Kamis, 02 Juni 2016

Laporan Praktikum Produksi Ternak Potong Dan Kerja

LAPORAN PRAKTIKUM

MK PRODUKSI TERNAK POTONG dan KERJA


 







   Oleh :
                                                                Tamrin Simbolon
        NPM : E1C014054




Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
NOVEMBER 2015


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan anugrah-Nya lah saya dapat menyelesaikan laporan Produksi Ternak Potong dan Kerja ini tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Laporan ini dibuat karena telah selesai melakukan praktikum Produksi Ternak Potong dan Kerja tepatnya di kandang CZ-AL Unib dan praktikum di masyarakat yaitu di kelurahan Medan Baru.
 Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing dan pengarah praktikum yaitu Bapak Ir.Dwatmadji . MsC.PhD dan ibu Drh.Tatik Suteky.MsC karena tidak bosan-bosannya memberikan pengarahan selama praktikum,dan telah menjadi aktor utama dalam penyelesaian praktikum dan laporan ini.Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Asisten praktikum yang telah mengawasi terlaksananya praktikum ini dari awal hingga akhir dan kepada teman-teman satu kelompok selama praktikum karena telah bekerja sama demi tujuan yang sama .
Laporan ini di harapkan berguna bagi siapapun yang membacanya,dan di harapkan adanya kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini.
Besar harapan saya laporan ini bisa menjadi referensi bagi teman – teman satu angkatan dan  adik – adik tingkat untuk menambah pengetahuan.







                                                                                    Bengkulu,    Nopember 2015



                                                                                    Penulis,          

Daftar Isi

Contents

 

 

 




A.MATERI DAN METODE


A.1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 19 oktober 2015 di CZ-AL Unib dan 26   Oktober di masyarakat.
Daftar anggota kelompok praktikum

Jadwal Praktikum
kelompok
Nama Anggota
Jenis Ternak
12– 16 Oktober 2015
1
1.  Tamrin Simbolon
2.  M.Hasbillah Karim
Kambing
16-19 Oktober 2015
3
1.Tamrin Simbolon
2.Aziz Ghifari
3.Ayu Hariza
4.Timotius Sucahyo
5.Mon Karina Kacaribu
6.Fitriah Indarika
7.M Faisal Amir
Sapi
24Oktober 2015
-
1Tamrin Simbolon
2.Aziz Ghifari
3.Ayu Hariza
4.Timotius Sucahyo
5.Mon Karina Kacaribu
6.Fitriah Indarika
7.M Faisal Amir
Masyarakat

 

A.2. Materi

A.2.1. Ternak

Ternak kambing pertama kali dijinakkan sejak jaman prasejarah. Ternak kambing
merupakan salah satu hewan yang tertua dijinakkan oleh manusia. Semua ternak kambi ng
adalah binatang pegunungan yang hidup di lereng-lereng bukit sampai lereng yang curam
(Williamson dan Payne, 1978).

Ternak kambing pertama kali dipelihara didaerah pegunungan Asia Barat pada
kurun waktu 8.000-7.000 SM. Jadi, sebagai ternak kambing lebih tua dari pada sapi.
Diduga kambing yang dipelihara saat ini (Capra aegagrus hircus) berasal dari keturunan
tiga macam kambing liar yaitu Benzoar goat atau kambing liar Eropa ( Capra aegagrus),
kambing liar India (Capra aegagrus blithy) dan Markhor goat atau kambing Markhor
(Capra falconeri). Persilangan yang terjadi antara ketiga jenis kambing tersebut
menghasilkan keturunan yang subur (Mulyono dan Sarwono, 2004).

Kambing merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat luas, karena
memiliki sifat yang menguntungkan bagi pemeliharaannya seperti, ternak kambing
mudah berkembang biak, tidak memerlukan modal yang besar dan tempat yang luas,
dapat digunakan memanfaatkan tanah yang kosong dan membantu menyuburkan tanah,
serta dapat dibuat sebagai tabungan (Sasroamidjojo dan Soeradji, 1978).
      
Sapi Bali (Bibos sondaicus) yang ada saat ini diduga berasal dari hasil
domestikasi banteng liar (Bibos banteng).  Proses domestikasi sapi Bali itu terjadi
sebelum 3.500 SM di Indonesia.  Payne dan Rollinson (1973) menyatakan bahwa
asal mula sapi Bali adalah dari Pulau Bali mengingat tempat ini merupakan pusat
distribusi sapi Bali di Indonesia. 

Menurut Williamson dan Payne (1993), bangsa sapi Bali memiliki klasifikasi
taksonomi sebagai berikut 
Phylum  : Chordata
Subphylum  :Vertebrata
Class  : Mamalia
Sub class : Theria
Infra class : Eutheria
Ordo  : Artiodactyla
Sub ordo : Ruminantia
Infra ordo : Pecora
Family  : Bovidae
Genus  : Bos (cattle)  
Group  : Taurinae
Spesies  : Bos sondaicus (banteng/sapi Bali)

Menurut Hardjosubroto (1994), sapi Bali mempunyai ciri-ciri sebagai berikut 
1. Warna sapi jantan adalah coklat ketika muda tetapi kemudian warna ini
berubah agak gelap pada umur 12--18 bulan sampai mendekati hitam pada
saat dewasa, kecuali sapi jantan yang dikastrasi akan tetap berwarna coklat. 
Pada kedua jenis kelamin terdapat warna putih pada bagian belakang paha
(pantat), bagian bawah (perut), keempat kaki bawah (white stocking) sampai
di atas kuku, bagian dalam telinga, dan pada pinggiran bibir atas.
2. Kaki di bawah persendian telapak kaki depan (articulatio carpo metacarpeae)
dan persendian telapak kaki belakang (articulatio tarco metatarseae)
berwarna putih.  Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya
dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval
(white mirror).  Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek
dan mengkilap.  
3. Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.  
4. Badan padat dengan dada yang dalam.  
5. Tidak berpunuk dan seolah-olah tidak bergelambir.
6. Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.  
7. Pada tengah-tengah punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk
garis memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
8. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam.
9. Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk
     jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.

