Minggu, 16 April 2017

Laporan Praktikum Teknologi Penetasan Telur Puyuh

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENETASAN
“PENETASAN TELUR PUYUH”

Hasil gambar untuk logo unib terbaru

Di susun Oleh :

                                                Nama              : Tamrin Simbolon
                                                NPM               : E1C014054
                                                Kelompok      : 2 (Dua)
                                                Dosen              : Ir. Hardi prakoso    MP
                                                Co ass             : Gendro Gusmantoro


JURUSAN PETERNAKAN – FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2017



 BAB I      
 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pemenuhan telur dan daging unggas dapat dipenuhi dari diperlukan bibit unggas yang baik dan unggul. Bibit unggas yang baik dan unggul hanya bisa diperoleh melalui teknik pembibitan yang ditangani sesuai prosedur yang benar (Jayasamudra dan Cahyono, 2005). Teknik pembibitan harus ditangani secara benar dan tepat, sehingga menghasilkan ternak unggas yang memiliki kualitas dalam menghasilkan telur konsumsi.
Kebutuhan produksi telur dan daging unggas tidak dapat terlepas dengan proses penetasan. Saat ini, penetasan telur unggas di Pedesaan masih banyak yang menggunakan induk untuk menetaskan telur. Hal ini dirasa kurang efektif karena jumlah telur yang dapat ditetaskan per induk relatif sedikit, yaitu hanya berkisar antara 5 sampai 10 telur. Sementara kebutuhan konsumsi telur dan daging terus meningkat seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk di Indonesia, sehingga dibutuhkan suatu teknologi untuk dapat menetaskan telur unggas sesuai dengan permintaan.
Salah satu teknologi yang sampai saat ini mulai digunakan adalah mesin penetasan. Penetasan telur unggas sudah mulai dilakukan diberbagai daerah. Usaha penetasan telur unggas dengan mesin tetas di Indonesia pada umumnya menggunakan mesin tetas dengan kapasitas 250–350 butir/unit baik dalam skala usaha kecil, menengah hingga skala besar (Juarini dan Sumanto, 2000).
Usaha peternakan unggas sebagai penghasil telur dan daging semakin mengarah pada usaha komersial yang pengelolaannya harus dilaksanakan secara efisien. Pengembangan usaha penetasan telur unggas komersial seyogyanya harus dapat memenuhi permintaan dengan tidak mengabaikan kualitasnya, sehingga tercapai kepuasan antara produsen dan konsumen. Mesin tetas merupakan sumberdaya yang vital dalam keberlangsungan usaha peternakan unggas secara komersial.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui proses penetasan telur puyuh
2.Mengetahui lama menetasnya telur puyuh
3.Mengetahui jumlah telur yang menetas

