LAPORAN PRAKTIKUM
MK PRODUKSI
TERNAK POTONG dan KERJA
Oleh :
Tamrin
Simbolon
NPM : E1C014054
Jurusan Peternakan – Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
NOVEMBER 2015
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa
karena atas berkat dan anugrah-Nya lah saya dapat menyelesaikan laporan
Produksi Ternak Potong dan Kerja ini tanpa kekurangan sesuatu apapun.
Laporan ini dibuat karena telah selesai melakukan praktikum
Produksi Ternak Potong dan Kerja tepatnya di kandang CZ-AL Unib dan praktikum
di masyarakat yaitu di kelurahan Medan Baru.
Saya juga
mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing dan pengarah praktikum
yaitu Bapak Ir.Dwatmadji . MsC.PhD dan ibu Drh.Tatik Suteky.MsC karena tidak
bosan-bosannya memberikan pengarahan selama praktikum,dan telah menjadi aktor
utama dalam penyelesaian praktikum dan laporan ini.Saya juga mengucapkan
terimakasih kepada Asisten praktikum yang telah mengawasi terlaksananya
praktikum ini dari awal hingga akhir dan kepada teman-teman satu kelompok
selama praktikum karena telah bekerja sama demi tujuan yang sama .
Laporan ini di harapkan berguna bagi siapapun yang
membacanya,dan di harapkan adanya kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan laporan ini.
Besar harapan saya laporan ini bisa menjadi referensi
bagi teman – teman satu angkatan dan
adik – adik tingkat untuk menambah pengetahuan.
Bengkulu, Nopember 2015
Penulis,
Daftar Isi
Contents
A.MATERI DAN METODE
A.1. Jadwal Pelaksanaan dan Daftar Anggota Kelompok
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 12 s/d 19 oktober
2015 di CZ-AL Unib dan 26 Oktober di
masyarakat.
Daftar anggota kelompok praktikum
Jadwal Praktikum
|
kelompok
|
Nama Anggota
|
Jenis Ternak
|
12– 16 Oktober 2015
|
1
|
1. Tamrin Simbolon
2. M.Hasbillah Karim
|
Kambing
|
16-19 Oktober 2015
|
3
|
1.Tamrin Simbolon
2.Aziz Ghifari
3.Ayu Hariza
4.Timotius Sucahyo
5.Mon Karina Kacaribu
6.Fitriah Indarika
7.M Faisal Amir
|
Sapi
|
24Oktober 2015
|
-
|
1Tamrin Simbolon
2.Aziz Ghifari
3.Ayu Hariza
4.Timotius Sucahyo
5.Mon Karina Kacaribu
6.Fitriah Indarika
7.M Faisal Amir
|
Masyarakat
|
A.2. Materi
A.2.1. Ternak
Ternak
kambing pertama kali dijinakkan sejak jaman prasejarah. Ternak kambing
merupakan salah satu hewan yang
tertua dijinakkan oleh manusia. Semua ternak kambi ng
adalah binatang pegunungan yang
hidup di lereng-lereng bukit sampai lereng yang curam
(Williamson dan Payne, 1978).
Ternak
kambing pertama kali dipelihara didaerah pegunungan Asia Barat pada
kurun waktu 8.000-7.000 SM. Jadi,
sebagai ternak kambing lebih tua dari pada sapi.
Diduga kambing yang dipelihara
saat ini (Capra aegagrus hircus) berasal dari keturunan
tiga macam kambing liar yaitu
Benzoar goat atau kambing liar Eropa ( Capra aegagrus),
kambing liar India (Capra
aegagrus blithy) dan Markhor goat atau kambing Markhor
(Capra falconeri).
Persilangan yang terjadi antara ketiga jenis kambing tersebut
menghasilkan keturunan yang subur (Mulyono dan Sarwono,
2004).
Kambing
merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat luas, karena
memiliki sifat yang menguntungkan
bagi pemeliharaannya seperti, ternak kambing
mudah berkembang biak, tidak
memerlukan modal yang besar dan tempat yang luas,
dapat digunakan memanfaatkan
tanah yang kosong dan membantu menyuburkan tanah,
serta dapat dibuat sebagai tabungan (Sasroamidjojo dan
Soeradji, 1978).
Sapi
Bali (Bibos sondaicus) yang ada saat ini diduga berasal dari hasil
domestikasi banteng liar (Bibos
banteng). Proses domestikasi sapi
Bali itu terjadi
sebelum 3.500 SM di
Indonesia. Payne dan Rollinson (1973)
menyatakan bahwa
asal mula sapi Bali adalah dari
Pulau Bali mengingat tempat ini merupakan pusat
distribusi sapi Bali di
Indonesia.
Menurut
Williamson dan Payne (1993), bangsa sapi Bali memiliki klasifikasi
taksonomi sebagai berikut
Phylum : Chordata
Subphylum :Vertebrata
Class : Mamalia
Sub class : Theria
Infra class : Eutheria
Ordo : Artiodactyla
Sub ordo : Ruminantia
Infra ordo : Pecora
Family : Bovidae
Genus : Bos (cattle)
Group : Taurinae
Spesies : Bos sondaicus (banteng/sapi Bali)
Menurut
Hardjosubroto (1994), sapi Bali mempunyai ciri-ciri sebagai berikut
1. Warna sapi jantan adalah
coklat ketika muda tetapi kemudian warna ini
berubah agak gelap pada umur
12--18 bulan sampai mendekati hitam pada
saat dewasa, kecuali sapi jantan
yang dikastrasi akan tetap berwarna coklat.
Pada kedua jenis kelamin terdapat
warna putih pada bagian belakang paha
(pantat), bagian bawah (perut),
keempat kaki bawah (white stocking) sampai
di atas kuku, bagian dalam
telinga, dan pada pinggiran bibir atas.
2. Kaki di bawah persendian
telapak kaki depan (articulatio carpo metacarpeae)
dan persendian telapak kaki
belakang (articulatio tarco metatarseae)
berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada
bagian pantatnya
dan pada paha bagian dalam kulit
berwarna putih tersebut berbentuk oval
(white mirror). Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus)
pendek-pendek
dan mengkilap.
3. Ukuran badan berukuran sedang
dan bentuk badan memanjang.
4. Badan padat dengan dada yang
dalam.
5. Tidak berpunuk dan seolah-olah
tidak bergelambir.
6. Kakinya ramping, agak pendek
menyerupai kaki kerbau.
7. Pada tengah-tengah punggungnya
selalu ditemukan bulu hitam membentuk
garis memanjang dari gumba hingga
pangkal ekor.
8. Cermin hidung, kuku dan bulu
ujung ekornya berwarna hitam.
9. Tanduk pada sapi jantan tumbuh
agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk
jenis sapi
betina tumbuh ke bagian dalam.
A.2.2
Pakan
Pakan merupakan faktor paling penting dalam pertumbuhan
maupun kesehatan ternak, pakan sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan
ternak,semakin baik kualitas pakan yang di berikan maka semakin baik
pertumbuhan ternak tersebut begitupun sebaliknya.
Tabel kebutuhan
Pakan ternak Domba dan Kambing per Ekor dalam satu hari menurut kondisi ternak.
Kondisi ternak
|
Jenis pakan
|
||
Rumput
|
Daun - daun
|
kosentrat
|
|
Dewasa
Induk bunting
Induk menyusui
Anak sebelum disapih
Anak lepas sapih
|
75%
60%
50%
50%
60%
|
25%
40%
50%
50%
40%
|
-
2 – 3 gelas
2 – 3 gelas
-
0,5 – 1 gelas
|
Hartadi et al. (1986) menyatakan pakan
adalah suatu bahan yang dimakan hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi
(atau keduanya) di dalam bahan tersebut. Pakan adalah bahan yang dimakan dan
dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan unsur hara atau nutrien yang
penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan, reproduksi dan
produksi. Bahan pakan dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu konsentrat dan
bahan berserat. Konsentrat serta bahan berserat merupakan komponen atau
penyusun ransum (Blakely dan Bade, 1994).
Menurut Setiawan dan Arsa (2005), pakan merupakan
bahan pakan ternak yang berupa bahan kering dan air. Bahan pakan ini harus
diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan produksi. Dengan adanya
pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan produksi akan berlangsung dengan
baik. Oleh karena itu, pakan harus terdiri dari zat-zat pakan yang dibutuhkan
ternak berupa protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin dan air.
Pakan yang diberikan pada kambing adalah berupa
hijauan yang diambil dari lahan bebas seperti rumput leguminosa dan rumput
lapang dan konsentrat. Estimasi pemberian pakan yaitu 10 % dari berat badan
kambing tersebut dan untuk konsentrat 1 % dari berat badan.Untuk air di berikan
secara tidak terbatas atau adlibitum.Legum dapat di beri dangan perbandingan 15
% dari jumlah keseluruhan pakan.
Pakan yang diberikan pada sapi yaitu berupa hijauan
rumput rawa dan rumput gajah.Estimasi pemberian pakan yaitu 30 % dari berat
badan sapi tersebut. Konsentrat di berikan setiap pagi, dan air di berikan
secara adlibitum agar mencegah dehidrasi pada ternak tersebut.
A.2.3.
Perkandangan
Kandang kambing yang di gunakan pada saat praktikum
yaitu kandang jenis panggung dengan lantai terbuat dai kayu yang tidak rapat,
dinding dari bambu atap dari seng. Kandang panggung merupakan kandang yang konstruksinya dibuat panggung atau
di bawah lantai kandang terdapat kolong untuk menampung kotoran. Adanya kolong
dapat menghindari kebecekan, menghindari kontak dari tanah yang mungkin
tercemar penyakit, dan memungkinkan ventilasi kandang yang lebih bagus.Tempat
pakan terletak di sebelah timur kandang .
Kandang yang digunakan peternak kambing
pada umunya yaitu
1.Kandang Panggung
Kandang jenis ini mempunyai kolong atau
ada jarak antara lantai dengan tanah, ini bertujuan mempermudah dalam
pengontrolan kotoran dan urine serta menjaga agar tidak becek dan mencegah
mudahnya penularan pada ternak kambing.
2.Kandang Lemprak
Kandang lemprak adalah kandang yang tidak
memilik alas atau biasanya langsung ke tanah tanpa memiliki lantai sehingga
kandang cenderung lebih kotor dan susah dibersihkan kandang jenis ini biasanya
digunakan peternak di pedesaan yang belum memliki pengetahuan dalam
perkandangan .
Sistem perkandangan pada sapi ,kandang dapat dibuat
dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang
dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris
atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan
pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara
kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan (Sugeng, 2006).
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu
dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri
berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena
tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan
memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging
tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu
periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan
tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan yaitu terjadi
kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung
cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan
pakan (Anonimc, 2010).
Dalam pembangunan kandang atau perkandangan diperlukan
perencanaan yang seksama. Perencanaan tersebut perlu dipertimbangkan persyaratan-persyaratan
yang harus dipenuhi dari sebuah bangunan perkandangan. Kandang yang memiliki
persyaratan akan membuat usaha ternak semakin baik. Karena dengan semakin
baiknya persyaratan kandang, ternak yang dipelihara akan semakin sehat
(Purbowati & Rianto, 2009)
Kandang
yang digunakan adalah kandang individual yang terbagi atas empat bagian yang
dimana antara satu kandang dengan kandang yang lain dipisahkan oleh balok
pemisah. Tempat pakan dan minum berada pada bagian barat kandang atau belakang
kandang,lantai kandang lebih tinggi dari dataran sekitarnya ini bertujuan agar
mempermudah dalam pengontrolan pembuangan saluran urine dan feses sapi serta
menjaga kandang agar mudah di bersihkan.Kandang tersebut termasuk kedalam
kelompok kandang pemeliharaan khususnya pejantan maka dari itu balok pemisah
tersebut dibuat lebih kokoh dan lebih tertutup untuk mencegah perkelahian dan
mengurangi energi gerak demi mempercepat penggemukan.
A.2.4. Peralatan
Peralatan yang di butuhkan dan yang digunakan pada saat
praktikum berlangsung yaitu; stetoskop, thermometer, pita ukur, thermometer
ruangan, ember, cangkul, sapu lidi.Adapun fungsi dari masing-masing alat
tersebut diatas adalah, stetoskop berguna untuk mengukur denyut nadi ternak,
thermometer untuk mengukur suhu ternak, pita ukur untuk mengukur tinggi,
lingkar dada dan panjang ternak, thermometer ruangan berguna untuk mengukur
suhu dan kelembaban ruangan yang di letakkan dalam kandang, ember berfungsi
untuk tempat air minum dan tempat konsentrat ternak, cangkul berfungsi untuk
mempermudah pembuangan feses, dan sapu lidi untuk membersihkan lingkungan
sekitar kandang.
A.3.Metode
A.3.1. Ternak Kambing
Jumlah kambing yang digunakan pada saat praktikum yaitu 7
ekor dan domba 2 ekor, setiap kelompok
bertugas mengurus satu kambing. Satu kelompok terdiri atas 2 – 3 orang. Berat
kambing pada hari pertama praktikum (16
oktober 2015) yaitu 13,4 kg.
A.3.1.1. Pengukuran Produksi Kambing
Pengukuran berat badan
-
Penimbangan dilakukan
setiap pagi sebelum pemberian pakan
-
Menimbang terdahulu
berat badan praktikan yang akan menimbang
-
Menenangkan dan
mengangakat kambing dari dalam kandang
-
Memangku kambing dan
kemudian ditimbang bersamaan dengan praktikan tadi,mencatat hasil penimbangan
keduanya
-
Memasukkan kambing
kambing kedalam kandang dengan hati-hati
-
Untuk hasil
penimbangan dapat di ketahui dengan rumus ( berat penimbang dengan berat
kambing) – berat penimbang
Pengukuran panjang badan
-
Panjang badan diukur setiap
pagi hari dengan menggunakan pita ukur
-
Mengukur dari pangkal
tulang paha depan sampai tulang pangkal paha depan dan mencatat hasilnya
Pengukuran tinggi badan
-
Pengukuran tinggi
domba dilakukan setiap pagi hari.
-
Mengukur tinggi domba
diukur dari ujung kaki depan sampai ke bagian punggung dibelakang leher
menggunakan pita ukur dan mencatat hasilnya
Pengukuran lingkar dada
- Pengukuran lingkar dada dilakukan saat pagi
hari sebelum pemberian pakan.
-
Megukur lingkar dada dari bagian belakang kaki depan.
- Hasil pengukuran dicatat di laporan
sementara.
A.3.1.2.Konsumsi Pakan
- Pakan yang telah
di arit pada sore sebelumnya di timbang sesuai konsumsinya 10 % dari
berat badan
- memberikan pakan setengah dari jumlah konsumsinya
kemudiaan ditambah pada siang harinya
- Memberikan konsentrat sebanyak 12 % sebanyak 1 % dari
berat badan
- Menimbang sisa
pakan pada esok harinya untuk mengetahui konsumsi pakan.
A.3.1.3.Konsumsi Air minum
- Menimbang air minum di pagi hari
- Saat siang hari, jika air habis, ditambah lagi. Penambahan air ditimbang
terlebih dahulu.
A.3.1.4. Pengukuran Fisiologis Kambing
Pengukuran respirasi
-
Pengukuran respirasi
dilakukan setiap pagi hari sebelum di berikan pakan
-
Menenangkan kambing
dan mengangkat keluar kandang
-
Mengukur respirasi
kambing dari hidung
-
Domba di ditenangkan
dengan cara menjepit perlahan diantara kedua kaki dan memegang rahang bagian
bawah
-
Pengukuran respirasi
dilakukan 30 detik dan hasilnya dikali 2.
Pengukuran temperatur rektal
-
Temperatur di ukur
setiap pagi hari sebelum pemberian pakan
-
Memasukkan termometer
di bagian anus kambing secara perlahan
-
Menahan termometer
selama satu menit kemudian mencatat hasilnya
Pengukuran denyut nadi
-
Denyut nadi di ukur
di bagian rectum
-
Menghitung denyut
nadi selama 30 detik kemudian di kali dua
-
Mencatat hasilnya.
A.3.2. Ternak Sapi
Untuk ternak sapi ,sapi yang digunakan untuk praktikum
ada 4 ekor, dimana masing-masing kelompok mendapat 1 ekor sapi ,satu kelompok
terdiri dari 7-8 orang.
A.3.2.1. Pengukuran Produksi Ternak Sapi
Pengukuran berat badan
-
Pada praktikum kali
ini untuk ternak sapi tidak dilakukan penimbangan berat badan
Pengukuran panjang badan
-
Pengukuran panjang
badan dilakukan setiap pagi hari
-
Menenangkan sapi
terlebih dahulu
-
Mengukur dari pangkal
paha depan sampai paha belakang ternak
menggunakan pita ukur
-
Mencatat hasilnya
Pengukuran tinggi badan/gumba
-
Tinggi badan di ukur
tegak lurus dari tanah sampai puncak gumba di belakang punuk menggunakan kayu
-
Menyejajarkan kayu dengan
puncak gumba, kemudian melihat hasilnya dan mencatat hasilnya
Pengukuran lingkar dada
-
Lingkar dada di ukur
setiap pagi hari sebelu pakan diberikan
-
Menjinakkan sapi
terlebih dahulu,kemudian mengukur lingkar dada pada bagian pangkal kaki bagian
depan
-
Mencatat hasilnya
A.3.2.2. Konsumsi Pakan
-
Pakan hijauan yang
telah di arit pada sore sebelumnya di timbang dengan estimasi 30 % dari berat
badannya pada pagi hari
-
Konsentrat ditimbang 1 % dari berat badan sapi ,kemudian di kasih
pada pagi hari saja
-
Memberikan pakan dan
konsentrat secara bersamaan
-
Mengamati pakan pada
siang hari ,kalau pakan kurang ditambah lagi
-
Setiap penambahan
ditimbang terlebih dahulu kemudian di tambah dengan pemberian sebelumnya
-
Menimbang sisa pakan
pada keesokan harinya , begitu seterusnya sampai praktikum selesai.
A.3.2.3.
Konsumsi Air Minum
-
Menimbang air minum
terlebih dahulu sebelum di berikan
-
Memberikan air minum
pada sapi pada pagi hari
-
Mengamati pada siang
hari , kalau air minum kurang di tambah dengan menimbang penambahan terlebih
dahulu
-
Air minum di berikan
secara adlibitum untuk mencegah dehidrasi
A.3.2.4. Pengukuran Fisiologis Sapi
Pengukuran
denyut nadi
-
Pengukuran denyut
nadi dilakukan setiap pagi ,siang, dan sore harinya
-
Menjinaakan terlebih
dahulu sapi agar tidak stress saat pengukuran
-
Pengukura dilakukan
menggunakan stetoskop, dibagian pangkal kaki depan bagian belakang dekat dada,
atau bisa juga di pangkal ekor
-
Menghitung berapa
kali denyut nadi berdetak selama 30 detik kemudian hasilnya dikali 2
-
Mencatat hasilnya
Pengukuran respirasi
-
Pengukuran respirasi
dilakukan setiap hari pada pagi , siang dan sore hari
-
Respirasi diukur di
bagian hidung
-
Menghitung
respirasinya selama 30 detik kemudian hasilnya dikali 2
-
Mencatat hasilnya
Pengukuran suhu rektal
-
Pengukuran dilakukan
setiap pagi sebelum pakan diberikan
-
Mengukur suhu rektal
di bagian rectum
-
Suhu rektal di ukur
kira-kira satu menit sampai termometer stabil
-
Mencatat hasilnya
-
A.4.Kondisi Lingkungan
Temperatur Lingkungan
Lingkungan dapat diklasifikasikan dalam dua komponen,
yaitu :
(1)
Abiotik : semua faktor fisik dan kimia
(2)
Biotik : semua interaksi di antara (perwujudan) makanan, air, predasi, penyakit
serta interaksi sosial dan seksual.
Faktor lingkungan abiotik adalah faktor yang paling
berperan dalam menyebabkan stres fisiologis (Yousef dalam Sientje, 2003)..
Komponen lingkungan abiotik utama yang pengaruhnya nyata terhadap ternak adalah
temperatur, kelembaban (Yousef ; Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje,
2003), curah hujan, angin dan radiasi matahari (Yousef ; Cole and Brander dalam
Sientje, 2003).
Temperatur lingkungan adalah ukuran dari intensitas panas
dalam unit standar dan biasanya diekspresikan dalam skala derajat celsius
(Yousef dalam Sientje, 2003). Secara umum, temperatur udara adalah faktor
bioklimat tunggal yang penting dalam lingkungan fisik ternak. Supaya ternak
dapat hidup nyaman dan proses fisiologi dapat berfungsi normal, dibutuhkan
temperatur lingkungan yang sesuai. Banyak species ternak membutuhkan temperatur
nyaman 13 – 18 oC (Chantalakhana dan Skunmun, dalam Sientje, 2003)
atau Temperature Humidity lndex (THI) <
72 (Davidson, et al. dalam Sientje, 2003).
Setiap hewan mempunyai kisaran temperatur lingkungan yang
paling sesuai yang disebut Comfort Zone. Temperatur lingkungan yang paling
sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik adalah 10°C-27°C (50°F-80°F).
Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal
untuk ternak di daerah sub tropis (sapi perah) adalah pada temperatur antara
30°F-60°F dan dengan kelembaban rendah. Selain itu, sapi FH maupun PFH
memerlukan persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan
laut, suhu berkisar antara 15°- 21°C dan kelembaban udaranya diatas 55 persen.
Kenaikan temperatur udara di atas 60°F relatif mempunyai sedikit efek terhadap
produksi.
Kelembaban Lingkungan
Kelembaban adalah jumlah uap air dalam udara. Kelembaban
udara penting, karena mempengaruhi kecepatan kehilangan panas dari ternak.
Kelembaban dapat menjadi kontrol dari evaporasi kehilangan panas melalui kulit
dan saluran pernafasan (Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003).
Kelembaban biasanya diekspresikan sebagai kelembaban
relatif (Relative Humidity = RH) dalam persentase yaitu ratio dari mol persen
fraksi uap air dalam volume udara terhadap mol persen fraksi kejenuhan udara
pada temperatur dan tekanan yang sama (Yousef dalam Sientje, 2003). Pada saat
kelembaban tinggi, evaporasi terjadi secara lambat, kehilangan panas terbatas
dan dengan demikian mempengaruhi keseimbangan termal ternak (Chantalakhana dan
Skunmun dalam Sientje, 2003)..
Dalam pengamatan temperatur dan
kelembaban lingkungan dapat dilihat dengan alat ukur khusus yaitu termometer
ruangan yang tergantung dalam kandang dimana alat tersebut di gabung menjadi
satu yang terbagi dua. Temperatur dan kelembaban dilihat setiap pagi, siang,
dan sore harinya selama praktikum.
A.5.Estimasi Umur Ternak
Pada
pengamatan prediksi umur ternak pada domba dan sapi dilakukan dengan cara
melihat susunan gigi ternak domba dan sapi bali dan setelah melihat susunan
gigi ternak tersebut, maka kemudian dibandingkan dengan literatur atau teori
berupa tinjauan pustaka yang menyatakan umur ternak dengan milihat jumalah gigi
dan susunan gigi untuk memprediksi umurnya.
B.Hasil dan Pembahasan Praktikum di
Kandang Unib
B.1.Ternak Kambing
B.1.1 Konsumsi
Pakan Pada Kambing
Tabel konsumsi pakan pada kambing (data
individu/kelompok)
Ternak kambing yang di pelihara pada saat praktikum
adalah kambing betina pakan yang di berikan adalah pakan hijauan dan
konsentrat. Pakan hijauan yang di berikan yaitu berupa rumput lapangan dan
rumput legum diberikan dengan estimasi sekitar 10 % dari berat badannya ,
konsentrat yang diberikan berupa dedak dengan estimasi 1 % dari berat badan.
Berdasarkan hasil pengamatan pada saat praktikum yang
dimuat dalam tabel ,pakan yang diberikan pada hari pertama yaitu 5
kg,penambahan tidak ada dan sisanya 1,4 kg ,dengan konsumsinya 3,6 kg, untuk
konsentrat pemberian awal sebanyak 0,133 kg, sisa 0,120 kg dan sisanya 0,13 kg.Konsumsi
hari pertama terbilang cukup banyak untuk pakan hijauannya hal ini mungkin
dikarenakan kualitas pakan yang di berikan lebih baik dari sebelumnya, tetapi
pada konsumsi konsentratnya sangat sedikit,mungkin sebelumnya kambing tersebut
belum pernah di kasih konsentrat sehingga ia tidak terbiasa dengan
konsentrat.Pada hari kedua pemberian pakan sebanyak 4 kg dan sisanya 1 kg,untuk
konsentrat pemberian 0,25 kg sisanya 0,20 kg dan konsumsinya 0,05 kg.Pada hari
ketiga pakan diberikan sebanyak 5 kg sisanya 1,5 kg dan konsumsinya 3,5 kg,
untuk konsentratnya pemberian 0,26 kg sisanya 0,20 kg dan konsumsinya 0,06
kg.Dan pada hari keempat pakan diberikan seberat 6 kg sisanya 2 kg dan
konsumsinya 4 kg, dan untuk konsentratnya 0,48 kg sisanya 0,42 kg dan
konsumsinya 0,06 kg.
Dari semua data tersebut konsumsi pakan hijauan ternak
kambing yang di praktikumkan relatif naik,namun pada hari kedua mengalami
penurunan konsumsi sebanyak 0,6 kg hal ini dikarenakan kualitas pakan pada saat
itu menurun atau kurang baik namun pada hari berikutnya naik sebanyak 0,5 kg
setiap hari hingga hari keempat.Namun
ini cukup berbeda dengan konsumsi konsentratnya, dimana konsumsi hari
pertamanya hanya sebanyak 0,13 kg dari 0,133 kg konsentrat yang di berikan
,mungkin penyebabnya kambing tersebut tidak menyukai konsentrat tersebut yang
berupa campuran pellet dengan dedak.Data ini terus menurun hingga hari terakhir
praktikum dimana hari kedua hanya mengonsumsi konsentrat sebanyak 0,05 kg,hari
ketiga dan keempat sebanyak 0,06 kg.
Menurut
pendapat (Hartadi et al., 1980) Pemberian pakan
konsentrat ataupun suplemen yang menggunakan bahan baku dengan kandungan
nutrisi (protein, energi, mineral) yang tinggi sebaiknya digunakan untuk
mengatasai kekurangan nutrisi pada pakan dasar. Oleh karena konsentrasi
nutrisinya relatif tinggi, maka biaya penggunaan pakan konsentrat juga relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan pakan dasar per unit pakan. Dengan demikian
penggunaan pakan konsentrat haruslah seefisien mungkin.Namun hal ini belum
sepenuhnya teraplikasikan dalam praktikum terbukti dari pakan hijauan yang di
berikan masih dalam bentuk rumput liar begitu juga dengan konsentratnya secara
nutrisi belum cukup.
B.1.2 Produksi Pada Kambing
Tabel produksi kambing
Berat badan kambing pada hari pertama praktikum adalah 13,4 kg,penimbangan
di hari kedua 14,2 kg dan pada hari terakhir penimbangan adalah 15,5 kg data
ini menunjukkan pertambahan berat badan kambing selama 4 hari praktikum adalah
seberat 2,1 kg. Hal ini kurang mungkin karena Kualitas
bahan makanan dipengaruhi oleh komposisi zat makanan serta penggunaannya oleh ternak. Menurut Sumoprastowo
(1980) bahwa rata-rata berat lahir kambing
lokal sebesar 1-2 kg, dan laju pertambahan berat badan ternak kambing lokal
adalah sebesar 43 gram/ekor/hari.
Sedangkan pertumbuhan berat badan pada saat praktikum 0,525 kg perharinya. Hal
ini bisa saja terjadi karena beberapa kemungkinan diantaranya , timbangan yang
di gunakan kurang bagus,dan bisa jadi faktor dari praktikan yang menimbang
posisinya tidak stabil dan berubah-ubah posisi.
Untuk
memperoleh pertumbuhan ternak kambing yang baik sangatlah perlu
diperhatikan kandungan zat-zat
makanan yang dikandung oleh pakan. Bahan
pakan
harus mengandung zat-zat makanan
seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan
vitamin-vitamin, serta air yang dibutuhkan
ternak. Menurut pendapat Siregar (1994) pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan mengatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi
pertumbuhan baik dari segi kualitas dan kuantitas karkas kambing dengan perbandingan
20 -30% : 70 -80%. Ternak tidak akan mampu berproduksi secara optimal, apabila
tidak memperoleh lingkungan yang optimal walaupun fungsi genetik cukup tinggi
dan begitu juga sebaliknya . Pada pertumbuhan
tinggi badan selama empat hari yaitu 3 cm, angka ini masih terbilang wajar dan tidak
menunjukkan pertambahan yang signifikan. Begitu juga dengan pertumbuhan panjang
badan yaitu hanya sekitar 5 cm,dan pertambahan lingkar dada hanya sebesar 0,7
cm. Data ini masih terbilang cukup stabil karena praktikum hanya dilakukan
selama 8 hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa kambing ini baik pertumbuhannya.
Umur ternak dapat di estimasikan dari giginya.
B.1.3 Kondisi Fisiologis Kambing
Tabel fisiologis kambing
Suhu Tubuh yang
normal pada kambing adalah 39,2 – 40 ̊C,
Rectal 38,9-40,5, Respirasi
26-32, dan Denyut Jantung 60 (Anonim,
2013)
Pada saat praktikum data yang di dapat untuk respirasi
yaitu 26 – 40kali/menit. Respirasi tertinggi yaitu pada hari pertama dan kedua
yaitu mencapai 40 kali/menitnya. Data ini terbilang normal karena rata-rata
respirasi untuk kambing 26-32,ini tidak cukup jauh berbeda dari data yang
didapat.
Denyut nadi normal untuk kambing yaitu 60 kali/menit
berdasarkan literatur . namun data yang di dapat sedikit berbeda dari yang
seharusnya pada hari kedua mencapai 83 kali/menit. Hal ini mungkin disebabkan
kondisi ternak dalam keadaan stress atau dalam keadan kepanasan sehingga
menyebabkan denyut nadinya meningkat. Untuk temperatur rektalnya data yang
didapat pada hari pertama yaitu 36,5 ̊ C ,namun cenderung stabil mulai hari
kedua yaitu berkisar antara 38,3-38,7 ̊C berdasarkan literatur yang ada data
ini normal.Untuk suhu dan kelembaban udara terbilang cukup normal dan stabil
tidak ada perubahan suhu yang ekstrim suhu berkisar dari 24-33 ̊C, dan untuk
kelembaban udara dari 46-81 %.
B.2. Ternak Sapi
B.2.1. Konsumsi pakan pada sapi
Tabel konsumsi pakan dan air minum sapi.
Pada pemberian pakan pada sapi
pemberian pada hari pertama yaitu 18 kg dan sisanya adalah 4 kg berarti
konsumsi sebanyak 14 kg. Pada hari kedua pakan diberikan sebanyak 14 kg dan
sisanya 4,5 kg dengan konsumsi sebanyak 10,5 kg turun dari hari sebelumnya, hal
ini kemungkinan karena sapi tersebut sedang dalam kondisi yang tidak sehat,dimana
sapi tersebut mencret. Pada hari ketiga pemberian pakan sebanyak 18 kg dan
sisanya 4,5 kg konsumsi sebanyak 13,5 kg naik dari hari sebelumnya. Pemberian
hari keempat sebanyak 16,5 kg sisa 1,5 kg dan konsumsinya 14,5 kg. Sapi
penggemukan mengkonsumsi pakan 2,0-3,0 % dari bobot badan, tetapi bila hanya diberi hijauan saja seringkali perlu
5,0 – 7,0 % dari bobot badan, terutama bila diberikan hijauan berkualitas
rendah (U.Santoso.2006).
Untuk pakan yang kami beriakan dengan persentasi berat badan 10% dari berat
badan , hal ini sudah sesuai berdasarkan literatur yang ada yaitu Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan (anonymous. 2002).
Pakan
yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi,
pucuk daun tebu , lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput
raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50
kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak
10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Untuk pemberian konsentrat, konsentrat di beri
dari hari pertama praktikum sampai hari terakhir,dimana konsentrat yang
diberikan berupa campuran pellet dengan dedak. Dan konsentrat rata-rata setiap
harinya habis di konsumsi hanya pada hari keempat bersisa 0,2 kg. Hal ini
sangat tepat karena menurut pendapat Suprio
Guntoro, Konsentrat merupakan sumber protein maupun sumber energi, sedangkan
hijauan menyumbang sebagian kebutuhan energi dan berfungsi sebagai sumber
vitamin dan mineral yang baik. Konsentrat sumber energi yaitu bahan-bahan yang
mengandung protein kasar kurang dari 20% dan mengandung serat kasar kurang dari
18 %, sedangkan konsentrat sumber protein mengandung protein kasar 20% atau
lebih (Suprio Guntoro, 2002).
B.2.2
Produksi Sapi
Tabel produksi sapi
Untuk
mengetahui produksi sapi yang dilakukan pertama sekali adalah menimbang berat
badan, namun pada praktikum ini hal ini di tidak dilakukan di karenakan ketidak
tersediaannya alat penimbang,dan hal ini sangat di sayangkan karena kita tidak mengetahui
pertumbuhan berat badannya. Ukuran tubuh ternak sering juga digunakan untuk
mengevaluasi pertumbuhan karena ukuran merupakan indikator penting dari
pertumbuhan. penting dari pertumbuhan. Ukuran tubuh yang umum diamati pada
ternak
meliputi lingkar dada, dan
panjang tubuh. Erfan (2004) menyatakan bahwa ukuran
tubuh dapat digunakan untuk
menaksir bobot tubuh dan berat karkas, serta
memberi gambaran bentuk tubuh
hewan sebagai ciri khas suatu bangsa ternak tertentu.
Untuk tinggi badan pada hari pertama di peroleh hasil
pengukuran 116,5 cm sampai pada hari ketiga,dan hari keempat naik 0,5 cm
menjadi 117 cm. Pada pengukuran panjang badan hasil yang didapat 120 cm,dan
pada hari terakhir naik 1 cm menjadi 121 cm. Menurut bassit wello
(2011), secara umum produktivitas seekor ternak ditentukan oleh tiga faktor
yaitu genetik, lingkungan, dan umur. Faktor keturunan akan mempengaruhi
performa seekor ternak dan faktor lingkungan merupakan pengaruh kumulatif yang
dialami oleh ternak sejak terjadinya pembuahan hingga dewasa. Produksi sapi
yang baik akan dihasilkan apabila seekor ternak selain mempunyai genetik yang
tinggi, ternak memiliki daya adaptasi lingkungan serta tatalaksana yang baik.
Produksi ternak sapi potong berhubungan erat dengan performansnya. Performans
ternak dapat dilihat dari bobot badan, ukuran tubuh, komposisi tubuh, dan
kondisi tubuh. Bobot badan ternak dapat diketahui dengan melakukan penimbangan
atau menggunakan alat penduga bobot hidup untuk menggambarkan penampilan
produksi seekor ternak.
Untuk
pengukuran lingkar dada naik 2 cm. Hasil penelitian Arlina & Khasrad (2003)
panjang badan sapi bali jantan umur
< 1 tahun 120±86 cm dan umur > 1-2 tahun
120,67 ± 0,81 cm. Selanjutnya
Susanti et al (2008). badan sapi bali jantan secara berurutan pada umur < 1
tahun, > 1-2 tahun dan > 2-3 tahun sekitar 103,62 ± 3,76 dan 115,50 ±
2.60 cm. Pengukuran lingkar dada menurut hasil penelitian Arlina & Khasrad (2003)
170,53 untuk jantan dan betina 150,88 cm. Fourie et
al. dada, tinggi pundak, lebar pundak, dan umur mempunyai pengaruh pada bobot
tubuh.
Suharno & Nazarudin (1994) menyatakan
bahwa sapi bali dewasa ,tinggi
badannya mencapai 1-2 meter
dengan berat antara 300-400 kg. Sapi bali kaki
pendek tetapi badannya panjang
dan lingkar dada cukup besar. Pane (1986)
menyatakan berat sapi bali jantan
dewasa, sekitar 400 kg, lingkar dada 192 cm,
tinggi gumba, 127 cm, dan panjang
badan 140 cm. Berat sapi bali betina, dewasa,
sekitar 260 kg, lingkar dada 165
cm, tinggi gumba 114 cm, dan panjang badan
120 cm.
Adapun
bobot badan dapat di lihat dengan rumus yang menggunakan variabel lingkar dada
(Abidin,2006) sebagai berikut :
Bobot badan (kg) = (lingkar
dada (cm) ) + 22 ²
100
B.2.3
Fisiologi Sapi
Tabel fisiologi sapi
Berdasarkan
hasil pengamatan untuk kondisi fisiologis sapi yang di rangkum dalam
tabel,untuk respirasi di dapat hasil yang bervariasi setiap harinya yaitu
rata-rata 22-38 kali/menit. Respirasi tertinggi di dapat pada siang hari di
karenakan oleh faktor lingkungan seperti panas terik matahari dan faktor
pergerakan sapi.
Untuk denyut
jantung di peroleh data rata – rata 62-80 kali/menit,data ini masih wajar
karena bardasarkan literatur yang ada Frekuensi Pulsus sapi dalam keadaan normal adalah 54-84
kali per menit atau 40-60 kali per menit dan sapi muda 80-90 kali per menit.
Pada pengukuran suhu
rektal didapat rata-rata 37,6 ̊C . suhu ini terbilang normal karena berdasarkan
literatur yang ada Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan
menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Salah satu unsur penentu iklim
adalah suhu lingkungan. Bagi sapi potong yang mempunyai suhu tubuh optimum
38.33°C, suhu lingkungan 25°C dapat menyebabkan peningkatan rata pernafasan,
suhu rektal dan pengeluaran keringat, yang semuanya merupakan manifestasi tubuh
untuk mempertahankan diri dari cekaman panas. Semakin banyak jumlah keringat
yang dikeluarkan, hewan makin tidak tahan terhadap cekaman panas. Produksi
panas tubuh ternak diukur dengan kalorimetri langsung dan tidak langsung.
Sedangkan kehilangan panas diketahui melalui kehilangan non evaporasi dan
evaporasi (Yousef dalam Sientje,
2003).
Zona temperatur netral
atau zona termonetral (ZTN) adalah zona yang relatif terbatas dari
temperatur lingkungan yang efektif dalam memproduksi panas minimal dari ternak
(Curtis dalam Sientje, 2003). ZTN disebut juga profil termonetral
atau zona nyaman atau zona termopreferendum (Yousef dalam Sientje, 2003). Pada zona ini, tidak ada perubahan
dalam produksi panas dan temperatur tubuh dapat dikontrol oleh adanya perubahan
kecil dalam konduksi ternak melalui variasi tubuh, aliran darah dari pusat ke
periferi atau peningkatan keringat (Sturkiedalam Sientje, 2003).
Setiap hewan mempunyai
kisaran temperatur lingkungan yang paling sesuai yang disebut Comfort Zone.
Temperatur lingkungan yang paling sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik
adalah 10°C-27°C (50°F-80°F). Sedangkan keadaan lingkungan yang ideal untuk
ternak di daerah sub tropis (sapi perah) adalah pada temperatur antara
30°F-60°F dan dengan kelembaban rendah. Selain itu, sapi FH maupun PFH
memerlukan persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan
laut, suhu berkisar antara 15°- 21°C dan kelembaban udaranya diatas 55 persen.
Kenaikan temperatur udara di atas 60°F relatif mempunyai sedikit efek terhadap
produksi. Dapat di pastikan temperatur lingkungan normal.
Kelembaban biasanya
diekspresikan sebagai kelembaban relatif (Relative Humidity = RH) dalam
persentase yaitu ratio dari mol persen fraksi uap air dalam volume udara
terhadap mol persen fraksi kejenuhan udara pada temperatur dan tekanan yang
sama (Yousef dalam Sientje, 2003). Pada saat kelembaban tinggi, evaporasi
terjadi secara lambat, kehilangan panas terbatas dan dengan demikian
mempengaruhi keseimbangan termal ternak(Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003)..
B.2.4. Umur Ternak
Penentuan
umur dapat juga ditentukan melalui catatan kelahiran dan pertumbuhan gigi seri
ternak. Data-data ini digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dalam melakukan usaha budidaya sapi potong.
Dari poto yang diatas dapat diperkirakan
bahwa umur sapi berkisar 3-3,5 tahun.
Tabel . Kondisi Gigi dan Dugaan
Umur Ternak Sapi
No. Kondisi
gigi
perkiraan umur
|
1.
Gigi
seri sudah tumbuh, kecuali gigi seri luar 15 hari
2.
Gigi
seri susu sudah tumbuh semuanya 30 hari
3.
Gigi
seri susu dalam sudah terasah sebagian 6 bulan
4.
Gigi
seri susu dalam sudah terasah seluruhnya 10-12 bulan
5.
Gigi
seri luar sudah terasah seluruhnya 16-18 bulan
6.
Gigi
seri susu dalam sudah berganti dengan gigi tetap 1,5-2 tahun
7. Gigi seri susu tengah dalam sudah berganti
dengan gigi 2,5 tahun
Tetap
8.
Gigi
seri susu tengah luar sudah berganti menjadi gigi tetap 3 tahun
9.
Gigi
seri susu luar sudah berganti menjadi gigi tetap 3,5 tahun
|
C.Hasil dan Pembahasan Praktikum di Peternakan di
Masyarakat
C.1. Data Pemilik
a. Nama Pemilik : Slamet
b. Umur/Pendidikan terakhir : 62
tahun/SD
c. Alamat :RT 5 / RW 3 , Jl.Medan Baru
d. Peta Lokasi :
C.2 Ternak
a. Jenis Ternak :
Sapi
b. Jumlah ternak yang di pelihara : 7 (tujuh)
c. Bangsa Ternak : Bali
d.Perkiraan Umur Ternak :
TERNAK
|
USIA( Keterangan Peternak)
|
USIA (Rumus Gigi)
|
Sapi 1
|
4 tahun
|
|
Sapi 2
|
4 tahun
|
|
Sapi 3
|
3 tahun
|
|
Sapi 4
|
1 tahun
|
|
Sapi 5
|
1 tahun
|
|
Sapi 6
|
4 bulan
|
|
Sapi 7
|
4 bulan
|
e. Jenis kelamin dan
Estimasi Berat Ternak
TERNAK
|
Jenis
Kelamin
|
Estimasi
Berat Badan
|
Sapi
1
|
Betina
|
280
kg
|
Sapi
2
|
Betina
|
280
kg
|
Sapi
3
|
Betina
|
280
kg
|
Sapi
4
|
Betina
|
280
kg
|
Sapi
5
|
Jantan
|
80
kg
|
Sapi
6
|
Jantan
|
60
kg
|
Sapi
7
|
Jantan
|
60
kg
|
f. Estimasi harga
Jual dan Harga Beli Ternak
TERNAK
|
Harga
Jual (Rp)
|
Harga
Beli
|
Sapi
1
|
9.000.000-12.000.000
|
|
Sapi
2
|
9.000.000-12.000.000
|
|
Sapi
3
|
9.000.000-12.000.000
|
|
Sapi
4
|
9.000.000-12.000.000
|
|
Sapi
5
|
8.000.000
|
|
Sapi
6
|
8.000.000
|
|
Sapi
7
|
8.000.000
|
g. Pemanfaatan kompos : Dijual
h. Lama pemeliharaan :
3 tahun / bulan
i. Tujuan
pemeliharaan :
Ternak betina (untuk beranak)
Ternak jantan
(untuk penggemuk
C.3. Pakan
a. Jenis pakan yang di berikan : Rumput gajah, jerami dan dedak
b. Cara mendapatkan pakan : Mencari disekitar
c. Estimasi biaya pakan : -
d. Estimasi kandungan nutrisi :
C.4.Kandang
a. Ukuran Kandang :
12 x 8 x 3
b. Bahan Kandang :
Dinding : Papan dari batang kelapa
c. Gambar :
d. Biaya kandang : ± Rp
18.000.000
C.5 Kesehatan Ternak
a. Nama penyakit yang pernah terdeteksi : flu, cacingan, diare
b. Cara pencegahan penyakit : Berobat ke
mantri
c. Cara pengobatan penyakit : Diberi pil
/ disuntik
d Estimasi biaya untuk kesehatan
ternak : Rp.100.000,/kontrol
C.6 Ekonomi
a.Biaya
tenaga kerja/bulan :
Rp. 600.000
b. Biaya lainnya ( kalau ada ) : Sewa tanah
tempat kandang ,
Rp.1.000.000/tahu
D. Kesimpulan dan Saran
D.1. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah
di lakukan dari tanggal 12-19 Oktober 2015, di dapatkan kesimpulan bahwa :
Ternak kambing :
Berat awal kambing adalah 13,4 kg dan berat akhirnya 15,5
kg,berarti kambing mengalami kenaikan berat badan 2,1 kg. Panjang awal kambing
pada pengukuran awal adalah 43 cm panjang akhirnya 48 cm, berarti kambing
penambahan panjang badan 5 cm. Tinggi pada pengukuran awal adalah 52 cm dan
pengukuran akhir 55 cm, berarti kambing mengalami penambahan tinggi badan 3 cm.
Untuk lingkar dada pada pengukuran awal yaitu 58 cm dan pengukuran akhir 58,7
cm, berarti kambing mengalami pertambahan panjang lingkar dada 0,7 cm selama
empat hari praktikum.
Ternak sapi :
Berat awal sapi adalah, 180 kg dan berat akhirnya adalah
182 kg. Sapi mengalami kenaikan berat badan sebanyak 2 kg. Tinggi sapi pada
pengukuran awal adalah 116,5 cm,dan pengukuran akhir adalah 117 cm, berarti
sapi mengalami kenaikan pertumbuhan tinggi badan 0,5 cm. Panjang badan pada
pengukuran awal adalah 120 cm dan pada pengukuran akhir adalah 121 cm,mengalami
kenaikan 1 cm. Untuk pertumbuhan lingkar dada pada pengukuran awal adalah 158
cm dan pada pengukuran hari terakhir adalah 160 cm.
D.2. Saran
Sebaiknya dalam
praktikum diadakan fasilitas yang lengkap seperti timbangan sapi,agar di
ketahui berat badan yang sebenarnya.
E. DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,Z.2002.Konsumsi Pakan Ternak Ruminansia.Universitas
Hasanuddin:Makasar
Anonimius. 2013 diakses di http://duniaternaks.blogspot.com/2010/08/pendugaan-umur-berat-badan-sapi-dan.html pada hari selasa pukul 15:02
Anonimus, 2010 a . Jenis - Jenis Sapi Potong. http://www.kambingakikah.com. Diakses tanggal 20 Oktober 2015. http://dodymisa.blogspot.com/2015/06/manajemen-pakan-ternak-kambing.html#ixzz3rdlQxTkE
Blakely, J dan David H. Bade. 1991. The Science of Animal Husbandry.
Gadjah Mada,University Press.
Chantalakhana dan Skunmun dalam Sientje, 2003. Pengantar Ilmu Peternakan
Tropik. BPFE, Yogyakarta.
Dwatmadji,2013.Prediksi
Umur Ternak dengan Melihat Pertumbuhan Gigi.MK Produksi Ternak Potong dan Kerja.Jurusan
Peternakan.Universits Bengkulu.Bengkulu
Hardjosubroto .1994. Beterenak Kambing Dan Domba Potong. http://naturalnusantara.co.id.
diakses pada 20 November 2015.
Mulyono dan Sarwono, 2004. Peluang Pengembangan
Usaha Pembibitan Ternak Sapi
Potong di Indonesia Dalam
Rangka Swasembada Daging 2005. PSE, Bogor.\
Purbowati, W.S. Dilaga dan N.S.N Aliyah,
2005. Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole . dan Peranakan Limousin Jantan
Dengan Pakan Konsentrat dan Jerami Padi
. . Fermentasi.Artikel_AINI_2005
__Dr._ Ir._Endang_ Purbowati,_MP.\
Sugeng,2008. Sapi
Potong. Penerbit Penebar. Swadaya. Jakarta.
Sientje. 2003. Stres Panas Pada Sapi Perah Laktasi. IPB, Bogor
Widoretno, Dyah Kusumo Utari., 1983. Cara Pengukuran Ekskresi Keringan
untuk Mengetahui Daya Tahan Panas Sapi Potong. UNPAD University Press, Bandung.
Santoso, U.2006.Manajemen
Usaha Ternak Potong.PT Gramedia:Jakarta
Yousef MK. 1985. Stress Physiology
in Livestock. Vol. I. CRC Press Inc. Boca Raton. Florida
F. LAMPIRAN
Tabel 1 konsumsi
pakan dan Air minum kambing
Tabel 2. Recording
fisiologis kambing
Tabel.3 Produksi
ternak kambing
Tabel 4. Fisiologi
ternak sapi
Tabel 5. Recording
Konsumsi pakan dan air minum
Tabel 6. Recording
Produksi ternak sapi
Tabel Rekapitulasi
Seluruh data kelompok praktikum.
Foto praktikum di
masyarakat,
BCS pada sapi diatas
sekitar 5 sampai 6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar