LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENETASAN
“PENETASAN TELUR PUYUH”

Di susun Oleh :
Nama : Tamrin Simbolon
NPM : E1C014054
Kelompok : 2 (Dua)
Dosen : Ir. Hardi prakoso MP
Co
ass : Gendro Gusmantoro
JURUSAN PETERNAKAN – FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pemenuhan
telur dan daging unggas dapat dipenuhi dari diperlukan bibit unggas yang baik
dan unggul. Bibit unggas yang baik dan unggul hanya bisa diperoleh melalui
teknik pembibitan yang ditangani sesuai prosedur yang benar (Jayasamudra dan
Cahyono, 2005). Teknik pembibitan harus ditangani secara benar dan tepat,
sehingga menghasilkan ternak unggas yang memiliki kualitas dalam menghasilkan
telur konsumsi.
Kebutuhan
produksi telur dan daging unggas tidak dapat terlepas dengan proses penetasan.
Saat ini, penetasan telur unggas di Pedesaan masih banyak yang menggunakan
induk untuk menetaskan telur. Hal ini dirasa kurang efektif karena jumlah telur
yang dapat ditetaskan per induk relatif sedikit, yaitu hanya berkisar antara 5
sampai 10 telur. Sementara kebutuhan konsumsi telur dan daging terus meningkat
seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di Indonesia, sehingga
dibutuhkan suatu teknologi untuk dapat menetaskan telur unggas sesuai dengan
permintaan.
Salah
satu teknologi yang sampai saat ini mulai digunakan adalah mesin penetasan.
Penetasan telur unggas sudah mulai dilakukan diberbagai daerah. Usaha penetasan
telur unggas dengan mesin tetas di Indonesia pada umumnya menggunakan mesin
tetas dengan kapasitas 250–350 butir/unit baik dalam skala usaha kecil,
menengah hingga skala besar (Juarini dan Sumanto, 2000).
Usaha
peternakan unggas sebagai penghasil telur dan daging semakin mengarah pada
usaha komersial yang pengelolaannya harus dilaksanakan secara efisien.
Pengembangan usaha penetasan telur unggas komersial seyogyanya harus dapat
memenuhi permintaan dengan tidak mengabaikan kualitasnya, sehingga tercapai
kepuasan antara produsen dan konsumen. Mesin tetas merupakan sumberdaya yang
vital dalam keberlangsungan usaha peternakan unggas secara komersial.
1.2
Tujuan
1. Mengetahui proses
penetasan telur puyuh
2.Mengetahui lama
menetasnya telur puyuh
3.Mengetahui jumlah
telur yang menetas
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persiapan
Penetasan
Mesin tetas merupakan
mesin penetasan yang mempunyai prinsip kerja seperti pada induk ayam pada saat
mengerami telur. Mesin tetas diusahakan memenuhi berbagai syarat yang sesuai
untuk perkembangan struktural dan fisiologi dari embrio anak ayam. Dalam
pembuatan alat tetas perlu dipertimbangkan beberapa solusi dalam pengaturan
parameter biologi yang meliputi temperatur, kelembaban udara dan sirkulasi
udara. Pada alat penetasan semua faktor-faktor
tersebut dapat diatur dengan baik sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan
sesuai dengan kondisi proses biologi penetasan (Nesheim et al., 1979).
Sebelum digunakan peralatan penetasan
disucihamakan dahulu. Semua alat dicuci bersih dan disemprot dengan obat
pembasmi hama. Juga bisa digunakan alkohol 70% untuk bahan penyemprot.
Selanjutnya alat dikeringkan dan dimasukkan dalam ruang penetasan (Chan dan
Zamrowi, 19943).