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Persiapan Penetasan
Mesin tetas merupakan mesin penetasan yang mempunyai prinsip kerja seperti pada induk ayam pada saat mengerami telur. Mesin tetas diusahakan memenuhi berbagai syarat yang sesuai untuk perkembangan struktural dan fisiologi dari embrio anak ayam. Dalam pembuatan alat tetas perlu dipertimbangkan beberapa solusi dalam pengaturan parameter biologi yang meliputi temperatur, kelembaban udara dan sirkulasi udara. Pada alat penetasan semua faktor-faktor tersebut dapat diatur dengan baik sesuai dengan kondisi yang diinginkan dan sesuai dengan kondisi proses biologi penetasan (Nesheim et al., 1979).
Sebelum digunakan peralatan penetasan disucihamakan dahulu. Semua alat dicuci bersih dan disemprot dengan obat pembasmi hama. Juga bisa digunakan alkohol 70% untuk bahan penyemprot. Selanjutnya alat dikeringkan dan dimasukkan dalam ruang penetasan (Chan dan Zamrowi, 19943).
Alat pemanas dihidupkan dan diatur jarak penyetekan antara temperatur 99-102oF dengan cara mengatur jarak dengan memutar gagang pelatuk pada switch diantara regulator dengan switch. Setelah temperatur yang diinginkan tercapai (temperatur konstan), dibiarkan sampai satu jam sambil dikontrol (Soedjarwo, 1999). Begitu juga untuk kelembaban udara. Bak air diisi dengan air jangan sampai penuh dan dimasukkan ke dalam alat penetas. Diatur kelembabannya antara 55-60%. Pengaturan dilakukan dengan menambah atau mengurangi air dalam bak. Untuk lebih mudahnya biasanya bak diisi air 2/3 bagian dan dibiarkan sampai kelembaban konstan (Nuryati et al., 1998).
Telur biasanya tidak bisa langsung dapat dimasukkan ke dalam alat penetasan, mengingat ada periode tertentu untuk persiapan penetasan telur. Untuk itu diperlukan waktu penyimpanan sebelum penetasan. Masa penyimpanan sebaiknya tidak lebih dari 7 hari, karena penyimpanan yang melebihi waktu tersebut akan menurunkan prosentase penetasan telur tetas (Nesheim et al., 1979).
Kelembaban udara sangat penting mengingat untuk mempertahankan laju penguapan air di dalam telur. Akibat penguapan udara ini akan membesar kantung udara. Kelembaban udara dapat dilihat pada higrometer dan mengaturnya dengan cara menambah atau mengurangi air di dalam bak air. Pada kerabang telur terdapat ribuan pori-pori mikro untuk pertukaran gas. Oleh karena itu untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur kelembaban pada 65-70%. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70% (Shanawany, 1994).


B.     Telur
Telur merupakan salah satu produk pangan hewani yang lengkap kandungan gizinya. Selain itu telur merupakan bahan makanan yang mudah dicerna. Sebutir telur terdiri dari 11 % kulit telur, 58% putih telur dan 31% kuning telur (Sudaryani, 2003). Telur mempunyai kandungan air, protein, lemak, karbohidrat dan abu berturut-turut sebesar 66,5; 12,01; 10,5; 0,9; dan 10,9% (Hardini, 2000).
Telur tetas merupakan telur yang didapatkan dari induknya yang dipelihara bersama pejantan dengan perbandingan tertentu. Telur tetas mempunyai struktur tertentu dan dan masing-masing berperan penting untuk perkembangan embrio sehingga menetas. Agar dapat menetas telur sangat tergantung pada keadaan telur tetas dan penanganannya (Nuryati, et al., 1998).
Telur unggas secara umum mempunyai struktur yang sama. Terdiri dari enam bagian yang penting untuk diketahui, yaitu kerabang telur (egg shell), selaput kerabang telur (membrane shell), putih telur (albumen), kuning telur (yolk), tali kuning telur (chalaza) dan sel benih (germinal disk) (Nesheim et al., 1979).
Telur tetas yang normal berbentuk bulat telur atau oval. Telur dengan bentuk bulat atau tgerlalu lonjong merupakan telur abnormal sehingga mempengaruhi posisi embrio menjadi abnormal yang mengakibatkan telur banyak yang tidak menetas (Nuryati, et al., 1998). Letak rongga udara harus normal yaitu pada bagian yang tumpul dan simetris berada di tengah-tengah (Chan dan Zamrowi, 1993).