A.2.2 Pakan

Pakan merupakan faktor paling penting dalam pertumbuhan maupun kesehatan ternak, pakan sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ternak,semakin baik kualitas pakan yang di berikan maka semakin baik pertumbuhan ternak tersebut begitupun sebaliknya.
Tabel kebutuhan Pakan ternak Domba dan Kambing per Ekor dalam satu hari menurut kondisi ternak.
Kondisi ternak
Jenis pakan
Rumput
Daun - daun
kosentrat
Dewasa
Induk bunting
Induk menyusui
Anak sebelum disapih
Anak lepas sapih
75%
60%
50%
50%
60%
25%
40%
50%
50%
40%
-
2 – 3 gelas
2 – 3 gelas
-
0,5 – 1 gelas

Hartadi et al. (1986) menyatakan pakan adalah suatu bahan yang dimakan hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi (atau keduanya) di dalam bahan tersebut. Pakan adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan produksi. Bahan pakan dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat serta bahan berserat merupakan komponen atau penyusun ransum (Blakely dan Bade, 1994).
Menurut Setiawan dan Arsa (2005), pakan merupakan bahan pakan ternak yang berupa bahan kering dan air. Bahan pakan ini harus diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan produksi. Dengan adanya pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan produksi akan berlangsung dengan baik. Oleh karena itu, pakan harus terdiri dari zat-zat pakan yang dibutuhkan ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air.

Pakan yang diberikan pada kambing adalah berupa hijauan yang diambil dari lahan bebas seperti rumput leguminosa dan rumput lapang dan konsentrat. Estimasi pemberian pakan yaitu 10 % dari berat badan kambing tersebut dan untuk konsentrat 1 % dari berat badan.Untuk air di berikan secara tidak terbatas atau adlibitum.Legum dapat di beri dangan perbandingan 15 % dari jumlah keseluruhan pakan.

Pakan yang diberikan pada sapi yaitu berupa hijauan rumput rawa dan rumput gajah.Estimasi pemberian pakan yaitu 30 % dari berat badan sapi tersebut. Konsentrat di berikan setiap pagi, dan air di berikan secara adlibitum agar mencegah dehidrasi pada ternak tersebut.
           

A.2.3. Perkandangan

Kandang kambing yang di gunakan pada saat praktikum yaitu kandang jenis panggung dengan lantai terbuat dai kayu yang tidak rapat, dinding dari bambu atap dari seng. Kandang panggung merupakan kandang yang konstruksinya dibuat panggung atau di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Adanya kolong dapat menghindari kebecekan, menghindari kontak dari tanah yang mungkin tercemar penyakit, dan memungkinkan ventilasi kandang yang lebih bagus.Tempat pakan terletak di sebelah timur kandang .
     Kandang yang digunakan peternak kambing pada umunya yaitu
1.Kandang Panggung
      Kandang jenis ini mempunyai kolong atau ada jarak antara lantai dengan tanah, ini bertujuan mempermudah dalam pengontrolan kotoran dan urine serta menjaga agar tidak becek dan mencegah mudahnya penularan pada ternak kambing.
2.Kandang Lemprak
    Kandang lemprak adalah kandang yang tidak memilik alas atau biasanya langsung ke tanah tanpa memiliki lantai sehingga kandang cenderung lebih kotor dan susah dibersihkan kandang jenis ini biasanya digunakan peternak di pedesaan yang belum memliki pengetahuan dalam perkandangan .

Sistem perkandangan pada sapi ,kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan (Sugeng, 2006).          
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam  mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan (Anonimc, 2010).
Dalam pembangunan kandang atau perkandangan diperlukan perencanaan yang seksama. Perencanaan tersebut perlu dipertimbangkan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dari sebuah bangunan perkandangan. Kandang yang memiliki persyaratan akan membuat usaha ternak semakin baik. Karena dengan semakin baiknya persyaratan kandang, ternak yang dipelihara akan semakin sehat (Purbowati & Rianto, 2009)

            Kandang yang digunakan adalah kandang individual yang terbagi atas empat bagian yang dimana antara satu kandang dengan kandang yang lain dipisahkan oleh balok pemisah. Tempat pakan dan minum berada pada bagian barat kandang atau belakang kandang,lantai kandang lebih tinggi dari dataran sekitarnya ini bertujuan agar mempermudah dalam pengontrolan pembuangan saluran urine dan feses sapi serta menjaga kandang agar mudah di bersihkan.Kandang tersebut termasuk kedalam kelompok kandang pemeliharaan khususnya pejantan maka dari itu balok pemisah tersebut dibuat lebih kokoh dan lebih tertutup untuk mencegah perkelahian dan mengurangi energi gerak demi mempercepat penggemukan.

 


A.2.4. Peralatan

Peralatan yang di butuhkan dan yang digunakan pada saat praktikum berlangsung yaitu; stetoskop, thermometer, pita ukur, thermometer ruangan, ember, cangkul, sapu lidi.Adapun fungsi dari masing-masing alat tersebut diatas adalah, stetoskop berguna untuk mengukur denyut nadi ternak, thermometer untuk mengukur suhu ternak, pita ukur untuk mengukur tinggi, lingkar dada dan panjang ternak, thermometer ruangan berguna untuk mengukur suhu dan kelembaban ruangan yang di letakkan dalam kandang, ember berfungsi untuk tempat air minum dan tempat konsentrat ternak, cangkul berfungsi untuk mempermudah pembuangan feses, dan sapu lidi untuk membersihkan lingkungan sekitar kandang.


A.3.Metode

A.3.1. Ternak Kambing

Jumlah kambing yang digunakan pada saat praktikum yaitu 7 ekor dan domba  2 ekor, setiap kelompok bertugas mengurus satu kambing. Satu kelompok terdiri atas 2 – 3 orang. Berat kambing pada hari pertama praktikum  (16 oktober 2015) yaitu 13,4 kg.

A.3.1.1. Pengukuran Produksi Kambing

Pengukuran berat badan
-      Penimbangan dilakukan setiap pagi sebelum pemberian pakan
-      Menimbang terdahulu berat badan praktikan yang akan menimbang
-      Menenangkan dan mengangakat kambing dari dalam kandang
-      Memangku kambing dan kemudian ditimbang bersamaan dengan praktikan tadi,mencatat hasil penimbangan keduanya
-      Memasukkan kambing kambing kedalam kandang dengan hati-hati
-      Untuk hasil penimbangan dapat di ketahui dengan rumus ( berat penimbang dengan berat kambing) – berat penimbang



Pengukuran panjang badan
-      Panjang badan diukur setiap pagi hari dengan menggunakan pita ukur
-      Mengukur dari pangkal tulang paha depan sampai tulang pangkal paha depan dan mencatat hasilnya

Pengukuran tinggi badan
-      Pengukuran tinggi domba dilakukan setiap pagi hari.
-      Mengukur tinggi domba diukur dari ujung kaki depan sampai ke bagian punggung dibelakang leher menggunakan pita ukur dan mencatat hasilnya

Pengukuran lingkar dada
 - Pengukuran lingkar dada dilakukan saat pagi hari sebelum pemberian pakan.
 -  Megukur lingkar dada dari bagian belakang kaki depan.
 - Hasil pengukuran dicatat di laporan sementara.

A.3.1.2.Konsumsi Pakan

-  Pakan yang telah di arit pada sore sebelumnya di timbang sesuai konsumsinya 10 %   dari  berat badan
- memberikan pakan setengah dari jumlah konsumsinya kemudiaan ditambah pada siang harinya
- Memberikan konsentrat sebanyak 12 % sebanyak 1 % dari berat badan
- Menimbang sisa pakan pada esok harinya untuk mengetahui konsumsi pakan.

A.3.1.3.Konsumsi Air minum

            -  Menimbang air minum di pagi hari
- Saat siang hari, jika air habis, ditambah lagi. Penambahan air ditimbang terlebih                                         dahulu.

A.3.1.4. Pengukuran Fisiologis Kambing

Pengukuran respirasi
-      Pengukuran respirasi dilakukan setiap pagi hari sebelum di berikan pakan
-      Menenangkan kambing dan mengangkat keluar kandang
-      Mengukur respirasi kambing dari hidung
-      Domba di ditenangkan dengan cara menjepit perlahan diantara kedua kaki dan memegang rahang bagian bawah
-      Pengukuran respirasi dilakukan 30 detik dan hasilnya dikali 2.


Pengukuran temperatur rektal
-      Temperatur di ukur setiap pagi hari sebelum pemberian pakan
-      Memasukkan termometer di bagian anus kambing secara perlahan
-      Menahan termometer selama satu menit kemudian mencatat hasilnya

Pengukuran denyut nadi
-      Denyut nadi di ukur di bagian rectum
-      Menghitung denyut nadi selama 30 detik kemudian di kali dua
-      Mencatat hasilnya.

A.3.2. Ternak Sapi

Untuk ternak sapi ,sapi yang digunakan untuk praktikum ada 4 ekor, dimana masing-masing kelompok mendapat 1 ekor sapi ,satu kelompok terdiri dari 7-8 orang.

 

A.3.2.1. Pengukuran Produksi Ternak Sapi

Pengukuran berat badan
-      Pada praktikum kali ini untuk ternak sapi tidak dilakukan penimbangan berat badan
Pengukuran panjang badan
-      Pengukuran panjang badan dilakukan setiap pagi hari
-      Menenangkan sapi terlebih dahulu
-      Mengukur dari pangkal paha depan sampai paha belakang  ternak menggunakan pita ukur
-      Mencatat hasilnya
Pengukuran tinggi badan/gumba
-      Tinggi badan di ukur tegak lurus dari tanah sampai puncak gumba di belakang punuk menggunakan kayu
-      Menyejajarkan kayu dengan puncak gumba, kemudian melihat hasilnya dan mencatat hasilnya
Pengukuran lingkar dada
-      Lingkar dada di ukur setiap pagi hari sebelu pakan diberikan
-      Menjinakkan sapi terlebih dahulu,kemudian mengukur lingkar dada pada bagian pangkal kaki bagian depan
-      Mencatat hasilnya

           

A.3.2.2. Konsumsi Pakan

-      Pakan hijauan yang telah di arit pada sore sebelumnya di timbang dengan estimasi 30 % dari berat badannya pada pagi hari
-      Konsentrat ditimbang  1 % dari berat badan sapi ,kemudian di kasih pada pagi hari saja
-      Memberikan pakan dan konsentrat secara bersamaan
-      Mengamati pakan pada siang hari ,kalau pakan kurang ditambah lagi
-      Setiap penambahan ditimbang terlebih dahulu kemudian di tambah dengan pemberian sebelumnya
-      Menimbang sisa pakan pada keesokan harinya , begitu seterusnya sampai praktikum selesai.