Alat pemanas dihidupkan dan diatur jarak
penyetekan antara temperatur 99-102oF dengan cara mengatur jarak dengan memutar gagang pelatuk
pada switch diantara regulator dengan switch. Setelah temperatur yang diinginkan tercapai (temperatur
konstan), dibiarkan sampai satu jam sambil dikontrol (Soedjarwo, 1999). Begitu
juga untuk kelembaban udara. Bak air diisi dengan air jangan sampai penuh dan
dimasukkan ke dalam alat penetas. Diatur kelembabannya antara 55-60%.
Pengaturan dilakukan dengan menambah atau mengurangi air dalam bak. Untuk lebih
mudahnya biasanya bak diisi air 2/3 bagian dan dibiarkan sampai kelembaban
konstan (Nuryati et al., 1998).
Telur biasanya tidak bisa langsung dapat
dimasukkan ke dalam alat penetasan, mengingat ada periode tertentu untuk
persiapan penetasan telur. Untuk itu diperlukan waktu penyimpanan sebelum
penetasan. Masa penyimpanan sebaiknya tidak lebih dari 7 hari, karena
penyimpanan yang melebihi waktu tersebut akan menurunkan prosentase penetasan
telur tetas (Nesheim et al., 1979).
Kelembaban udara sangat penting mengingat
untuk mempertahankan laju penguapan air di dalam telur. Akibat penguapan udara
ini akan membesar kantung udara. Kelembaban udara dapat dilihat pada higrometer
dan mengaturnya dengan cara menambah atau mengurangi air di dalam bak air. Pada
kerabang telur terdapat ribuan pori-pori mikro untuk pertukaran gas. Oleh
karena itu untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu
diatur kelembaban pada 65-70%. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi
lebih dari 70% (Shanawany, 1994).
B. Telur
Telur merupakan salah satu produk pangan
hewani yang lengkap kandungan gizinya. Selain itu telur merupakan bahan makanan
yang mudah dicerna. Sebutir telur terdiri dari 11 % kulit telur, 58% putih
telur dan 31% kuning telur (Sudaryani, 2003). Telur mempunyai kandungan air,
protein, lemak, karbohidrat dan abu berturut-turut sebesar 66,5; 12,01; 10,5;
0,9; dan 10,9% (Hardini, 2000).
Telur tetas merupakan telur yang didapatkan
dari induknya yang dipelihara bersama pejantan dengan perbandingan tertentu.
Telur tetas mempunyai struktur tertentu dan dan masing-masing berperan penting
untuk perkembangan embrio sehingga menetas. Agar dapat menetas telur sangat
tergantung pada keadaan telur tetas dan penanganannya (Nuryati, et al., 1998).
Telur unggas secara umum mempunyai struktur
yang sama. Terdiri dari enam bagian yang penting untuk diketahui, yaitu
kerabang telur (egg shell), selaput kerabang telur (membrane shell), putih
telur (albumen), kuning telur (yolk), tali kuning telur (chalaza) dan sel benih
(germinal disk) (Nesheim et al., 1979).
Telur tetas yang normal berbentuk bulat telur
atau oval. Telur dengan bentuk bulat atau tgerlalu lonjong merupakan telur
abnormal sehingga mempengaruhi posisi embrio menjadi abnormal yang
mengakibatkan telur banyak yang tidak menetas (Nuryati, et al., 1998). Letak rongga udara harus normal yaitu pada bagian yang
tumpul dan simetris berada di tengah-tengah (Chan dan Zamrowi, 1993).
C. Proses
penetasan
Penetasan merupakan
proses perkembangan embrio di dalam telur sampai telur pecah menghasilkan anak
ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh induk ayam atau secara buatan
(artifisial)
menggunakan mesin tetas. Telur yang digunakan adalah telur tetas, yang
merupakan telur fertil atau telur yang telah dibuahi oleh sperma, dihasilkan
dari peternakan ayam pembibit, bukan dari peternakan ayam petelur komersil (Suprijatna et
al., 2005).
Pada prinsipnya
penetasan telur dengan mesin tetas adalah mengkondisikan telur sama seperti
telur yang dierami oleh induknya. Baik itu suhu, kelembaban dan juga posisi
telur. Dalam proses penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki kelebihan
di banding dengan penetasan secara alami, yaitu : dapat dilakukan
sewaktu-waktu, dapat dilakukan dengan jumlah telur yang banyak, menghasilkan
anak dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan, dapat dilakukan pengawasan dan
seleksi pada telur (Yuwanta, 1983).
Penetas ( pemanas dari
listrik ) yang menggunakan tenaga listrik dilengkapi dengan lampu pijar dan
seperangkat alat yang disebut termostat (termoregulator). Alat ini dapat
mengatur suhu di dalam ruangan penetasan secara otomatis. Jika panasnya
melebihi batas yang kita tentukan, maka termoregulator akan bekerja memutus
arus listrik, akibatnya lampu pijar menjadi mati. Demikian suhu udara di dalam
mesin tetas tetap stabil. Apabila dengan waktu tertentu ruangan atau kotak itu
suhunya rendah, maka termostat bekerja kembali untuk menyambung arus dan lampu
pijar menyala pula ( Marhiyanto, 2000 ).
Menurut Shanawany
(1994), untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur
kelembaban pada 65 – 70 %. Mulai hari
ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70 %. Cara lain dengan melihat
pada kaca ventilasi masin tetas. Bila pada kaca terdapat butir-butir air
berarti kelembaban terlalu tinggi. Dalam kondisi tersebut, kaca segera dilap
sampai kering, ventilasi dibuka dan bak air dikeluarkan.
D. Tahap
Akhir Penetasan
Tahap akhir dari penetasan adalah evaluasi
penetasan. Hal-hal yang dievaluasi meliputi fertilitas, mortalitas dan daya
tetas. Menurut Tri-Yuwanta (1983), fertilitas adalah perbandingan antara telur
fertil dengan telur yang ditetaskan dan dinyatakan dalam persen. Mortalitas
adalah jumlah embrio yang mati selama proses penetasan dan dinyatakan dalam
persen. Daya tetas adalah jumlah telur yang menetas dari sekelompok telur
fertil yang dinyatakan dalam persen.
Daya tetas menurut Shanaway (1994),
dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1. Berat telur
Berat telur yang terlalu besar atau terlalu
kecil menyebabkan menurunya daya tetas. Berat telur yang ditetaskan harus seragam dengan bangsa
dan tipenya.
2. Penyimpanan telur
Penyimpan paling lama 1 minggu. Penyimpanan
diatas 4 hari menyebabkan Daya tetas menurun sebesar 25 % setiap hari. Untuk
telur baru, penyimpanan pada temperatur 21-230C menyebabkan physiological
zero, artinya embrio dalam
kondisi tidak mengalami pertumbuhan. Temperatur optimum, untuk penyimpanan telur adalah
sebesar 16-18 0C dengan
RH 75-80%.
3. Tempeteratur
Temperatur optimuim pada permukaan atas telur 39-39,5 0C.
4. Kelembaban
Kelembaban yang trepat membantu agar
pertumbuhan embrio sempurna dan normal. Kelembaban yang optimal adalah sebesaqr
65-70%.
5. Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk distribusi panas dan
kelembaban mengeluarkan CO2 dan suplai O2. kelembaban
minimal sebesar 18%.
6. Posisi dan Pemutaran telur
Berfungsi untuk meratakan panas serta menjaga agar embrio
tidak menempel pada kerabang telur. Setiap pemutaran germinal disc akan bersentuhan dengan nutrien yang segar. Tanpa pemutaran kekurangan nutien dan oksigen.
7. Nutrisi induk
Defisiensi pada induk dapat menyebabkan
gangguan pada pertumbuhan dan menyebabkan kematian embrio.
8. Kesehatan Induk
Apabila induk tidak sehat maka dapat mengganggu transfer
nutrien ke dalam telur, sehingga embrio kekurangan nutrien. Akibat
selanjutnya dapat menurunkan daya tetas.
9. Infeksi bakteri/ virus
Infeksi bakteri/virus pada telur dapat menyebabkan
kematian embrio.
E. DOC
(Day Old Chick)
DOC(day old chick),
anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat
penting. DOC yang baik ditandai dengan kriteria sebagai berikut:
§
Berat badn memenuhi
berat ideal, yaitu 35 g atau sesuai berat badan standar, yaitu tidak kurang
dari 32 g. Berat badan DOC berkorelasi positif terhadap laju pertumbuhan ayam.
§ Berperilaku gesit, lincah, dan aktif mencari makan. Jika
dipegang akan bereaksi, kotoran tidak lengket di dubur.
§
Posisi dalam kelompok
selalu tersebar.
§ Rongga perut elastis, pusar kering tertutup bulu kapas
yang halus, lembut dan mengkilap.
§
Mata bulat dan cerah
(Setiawan, 2010).
Pada 24 jam pertama
setelah menetas maka anak ayam masih dibiarkan di dalam alat penetasan dan
tidak diberi makan. Hal ini disebabkan di dalam tubuh DOC masih ada persediaan
makanan pada yolk. Biarkan cangkang pada tempatnya, karena berguna untuk
melatih anak ayam mematuk dan menimbulkan rangsangan makan, karena terdapat
sisa-sisa makanan dalam cangkang tersebut (Chan dan Zamrowi, 1993).
Setelah semua telur menetas dan berada 24 jam
dalam mesin tetas maka anak ayam diambil dan dilakukan seleksi anak ayam.
Selain itu dilakukan aktivitas lain seperti penmotongan paruh, vaksinasi marek
untuk ayam layer, packing (pengemasan DOC) ke dalam box, dan penyimpanan
sementara sampai anak ayam dikirim ke peternakan (Sudaryani dan Santosa, 2000).
BAB
III
METODOLOGI
PRAKTIKUM
3.1
Alat & Bahan
·
Alat
Ø Mesin
tetas
Ø Timbangan
Ø Kardus
untuk anak puyuh
Ø Lampu
25 watt
Ø Termometer
Ø Nampan
·
Bahan
Ø Telur
puyuh sebanyak 30 butir
Ø Air
3.2
Cara Kerja
Ø Menyiapkan
telur sebanyak tiga puluh butir yang sudah dibersihkan untuk ditetaskan
Ø Menyiapkan
mesin tetas
Ø Mengatur
atau menyetel suhu dan kelembaban suhu di dalam mesin tetas sampai konstan
Ø Memasukan telur puyuh kedalam mesin tetas.
Ø Melakukan pengamatan setiap hari selama 14 hari, empat hari pertama
telur harus dibolak balik sebanyak 3
kali sehari.
Ø Menimban dan mencatat berat
anak puyuh yang sudah menetas ( 3 jam setelah bulunya kering ).
Ø Masukan puyuh kedalam kardus yang telah disediakan .
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
·
Berat telur
puyuh yang akan ditetaskan
|
No
|
Berat Telur ( Gram )
|
No
|
Berat Telur( Gram )
|
|
1
|
11,33
|
16
|
11,67
|
|
2
|
10,77
|
16
|
11,09
|
|
3
|
10,97
|
18
|
9,71
|
|
4
|
11,26
|
19
|
10,53
|
|
5
|
11,22
|
20
|
9,38
|
|
6
|
11,16
|
21
|
10,61
|
|
7
|
9,80
|
22
|
9.93
|
|
8
|
10,15
|
23
|
11,47
|
|
9
|
11,29
|
24
|
10,62
|
|
10
|
10,97
|
25
|
10,28
|
|
11
|
9,36
|
26
|
11,68
|
|
12
|
10,48
|
17
|
11.16
|
|
13
|
11,06
|
28
|
10,04
|
|
14
|
10,42
|
29
|
9,90
|
|
15
|
10,28
|
30
|
10,27
|
·
Pengamatan Suhu
mesin tetas per individu
|
Hari / umur telur / tanggal
|
Suhu pagi,siang, sore ( ̊̊F )
|
|
Senin/1 hari / 20 maret 2017
|
102 / 101 / 98
|
|
Senin/7 hari / 20 maret
|
103 / 100 /102
|
·
Pengamatan
puyuh yang menetas
|
No
|
Menetas hari ke / tanggal
|
Berat anak puyuh ( g)
|
Keterangan
|
|||
|
1
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
7,64
|
Menetas
|
|||
|
2
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
8,39
|
Menetas
|
|||
|
3
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
8,32
|
Menetas
|
|||
|
4
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
7,95
|
Menetas
|
|||
|
5
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
8,01
|
Menetas
|
|||
|
6
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
8,31
|
Menetas
|
|||
|
7
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
7,68
|
Menetas
|
|||
|
8
|
Hari ke 15/ 3 April 2017
|
7,50
|
Menetas
|
|
||
|
9
|
Hari ke 16/ 4 April 2017
|
8,25
|
Menetas
|
|||
|
10
|
Hari ke 16/ 4 April 2017
|
6,95
|
Menetas
|
|
||
|
11
|
Hari ke 16/ 4 April 2017
|
7,75
|
Menetas
|
|||
|
12
|
Hari ke 16/ 4 April 2017
|
8,48
|
Menetas
|
|||
|
|
||||||
·
Pengamatan
puyuh yang tidak menetas
|
No
|
Menetas hari/tanggal
|
Berat anak puyuh (g)
|
Keterangan
|
|
1
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
2
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
3
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
4
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
5
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
6
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
7
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
8
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
9
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
10
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
11
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
12
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
13
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
14
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
15
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
16
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
17
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
|
18
|
-
|
-
|
Tidak menetas
|
4.2
Pembahasan
Telur
yang digunakan untuk praktkum penetasan kali ini adalah telur puyuh yang
digunakan sebanyak 30 butir. Dari 30 butir telur tersebut tidak semua telur
dalam keadaan bersih sehingga dilakukan pencucian dengan mengguanakan air panas
dengan cara mengusapkan air panas tersebut dengan menggunakan kapas yang
bersih. Bentuk dari telur tersebut dalam keadaan normal semua atau bentuk
telur, warna dari telur puyuh adalah putih bercak bercak coklat dam hitam suhu
yang normal untuk mesin tetas adalah 95 – 105 ̊F.
Berat telur yang digunakan
bervariasi dari mulai 9 gram hinggal 12 gram, pengamatan telur puyuh ini
dilakaukan selama 15 hari. Pada empat hari pertama dilakukan pemutaran telur
sebanyak tiga kali sehari yaitu pagi siang dan sore, Pemutaran telur bertujuan
untuk meratakan panas yang diterima telur dan menghindari embrio lengket pada
sisi kerabang. Pada penetasan alami, tiap 15-20 menit induk melakukan pemutaran
telur sehingga dalam sehari dilakukan 72-96 kali pemutaran. Pada penetasan
buatan, pemutaran secara manual dilakukan sebanyak 3-9 kali (ganjil), sedangkan
bila pemutaran secara otomatis dapat tiap satu jam sekali.
Telur yang ditetaskan di dalam mesin
tetas selama penetasan ada yang nenetas 30 butir dan yang tidak menetas 25 butir.
5 yang ditetaskan mengalami kematian, hal tersebut dikarenakan anak puyuh yang
menetas masuk kedalam nampan yang berisi air.
Kegagalan dapat terjadi dalam proses
penetasan dengan mesin tetas. Menurut Sudrajat (2001) bahwa kegagalan menetas
pada telur-telur tetas disebabkan oleh kualitas telur juga disebabkan oleh kualitas
faktor mesin tetas itu sendiri, antara lain (1) Suhu mesin tetas tidak stabil,
misalnya listrik mati atau suhu mesin tetas sering naik turun (2) Udara dalam
mesin tetas terlalu kering (3) Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dan
(4) Kurang tepatnya dalam membalik telur dalam mesin tetas sehingga embryo
dalam telur mati.
Tahap akhir dalam proses penetasan
yakni segera setelah puyuh dikeluarkan maka segera dilakukan sanitasi pada
mesin tetas. Cara-cara sanitasi alat tetas yang selesai digunakan antaralain :
(1) Membuang dan membersihkan kulit telur yang menetas dan telur yang tidak
menetas dari rak telu, (2) Membersihkan bak air, (3) Mengeluarkan termometer
dari mesin tetas dan membersihkannya, (4) Membersihkan seluruh kotoran yang ada
didalam kotak penetasan telur.
Menurut Rasyaf (2002), telur yang
tidak menetas menjadi lebih banyak bila menggunakan mesin tetas dibandingkan
dengan pengeraman dengan induk ayam. Kesalahan temperatur, kelembaban mesin
tetas atau terlalu banyak menggunakan obat pembunuh kuman dapat menyebabkan
banyak telur yang tidak menetas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi daya
tetas telur menurut Rukmana (2003) adalah sebagai berikut:
1.Kesalahan-kesalahan
teknis pada waktu memilih telur tetas.
2.
Kesalahan-kesalahan teknis dari petugas yang menjalankan mesin tetas atau
kerusakan teknis pada mesin tetas.
3. Iklim yang
terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga mengakibatkan menurunnya daya tetas
telur.
Pada praktikum yang kami lakukan,
beberapa hari listrik sempat padam mungkin ini juga salah satu penyebab
banyaknya telur yang tidak menetas, kendala lain yang kami alami adalah
seringnya laboratorium terkunci sehingga untuk melakukan proses pembalikan
telur menjadi
terkendala.
Pada praktikum kali ini terdapat satu
ekor puyuh yang mati.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
1.
Proses pertama
yang harus dilaksanakan dalam penetasan adalah menyiapkan telur yang akan
ditetaskan sesuai dengan krekteria penetasan telur, setelah itu membersikan
telur, menyiapkan mesin tetas yang akan digunakan dan memutarkan telur sesuai
yang diinstruksikan.
2.
Lama penetasn
telur puyuh yaitu sekitar 14 sampai 16 hari
3.
Dari 30 telur
yang ditetaskan untuk kelompok kami (2) yang menetas hanyalah 12 ekor,1 dalam keadaan mati karena puyuh tersebut
lemah system imunnya sehingga tidak dapat bertahan hidup.
5.2 Saran
Sebaiknya penjaga lab harus standby dijurusan
agar tidak terjadi kesalahan seperti lab tutup sehingga telur tidak dapat
dibalikan dan tidak biasa dilakukan pengamatan
DAFTAR PUSTAKA
Chan, H. dan M. Zamrowi. 1993. Pemeliharaan dan Cara Pembibitan
Ayam Petelur. Penerbit Andes Utama. Jakarta.
Hardini, S. Y. P. K. 2000. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur
Konsumsi dan Telur Biologis terhadap Kualitas Interior Telur Ayam Kampung.
Jayasamudera, Dede Juanda dan Cahyono Bambang. 2005. Pembibitan
Itik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nesheim, M. C., R. E. Austic dan L. E. Card. 1979. Poultry
Production. Lea and Febiger, Philadelphia.
Nuryati, T. N., Sutarto, M. Khamin dan P. S. Hardjosworo. 1998.
Sukses Menetaskan Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta..,
2002. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana Rahmat. 2003. Ayam Buras: Intensifikasi dan Kiat
Pengembangan. Kainisius. Jakarta.
Shanawany. 1994. Quail Production Systems. FAO of The United
Nations. Rome.
Soedjarwo, E. 1999. Membuat Mesin Tetas Sederhana. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Sudaryani, T. dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sudrajad. 2001.
Beternak Ayam Vietnam untuk Aduan. Penebar Swadaya. Jakarta.