C.    Proses penetasan
Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai telur pecah menghasilkan anak ayam. Penetasan dapat dilakukan secara alami oleh induk ayam atau secara buatan (artifisial) menggunakan mesin tetas. Telur yang digunakan adalah telur tetas, yang merupakan telur fertil atau telur yang telah dibuahi oleh sperma, dihasilkan dari peternakan ayam pembibit, bukan dari peternakan ayam petelur komersil (Suprijatna et al., 2005).
Pada prinsipnya penetasan telur dengan mesin tetas adalah mengkondisikan telur sama seperti telur yang dierami oleh induknya. Baik itu suhu, kelembaban dan juga posisi telur. Dalam proses penetasan dengan menggunakan mesin tetas memiliki kelebihan di banding dengan penetasan secara alami, yaitu : dapat dilakukan sewaktu-waktu, dapat dilakukan dengan jumlah telur yang banyak, menghasilkan anak dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan, dapat dilakukan pengawasan dan seleksi pada telur (Yuwanta, 1983).
Penetas ( pemanas dari listrik ) yang menggunakan tenaga listrik dilengkapi dengan lampu pijar dan seperangkat alat yang disebut termostat (termoregulator). Alat ini dapat mengatur suhu di dalam ruangan penetasan secara otomatis. Jika panasnya melebihi batas yang kita tentukan, maka termoregulator akan bekerja memutus arus listrik, akibatnya lampu pijar menjadi mati. Demikian suhu udara di dalam mesin tetas tetap stabil. Apabila dengan waktu tertentu ruangan atau kotak itu suhunya rendah, maka termostat bekerja kembali untuk menyambung arus dan lampu pijar menyala pula ( Marhiyanto, 2000 ).
Menurut Shanawany (1994), untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan perlu diatur kelembaban pada 65 – 70 %. Mulai hari ke-20, kelembaban dinaikkan menjadi lebih dari 70 %. Cara lain dengan melihat pada kaca ventilasi masin tetas. Bila pada kaca terdapat butir-butir air berarti kelembaban terlalu tinggi. Dalam kondisi tersebut, kaca segera dilap sampai kering, ventilasi dibuka dan bak air dikeluarkan.

D.    Tahap Akhir Penetasan
Tahap akhir dari penetasan adalah evaluasi penetasan. Hal-hal yang dievaluasi meliputi fertilitas, mortalitas dan daya tetas. Menurut Tri-Yuwanta (1983), fertilitas adalah perbandingan antara telur fertil dengan telur yang ditetaskan dan dinyatakan dalam persen. Mortalitas adalah jumlah embrio yang mati selama proses penetasan dan dinyatakan dalam persen. Daya tetas adalah jumlah telur yang menetas dari sekelompok telur fertil yang dinyatakan dalam persen.
Daya tetas menurut Shanaway (1994), dipengaruhi beberapa faktor antara lain:
1.            Berat telur
Berat telur yang terlalu besar atau terlalu kecil menyebabkan menurunya daya tetas. Berat telur yang ditetaskan harus seragam dengan bangsa dan tipenya.
2.            Penyimpanan telur
Penyimpan paling lama 1 minggu. Penyimpanan diatas 4 hari menyebabkan Daya tetas menurun sebesar 25 % setiap hari. Untuk telur baru, penyimpanan pada temperatur 21-230C menyebabkan physiological zero, artinya embrio dalam kondisi tidak mengalami pertumbuhan. Temperatur optimum, untuk penyimpanan telur adalah sebesar 16-18 0C dengan RH 75-80%.
3.            Tempeteratur
Temperatur optimuim pada permukaan atas telur 39-39,5 0C.
4.            Kelembaban
Kelembaban yang trepat membantu agar pertumbuhan embrio sempurna dan normal. Kelembaban yang optimal adalah sebesaqr 65-70%.
5.            Ventilasi
Ventilasi berfungsi untuk distribusi panas dan kelembaban mengeluarkan CO­­2 dan suplai O­­2. kelembaban minimal sebesar 18%.
6.            Posisi dan Pemutaran telur
Berfungsi untuk meratakan panas serta menjaga agar embrio tidak menempel pada kerabang telur. Setiap pemutaran germinal disc akan bersentuhan dengan nutrien yang segar. Tanpa pemutaran kekurangan nutien dan oksigen.
7.            Nutrisi induk
Defisiensi pada induk dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan menyebabkan kematian embrio.
8.            Kesehatan Induk
Apabila induk tidak sehat maka dapat mengganggu transfer nutrien ke dalam telur, sehingga embrio kekurangan nutrien. Akibat selanjutnya dapat menurunkan daya tetas.
9.            Infeksi bakteri/ virus
Infeksi bakteri/virus pada telur dapat menyebabkan kematian embrio.

E.     DOC (Day Old Chick)
DOC(day old chick), anak yam umur 1 hari sangat menentukan keberhasilan usaha ternak ayam. Kondisi DOC yang baik merupakan modal awal yang sangat penting. DOC yang baik ditandai dengan kriteria sebagai berikut:
§  Berat badn memenuhi berat ideal, yaitu 35 g atau sesuai berat badan standar, yaitu tidak kurang dari 32 g. Berat badan DOC berkorelasi positif terhadap laju pertumbuhan ayam.
§  Berperilaku gesit, lincah, dan aktif mencari makan. Jika dipegang akan bereaksi, kotoran tidak lengket di dubur.
§  Posisi dalam kelompok selalu tersebar.
§  Rongga perut elastis, pusar kering tertutup bulu kapas yang halus, lembut dan mengkilap.
§  Mata bulat dan cerah (Setiawan, 2010).
Pada 24 jam pertama setelah menetas maka anak ayam masih dibiarkan di dalam alat penetasan dan tidak diberi makan. Hal ini disebabkan di dalam tubuh DOC masih ada persediaan makanan pada yolk. Biarkan cangkang pada tempatnya, karena berguna untuk melatih anak ayam mematuk dan menimbulkan rangsangan makan, karena terdapat sisa-sisa makanan dalam cangkang tersebut (Chan dan Zamrowi, 1993).
Setelah semua telur menetas dan berada 24 jam dalam mesin tetas maka anak ayam diambil dan dilakukan seleksi anak ayam. Selain itu dilakukan aktivitas lain seperti penmotongan paruh, vaksinasi marek untuk ayam layer, packing (pengemasan DOC) ke dalam box, dan penyimpanan sementara sampai anak ayam dikirim ke peternakan (Sudaryani dan Santosa, 2000).

BAB III
METODOLOGI  PRAKTIKUM

3.1 Alat & Bahan
·         Alat

Ø  Mesin tetas
Ø  Timbangan
Ø  Kardus untuk anak puyuh
Ø  Lampu 25 watt
Ø  Termometer
Ø   Nampan
·         Bahan

Ø  Telur puyuh sebanyak 30 butir
Ø  Air


3.2 Cara Kerja
Ø  Menyiapkan telur sebanyak tiga puluh butir yang sudah dibersihkan untuk ditetaskan
Ø  Menyiapkan mesin tetas
Ø  Mengatur atau menyetel suhu dan kelembaban suhu di dalam mesin tetas sampai konstan
Ø  Memasukan telur puyuh kedalam mesin tetas.
Ø  Melakukan pengamatan setiap hari selama 14 hari, empat hari pertama telur harus dibolak balik  sebanyak 3 kali sehari.
Ø   Menimban dan mencatat berat anak puyuh yang sudah menetas ( 3 jam setelah bulunya kering ).
Ø  Masukan puyuh kedalam kardus yang telah disediakan .

                                   


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
·         Berat telur puyuh yang akan ditetaskan
No
Berat Telur ( Gram )
No
Berat Telur( Gram )
1
11,33
16
11,67
2
10,77
16
11,09
3
10,97
18
9,71
4
11,26
19
10,53
5
11,22
20
9,38
6
11,16
21
10,61
7
9,80
22
9.93
8
10,15
23
11,47
9
11,29
24
10,62
10
10,97
25
10,28
11
9,36
26
11,68
12
10,48
17
11.16
13
11,06
28
10,04
14
10,42
29
9,90
15
10,28
30
10,27

·         Pengamatan Suhu mesin tetas per individu
Hari / umur telur / tanggal
Suhu pagi,siang, sore  ( ̊̊F )
Senin/1 hari / 20 maret 2017
102 / 101 / 98
Senin/7 hari / 20 maret
103 / 100 /102





·         Pengamatan puyuh yang menetas
No
Menetas hari ke / tanggal
Berat anak puyuh ( g)
Keterangan
1
Hari ke 15/ 3 April 2017
7,64
Menetas
2
Hari ke 15/ 3 April 2017
8,39
Menetas
3
Hari ke 15/ 3 April 2017
8,32
Menetas
4
Hari ke 15/ 3 April 2017
7,95
Menetas
5
 Hari ke 15/  3 April 2017
8,01
Menetas
6
Hari ke 15/  3 April 2017
8,31
Menetas
7
Hari ke 15/  3 April 2017
7,68
Menetas
8
Hari ke 15/  3 April 2017
7,50
      Menetas

9
Hari ke 16/  4 April 2017
8,25
Menetas
10
Hari ke 16/  4 April 2017
6,95
    Menetas

11
Hari ke 16/  4 April 2017
7,75
Menetas
12
Hari ke 16/  4 April 2017
8,48
Menetas


·         Pengamatan puyuh yang tidak menetas
No
Menetas hari/tanggal
Berat anak puyuh (g)
Keterangan
1
-
-
Tidak menetas
2
-
-
Tidak menetas
3
-
-
Tidak menetas
4
-
-
Tidak menetas
5
-
-
Tidak menetas
6
-
-
Tidak menetas
7
-
-
Tidak menetas
8
-
-
Tidak menetas
9
-
-
Tidak menetas
10
-
-
Tidak menetas
11
-
-
Tidak menetas
12
-
-
Tidak menetas
13
-
-
Tidak menetas
14
-
-
Tidak menetas
15
-
-
Tidak menetas
16
-
-
Tidak menetas
17
-
-
Tidak menetas
18
-
-
Tidak menetas


4.2 Pembahasan
            Telur yang digunakan untuk praktkum penetasan kali ini adalah telur puyuh yang digunakan sebanyak 30 butir. Dari 30 butir telur tersebut tidak semua telur dalam keadaan bersih sehingga dilakukan pencucian dengan mengguanakan air panas dengan cara mengusapkan air panas tersebut dengan menggunakan kapas yang bersih. Bentuk dari telur tersebut dalam keadaan normal semua atau bentuk telur, warna dari telur puyuh adalah putih bercak bercak coklat dam hitam suhu yang normal untuk mesin tetas adalah 95 – 105 ̊F.

            Berat telur yang digunakan bervariasi dari mulai 9 gram hinggal 12 gram, pengamatan telur puyuh ini dilakaukan selama 15 hari. Pada empat hari pertama dilakukan pemutaran telur sebanyak tiga kali sehari yaitu pagi siang dan sore, Pemutaran telur bertujuan untuk meratakan panas yang diterima telur dan menghindari embrio lengket pada sisi kerabang. Pada penetasan alami, tiap 15-20 menit induk melakukan pemutaran telur sehingga dalam sehari dilakukan 72-96 kali pemutaran. Pada penetasan buatan, pemutaran secara manual dilakukan sebanyak 3-9 kali (ganjil), sedangkan bila pemutaran secara otomatis dapat tiap satu jam sekali.

            Telur yang ditetaskan di dalam mesin tetas selama penetasan ada yang nenetas 30 butir dan yang tidak menetas 25 butir. 5 yang ditetaskan mengalami kematian, hal tersebut dikarenakan anak puyuh yang menetas masuk kedalam nampan yang berisi air.

            Kegagalan dapat terjadi dalam proses penetasan dengan mesin tetas. Menurut Sudrajat (2001) bahwa kegagalan menetas pada telur-telur tetas disebabkan oleh kualitas telur juga disebabkan oleh kualitas faktor mesin tetas itu sendiri, antara lain (1) Suhu mesin tetas tidak stabil, misalnya listrik mati atau suhu mesin tetas sering naik turun (2) Udara dalam mesin tetas terlalu kering (3) Kesalahan dalam mengoperasikan mesin tetas dan (4) Kurang tepatnya dalam membalik telur dalam mesin tetas sehingga embryo dalam telur mati.

            Tahap akhir dalam proses penetasan yakni segera setelah puyuh dikeluarkan maka segera dilakukan sanitasi pada mesin tetas. Cara-cara sanitasi alat tetas yang selesai digunakan antaralain : (1) Membuang dan membersihkan kulit telur yang menetas dan telur yang tidak menetas dari rak telu, (2) Membersihkan bak air, (3) Mengeluarkan termometer dari mesin tetas dan membersihkannya, (4) Membersihkan seluruh kotoran yang ada didalam kotak penetasan telur.
            Menurut Rasyaf (2002), telur yang tidak menetas menjadi lebih banyak bila menggunakan mesin tetas dibandingkan dengan pengeraman dengan induk ayam. Kesalahan temperatur, kelembaban mesin tetas atau terlalu banyak menggunakan obat pembunuh kuman dapat menyebabkan banyak telur yang tidak menetas.
            Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur menurut Rukmana (2003) adalah sebagai berikut:
1.Kesalahan-kesalahan teknis pada waktu memilih telur tetas.
2. Kesalahan-kesalahan teknis dari petugas yang menjalankan mesin tetas atau kerusakan teknis pada mesin tetas.
3. Iklim yang terlalu dingin atau terlalu panas, sehingga mengakibatkan menurunnya daya tetas telur.
            Pada praktikum yang kami lakukan, beberapa hari listrik sempat padam mungkin ini juga salah satu penyebab banyaknya telur yang tidak menetas, kendala lain yang kami alami adalah seringnya laboratorium terkunci sehingga untuk melakukan proses pembalikan telur menjadi
terkendala. Pada praktikum kali ini  terdapat satu ekor puyuh yang mati.







BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

1.      Proses pertama yang harus dilaksanakan dalam penetasan adalah menyiapkan telur yang akan ditetaskan sesuai dengan krekteria penetasan telur, setelah itu membersikan telur, menyiapkan mesin tetas yang akan digunakan dan memutarkan telur sesuai yang diinstruksikan.
2.      Lama penetasn telur puyuh yaitu sekitar 14 sampai 16 hari
3.      Dari 30 telur yang ditetaskan untuk kelompok kami (2) yang menetas hanyalah 12 ekor,1  dalam keadaan mati karena puyuh tersebut lemah system imunnya sehingga tidak dapat bertahan hidup.

5.2 Saran
             Sebaiknya penjaga lab harus standby dijurusan agar tidak terjadi kesalahan seperti lab tutup sehingga telur tidak dapat dibalikan dan tidak biasa dilakukan pengamatan














DAFTAR PUSTAKA

Chan, H. dan M. Zamrowi. 1993. Pemeliharaan dan Cara Pembibitan Ayam Petelur. Penerbit Andes Utama. Jakarta.
Hardini, S. Y. P. K. 2000. Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan Telur Konsumsi dan Telur Biologis terhadap Kualitas Interior Telur Ayam Kampung.
Jayasamudera, Dede Juanda dan Cahyono Bambang. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya. Jakarta.
Nesheim, M. C., R. E. Austic dan L. E. Card. 1979. Poultry Production. Lea and Febiger, Philadelphia.
Nuryati, T. N., Sutarto, M. Khamin dan P. S. Hardjosworo. 1998. Sukses Menetaskan Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rasyaf, M., 1990. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.., 2002. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rukmana Rahmat. 2003. Ayam Buras: Intensifikasi dan Kiat Pengembangan. Kainisius. Jakarta.
Shanawany. 1994. Quail Production Systems. FAO of The United Nations. Rome.
Soedjarwo, E. 1999. Membuat Mesin Tetas Sederhana. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudaryani, T. dan H. Santosa. 2000. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudrajad. 2001. Beternak Ayam Vietnam untuk Aduan. Penebar Swadaya. Jakarta.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar