evaluasi
Evaluasi merupakan fungsi manajemen yang terakhir. Evaluasi adalah fungsi untuk mengukur prestasi kerja manajemen. Evaluasi dapat dilakukan dengan menilai pekerjaan yang didapatkan dan membandingkan dengan apa yang direncanakan semua (Handoko, 1999). Menurut Widiati dan Santosa (2008), hasil evaluasi ini diperlukan untuk mengadakan perbaikan bagi kegiatan-kegiatan berikutnya atau mengembangkan gagasan baru dalam memilih kegiatan-kegiatan baru.
Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah salah satu yang memegang peranan penting dalam kelancaran proses belajar mengajar dan peningkatan prestasi akademik siswa (internet). Sarana dan prasaranaadalah semua bentuk perantara yang dipakaiorang untuk menyebar ide, sehingga ide tersebut bias sampai pada penerima. Prasarana OR: Tempat / ruang, termasuk lingkungan yang digunakan untuk kegiatan OR dan penyelenggaraan OR.. Sarana OR: Peralatan / perlengkapan yang digunakan untuk kegiatan OR.(hamalik 1980:23)
Sarana dan prasarana OR adalah suatu kegiatan yang dimanfaatkan dalam melaksanakan pendidikan jasmani yang meliputi lapangan dan bangunan OR beserta perlengkapan untuk melaksanakan proses belajar mengajar pendidikan jasmani.(soepartono 2006:699)

Sapi Simmental
            Sapi Simmental (Bos taurus) merupakan bangsa sapi yang memiliki kelebihan mampu membentuk perdagingan yang baik dan kompak dengan perlemakan yang tidak begitu banyak, berat badan untuk jantan dewasa bisa mencapai 1000 sampai 1200 kg dan betina 550 sampai 800 kg, memiliki temperamen jinak, adaptable terhadap lingkungan Indonesia, menjadikan bangsa ini salah satu pilihan untuk tetap didatangkan dari luar negeri (Suhada et al., 2009). Simmental adalah bangsa Bos taurus, berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor berwarna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasanya 800 kg. Secara genetik, sapi Simmental adalah sapi potong yang mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur (Talib dan Siregar, 1999).
Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan sapi potong di Indonesia dibedakan menjadi tiga, yaitu: intensif, ekstensif, dan usaha campuran (mixed farming). Pada pemeliharaan ekstensif, ternak dipelihara di padang penggembalaan dengan pola pertanian menetap atau di hutan (Suryana, 2009).
Pemberian pakan
Pakan merupakan sarana produksi yang sangat penting bagi ternak karena berfungsi sebagai bahan pemacu pertumbuhan. Pakan yang sempurna mengandung kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral (Iswoyo dan Widyaningrum, 2008). Tersedianya pakan yang cukup jumlah maupun mutunya dan berkesinambungan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan peternakan (Guntoro et al., 2000). Pemberian pakan yang baik dan manajemen yang efisien diperlukan untuk menjamin suatu proses reproduksi yang normal dan baik (Endrawati et al., 2010). Pakan hijauan diberikan pada sapi sebanyak 10 – 12 % dan pakan konsentrat 1 – 2 % dari bobot badan ternak. Pemberian hijauan dapat dilakukan 2 kali sehari yakni pada pukul 08.00 pagi dan pukul 17.00 sore hari, sedangkan pakan konsentrat diberikan pagi hari sebelum pemberian hijauan. Ketersediaan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting diperhatikan. Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20 – 40 liter/ekor/hari, namun sebaiknya diberikan secara ad libitum (tidak terbatas) (Syafrial et al., 2007).

Penanganan kesehatan
Kesehatan hewan adalah suatu kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusun dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis berfungsi secara normal (Akoso 1996). Kegiatan pencegahan penyakit meliputi memandikan sapi tiga hari sekali untuk menghindari lalat atau caplak, membersihkan tempat pakan ternak satu kali sehari, serta membersihkan kotoran dan sanitasi lingkungan sekitar kandang dua kali sehari. Pencegahan penyakit lainnya berupa pemberian obat cacing untuk ternak sapi bakalan yang baru datang (Budiraharjo, 2011). Vaksinasi dan deworming adalah pelayanan kesehatan yang harus dilakukan secara teratur kepada sapi potong. Kegiatan deworming atau pengobatan cacing juga harus dilakukan secara teratur untuk membunuh cacing yang berada di tubuh sapi (Nainggolan, 2013).

Perkandangan
Penyediaan kandang untuk sapi yang digemukkan dimaksudkan sebagai tempat bernaung terhadap cuaca dan untuk membatasi ruang gerak agar penimbunan daging dan lemak cepat terjadi serta pertambahan bobot badan lebih cepat. Persyaratan kandang yang baik yaitu letak kandang terpisah dari rumah dengan jarak lebih dari 10 meter, kandang harus berada di lokasi yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya, untuk menghindari genangan air pada saat musim penghujan, dibelakang kandang dibuatkan lobang untuk menampung kotoran ternak, ventilasi kandang cukup baik, lokasi kandang dekat dengan sumber air, bahan bangunan kandang terbuat dari kayu, bambu atau bahan lain yang kuat serta kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum, peralatan lain seperti sapu, cangkul dan sekop untuk membersihkan kandang (Syafrial et al., 2007). Bahan kandang hendaknya dipilih bahan lokal yang banyak tersedia dan minimal tahan digunakan untuk jangka waktu 5 – 10 tahun. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m, untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor (Farida et al., 2010). Secara umum terdapat dua tipe kandang yaitu kandang individual dan kandang koloni. Kandang individu digunakan bagi satu ekor sapi dengan ukuran 2,5x1,5m, dibandingkan dengan tipe kandang individual, pertumbuhan sapi di kandang koloni relatif lebih lambat karena ada energi yang terbuang akibat gerakan sapi yang lebih leluasa (Nainggolan, 2013).

Pemasaran
Pemasaran merupakan aspek yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan dalam menjalankan suatu usaha peternakan. Peternak harus melewati beberapa kegiatan pemasaran antara lain pengumpulan informasi pasar, penyimpanan, pengangkutan dan penjualan produk (Rianto dan Purbowati, 2010). Semakin panjang rantai pemasaran maka semakin besar pula margin pemasarannya (Nurhayati, 2000).

BAB III. DESKRIPSI BPTU-HPT


Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian Republik Indonesia  dan  Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang berperan penting dalam penyediaan bibit sapi potong yang berkualitas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 292/kpts/OT.210/4/2002 tanggal 16 April 2002, yang memiliki tugas melaksanakan pemuliaan, produksi dan pemasaran bibit sapi potong yang unggul. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan manajemen recording (pencatatan) ternak dalam upaya pembibitan sapi potong yang baik. Recording sangat penting dilakukan sebagai landasan dasar untuk mengambil keputusan yang tepat dalam kebijakan peternakan, karena recording dapat memberikan informasi secara lengkap terkait semua kegiatan yang dijalankan. Dari hasil recording tersebut maka dapat dilakukan program pembibitan sapi potong melalui seleksi terhadap pedet, calon induk dan calon pejantan unggul yang akan digunakan sebagai replacement stock, sedangkan sisanya dapat diculling atau dipotong.
Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas merupakan unit pelaksana teknis di bidang peternakan yang bertanggungjawab kepada Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian. BPTU-HPT Padang Mengatas pada awalnya didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1918 dan ternak yang digembalakan adalah kuda. Tahun 1935 didatangkan sapi zebu dari India dan berkembang dengan baik. Namun tahun 1945 sampai 1949 peternakan ini berhenti karena terjadi pergolakan pada zaman revolusi dan tahun 1950 dibangun kembali oleh wakil presiden Bapak Dr. H.M Hatta dan dijadikan kembali station peternakan pemerintah dan diberi nama Induk Taman Ternak (ITT) Padang Mengatas.
Tahun 1955 sampai 1957, Padang Mengatas merupakan station peternakan terbesar di Asia Tenggara dan ternak yang dipelihara adalah kuda, sapi, kambing dan ayam. Namun tahun 1958 sampai 1961 terjadi pergolakan PRRI, dan lokasi ITT Padang Mengatas dijadikan sebagai basis pertahanan PRRI sehingga ITT Padang Mengatas rusak berat. Dibenahi kembali oleh Pemerintah Daerah Sumatera Barat pada tahun 1961. Tahun 1973 sampai 1974 Pemerintah Jerman mengadakan kajian di ITT Padang Mengatas maka pada tahun 1974 sampai 1978 dilakukan kerjasama pembangunan kembali ITT Padang Mengatas antara pemerintah RI & Jerman melalui proyek Agriculture Development Project (ADP) untuk pengembangan peternakan. Ternak yang dipelihara adalah sapi Simmental, Brahman dan Peranakan Ongole.
Tahun 1982, ITT berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak/ Hijauan Makanan Ternak (BPT/HMT) Padang Mengatas (SK Mentan 313 Thn 1982) dengan wilayah kerja 3 (tiga) proponsi (Sumbar, Riau dan Jambi). Tahun 2002, BPT/HMT berubah nama menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Potong Padang Mengatas dan pada bulan Mei 2013 berubah menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas dan dijadikan sebagai pusat pembibitan Sapi Simmental, Sapi Limousine dan Sapi Pesisir.
Visi BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu menjadi pusat penghasil bibit sapi potong unggul nasional. Misi yang diemban BPTU-HPT Padang Mengatas yaitu meningkatkan populasi sapi potong, meningkatkan produksi dan produksi bibit sapi potong, menyediakan bibit sapi potong unggul yang bersertifikat, melakukan distribusi bibit sapi potong unggul, meningkatkan kualitas sumber daya manusia aparatur dan pelaku usaha sapi potong, melaksanakan pelayanan teknis dan jasa di bidang sapi potong, menerapkan inovasi teknologi sapi potong.
BPTU-HPT Padang Mengatas berlokasi di Padang Mengatas, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Propinsi Sumatera Barat. BPTU-HPT Padang Mengatas berjarak ± 12 km dari Pusat Kota Payakumbuh dan ± 136 km dari Kota Padang, pusat ibukota Sumatera Barat. BPTU-HPT Padang Mengatas sebelah utara berbatasan dengan Kenagarian Mungo dan Bukit Sikumpar, sebelah selatan berbatasan dengan Gunung Sago, sebelah timur berbatasan dengan Dusun Talaweh dan sebelah barat berbatasan dengan Kenagarian Sungai Kamuyang Timur.
Luas areal BPTU-HPT Padang Mengatas ± 280 Ha dengan ketinggian 700 sampai 900 m DPL, beriklim tropis dan temperatur berkisar antara 18 sampai 280C (rata-rata 230C). Kelembaban 70% dengan curah hujan 1800 mm/th. Jenis tanah pedsolik merah kuning dengan tekstur liat, pH tanah 5,6. Status tanah merupakan milik Negara bersertifikat hak pakai Kementrian 18 Pertanian No.5 tahun 1997.
Berikut gambar denah lokasi BPTU-HPT Padang Mengatas:

Plot Padang Penggembalaan (Pastura)
Plot yang ada di BPTU padang mengatas terbagi menjadi dua wilayah yaitu wilayah barat dan wilayah timur, untuk wilayah barat terdapat 1-23 plot dan wilayah timur terdapat dari plot A-F.
Plot Wilayah Barat
Plot
Luas Plot (Ha)
I
5.23
II
3.2
III
0.75
IV
2.5
Kebun Koleksi
0.5
VI
2.5
VII barat
2.41
VIII
5.09
IX
5.6
X
5.65
XI
8.7
XII A
6.7
XII B
8.9
XIII Barat
6.9
XIV Barat
6.09
XV Barat
6.9
XVI
10.5
XVII Barat
5.43
XVIII Barat
7.1
XIX A
6
XIX B
8.9
XX
5.45
XXI
3.1
XXII
6
XXIII
4.7
Restorasi
0.6

Plot Wilayah Timur
Plot
Luas (Ha)
A
2.9
B
5.6
C
4
VII Timur
4.66
XIII Timur
5.2
XIV Timur
6.7
XV Timur
8.91
XVII Timur
5.73
XVIII Timur
10.62
F A
15
F B
10
Sumber : BPTU-HPT Padang Mangatas 2016

Dari keseluruhan data plot beserta luasnya (Ha), Plot yang paling luas yaitu plot F A dengan luas 15 Ha dan plot yang paling kecil yaitu plot Kebun Koleksi dengan Luas 0.5 Ha. Untuk pemupukan ke semua plot tolak ukurnya berdsarkan luas plotnya masing-masing. Dan pemberian pupuknya berdsarkan rumput yang terdapat di plotnya masing-masing.

Struktur organisasi BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari Kepala Balai, Sub bagian Tata Usaha, Seksi Pelayanan Teknik, Seksi Prasarana dan Sarana Teknis, Seksi Informasi dan Jasa Produksi dan Kelompok Jabatan Fungsional.

Kepala Balai bertanggung jawab memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan seluruh pelaksanaan kegiatan balai dan pembibitan ternak sapi potong. Sub bagian Tata Usaha bertugas melakukan penyiapan penyusunan program rencana kerja dan anggaran, pelaksanaan kerjasama, penyiapan evaluasi dan pelaporan serta pelaksanaan urusan kepegawaian, keuangan, rumah tangga dan perlengkapan.
Seksi pelayanan teknis produksi bertugas melakukan pemberian pelayanan teknis pemeliharaan bibit ternak unggul yang meliputi pemeliharaan dan pengawasan bibit ternak unggul antara lain pemeliharaan dan pengawasan kesehatan ternak, penyediaan pakan ternak, produksi dan pemuliaan ternak unggul, serta pengelolaan unit pembenihan/ pembibitan, pemeliharaan produksi dan pengembangan hijauan pakan ternak. Seksi prasarana dan sarana teknis bertugas melakukan pengelolaan prasarana dan sarana teknis meliputi instalasi kandang bibit ternak unggul, kebun bibit hijauan pakan ternak, ladang penggembalaan, sarana teknis dan sarana pendukung. Seksi informasi dan jasa produksi bertugas melakukan pemberian informasi dokumentasi, penyebaran dan distribusi bibit ternak unggul dan hijauan pakan ternak.
Kelompok jabatan fungsional terdiri dari pengawas bibit ternak (wasbitnak), pengawas mutu pakan (wastukan), medik veteriner dan paramedik veteriner yang bertugas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu untuk lebih memudahkan dalam pembagian kerja, kelompok jabatan fungsional juga dibagi-bagi menjadi beberapa penanggungjawab seperti penanggungjawab pemeliharaan ternak di kandang, pemeliharaan ternak di padang penggembalaan, reproduksi ternak, recording ternak, pakan konsentrat, pakan hijauan pastura maupun rumput potong, kesehatan ternak dan sebagainya..


            BPTU-HPT Padang Mengatas, untuk menunjang kinerja dan kegiatan produksi  dilengkapi dengan  sarana  prasarana  yang  lengkap.  Sarana prasarana tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel Sarana dan Prasarana
No
Nama
Jumlah
1
Kantor
1 unit
2
Gedung Pertemuan
1 unit
3
Aula
1 unit
4
Laboratorium
2 unit
5
Mess
2 unit
6
Rumah Dinas
23 unit
7
Kandang
11 unit
8
Gudang
3 unit
9
Bengkel
1 unit
10
Kendaraan Roda 2
11 unit
11
Kendaraan Roda 4
5 unit
12
Traktor
4 unit
13
Hand Tractor
3 unit
14
Hand Mower
2 unit
15
Trailer
2 unit
16
Mixer
1 unit
17
Copper
1 unit
18
Biosecurity
1 unit
19
Timbangan Ternak
2 unit
20
Padang Penggembalaan
280 ha
21
Kebun Rumput
17 ha
22
Kebun Koleksi
1 unit
23
Masjid
1 unit
24
Kantin
1 unit
25
Lapangan Olahraga
1 unit
26
Pos Satpam
1 unit

            Beberapa sarana dan prasarana yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas berdasarkan fungsinya masing-masing akan di jelaskan sebagai berikut:
  1. Kantor, merupakan tempat sebagai tolak ukur bagi semua tenaga kerja BPTU-HPT untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing, baik yang bekerja di kantor maupun di lapangan.
  2. Gedung pertemuan, digunakan untuk mengadakan rapat yang diadakan oleh pegaawai BPTU-HPT Padang Mengatas.
  3. Aula atau Gedung Serba Guna, dapat digunakan untuk menerim tamu dalam jumlah banyak ataupun melaksanakan kegiatan, seperti mengadakan acara-acara dan kunjungan peternaka.
  4. Laboratorium, untuk meneliti segala sesuatu yang berhubungan dengan sapi seperti uji penyakit yang menyerang sapi, uji kualitas pakan.
  5. Mess, digunakan sebagai tempat tinggal yang bersifat sementara baik bagi para pengunjung maupun siswa/mahasiswa yang melaksanakn magang di BPTU-HPT Padang Mengatas.
  6. Rumah Dinas, sebagai tempat tinggal bagi semua pegawai BPTU-HPT upaya untuk mempermudah jalannya proses kinerja yang dilakukan para pegawai dan untuk menunjang kinerja agar berjalan secara baik, teratur dan  optimal
  7. Kandang di BPTU-HPT Padang Mengatas, terdiri dari kandang tempat sapi yang sakit yaitu kandang klinik, kandang jepit untuk sapi yang sakit yang akan ditangani, kandang restorasi untuk melakukan proses ppembibitan dan produksi. Dari keseluruhan kandang dapat menampung sapi sebanyak lebih dari 300 ekor.
  8. Gudang, adalah sebagai tempat penyimpanan pakan konsentarat sekaligus tempat mixer konsentrat dan juga gudng sebagai tempat menyimpan alat-alat, seperti sekop,cangkul,sapu lidi, dan lain-lain.
  9. Bengkel, merupakan tempat untuk melakukan service, modifikasi dan perbaikan alat-alat yang akan digunakan di lapangan.
  10. Kendaraan roda dua, digunakan untuk mempermudah para pegawaai melaksaan pekerjaan di lapangan. Contohnya, melaksanakan pemeliharaan ternak dari kandang satu ke kandang lainnya.
  11. Kendaraan roda empat, untuk mengangkut bibit hijauan dalam jumlah banyak dan sebagai sarana transportasi.
  12. Traktor, digunakan untuk mengantar pakan konsentrat ke kandang dan padang penggembalaan dan juga pakan hijauan ke kandang, untuk memangkas rumput yang ada di padang penggembalaan.
  13.  Hand Traktor, digunakan untuk mengolah dan membajak tanah yang akan ditanami bibit hijauan yag baru.
  14. Hand Mower, digunakan untuk memotong rumput khususnya rumput yang ada di pinggiran jalan.
  15. Trailer, digunakan untuk memuat pakan hijauan dan pakan konsentat yang nantinya akan di bawa oleh traktor.
  16. Mixer, merupakan alat pengaduk bahan konsentarat.
  17. Copper, digunakan untuk menyacah rumput.
  18. Biosecurity, untuk mensterilkan semua kendaraan yang masuk kedalam Balai demi keamanan lingkugan Balai.
  19. Timbangan Ternak, digunakan untuk melakukan proses penimbangan ternak
  20. Padang Pengembalaan, sebagai tempat untuk semua ternak  sapi yang akan digembalakan
  21. Kebun Rumput, yaitu kebun yang ditanami rumput yang nantinya akan digunakan sebagai pakan hijauan ternak dan sebagai tempat penyediaan pakan hijauan.
  22. Kebun Koleksi, yaitu kebun yang ditanami macam-macam jenis rumput yang digunakan sebagai bahan bibit hijauan.
  23. Masjid, digunakan sebgai tempat melaksanakan ibadah bagi semua muslim yang berada di lokasi Balai maupun sekitarnya.
  24. Kantin, yaitu tempat yang sering digunakan oleh para pegawai untuk beristirahat sekaligus makan maupun minum.
  25. Lapangan Olahraga, yaitu sarana yang digunakan para pegawai  untuk berolahraga seperti voli, futsal dan tenis.
  26. Pos Satpam, digunakan sebagai tempat petugas keamanan/satpam Balai untuk menjaga gerbang sekaligus menerima pelaporan setiap orang yang keluar maupun masuk .

Untuk semua sarana dan prasarana yang lainnya dapat diketahui tanpa dijelaskan secara detail tetapi dapat diketahui ketika melakukan pekerjaan secara langsung. Sebagai tanggapan untuk persediaan sarana yang ada di BPTU dapat dikategorikan lengkap dan cukup untuk melaksanakan semua proses pekerjaan yang dilaksanakan dan kelancaran proses pelaksanaannya.
Tenaga Kerja
            Tenaga  Kerja  di  BPTU-HPT  Padang  Mengatas  diklasifikasikan  berdasarkan  Pendidikan  dan  Golongan.  Tenaga  Kerja  tersebut  sebagian  besar berasal dari daerah sekitar Padang Mengatas, sedangkan tenaga kerja  (karyawan)  yang  tempat  tinggalnya  jauh  dari  Balai disediakan  Kompleks  Perumahan Dinas untuk menunjang kinerja agar berjalan secara baik, teratur dan  optimal. 
Untuk penjelasan tenaga kerja yang ada di BPTU pada saat ini secara keseluruhan berjumlah sebanyak 107 tenaga kerja dari semua bidang, teridiri dari 90 orang PNS dan 17 orang honorer.


PELAKSANAAN DAN KEGIATAN
Jadwal kegiatan kerja lapangan  di  Balai Pembibitan Ternak Unggul Dan Hijauan Pakan Ternak  ( HPT ) Padang Mengatas Kabupaten Lima Puluh Kota Propinsi Sumatera Barat.
KEGIATAN
Jadwal kegiatan ( 16 januari s.d 27 januari 2016)
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
Manajemen Pemeliharaan, Produksi bibit dan Keswan












Manajemen Pakan dan HMT












Manajemen Sarana dan Prasarana












Evaluasi dan pelaporan kerja












Penutupan













Jadwal Kegiatan
Masuk/Pulang             : 07.30/16.00 WIB
Istirahat                       : 12.00-13.00 WIB
Keterangan                  : Kel 1 Warna Biru Muda
                                      Kel 2 Warna Kuning
                                      Kel 3 Warna Biru
                                      Warna Hijau Semua Kelompok dan warna merah Hari libur.

5.2 Hasil Kegiatan Kerja Lapang


Kerja lapangan  (KL) di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mangatas, Kabupaten Lima puluh Kota, Sumatera Barat  dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2017 sampai degan 26 Januari 2017, di BPTU-HPT Padang Mangatas, Sumatera Barat.
Jadwal kegiatan kerja lapangan di Balai Pembibitan Ternak Unggul Dan Hijauan Pakan Ternak  ( HPT ) Padang Mengatas Kabupaten Lima Puluh Kota Propinsi Sumatera Barat. Jadwal kegiatan Masuk/Pulang pukul 07.30/16.00 WIB dan Istirahat pukul 12.00-13.00 WIB.
Kegiatan Hari ke-1 ( Senin, 16 Januari 2017)
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 08.30
Upacara Bendera
Sambutan Dari pihak BPTU HPT Padang Mangatas.
08.30 – 10.00
Praktik Lapagan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Penggiringan ternak bunting dari padang pengembalaan ke tempat pemberian konsenrat
2.      Pemberian konsentrat untuk ternak bunting
10.00 – 12.00
Praktik Lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Penggiringan ternak ke kandang spring
2.      Penyemrotan Caplak
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Diskusi
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Diskusi Umum dengan drh. Darwis

Kegiatan hari ke-2 ( Selasa, 17 januari 2017 )
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Sanitasi kandang sapi pesisir
2.      Pemberian konsentrat dan pakan hijauan di sapi pesisir
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Pemotongan rumput BD
2.      Diskusi Umum dengan drh. Darwis
3.      Penanganan ternak yang terkena kangker mata.







Kegiatan hari ke-3 ( Rabu, 18 Januari 2017 )
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Sanitasi kandang di sapi pesisir
2.      Pemberian Konsentrat dan pakan hijaunan dikandang sapi pesisir.

12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
1.      Sanitasi lingkungan
2.      Pengisian data Recording dikantor fungsional.

Kegiatan hari ke-4 ( Kamis 19 januari 2017)
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Sanitasi kandang di sapi pesisir
2.      Pemantauan dan pengontrolan sapi pesisir dipadang pengembalaan
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
1.      Penimbangan sapi lepas sapih dikandnag 5
Kegiatan hari ke-5 ( jum’at, 22 januari 2017 )
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Pengantaran Hijauan pakan dari depan kebun koleksi ke kandang sapi pesisir.
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Kuliah Umum dengan drh. Indah wati, MP







Kegiatan hari ke-6 ( Sabtu, 23 Januari 2017)
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Pengecekan dan pengontrolan air dari pegunungan
2.      Pengecekan dan pengontrolan pagar listrik.
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Kerja Setengah Hari
-

Kegiatan hari Ke-7 (Senin 23 Januari 2017)
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Pemotongan rumput untuk peremajaan dipeddock timur
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Pengenalan alat – alat Sarana dan Prasaranaa

Kegiatan hari ke-8 ( Selasa, 24 januari 2017 )
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Perawatan rumput dipeddock 23
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Membolak balikan Hay dipeddock 16

Kegiatan hari ke-9 ( Rabu, 25 Januari 2017 )
Jam
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Kegiatan yang dilakukan :
1.      Mix konsentrat digedung pakan
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
1.      Pengambilan rumput gajah dipeddock 3
2.      Penimbangan ternak yang lepas sapih



Kegiatan Hari Ke-10  (Kamis, 26 Januari 2017)
Jam (WIB)
Kegiatan
Keterangan
07.30 – 12.00
Praktik lapangan
Mix konsentrat digedung pakan
12.00 – 13.00
Istirahat
Ishoma
13.00 – 16.00
Praktik lapangan
1.      Memanen Leguminosa jenis Indigofera Aracta disamping gedung penyimpanan pakan
2.      Pemberian Vitamin untuk bill sebanyak 19 ekor dengan Dufhapral Multi.











BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Populasi Ternak

BPTUHPT Padang mangatas memiliki 3 bangsa sapi yang dipelihara yaitu bangsa sapi Simmental, Limousin dan Pesisir. Populasi sapi yang dipelihara sebanyak 1200 ekor. Bangsa sapi yang banyak dipelihara di BPTUHPT Padang Mangatas adalah sapi Simmental.

4.2 Manajemen Recording
Perencanaan recording di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan oleh Kepala Seksi Pelayanan Teknis Produksi beserta anggotanya untuk kemudian diajukan kepada Kepala Balai agar ditindaklanjuti.
-          Sistem Recording
Sistem recording yang dilakukan di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari dua macam, yaitu recording secara manual dan recording secara elektrik. Recording secara manual yaitu pencatatan segala kejadian tentang ternak dengan menggunakan buku tulis untuk selanjutnya disalin ke dalam Microsoft excel. Sedangkan recording secara elektrik dilakukan dengan menggunakan microchip untuk selanjutnya diinput ke dalam website.
Sistem recording secara manual di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari recording perkembangan populasi ternak, perkawinan secara Inseminasi buatan (IB), pemeriksaan kebuntingan (PKB), partus (kelahiran), penyapihan, uji performa ternak dan pemeriksaan kesehatan, dimana masing-masing data recording tersebut dicatat dalam satu buku khusus.
Sistem recording secara elektrik menggunakan microchip terdiri dari 3 komponen utama  yaitu: 1) Reader, yang berfungsi sebagai pembaca, pengisian data, dan pengirim data ke website untuk recording 2) Eartag/chip, merupakan tag identitas individu ternak yang berisikan nomor urut penomoran ternak yang di pasangkan di telinga masing-masing ternak sapi 3) Website, merupakan server untuk mencatat seluruh kejadian per individu ternak yang dikirim melalui reader.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam recording secara elektrik antara lain:
1.      Pasangkan eartag pada telinga sapi menggunakan eartag tang sesuai dengan nomor urut, dimana di dalam eartag tersebut terdapat chip.
2.      Lakukan entri data individu ternak ke website menggunakan reader. Proses ini harus dilakukan per individu sapi, karna sapi yang tidak terdaftar di web tidak bisa dilakukan recording.
3.      Item yang bisa dilaporkan dan dilihat pada website BPTU-HPT Padang Mengatas antara lainanimal transfer (perpindahan ternak antar plot), Animal treatment (pengobatan kesehatan hewan), artificial Insemination (IB), feeding (pakan), pregnant check (pemeriksaan kebuntingan), performance test (uji performan).

Animal transfer berisi data mengenai perpindahan sapi dari satu plot ke plot yang lain, dengan demikian akan mempermudah melakukan kontrol terhadap ternak. Animal Treatment berisi data mengenai kesehatan dan pengobatan ternak termasuk pemberian dosis per individu ternak yang mendapatkan treatment tertentu.Artificial Insemination berisi data tentang inseminasi buatan yang terdiri dari nomor ternak yang di-IB, Kondisi Birahi, Semen yang digunakan serta tanggal pelaksanaan IB. Feeding berisi data tentang pemberian pakan ternak baik hijauan maupun konsentrat. Pregnant Check berisi data tentang umur kebuntingan, posisi kebuntingan (letak embrio).Performance Test berisi data tentang pengukuran ternak, antara lain: Panjang badang, tinggi badan, lingkar dada, lingkar skrotum (jantan) dan penilaian Body Conditions Score (BCS).
Alur input data recording secara elektrik dilakukan melalui beberapa tahap antara lain
1)      scanning chip pada individu sapi yang akan dicatat
2)      entri data sapi sesuai fakta di lapangan antara lain animal transfer (perpindahan ternak antar plot), treatment ternak (pengobatan kesehatan hewan), artificial Insemination (IB), feeding (pakan), pregnant check (pemeriksaan kebuntingan), performance test (uji performan).
3)      upload data recording sapi yang sudah dientri ke dalam website.

-          Identifikasi Ternak
Identifikasi ternak sapi potong di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan dengan pemasangan eartag. Bagian depan eartag berisi nomor identifikasi ternak yang diurutkan berdasarkan tanggal lahir maupun tanggal masuk ternak ke Balai, sedangkan di bagian belakang eartag berisi nomor induk sapi. Pemasangan eartag dilakukan maksimal 3 hari sampai 1 minggu setelah partus. Untuk sapi yang baru datang dilakukan karantina di pelabuhan selama 2 minggu, kemudian dilakukan karantina kembali di Balai untuk adaptasi selama 1 bulan baru kemudian dilakukan pemasangan eartag dan nomor eartag disesuaikan dengan nomor urut ternak terakhir di balai
.
            Gambar Eartag (Kanan : Bagian Depan. Kiri: Bagian Belakang)
Pemasangan eartag dilakukan dengan cara sapi dibaringkan pada tanah/lantai, kemudian eartag dipasang dengan menggunakan alat bantu berupa eartag tang, setelah itu sapi disemprot dengan gusanex untuk mencegah kerumunan lalat. Eartag pada sapi jantan dipasang pada telinga kanan, sedangkan pada sapi betina eartag dipasang di telinga kiri.
Gambar Pemasangan eartag pada pedet
-          Recording Silsilah Ternak (pedigree).
Recording silsilah ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan melalui catatan kelahiran ternak yang memuat informasi mengenai tanggal lahir ternak, nama bapak dan induk, nomor ear tag anak, jenis kelamin (sex), berat lahir (BL), panjang badan (PB), lingkar dada (LD) dan tinggi badan (TB). Recording silsilah ternak dilakukan pada saat sapi induk mengalami partus dan hanya memuat nama bapak dan nama induk tidak termasuk nama kakek dan nenek, sedangkan penimbangan berat lahir pedet, pengukuran tinggi badan (TB), lingkar dada (LD), panjang badan (PB) dan penentuan jenis kelamin (sex) dilakukan kurang dari 24 jam setelah sapi partus seperti pada gambar
Gambar Pengukuran dan Penimbangan Pedet baru lahir
4.3 Proses Produksi Ternak
            Pemilihan Bangsa
BPTU-HPT Padang Mengatas sejak tahun 1974 telah melakukan pembibitan sapi Simmental.Tahun 2012 mulai melakukan pembibitan sapi Limousine dan tahun 2013 mulai melakukan pembibitan sapi Pesisir. Alasan dipilihnya sapi Simmental dan limousine karena memiliki bentuk tubuh yang besar, pertumbuhan cepat, ADG bisa mencapai 2 kg, daya reproduksinya baik dan secara turun temurun sudah mempunyai daya adaptasi yang baik di lingkungan tropis, sedangkan pemilihan sapi Pesisir dilakukan karena sapi Pesisir merupakan aset sapi nasional yang mempunyai daya adaptasi yang baik, dapat mencerna serat kasar dengan baik dan tidak peka terhadap penyakit parasit.

            Pengadaan Bibit
Sapi induk Limousine dan Simmental yang digunakan untuk pembibitan di BPTU-HPT Padang Mengatas pada awalnya adalah sapi impor dari Australia, sedangkan induk sapi Pesisir berasal dari beberapa Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) di Provinsi Sumatera Barat atau penjaringan sapi masyarakat secara ketat. Proses pembelian induk sapi tersebut dilakukan secara lelang dengan membentuk tim khusus pengadaan bibit. Dalam proses pengadaan bibit tersebut dibentuk pula tim khusus seleksi yang ditunjuk oleh Kepala Balai untuk melakukan seleksi ternak.

            Pemilihan Bibit
Pemilihan bibit sapi betina dilakukan sesuai standar yang ditetapkan oleh BPTU-HPT Padang Mengatas.Kriteria yang disyaratkan yaitu bangsa, sifat genetik, bentuk luar dan kesehatan. Kriteria bibit sapi yang dipilih yaitu:

1.      Mempunyai bulu tebal, berwarna coklat atau sedikit merah bata, muka, keempat kaki dari lutut sampai tracak kaki dan ekor berwarna putih (untuk sapi Simmental), bulu tebal berwarna merah kecoklatan, sekitar mata dan kaki dari lutut ke bawah berwarna agak terang (untuk sapi Limousine), bulu tipis, warna merah bata kekuningan, bulu mata terang, kaki dari paha ke bawah berwarna keputih-putihan, rambut ekor berwarna hitam (untuk sapi Pesisir).
2.      Tidak bertanduk atau kalau bertanduk sudah harus dipotong (untuk sapi Simmental dan Limousine), mempunyai tanduk kecil (untuk sapi Pesisir).
3.      Ambing besar dan keempat puting berbentuk simetris.
4.      Bersertifikat dengan kualifikasi registered pedigree heifer/bull (untuk sapi Simmental dan Limousine).
5.      Kaki besar, pendek dan kokoh, paha sampai pergelangan kaki penuh berisi daging (untuk sapi Simmental dan Limousine), Kaki kecil, pendek dan kokoh (untuk sapi Pesisir).
6.      Bentuk tubuh segi empat, pertumbuhan tubuh bagian depan, tengah dan belakang serasi, garis badan atas dan bawah sejajar (untuk sapi Simmental dan Limousine).
            Penjaringan Bibit
Penjaringan bibit sapi betina dilakukan untuk mendapatkan bibit ternak yang unggul dilakukan melalui pengamatan, pengukuran, pemeriksaan sampel darah dan pemeriksaan data sapi bibit.Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan bibit sapi yang sesuai dengan persyaratan teknis yang telah ditetapkan. Pengamatan fisik meliputi: 1) eksterior, pengamatan terhadap performa ternak 2) warna, memilih warna bulu ternak sesuai bangsanya 3) bentuk badan balok dan punggung lurus 4) sehat alat reproduksi, dilakukan melalui palpasi rektal. Kondisi yang diharapkan adalah tidak adanya kelainan vulva, uterus dan serviks serta antara jarak tulang pelvis longgar 5) kebuntingan, sapi bunting tersebut dibeli pada umur rata-rata 12 sampai 14 bulan dengan kebuntingan 4 bulan disertai sertifikat sapi dengan tiga generasi tetuanya yang dikeluarkan oleh Asosiasi Breeder Australia. Tahun 2014 BPTU-HPT Padang Mengatas berencana membeli calon induk sapi Simmental sebanyak 75 ekor, sapi Limousine 75 ekor dan sapi Pesisir 55 ekor.
4.4 Manajemen Pemeliharaan
            Pemeliharaan sapi potong di BPTU-HPT padang mengatas tidak hanya dilakukan di kandang saja tetapi juga dilakukan dengan cara digembalakan. Sapi yang bunting tua (pre partus), sapi yang melahirkan (partus), sapi yang disapih dan sapi-sapi yang sakit dipelihara di kandang agar kontrol pada ternak lebih mudah dilakukan, sedangkan sapi lepas sapih, dara, jantan (calon bull), bull dan sapi induk betina dipelihara di padang penggembalaan, hal ini dilakukan agar kondisi sapi yang dipelihara lebih nyaman karena sesuai dengan alamiahnya dan lebih animal welfare. Selain itu hijauan pakan ternak juga tersedia secara kontinyu, sehingga diharapkan pertumbuhan sapi menjadi baik dan tidak mengalami stress.
Jenis sapi yang di pelihara di BPTU – HPT Padang Mengatas terdiri dari sapi limousin, simental Serta sapi pesisir. Sapi limousin dan simental merupakan sapi jenis bos taurus yang berasal dari eropa sedangkan untuk sapi pesisir merupak jenis sapi bos indicus yang bersal dari india dan merupakan sapi lokal Sumatra Barat serta bertujuan untuk menjaga kelestarian sapi lokal.
 Pemeliharaan sapi potong meliputi sanitasi atau kebersihan kandang yang biasanya di bersihkan setiap pagi, kemudian pemberian pakan tambahan berupa konsentrat yang di berikan setiap hari dengan pemberian sebanyak 1 – 3% dari berat badan sapi dengan formulasi yang terdiri dari 40% dedak, konsentrat pabrik 40%, bungkil kelapa 16%, garam 2% serta mineral 2% dengan protein sebesar 14% per ekor sapi.
Pemberian hijauan diberikan setiap hari yaitu sebanyak 10% dari berat badan sapi dimana jenis rumput yang diberikan pada sapi yang dikandangkan adalah jenis rumput potong seperti rumput gajah, rumput raja, rumput setaria dan rumput mexico.serta jenis rumput yang digembalakan yaitu rumput BD, Bh serta star gress akan tetapi untuk sapi yang digembalakan biasanya sangat susah di perkirakan berapa banyak pakan yang di konsumsi karena pakan diberikan secara adlibitum atau tidak terbatas. Untuk ternak sapi yang digembalakan biasanya dilakukan dengan sistem rotation gress dimana ternak akan di pindahkan dari plot 1 ke plot selanjutnya sesuai kebutuhan.
            Sapi yang dikandangkan di BPTU – HPT Padang Mengatas terdiri dari pejantan Bull, sapi induk dan anak, sapi yang sakit dan sapi karantina yang baru di datangkan dari Australia. Sedangkan untuk sapi yang digembalakan yaitu sapi bunting, sapi kosong, serta sapi lepas sapih, dan sapi induk anak.
            Pemeliharaan sapi potong tidak hanya mencakup pemberian pakan dan pembersihan kandang tetapi juga meliputi pembibitan ternak, kesehatan ternak serta pengontrolan. Pembibitan ternak mencakup populasi ternak, manajemen recording, perkawinan secara inseminasi buatan, pemeriksaan kebuntingan yang mencakup partus, penyapihan uji performa ternak dan pemeriksaan kesehatan.
            Pengontrolan ternak dilakukan dengan cara pemisahan sapi yang beranak, bunting, sapi sakit, sapi dara, sapi kosong serta sapi yang lepas sapi yang berlansung di kandang restorasi dimana pemisahan ini berfungsi untuk mempermudah pengontrolan sapi. Sapi yang dipisahkan akan di lepaskan pada plot – plot yang berbeda kecuali sapi sakit yang membutuhkan perawatan lebih di kandang klinik dan akan dilepaskan kembali setelah sapi sehat. Pengontrolsn bertujusn untuk mempermudah pemeliharaan sapi dan mencegah terjadinya penularan penyakit.
            Program kesehatan hewan BPTU-HPT Padang mengatas meliputi perawatan yang bertujuan untuk pemeliharaan ternak agar tetap sehat dan tidak mudah terkena penyakit. Dimana dengan perawatan yang baik sapi yang dihasilkan akan lebih berkualitas serta menghasilkan bibit ternak sapi potong unggul yang nantinya mampu mencukupi kebutuhan bibit sapi unggul di indonesia. Selanjutnya yaitu pencegahan yang dilakukan dengan cara sanitasi kandang,vaksinasi,pemberian vitamin B12 serta biosecurity. Pencegahan penyakit juga dilakukan melalui penyemprotan disinfektan berupa obat anti caplak, dilakukan setiap seminggu dua kali. Bioscurity dilakukan untuk mencegah masuknya bakteri pembawa penyakit ke dalam lokasi peternakan baik di kandang maupun padang penggembalaan.  Disinfektan yang digunakan adalah Neguvon.  Pencegahan ini dilakukan agar ternak tidak mudah terserang penyakit.
            Selain perawatan dan pencegahan,pengamatan juga perlu dilakukan agar kita dapat mendiagnosis penyakit apa yang menyerang ternak sehingga kita dapat menanganinya dengan tepat. Kemudian penanganan dapat dilakukan secara langsung dengan tim kesehatan hewan sesuai dengan penyakit yang diderita ternak tersebut. 
Pengamatan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengamati kondisi kesehatan ternak. Kegiatan ini terbagi menjadi dua yaitu pengamatan langsung dan tidak langsung. Pengamatan langsung adalah dengan cara mengamati ternak secara langsung di lapangan dan dilihat bagaimana kondisinya. Ternak yang sakit biasanya memiliki ciri-ciri, yaitu selalu menjauh dari kelompoknya karena kalah dalam persaingan pakan, terlihat lebih lemas dan tidak banyak beraktivitas. Pengamatan tidak langsung adalah pengamatan melalui data recording kesehatan yang tersaji dalam bentuk catatan dan softfile di komputer. Jika pada data terdapat tanda-tanda perubahan yang tidak wajar, maka ternak yang dimaksud akan langsung diperiksa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Penanganan dilakukan agar penyakit yang menyerang sapi tidak menular ke sapi lain,Penanganan secara tepat sangat penting karna apabila penanganan yang dilakukan tidak tepat dapat berakibat fatal terhadap sapi,Penanganan dilakukan tergantung penyakit yang menyerang ternak.Eliminasi dilakukan terhadap ternak yang afkir atau ternak yang produksinya jelek,biasanya ternak yang afkir akan dijual ke RPH.
4.5 Manajemen Kesehatan Ternak
·         Pelaksanaan Kesehatan Ternak
            Pelaksanaan kesehatan ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri dari perawatan, pencegahan penyakit, pengamatan, penanganan penyakit dan eliminasi ternak.  Perawatan Ternak. Perawatan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk merawat ternak agar tetap dalam kondisi yang sehat. Kegiatan perawatan di balai meliputi, pemotongan rambut, dehorning, dan pemotongan kuku. Pemotongan rambut merupakan kegiatan memotong rambut pada bagian sekitar penis ternak jantan. Kegiatan ini dilakukan pada saat penimbangan setiap bulan. Tujuannya agar rambut- rambut tersebut tidak menghalangi keluarnya semen saat pengambilan semen. Dehorning merupakan kegiatan pemotongan tanduk yang dilakukan pada ternak jantan dan betina pada umur satu bulan. Tujuan pemotongan adalah untuk mencegah terjadinya luka ketika ternak-ternak dikumpulkan dalam satu plot atau kandang. Terjadinya luka biasanya disebabkan ternak- ternak yang suka saling beradu satu sama lain. Pemotongan kuku merupakan kegiatan memotong kuku-kuku ternak yang sudah panjang agar tidak mengganggu ternak saat berjalan dan mencegah masuknya kotoran ke dalam kuku yang dapat menyebabkan terjadinya radang kuku. Kegiatan ini dilakukan tidak setiap hari, namun melihat kondisi ternak. Jika ada ternak yang sudah panjang kukunya, baru dilakukan pemotongan.         
·         Pencegahan penyakit.

            Pencegahan penyakit pada ternak dilakukan melalui kegiatan sanitasi yang baik, vaksinasi dan bioscurity. di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan pemberian vitamin B12 pada sapi yang kurus dan terlihat gejala penyakit seperti letih, lemah, lesu. Pencegahan penyakit juga dilakukan melalui penyemprotan disinfektan berupa obat anti caplak, dilakukan setiap seminggu dua kali. Desinfektan yang digunakan adalah Neguvon.      
Sanitasi dilakukan dengan membersihkan kandang dari kotoran ternak dan sisa pakan  Kotoran dan sisa pakan diangkut menggunakan drum untuk digunakan sebagai pupuk dasar ke lahan penggembalaan dan sisa-sisa kotoran yang masih menempel di lantai kandang disiram menggunakan air. Pembersihan kotoran dilakukan setiap pagi mulai pukul 07.30 sampai 10.00 WIB.           
Bioscurity di BPTU-HPT Padang Mengatas terdapat di dekat gerbang balai dan pos satpam. Bioscurity dilakukan untuk mencegah masuknya bakteri pembawa penyakit ke dalam lokasi peternakan baik di kandang maupun padang penggembalaan. Ketika kendaraan roda empat masuk melewati bioscurity, maka satpam akan memencet tombol untuk melakukan penyemprotan bioscurity pada kendaraan tersebut.   
·         Pengamatan.

            Pengamatan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengamati kondisi kesehatan ternak. Kegiatan ini terbagi menjadi dua yaitu pengamatan langsung dan tidak langsung. Pengamatan langsung adalah dengan cara mengamati ternak secara langsung di lapangan dan dilihat bagaimana kondisinya. Ternak yang sakit biasanya memiliki ciri-ciri, yaitu selalu menjauh dari kelompoknya karena kalah dalam persaingan pakan, terlihat lebih lemas dan tidak banyak beraktivitas. Pengamatan tidak langsung adalah pengamatan melalui data recording kesehatan yang tersaji dalam bentuk catatan dan softfile di komputer. Jika pada data terdapat tanda- tanda perubahan yang tidak wajar, maka ternak yang dimaksud akan langsung diperiksa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

·         Jenis - jenis Penyakit dan Penanganannya  (Lemah)

            Lemah dalam istilah balai adalah kelemahan umum merupakan penyakit yang sering diderita ternak. Tanda-tanda penyakit ini adalah lesu, demam dengan suhu di atas 390 oC, dan nafsu makan menurun. Terapi yang dilakukan adalah dengan pemberian Sulpidon dan Biosalamin. Sulpidon merupakan obat yang efektif menurunkan panas atau antipiretik, sedangkan Biosalamin merupakan obat yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pemberian obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
Defisiensi vitamin merupakan salah satu penyakit yang sering timbul ditandai dengan demam yang tinggi, lemas, lesu dan lemah. Terapi yang diberikan adalah dengan Sulpidon dan vitamin. Dosis pemberian sesuai dengan anjuran.  Radang kuku. Radang kuku merupakan infeksi yang terjadi pada kuku yang luka sehingga timbul peradangan. Penanganan pertama yang dilakukan adalah membersihkan dengan Iodiun Tincture, kemudian disemprot dengan Gusanek pada luka. Iodium Tincture adalah antiseptik yang diberikan sebelum penanganan luka lebih lanjut, sedangkan Gusanek adalah pembasmi larva pada luka dan mempercepat penyembuhan luka pada hewan karena mengandung antiseptik.  Ulcus. Ulcus merupakan suatu keadaan patologis yang menimbulkan kerusakan seluruh lapisan epitel dan jaringan di bawahnya. Penyebabnya adalah pencabutan kutil, sehingga menimbulkan kerusakan lapisan epitel. Penanganan pertama yang dilakukan adalah membersihkan dengan Iodiun Tincture, kemudian disemprot dengan Gusanek pada luka. 
 Parasit darah adalah penyakit yang disebabkan oleh babesia yang merupakan parasit obligat intraceluler. Vektor penyakit ini adalah caplak. Terapi yang dilakukan adalah pemberian Sulpidon, Biosalamin, Imizol dan Calcidex. Imizol adalah agen anti jamur, sedangkan Calcidex adalah obat untuk mengatas defisiensi kalsium.  Infeksi sekunder.  Infeksi sekunder infeksi yang awalnya bukan diakibatkan oleh mikroorganisme (misalnya alergi), namun akibat penanganan yang tidak sesuai maka akhirnya mikroorganisme turut terlibat di dalamnya. Tanda-tanda yang muncul adalah peningkatan suhu tubuh hingga lebih dari 390C. Terapi yang dilakukan adalah pemberian Sulpidon, Hematopan dan Vet-Oxy LA. Hematopan adalah merupakan vitamin yang berguna untuk menambah stamina, nafsu makan dan mengatas anemia. Vet-Oxy LA adalah obat yang meredakan infeksi karena mengandung Oxytetracycline. 
Myasis adalah kerusakan pada jaringan otot yang luka akibat belatung yang telah bersarang pada luka. Tanda-tanda Myasis adalah munculnya belatung pada luka. Penanganan pertama yang dilakukan adalah membersihkan belatung dari luka, kemudian dibersihkan kembali dengan Iodiun Tincture, kemudian diolesi dengan Vet-Oxy LA.  Papilloma. Papilloma adalah penyakit kulit atau tumor jinak yang menyerang kulit. Tanda-tanda penyakit ini adalah munculnya kutil-kutil pada bagian-bagian tubuh. Penanganan yang dilakukan adalah dengan Ivomex. Fungsi Ivomex adalah melumpuhkan dan membunuh parasit. 
Coccidiosis adalah penyakit parasit yang menyerang usus disebabkan oleh organisme mikroskopis. Tanda-tanda penyakit ini adalah diare dengan feses yang konsistensinya encer, kemudian diikuti dengan demam yang tinggi di atas 390C. Penanganan yang dilakukan adalah dengan pemberian Sulpidon, Vet-Oxy LA, Sulfa Strong dan Biogreen. Sulfa Strong adalah membunuh mikroorganisme yang peka terhadap sulfa.  Colibacilosis. Colibacilosis adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh Eschericia coli. Gejala awal yang terjadi hampir sama dengan coccidiosis, yaitu diare dengan feses yang konsistensinya encer, kemudian diikuti dengan demam yang tinggi di atas 390 C. Penanganan yang dilakukan adalah dengan memberikan Colibact dan Biogreen. Colibact adalah kombinasi sulfadiazine dan trimethoprim yang efektif dan bekerja saling menguatkan (potensiasi) dengan hasil peningkatan efek antibakteri yang sangat tinggi/bakterisidal.
Cervicitis adalah peradangan pada serviks atau leher rahim. Tidak ada gejala-gejala khusus yang timbul pada ternak jika terkena penyakit ini. Terapi pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan palpasi rektal, jika ditemukan pembekakan pada servik, maka diobati dengan Metritin. Metritin adalah obat yang digunakan untuk mengurangi pembekakan pada cervik.  Abses. Abses merupakan koleksi tertutup nanah pada jaringan, organ atau ruang terbatas pada tubuh. Tanda-tandanya adalah munculnya pembekakan yang mengandung nanah dan meradang. Penanganan yang dilakukan adalah mencukur rambut  pada bagian abses, kemudian tusuk Abses, cairan nanah dikeluarkan. Iodium Tincture cair dimasukan kedalam Abses ditambah PenStrep LA, kemudian semprotkan Gusanek pada luka. PenStrep LA merupakan kombinasi antibiotik paling aman dan ampuh untuk pengobatan radang. Eliminasi ternak.  Eliminasi ternak di BPTU-HPT Padang Mengatas dilakukan apabila ternak terserang penyakit berbahaya dan menular serta tidak dapat dilakukan penanganan lagi seperti Brucellosis, antraks dan IBR. Apabila tidak dilakukan eliminasi maka akan berdampak buruk pada penularan penyakit  pada sapi- sapi yang lain. 
4.6 Manajemen Pakan Ternak
Dari hasil kerja lapang yang dilakukan pada tanggal 15-30 Januari 2015 di BPTU-HPT Padang Mengatas didaerah Kecamatan Luak Kabupaten Lima Puluh Kota Payakumbuh Sumatera Barat, bahwa bahan pakan yang digunakan di BPTU-HPT Padang Mengatas terdiri atas rumput padang penggembalaan dan rumput potong, selain juga diberikan pakan tambahan yaitu konsentrat.

Waktu
Sapi yang ada di kandang diberikan hijauan 2 kali dalam sehari, yaitu pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB dan sore hari sekitar pukul 15.00 WIB. Sedangkan pemberian konsentrat dilakukan pada sekitar pukul 08.30 WIB. Jadi konsentrat diberikan terlebih dahulu sebelum hijauan. karena konsentrat mengandung protein yang tinggi. jika hijauan diberikan terlebih dahulu ada kemungkinan ternak tidak mau lagi memakan konsentrat karena telah kenyang duluan sedangkan protein yang terkandung dalam konsentrat lebih tinggi dari pada hijauan. konsentrat keseluruhan mengandung 14% protein.
Hijauan Pakan Ternak
Jenis rumput hijauan pakan ternak ada dua macam yaitu :
1.      Rumput Potong.
2.      Rumput Padang Penggembalaan.
            Rumput potong yaitu rumput mexico (Eucaena mexicana), rumput gajah (Pennisetum purpereum), rumput raja ( Pennisetum purpuides), rumput setaria (setaria spacelata), dan rumput benggala (Panicum Maximum). tapi yang ditanam di lahan pastura BPTU-HPT Padang Mengatas adalah rumput gajah, rumput raja dan rumput benggala. Kandungan PK rumput benggala 10,9%, rumput gajah PK 8,69%.
Rumput padang penggembalaan antara lain rumput karpet (Axonopus compressus), rumput BD (Braciaria decumbens), rumput BH (Braciaria humidicola), rumput signal (Cinodon Dactilon) dan rumput bintang (Star grass), yang ditanam dan dipergunakan di BPTU-HPT ini adalah rumput karpet dan BD. Kandungan PK rumput karpet 8,15%, rumput BD PK 9,83%, rumput signal PK 10,2%, star grass PK 10,7%.
Sedangkan legum ada dua jenis yaitu :
1.      Legum Pohon.
2.      Legum Menjalar.
            Legum menjalar antara lain adalah putri malu (Mimosa pudica), kacang arcis (Aracis pintoi), sentro (Centocema pubescen), Stilo (stylocantes) dan Desmodium. Yang ada dan digunakan di BPTU-HPT adalah kacang arcis, sentro dan siratro. Kandungan PK sentro 16,8%, stilo PK 15,6%, desmodium PK 16,7%. Tanaman tersebut dijadikan bibit dan dijuual ke masyarakat yang membutuhkan seharga Rp 250.000 per kg.  Legum pohon terdiri dari lamtoro (Leucaina Leucochephala), turi (Sesbania glandifora), indogo (Indigofera arrecta), gamal (Gliricidae maculata), kaliandra (Kaliandra). Kandungan PK lamtoro 24,2%, turi PK 29,2%.
Jenis-jenis rumput yang diberikan pada ternak sapi simental dan limousine yaitu rumput gajah (Penisetum purperium), rumput raja (Penisetum purpoides), rumput benggala (Panicum maximum) dan legum yaitu sentrosema (Sentrosema pubescens) dan lain sebagainya yang akan di cacah menggunakan mesin pencacahan yaitu mesin cooper. pencacahan tersebut bertujuan untuk memudahkan ternak mencerna hijauan. dalam sehari hijauan yang dicacah sebanyak 3 ton sedangkan seekor ternak sapi membutuhkan hijauan sebanyak 10 % dari berat badannya.
Rumput yang ada di padang penggembalaan yaitu rumput BD (Braciaria decumbens).rumput tersebut sangat cocok di daerah Padang Mengatas yang berada di dataran tinggi hal ini sesuai dengan pernyataan Miles et al., 1996 bahwarumput Brachiaria Decumbens ditanam pada padang penggembalaan permanen dan sistem cut and carry.Ditanam sebagai penutup tanah yang digembalai pada perkebunan dan sebagai penutup yang baik untuk menahan erosi pada daerah yang miring.
Konsentrat
Formulasi ransum yang ada di BPTUHPT Padang Mengatas berupa dedak padi 40%, dengan kandungan PK 13%, konsentrat pabrik 162 sebanyak 40%, mix cattle 2%, mineral 2% dan bungkil kelapa 16% dan mengandung PK 21,3% yang dicampur kedalam mesin mixer selama 30 menit. Fungsi mineral untuk sapi potong :
  Pertumbuhan sapi.
  Perkembangan reproduksi, baik itu sapi perah maupun sapi potong.
  Membantu metabolisme protein.
  Katalisator.
  Biosintesa zat-zat makanan esensial.
Kosentrat adalah campuran bahan-bahan makanan yang dicampur sedemikian rupa sehingga menjadi suatu bahan makanan yang berfungsi untuk melengkapi kekurangan gizi dari bahan makanan lainnya (hijauan). Pakan konsentrat mempunyai kandungan serat kasar rendah dan mudah dicerna. Pemberian pakan konsentrat per ekor per hari ± 1% dari berat badan. Selain itu konsentrat mempunyai fungsi yaitu :
·         Untuk hidup pokok/ mempertahankan kelangsungan hidup.
·         Untuk berproduksi/pertumbuhan.
·         Untuk reproduksi sapi bunting.
Pakan sangat berpera dalam menentukan sukses atau tidaknya dalam peternakan sapi karena pakan adalah kebutuhan utama sapi. Dalam pakan ternak sapi terdapat berbagai macam nutrisi yang diperlukan dalam kelancaran pertumbuhan dan perkembangbiakan.
Dedak padi yang berkualitas baik protein rata-rata dalam bahan kering adalah 12,4 %, lemak 13,6% dan serat kasar 11,6%. Kandungan protein Dedak padi lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan thiamin dan sangat tinggi dalam niasin. berikut ini merupakan tabel komposisi pakan hijauan dan konsentrat yang ada dan digunakan di BPTUHPT Padang Mengatas.
Tabel Kandungan Zat Makanan
Bahan Pakan
BK (%)
Kandungan
PK(%)
LK(%)
SK(%)
BETN(%)
CA(%)
P(%)
TDN(%)
Brachiaria decumbens
27,5
9,83
2,36
28,9
51,8
0,240
0,180
61,7
Axinopus compressus
26,8
8,15
1,84
29,3
50,1
0,343
0,130
57,4
Cynodon dactylon
30,6
10,2
2,28
29,7
46,9
0,417
0,253
57,4
Star grass
27,1
10,7
2,03
33,5
45,1
0,324
0,284
55,8
Panicum maximum
23,6
10,9
2,43
32,9
41,3
0,618
0,268
53,6
Pennisetum purpureum
22,2
8,69
2,71
32,3
43,7
0,475
0,347
52,4
Centrocema pubescens
24,1
16,8
4,04
33,2
36,5
1,20
0,377
60,2
Stylosanthes spp
21,4
15,6
2,09
31,8
41,6
1,16
0,424
59,8
Dedak padi halus
87,5
13,0
8,64
13,9
50,9
0,079
1,23

Bungkil kelapa
88,6
21,3
10,9
14,2
45,4
0,165
0,616


Fungsi dari cattle mix adalah melengkapi kebutuhan temak akan vitamin dan mineral, mencegah terjadinya hypocalcaemia & grass tetany, mencegah defisiensi vitamin dan mineral, meningkatkan produktivitas (kesuburan) dan stamina tubuh. Kemudian ransum yang sudah tercampur rata dimasukkan ke dalam karung yang beratnya 30 kg. Dalam sehari sapi yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas memerlukan sebanyak 1.471 kg untuk 935 ekor.
Pemberian pakan untuk sapi yang bunting, beranak dan yang sakit diberikan lebih banyak dibandingkan ddengan ternka yang ada di padang gembalaan karena lebih banyak membutuhkan nutrisi untuk menunjang pertumbuhan berat badan dan kesehatannya. Sapi yang ada di padang gembalaan juga diberikan konsentrat dengan cara digiring ke kandang restorasi sekalian untuk mengontrol kesehatan ternak tersebut. Kemudian sapi yang berada di plot atau padang penggembalaan yang cukup jauh pemberian konsentrat diberikan dengan cara diantarkan menggunakan kendaraan traktor lalu konsentrat tersebut ditebarkan di padang penggembalaan. Selain itu juga untuk pemberian pakan pada ternak sapi pesisir hanya diberikan pakan konsentrat satu kali dalam seminggu yaitu pada hari jumat.
Konsentrat pada umumnya dibutuhkan oleh ternak sebanyak 1%, selain yang disebutkan diatas berikut ini adalah kosentrat tambahan beserta tambahannya :
·         Yodium, untuk membantu perkembangan otak dengan cara membentuk zat tirosin pada kelenjar tiroid.
·         Flour, untuk membentuk lapisan email gigi yang melindungi dari segala macam gangguan pada gigi.
·         Sulfur untuk membentuk protenin di dalam tubuh.
·         Natrium, untuk membentuk garam di dalam tubuh dan untuk menghantar impuls dalam serabut syaraf dan tekanan osmosis pada sel yang menjaga keseimbangan cairan sel dengan cairan yang ada di sekitarnya.
·         Kalium, untuk aktivitas otot jantung.
·         Kalsium, untuk kekuatan tulang dan gigi serta otot.
BPTU-HPT Padang Mengatas terdapat dua bagian plot padang pnggembalaan yaitu plot barat dan plot timur. Plot sebelah barat terdiri dari plot 1 – 23 sedangkan plot bagian timur terdiri dari plot A – F dengan masing masing ukuran plotnya bervariasi antara 5 – 12 ha. Jenis tanah yang ada di BPTUHPT ini adalah plot sholit merah kuning. Luas lahan keseluruhan yaitu 280 ha.

Budidaya HPT :
·         Pembersihan lahan
·         Pengolahan tanah
·         Pengasaman
·         Pemberian pupuk kandang
·         Penanaman
·         Penyiangan
·         Pemupukan
·         Pemanenan



BAB VI. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari Kerja Lapang ini adalah :
  1. Untuk menghasilkan bibit ternak yang unggul dan sehat diperlukan manajemen atau tata laksana yang baik pula yang meliputi manajemen pemeliharaan, sarana dan prasarana, pakan dan konsentrat, kesehatan serta produksi bibit ternak.
  2. Pengetahuan tentang manajemen tata laksana yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas sangat berguna dan dapat diaplikasikan ke masyarakat khususnya mahasiswa peternakan Universitas Bengkulu.
6.2 Saran
  1. Sebaiknya susunan ransum yang ada di BPTU-HPT Padang Mengatas lebih disesuaikan lagi berdasarkan kebutuhan ternak seperti ternak yang bunting, beranak, sakit atau dalam kondisi fisik yang lemah.
  2.  Sebaiknya dilakukan vaksinasi sesuai waktu dan umur ternak untuk menunjang kesehatan ternak itu sendiri.




Asri, M dan J. Suprihanto. 1986. Manajemen Perusahaan Edisi 1. BPFE. Yogyakarta..
Budiharjo, K., M. Handayani dan G. Sanyoto. Analisis profitabilitas usaha penggemukan sapi     potong di kecamatan Gunung Pati kota Semarang. Fakultas Peternakan Univrsitas Diponegoro. Semarang. J 7 (1) : 1-9.

Dwiyanto, K. 2003. Pengelolaan Plasma Nutfah Untuk Mendukung Industri Sapi Potong Berdaya Saing. Proc. Seminar Pengembangan Sapi Lokal. Fakultas Peternakan.    Universitas Gajah Mada.

Endrawati, E., E. Baliarti dan S. P. S. Budhi. 2010. Peformans induk sapi silangan Simmental peranakan ongole dan induk sapi peranakan ongole dengan pakan hijauan dan konsentrat. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah mada. Yogyakarta. Buletin Peternakan 34 (2) : 86-93.

Guntoro, B., S. Nurtini, A. Musofie, dan N. Kusumawardhani. 2000. Penilaian teknologi untuk produksi sapi potong rakyat di Kabupaten Bantul. Research Report. Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.

Hadi, P. U dan N. Ilham. 2002. Problem dan Prospek Pengembangan Usaha Pembibitan Sapi     Potong di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. 
Hamalik. 1980. Manajemen Edisi 2. BPFE. Yogyakarta. 

Handoko dan apakan kosentrat, H. 1999. Manajemen Edisi 2. BPFE. Yogyakarta. 
Hikmah, Z., Zuraida, R. dan R.S. Eni.2002. Analisa Kelayakan Usaha Ternak Sapi Potong Melalui Perbaikan Manjemen Pada Kelompok Ternak Kawasan Baru. Seminar nasional teknologi peternakan dan Veteriner.

Iswoyo dan P. Widyaningrum. 2008. Peformans reproduksi sapi peranakan Simmental (psm) hasil inseminasi buatan di kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. J Ilmu Peternakan 11 (3) : 125-133.
Laporan hasil BPTU Sapi potong Padang Mengatas 2009

Merkel, J.A. 1981. Managing Livestock Wastes. West Port. Connecticut : AVI Pubilshing Company Inc.
.
Mersyah, R. 2005. Desian Sistem Budidaya Sapi Potong Berkelanjutan Untuk Mendukung           Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Bengkulu Selatan. Disertai, Sekolah            pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.

Nurhayati. 2000. Analisis efisiensi pemasaran ternak sapi siap potong di Kabupaten Grobogan. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Partodihardjo,S., 1980. Ilmu Reproduksi hewan. Mutiara. Jakarta.
Pola Kemitraan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan. Banjarbaru. 
Prihandini, P. W dan U. Umiyasih. 2008. Pembibitan Sapi Lokal (PO) di Peternakan Rakyat
Rakor Kegiatan .2016. Membangun Komitmen antara Bidang Sarpras, Pertanian dan Penyuluh se-Kabupaten Pandeglang: Banten
Reksohadiprojo, S. 1992. Dasar-dasar Manajemen. BPFE. Yogyakarta. 
 
Rianto, E. dan E. Purbowati. 2010. Panduan Lengkap Sapi Potong. Cetakan ke 2. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setiawan, A., T. Benito dan A. H. Yuli. 2013. Pengelolaan limbah ternak pada kawasan budidaya ternak sapi potong di kabupaten Majalengka. Fakultas Peternkan, Universitas Padjadjaran. J Ilmu Ternak 13 (1) : 24-30.

Siagian, R. 2003. Pengantar Manajemen Agribisnis. UGM Press. Yogyakarta.

Soeparno.1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University        Press,Yogyakarta.
Soepartono. 2006. Bahan Ajar Perencanaan dan Evaluasi Proyek Peternakan. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta. 

Stiadi, D. 2011. Memilih Bakalan Sapi Untuk Di Gemukan. Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sukra. Sukra.

Sugeng, Y.B., 2003. Pembiakan Ternak Sapi. Gramedia. Jakarta.

Suhada, H., Sumadi dan N. Ngadiyono. 2009. Estimasi parameter genetic sifat produksi sapi Simmental dibalai pembibitan ternak unggul sapi potong Padang Mangatas, Sumatera Barat. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah mada, Yogyakarta. Buletin peternakan 33 (1) : 1 -7.

Suryana. 2009. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis dengan Pola Kemitraan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan. Banjarbaru. 

Susanty, I. 2009. Pengelolaan Biogas Sebagai Mesin Listrik dan Kompor Rumah Tangga. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BALITBANGDA) Propinsi Sulawesi Selatan, Makassar.
Talib, C. dan A.R. Siregar. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pedet PO dan crossbrednya dengan Bos indicus dan Bos taurus dalam pemeliharaan tradisional. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbangnak. Bogor.

Widiati, R dan K. A. Santosa. 2008. Bahan Ajar Perencanaan dan Evaluasi Proyek Peternakan. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta. 

Winugroho M. 2002. Strategi Pemberian Pakan Tambahan Untuk Memperbaiki Efisiensi   Reproduksi Induk Sapi. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 21. No 1.

Winugroho M. 2002. Strategi Pemberian Pakan Tambahan Untuk Memperbaiki Efisiensi   Reproduksi Induk Sapi. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 21. No 1.

Wiratno, M. 2001. Pengantar Kewiraswastaan. BPFE Yogyakarta.