A.3.2.3. Konsumsi Air Minum
-      Menimbang air minum terlebih dahulu sebelum di berikan
-      Memberikan air minum pada sapi pada pagi hari
-      Mengamati pada siang hari , kalau air minum kurang di tambah dengan menimbang penambahan terlebih dahulu
-      Air minum di berikan secara adlibitum untuk mencegah dehidrasi

A.3.2.4. Pengukuran Fisiologis Sapi

            Pengukuran denyut nadi
-      Pengukuran denyut nadi dilakukan setiap pagi ,siang, dan sore harinya
-      Menjinaakan terlebih dahulu sapi agar tidak stress saat pengukuran
-      Pengukura dilakukan menggunakan stetoskop, dibagian pangkal kaki depan bagian belakang dekat dada, atau bisa juga di pangkal ekor
-      Menghitung berapa kali denyut nadi berdetak selama 30 detik kemudian hasilnya dikali 2
-      Mencatat hasilnya
Pengukuran respirasi
-      Pengukuran respirasi dilakukan setiap hari pada pagi , siang dan sore hari
-      Respirasi diukur di bagian hidung
-      Menghitung respirasinya selama 30 detik kemudian hasilnya dikali 2
-      Mencatat hasilnya
Pengukuran suhu rektal
-      Pengukuran dilakukan setiap pagi sebelum pakan diberikan
-      Mengukur suhu rektal di bagian rectum
-      Suhu rektal di ukur kira-kira satu menit sampai termometer stabil
-      Mencatat hasilnya
-       

A.4.Kondisi  Lingkungan

Temperatur Lingkungan
Lingkungan dapat diklasifikasikan dalam dua komponen, yaitu :
(1)   Abiotik  : semua faktor fisik dan kimia
(2)   Biotik : semua interaksi di antara (perwujudan) makanan, air, predasi, penyakit serta interaksi sosial dan seksual.

Faktor lingkungan abiotik adalah faktor yang paling berperan dalam menyebabkan stres fisiologis (Yousef dalam Sientje, 2003).. Komponen lingkungan abiotik utama yang pengaruhnya nyata terhadap ternak adalah temperatur, kelembaban (Yousef ; Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003), curah hujan, angin dan radiasi matahari (Yousef ; Cole and Brander dalam Sientje, 2003).
Temperatur lingkungan adalah ukuran dari intensitas panas dalam unit standar dan biasanya diekspresikan dalam skala derajat celsius (Yousef dalam Sientje, 2003). Secara umum, temperatur udara adalah faktor bioklimat tunggal yang penting dalam lingkungan fisik ternak. Supaya ternak dapat hidup nyaman dan proses fisiologi dapat berfungsi normal, dibutuhkan temperatur lingkungan yang sesuai. Banyak species ternak membutuhkan temperatur nyaman 13 – 18 oC (Chantalakhana dan Skunmun, dalam Sientje, 2003) atau Temperature Humidity  lndex (THI) < 72 (Davidson, et al. dalam Sientje, 2003).
Setiap hewan mempunyai kisaran temperatur lingkungan yang paling sesuai yang disebut Comfort Zone. Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik adalah 10°C-27°C (50°F-80°F). Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk ternak di daerah sub tropis (sapi perah) adalah pada temperatur antara 30°F-60°F dan dengan kelembaban rendah. Selain itu, sapi FH maupun PFH memerlukan persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan laut, suhu berkisar antara 15°- 21°C dan kelembaban udaranya diatas 55 persen. Kenaikan temperatur udara di atas 60°F relatif mempunyai sedikit efek terhadap produksi.
Kelembaban Lingkungan
Kelembaban adalah jumlah uap air dalam udara. Kelembaban udara penting, karena mempengaruhi kecepatan kehilangan panas dari ternak. Kelembaban dapat menjadi kontrol dari evaporasi kehilangan panas melalui kulit dan saluran pernafasan (Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003).
Kelembaban biasanya diekspresikan sebagai kelembaban relatif (Relative Humidity = RH) dalam persentase yaitu ratio dari mol persen fraksi uap air dalam volume udara terhadap mol persen fraksi kejenuhan udara pada temperatur dan tekanan yang sama (Yousef dalam Sientje, 2003). Pada saat kelembaban tinggi, evaporasi terjadi secara lambat, kehilangan panas terbatas dan dengan demikian mempengaruhi keseimbangan termal ternak (Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003)..

 

            Dalam pengamatan temperatur dan kelembaban lingkungan dapat dilihat dengan alat ukur khusus yaitu termometer ruangan yang tergantung dalam kandang dimana alat tersebut di gabung menjadi satu yang terbagi dua. Temperatur dan kelembaban dilihat setiap pagi, siang, dan sore harinya selama praktikum.




A.5.Estimasi Umur Ternak


Pada pengamatan prediksi umur ternak pada domba dan sapi dilakukan dengan cara melihat susunan gigi ternak domba dan sapi bali dan setelah melihat susunan gigi ternak tersebut, maka kemudian dibandingkan dengan literatur atau teori berupa tinjauan pustaka yang menyatakan umur ternak dengan milihat jumalah gigi dan susunan gigi untuk memprediksi umurnya.

 



B.Hasil dan Pembahasan Praktikum di Kandang Unib

B.1.Ternak Kambing


            B.1.1 Konsumsi Pakan  Pada Kambing

Tabel konsumsi pakan pada kambing (data individu/kelompok)


Ternak kambing yang di pelihara pada saat praktikum adalah kambing betina pakan yang di berikan adalah pakan hijauan dan konsentrat. Pakan hijauan yang di berikan yaitu berupa rumput lapangan dan rumput legum diberikan dengan estimasi sekitar 10 % dari berat badannya , konsentrat yang diberikan berupa dedak dengan estimasi 1 % dari berat badan.

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat praktikum yang dimuat dalam tabel ,pakan yang diberikan pada hari pertama yaitu 5 kg,penambahan tidak ada dan sisanya 1,4 kg ,dengan konsumsinya 3,6 kg, untuk konsentrat pemberian awal sebanyak 0,133 kg, sisa 0,120 kg dan sisanya 0,13 kg.Konsumsi hari pertama terbilang cukup banyak untuk pakan hijauannya hal ini mungkin dikarenakan kualitas pakan yang di berikan lebih baik dari sebelumnya, tetapi pada konsumsi konsentratnya sangat sedikit,mungkin sebelumnya kambing tersebut belum pernah di kasih konsentrat sehingga ia tidak terbiasa dengan konsentrat.Pada hari kedua pemberian pakan sebanyak 4 kg dan sisanya 1 kg,untuk konsentrat pemberian 0,25 kg sisanya 0,20 kg dan konsumsinya 0,05 kg.Pada hari ketiga pakan diberikan sebanyak 5 kg sisanya 1,5 kg dan konsumsinya 3,5 kg, untuk konsentratnya pemberian 0,26 kg sisanya 0,20 kg dan konsumsinya 0,06 kg.Dan pada hari keempat pakan diberikan seberat 6 kg sisanya 2 kg dan konsumsinya 4 kg, dan untuk konsentratnya 0,48 kg sisanya 0,42 kg dan konsumsinya 0,06 kg.
Dari semua data tersebut konsumsi pakan hijauan ternak kambing yang di praktikumkan relatif naik,namun pada hari kedua mengalami penurunan konsumsi sebanyak 0,6 kg hal ini dikarenakan kualitas pakan pada saat itu menurun atau kurang baik namun pada hari berikutnya naik sebanyak 0,5 kg setiap hari hingga hari keempat.Namun  ini cukup berbeda dengan konsumsi konsentratnya, dimana konsumsi hari pertamanya hanya sebanyak 0,13 kg dari 0,133 kg konsentrat yang di berikan ,mungkin penyebabnya kambing tersebut tidak menyukai konsentrat tersebut yang berupa campuran pellet dengan dedak.Data ini terus menurun hingga hari terakhir praktikum dimana hari kedua hanya mengonsumsi konsentrat sebanyak 0,05 kg,hari ketiga dan keempat sebanyak 0,06 kg.
            Menurut pendapat (Hartadi et al., 1980) Pemberian pakan konsentrat ataupun suplemen yang menggunakan bahan baku dengan kandungan nutrisi (protein, energi, mineral) yang tinggi sebaiknya digunakan untuk mengatasai kekurangan nutrisi pada pakan dasar. Oleh karena konsentrasi nutrisinya relatif tinggi, maka biaya penggunaan pakan konsentrat juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pakan dasar per unit pakan. Dengan demikian penggunaan pakan konsentrat haruslah seefisien mungkin.Namun hal ini belum sepenuhnya teraplikasikan dalam praktikum terbukti dari pakan hijauan yang di berikan masih dalam bentuk rumput liar begitu juga dengan konsentratnya secara nutrisi belum cukup.

B.1.2 Produksi Pada Kambing      


Tabel produksi kambing



Berat badan kambing pada hari pertama praktikum adalah 13,4 kg,penimbangan di hari kedua 14,2 kg dan pada hari terakhir penimbangan adalah 15,5 kg data ini menunjukkan pertambahan berat badan kambing selama 4 hari praktikum adalah seberat 2,1 kg. Hal ini kurang mungkin karena Kualitas bahan makanan dipengaruhi oleh komposisi zat makanan serta penggunaannya oleh ternak. Menurut Sumoprastowo (1980) bahwa rata-rata berat lahir kambing lokal sebesar 1-2 kg, dan laju pertambahan berat badan ternak kambing lokal
adalah sebesar 43 gram/ekor/hari. Sedangkan pertumbuhan berat badan pada saat praktikum 0,525 kg perharinya. Hal ini bisa saja terjadi karena beberapa kemungkinan diantaranya , timbangan yang di gunakan kurang bagus,dan bisa jadi faktor dari praktikan yang menimbang posisinya tidak stabil dan berubah-ubah posisi.

            Untuk memperoleh pertumbuhan ternak kambing yang baik sangatlah perlu
diperhatikan kandungan zat-zat makanan yang  dikandung oleh pakan. Bahan pakan
harus mengandung zat-zat makanan seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan
vitamin-vitamin, serta air yang dibutuhkan ternak. Menurut pendapat Siregar (1994) pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan mengatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi pertumbuhan baik dari segi kualitas dan kuantitas karkas kambing dengan perbandingan 20 -30% : 70 -80%. Ternak tidak akan mampu berproduksi secara optimal, apabila tidak memperoleh lingkungan yang optimal walaupun fungsi genetik cukup tinggi dan begitu juga sebaliknya . Pada pertumbuhan tinggi badan selama empat hari yaitu 3 cm, angka ini masih terbilang wajar dan tidak menunjukkan pertambahan yang signifikan. Begitu juga dengan pertumbuhan panjang badan yaitu hanya sekitar 5 cm,dan pertambahan lingkar dada hanya sebesar 0,7 cm. Data ini masih terbilang cukup stabil karena praktikum hanya dilakukan selama 8 hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa kambing ini baik pertumbuhannya. Umur ternak dapat di estimasikan dari giginya.


















B.1.3 Kondisi Fisiologis Kambing


Tabel fisiologis kambing


Suhu Tubuh  yang normal pada kambing adalah 39,2 – 40  ̊C, Rectal 38,9-40,5,    Respirasi 26-32,  dan Denyut Jantung 60 (Anonim, 2013)
Pada saat praktikum data yang di dapat untuk respirasi yaitu 26 – 40kali/menit. Respirasi tertinggi yaitu pada hari pertama dan kedua yaitu mencapai 40 kali/menitnya. Data ini terbilang normal karena rata-rata respirasi untuk kambing 26-32,ini tidak cukup jauh berbeda dari data yang didapat.
Denyut nadi normal untuk kambing yaitu 60 kali/menit berdasarkan literatur . namun data yang di dapat sedikit berbeda dari yang seharusnya pada hari kedua mencapai 83 kali/menit. Hal ini mungkin disebabkan kondisi ternak dalam keadaan stress atau dalam keadan kepanasan sehingga menyebabkan denyut nadinya meningkat. Untuk temperatur rektalnya data yang didapat pada hari pertama yaitu 36,5 ̊ C ,namun cenderung stabil mulai hari kedua yaitu berkisar antara 38,3-38,7 ̊C berdasarkan literatur yang ada data ini normal.Untuk suhu dan kelembaban udara terbilang cukup normal dan stabil tidak ada perubahan suhu yang ekstrim suhu berkisar dari 24-33 ̊C, dan untuk kelembaban udara dari 46-81 %.

 

B.2. Ternak Sapi


B.2.1. Konsumsi pakan pada sapi



Tabel konsumsi pakan dan air minum sapi.

   Pada pemberian pakan pada sapi pemberian pada hari pertama yaitu 18 kg dan sisanya adalah 4 kg berarti konsumsi sebanyak 14 kg. Pada hari kedua pakan diberikan sebanyak 14 kg dan sisanya 4,5 kg dengan konsumsi sebanyak 10,5 kg turun dari hari sebelumnya, hal ini kemungkinan karena sapi tersebut sedang dalam kondisi yang tidak sehat,dimana sapi tersebut mencret. Pada hari ketiga pemberian pakan sebanyak 18 kg dan sisanya 4,5 kg konsumsi sebanyak 13,5 kg naik dari hari sebelumnya. Pemberian hari keempat sebanyak 16,5 kg sisa 1,5 kg dan konsumsinya 14,5 kg. Sapi penggemukan mengkonsumsi pakan 2,0-3,0 % dari bobot badan, tetapi bila  hanya diberi hijauan saja seringkali perlu 5,0 – 7,0 % dari bobot badan, terutama bila diberikan hijauan berkualitas rendah (U.Santoso.2006).
Untuk pakan yang kami beriakan dengan persentasi berat badan 10% dari berat badan , hal ini sudah sesuai berdasarkan literatur yang ada yaitu Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan (anonymous. 2002).
       Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu , lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
  Untuk pemberian konsentrat, konsentrat di beri dari hari pertama praktikum sampai hari terakhir,dimana konsentrat yang diberikan berupa campuran pellet dengan dedak. Dan konsentrat rata-rata setiap harinya habis di konsumsi hanya pada hari keempat bersisa 0,2 kg. Hal ini sangat tepat karena menurut pendapat Suprio Guntoro, Konsentrat merupakan sumber protein maupun sumber energi, sedangkan hijauan menyumbang sebagian kebutuhan energi dan berfungsi sebagai sumber vitamin dan mineral yang baik. Konsentrat sumber energi yaitu bahan-bahan yang mengandung protein kasar kurang dari 20% dan mengandung serat kasar kurang dari 18 %, sedangkan konsentrat sumber protein mengandung protein kasar 20% atau lebih (Suprio Guntoro, 2002).



B.2.2 Produksi Sapi


Tabel produksi sapi
            Untuk mengetahui produksi sapi yang dilakukan pertama sekali adalah menimbang berat badan, namun pada praktikum ini hal ini di tidak dilakukan di karenakan ketidak tersediaannya alat penimbang,dan hal ini sangat di sayangkan karena kita tidak mengetahui pertumbuhan berat badannya. Ukuran tubuh ternak sering juga digunakan untuk mengevaluasi pertumbuhan karena ukuran merupakan indikator penting dari pertumbuhan. penting dari pertumbuhan. Ukuran tubuh yang umum diamati pada ternak
meliputi lingkar dada, dan panjang tubuh. Erfan (2004) menyatakan bahwa ukuran
tubuh dapat digunakan untuk menaksir bobot tubuh dan berat karkas, serta
memberi gambaran bentuk tubuh hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu.

Untuk pengukuran lingkar dada naik 2 cm. Hasil penelitian Arlina & Khasrad (2003)
panjang badan sapi bali jantan umur < 1 tahun 120±86 cm dan umur > 1-2 tahun
120,67 ± 0,81 cm. Selanjutnya Susanti et al (2008). badan sapi bali jantan secara berurutan pada umur < 1 tahun, > 1-2 tahun dan > 2-3 tahun sekitar 103,62 ± 3,76 dan 115,50 ± 2.60 cm. Pengukuran lingkar dada menurut hasil penelitian Arlina & Khasrad (2003) 170,53 untuk jantan dan betina 150,88 cm. Fourie et al. dada, tinggi pundak, lebar pundak, dan umur mempunyai pengaruh pada bobot tubuh.        
      Suharno & Nazarudin (1994) menyatakan bahwa sapi bali dewasa ,tinggi
badannya mencapai 1-2 meter dengan berat antara 300-400 kg. Sapi bali kaki
pendek tetapi badannya panjang dan lingkar dada cukup besar. Pane (1986)
menyatakan berat sapi bali jantan dewasa, sekitar 400 kg, lingkar dada 192 cm,
tinggi gumba, 127 cm, dan panjang badan 140 cm. Berat sapi bali betina, dewasa,
sekitar 260 kg, lingkar dada 165 cm, tinggi gumba 114 cm, dan panjang badan
120 cm.
            Adapun bobot badan dapat di lihat dengan rumus yang menggunakan variabel lingkar dada (Abidin,2006) sebagai berikut :

Bobot badan (kg) = (lingkar dada (cm) ) + 22 ²
                                     100







B.2.3 Fisiologi Sapi


Tabel fisiologi sapi



            Berdasarkan hasil pengamatan untuk kondisi fisiologis sapi yang di rangkum dalam tabel,untuk respirasi di dapat hasil yang bervariasi setiap harinya yaitu rata-rata 22-38 kali/menit. Respirasi tertinggi di dapat pada siang hari di karenakan oleh faktor lingkungan seperti panas terik matahari dan faktor pergerakan sapi.
     Untuk denyut jantung di peroleh data rata – rata 62-80 kali/menit,data ini masih wajar karena bardasarkan literatur yang ada Frekuensi Pulsus sapi dalam keadaan normal adalah 54-84 kali per menit atau 40-60 kali per menit dan sapi muda 80-90 kali per menit.
Pada pengukuran suhu rektal didapat rata-rata 37,6 ̊C . suhu ini terbilang normal karena berdasarkan literatur yang ada Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Salah satu unsur penentu iklim adalah suhu lingkungan. Bagi sapi potong yang mempunyai suhu tubuh optimum 38.33°C, suhu lingkungan 25°C dapat menyebabkan peningkatan rata pernafasan, suhu rektal dan pengeluaran keringat, yang semuanya merupakan manifestasi tubuh untuk mempertahankan diri dari cekaman panas. Semakin banyak jumlah keringat yang dikeluarkan, hewan makin tidak tahan terhadap cekaman panas. Produksi panas tubuh ternak diukur dengan kalorimetri langsung dan tidak langsung. Sedangkan kehilangan panas diketahui melalui kehilangan non evaporasi dan evaporasi (Yousef dalam Sientje, 2003).
Zona temperatur netral atau zona termonetral  (ZTN) adalah zona yang relatif terbatas dari temperatur lingkungan yang efektif dalam memproduksi panas minimal dari ternak (Curtis dalam Sientje, 2003). ZTN disebut juga profil termonetral atau zona nyaman atau zona termopreferendum (Yousef dalam Sientje, 2003). Pada zona ini, tidak ada perubahan dalam produksi panas dan temperatur tubuh dapat dikontrol oleh adanya perubahan kecil dalam konduksi ternak melalui variasi tubuh, aliran darah dari pusat ke periferi atau peningkatan keringat (Sturkiedalam Sientje, 2003).
Setiap hewan mempunyai kisaran temperatur lingkungan yang paling sesuai yang disebut Comfort Zone. Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik adalah 10°C-27°C (50°F-80°F). Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk ternak di daerah sub tropis (sapi perah) adalah pada temperatur antara 30°F-60°F dan dengan kelembaban rendah. Selain itu, sapi FH maupun PFH memerlukan persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan laut, suhu berkisar antara 15°- 21°C dan kelembaban udaranya diatas 55 persen. Kenaikan temperatur udara di atas 60°F relatif mempunyai sedikit efek terhadap produksi. Dapat di pastikan temperatur lingkungan normal.
Kelembaban biasanya diekspresikan sebagai kelembaban relatif (Relative Humidity = RH) dalam persentase yaitu ratio dari mol persen fraksi uap air dalam volume udara terhadap mol persen fraksi kejenuhan udara pada temperatur dan tekanan yang sama (Yousef dalam Sientje, 2003). Pada saat kelembaban tinggi, evaporasi terjadi secara lambat, kehilangan panas terbatas dan dengan demikian mempengaruhi keseimbangan termal ternak(Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003)..

B.2.4. Umur Ternak

Penentuan umur dapat juga ditentukan melalui catatan kelahiran dan pertumbuhan gigi seri ternak. Data-data ini digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam melakukan usaha budidaya sapi potong.

Dari poto yang diatas dapat diperkirakan bahwa umur sapi berkisar 3-3,5 tahun.
Tabel . Kondisi Gigi dan Dugaan Umur Ternak Sapi

     No.                                  Kondisi gigi                                               perkiraan umur


1.     Gigi seri sudah tumbuh, kecuali gigi seri luar                                  15 hari
2.     Gigi seri susu sudah tumbuh semuanya                                          30 hari
3.     Gigi seri susu dalam sudah terasah sebagian                                  6 bulan
4.     Gigi seri susu dalam sudah terasah seluruhnya                               10-12 bulan
5.     Gigi seri luar sudah terasah seluruhnya                                           16-18 bulan
6.     Gigi seri susu dalam sudah berganti dengan gigi tetap                  1,5-2 tahun
      7.   Gigi seri susu tengah dalam sudah berganti dengan gigi                2,5 tahun
            Tetap
8.     Gigi seri susu tengah luar sudah berganti menjadi gigi tetap         3 tahun
9.     Gigi seri susu luar sudah berganti menjadi gigi tetap                     3,5 tahun









C.Hasil dan Pembahasan Praktikum di Peternakan di Masyarakat

C.1. Data Pemilik      

            a. Nama Pemilik                     :  Slamet
            b. Umur/Pendidikan terakhir   :  62 tahun/SD
            c. Alamat                                 :RT 5 / RW 3 , Jl.Medan Baru
            d. Peta Lokasi                          :

C.2 Ternak

            a. Jenis Ternak                                                : Sapi
            b. Jumlah ternak yang di pelihara    : 7 (tujuh)
            c. Bangsa Ternak                                : Bali
            d.Perkiraan Umur Ternak                   :


TERNAK
USIA( Keterangan Peternak)
USIA (Rumus Gigi)
Sapi 1
4 tahun

Sapi 2
4 tahun

Sapi 3
3 tahun

Sapi 4
1 tahun

Sapi 5
1 tahun

Sapi 6
4 bulan

Sapi 7
4 bulan














e. Jenis kelamin dan Estimasi Berat Ternak

TERNAK
Jenis Kelamin
Estimasi Berat Badan
Sapi 1
Betina
280 kg
Sapi 2
Betina
280 kg
Sapi 3
Betina
280 kg
Sapi 4
Betina
280 kg
Sapi 5
Jantan
80 kg
Sapi 6
Jantan
60 kg
Sapi 7
Jantan
60 kg

f. Estimasi harga Jual dan Harga Beli Ternak

TERNAK
Harga Jual (Rp)
Harga Beli
Sapi 1
9.000.000-12.000.000

Sapi 2
9.000.000-12.000.000

Sapi 3
9.000.000-12.000.000

Sapi 4
9.000.000-12.000.000

Sapi 5
8.000.000

Sapi 6

8.000.000

Sapi 7
8.000.000


g. Pemanfaatan kompos                                : Dijual
h. Lama pemeliharaan                                               : 3 tahun / bulan
i. Tujuan pemeliharaan                                 : Ternak betina (untuk beranak)
                                                                                      Ternak jantan           (untuk penggemuk                                                                                                  

C.3. Pakan

            a. Jenis pakan yang di berikan                      : Rumput gajah, jerami dan dedak
            b. Cara mendapatkan pakan                         : Mencari disekitar
            c. Estimasi biaya pakan                                  : -
            d. Estimasi kandungan nutrisi                                   :

C.4.Kandang

            a. Ukuran Kandang                                        : 12 x 8 x 3
            b. Bahan Kandang                                         : Dinding   : Papan dari batang kelapa
            c. Gambar                                                       :
            d. Biaya kandang                                           : ± Rp 18.000.000

C.5 Kesehatan Ternak

            a. Nama penyakit yang pernah terdeteksi    : flu, cacingan, diare
            b. Cara pencegahan penyakit                                   : Berobat ke mantri
            c. Cara pengobatan penyakit                                    : Diberi pil / disuntik
            d Estimasi biaya untuk kesehatan ternak     : Rp.100.000,/kontrol

 C.6 Ekonomi

             a.Biaya tenaga kerja/bulan                          : Rp. 600.000
             b. Biaya lainnya ( kalau ada )                                   : Sewa tanah tempat kandang ,                                      
                                                                                     Rp.1.000.000/tahu








D. Kesimpulan dan Saran

D.1. Kesimpulan

            Dari praktikum yang telah di lakukan dari tanggal 12-19 Oktober 2015, di dapatkan kesimpulan bahwa :
Ternak kambing :
Berat awal kambing adalah 13,4 kg dan berat akhirnya 15,5 kg,berarti kambing mengalami kenaikan berat badan 2,1 kg. Panjang awal kambing pada pengukuran awal adalah 43 cm panjang akhirnya 48 cm, berarti kambing penambahan panjang badan 5 cm. Tinggi pada pengukuran awal adalah 52 cm dan pengukuran akhir 55 cm, berarti kambing mengalami penambahan tinggi badan 3 cm. Untuk lingkar dada pada pengukuran awal yaitu 58 cm dan pengukuran akhir 58,7 cm, berarti kambing mengalami pertambahan panjang lingkar dada 0,7 cm selama empat hari praktikum.
Ternak sapi :
Berat awal sapi adalah, 180 kg dan berat akhirnya adalah 182 kg. Sapi mengalami kenaikan berat badan sebanyak 2 kg. Tinggi sapi pada pengukuran awal adalah 116,5 cm,dan pengukuran akhir adalah 117 cm, berarti sapi mengalami kenaikan pertumbuhan tinggi badan 0,5 cm. Panjang badan pada pengukuran awal adalah 120 cm dan pada pengukuran akhir adalah 121 cm,mengalami kenaikan 1 cm. Untuk pertumbuhan lingkar dada pada pengukuran awal adalah 158 cm dan pada pengukuran hari terakhir adalah 160 cm. 

 D.2. Saran

Sebaiknya dalam praktikum diadakan fasilitas yang lengkap seperti timbangan sapi,agar di ketahui berat badan yang sebenarnya.

 



E. DAFTAR PUSTAKA


Abidin,Z.2002.Konsumsi Pakan Ternak Ruminansia.Universitas Hasanuddin:Makasar
Anonimius. 2013 diakses di http://duniaternaks.blogspot.com/2010/08/pendugaan-umur-berat-badan-sapi-dan.html pada hari selasa pukul 15:02
Anonimus, 2010 a    . Jenis - Jenis Sapi Potong. http://www.kambingakikah.com. Diakses        tanggal 20 Oktober 2015. http://dodymisa.blogspot.com/2015/06/manajemen-pakan-ternak-kambing.html#ixzz3rdlQxTkE
Blakely, J dan David H. Bade. 1991. The Science of Animal Husbandry. Gadjah Mada,University Press.
           Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE, Yogyakarta.
Dwatmadji,2013.Prediksi Umur Ternak dengan Melihat Pertumbuhan Gigi.MK Produksi Ternak Potong dan Kerja.Jurusan Peternakan.Universits Bengkulu.Bengkulu
Hardjosubroto .1994. Beterenak Kambing Dan Domba Potong. http://naturalnusantara.co.id. diakses pada 20 November 2015.
Mulyono dan Sarwono, 2004. Peluang Pengembangan Usaha Pembibitan Ternak Sapi
       Potong di Indonesia Dalam Rangka Swasembada Daging 2005. PSE, Bogor.\
Purbowati, W.S. Dilaga dan N.S.N Aliyah, 2005. Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole                            .             dan Peranakan Limousin Jantan Dengan Pakan Konsentrat dan Jerami Padi       .   .               Fermentasi.Artikel_AINI_2005 __Dr._ Ir._Endang_ Purbowati,_MP.\
Sugeng,2008.  Sapi Potong. Penerbit Penebar. Swadaya. Jakarta.
            Sientje. 2003. Stres Panas Pada Sapi Perah Laktasi. IPB, Bogor
            Widoretno, Dyah Kusumo Utari., 1983. Cara Pengukuran Ekskresi Keringan untuk Mengetahui Daya Tahan Panas Sapi Potong. UNPAD University Press, Bandung.
Santoso, U.2006.Manajemen Usaha Ternak Potong.PT Gramedia:Jakarta    
Yousef MK. 1985. Stress Physiology  in Livestock. Vol.  I. CRC Press Inc. Boca Raton. Florida

 

F. LAMPIRAN

Tabel 1 konsumsi pakan dan Air minum kambing
Tabel 2. Recording fisiologis kambing

Tabel.3 Produksi ternak kambing










Tabel 4. Fisiologi ternak sapi




Tabel 5. Recording Konsumsi pakan dan air minum






Tabel 6. Recording Produksi ternak sapi







Tabel Rekapitulasi Seluruh data kelompok praktikum.














Foto praktikum di masyarakat,
 

 
 


BCS pada sapi diatas sekitar 5 sampai 6.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar