
Oleh :
Nama :Tamrin Simbolon
NPM : E1C014054
Co as : Eko
Nurul Hadi
Tri Haryono
Doson : Johan Setianto
Basyarudin Zain
Jurusan peternakan
Fakultas pertanian
Universitas Bengkulu
2016
Daftar Isi
Kata Pengantar
Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan
karunia dan hidayahNya sehingga kami masih
dapat menyelesaikan laporan Manajemen Ternak Unggas ini tanpa hambatan
sedikitpun.ucapan terima kasih kepada Pak Johan dan Basyarudin sebagai dosen
pengampu matakuliah Managemen Ternak Unggas
yang telah memberikan kami kesempatan untuk melakukan praktikum di salah
satu usaha peternakan ayam petelur milik Pak Warnoto . Penulis juga mengucapkan
terimakasih kepada teman teman yang
telah membantu dalam menyukseskan
pelaksanaan praktikum Manageman Ternak Unggas , Penulis juga mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah mau membantu dan berperan dalam
mensukseskan praktikum guna menyelesaikan
laporan akhir ini .
Penulis juga meminta kritikan dan saran yang membangun
guna untuk memperbaiki dan membantu menyempurnakan laporan akhir ini, Semoga
laporan ini bisa bermanfaat untuk pembaca.
Bengkulu,
31 Mei 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Sub sektor
peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sektor
pertanian-peternakan yang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi.
Kesadaran akan pentingnya kebutuhan pangan yang benilai gizi tinggi merupakan
salah satu indikator dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang dapat
dipenuhi dari protein hewani seperti daging, telur dan susu. Semakin
meningkatnya jumlah penduduk, tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat akan
menyebabkan meningkatnya permintaan akan produk hewani, sehingga perlu adanya
peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan tersebut. Oleh karena itu, dalam
rangka pengadaan produk peternakan bagi kebutuhan masyarakat maka diperlukan
pembangunan dibidang peternakan yang lebih cepat menghasilkan produk. Salah
satu komoditas ternak yang cukup potensial dalam mencapai tujuan tersebut
adalah sector perunggasan
dalam hal ini adalah ayam pedaging dan petelur.
Saat ini
ayam masih merupakan komoditi peternakan yang cukup cepat diproduksi untuk
kebutuhan pasar dibandingkan dengan produk ternak lainnya. Ayam pedaging dan
petelur masih menjadi trend dalam pemenuhan kebutuhan protein nabati di
Indonesia ini walau saat ini pemerintah sedang gencar sosialisasi dan kampanye
program swasembada daging sapi. Padahal Ayam ras pedaging memiliki kontribusi
68,1 persen terhadap total produksi daging nasional yang besarnya 1.203 ribu
ton (Ditjennak, 2004). Fakta ini merefleksikan tingginya tingkat partisipasi
pengusahaan oleh peternak. Secara kuantitatif terdapat sekitar 75.000
peternak komersial skala kecil yang berperan dan menguasai sekitar 65% dari
produksi unggas nasional.
Pengembangan
sektor perunggasan tidak bisa di pandang sebelah mata karena terbukti mampu
memenuhi kebutuhan daging dengan presentase diatas. Sehingga saat ini banyak
sekali yang perlu dipelajari mengenai manajemen yang baik unutk mendapatkan
hasil produksi yang maksimal sehingga bisa turut andil dalam pemenuhan kebutuhan
daging nasional.
1.2 Tujuan Praktikum
Untuk
mengetahui bagaimana cara memanagemen unggas petelur .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ayam
ras adalah jenis ayam dari luar negeri yang bersifat unggul sesuai dengan tujuan
pemeliharaan karena telah mengalami perbaikan mutu genetis. Jenis ayam ini ada
dua tipe, yaitu tipe pedaging dan tipe petelur. Ayam tipe petelur memiliki
karakteristik bersifat nervous atau mudah terkejut, bentuk
tubuh ramping, cuping telinga berwarna putih. Karakteristik lainnya yaitu
produksi telur tinggi (200 butir/ekor/tahun) efisiensi dalam penggunaan ransum
untuk membentuk telur dan tidak memiliki sifat mengeram (Suprijatna.,2008).
Pemilihan
bibit dapat dilakukan dengan memilih calon indukan yang sejenis, yaitu bentuk
badan seragam, besar kecilnya seukuran dan umurnya tidak terpaut jauh.
Sebaiknya calon induk telah berumur paling tidak 7 bulan. Calon bibit tersebut
sebaiknya secara turun temurun memiliki sifat-sifat pembawaan yang baik dan sehat,
tidak terdapat bagian tubuh yang cacat, berasal dari kelompok atau kawanan ayam
yang terpilih, pertumbuhan badannya baik dan hasil telurnya banyak (Suharyanto,
2009).
Kandang
adalah suatu bangunan yang digunakan oleh unggas sebagai tempat tinggal sejak
awal pertumbuhan sampai masa produksi. Oleh karena itu kandang yang disediakan
harus bisa menjamin kenyamanan dan kesehatan bagi penghuninya, sehingga unggas
mampu berproduksi secara maksimal. Dalam pembuatan kandang harus memperhatukan
karaktaristik biologis unggas, sehingga kandang yang tersedia nantinya tidak
menimbulkan cekaman bagi unggas tapi bisa memberikan kenikmatan berproduksi.
Dengan demikian kandang unggas dikatakan baik adalah suatu bangunan yang
memenuhi karaktaristik biologis unggas, sehingga unggas mampu broroduksi sesuai
dengan potensi genetikanya (Malik, 2001)
Kandang
merupakan salah satu sarana yang terpenting untuk terselenggaranya peternakan
secara intensif, disamping sarana-sarana lain yang mendukung. Berdasarkan
tingkat umur ayam ad tiga macam kandang yang perlu diketahui yaitu kandang
pembibitan, kandang pembesaran ayam dan kandang ayam dewasa yang sudah
berproduksi yaitu kandang postal, kandang rend an kandang system batteray
(Priyatno, 2002).
Pada
peternakan modern kandang dibangun dengan system praktis dan tidak mengunakan
tempat terlalu luas tetapi dapat berdayaguna semaksial mungkin, kandang ddibuat
sesuai dengan selera masing-masing dengan memperhatikan tempat tinggal dan
lokasi yang tersedia (Malik, 2006).
Mengingat peranan
kandang sebagai sarana produksi usaha ternak ayam sangat penting, maka kandang
harus dipersiapkan dengan baik sehigga kendang tersebut benar-benar siap
huni (Ginting, 2006).
Kontruksi kandang yang baik harus bisa menciptakan keamanan dan
kenyamanan bagi ayam yang dipelihara (Sudaryanidan Santosa,
2004).
Konstruksi kandang yang menjamin kelangsungan hidup ayam yaitu
kandang yang
memenuhi aspek kesehatan dan mempunyai daya tahan yang kuat dan lama, sehingga
dapat dipakai untuk proses
produksi berikutnya
(Hartono, 1997).
Lebar
bangunan kandang untuk ayam petelur saat fase layer sebaiknya sekitar 8 m
apabila tipe kandang terbuka, jika lebar kandang 12 m maka perlu dilengkapi
dengan ridge ventilation. Jika ventilasi kurang baik, amoniak
dari ekskreta akan mejadi racun bagi ayam, menimbulkan gangguan pernafasan,
penurunan produksi, dan penyakit cacing untuk ayam yang dipelihara di kandang
litter. Pemberian cahaya sebaiknya 14 jam per hari, yaitu kombinasi antara
cahaya matahari dan cahaya lampu sebagai tambahan, tujuannya untuk meningkatkan
produksi telur, mempercepat dewasa kelamin, mengurangi sifat mengeram, dan
memperlambat molting (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Jenis litter
yang sering digunakan adalah sekam dan serbuk gergaji. Litter harus selalu
dijaga agar tetap kering dan bersih. Litter yang basah dapatmeningkatkan
kandungan amonia, menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit, dan
menyebabkan bulu kotor (Fadilah, 2004).
Pakan untuk
ayam petelur dibagi menjadi 5, (1) pakan pemula (starter feed) adalah pakan
yang diberikan pada ayam umur 0 hari – 6 minggu, (2)pakan grower diberikan pada
ayam umur 6 – 8 minggu, (3) pakan developer diberikan ayam pada umur 15 – 18
minggu, dan (5) pakan layer diberikan pada ayam betina yang sedang bertelur.
Jangan mengganti sebagian pakan layer dengan pakan yang lain karena hal ini
akan menurunkan kemampuan ayam dalam memproduksi telur menu pakan starter,
grower, developer, dan layer diformulasikan dan dirancang sebagai satu-satunya
pakan untuk makan ayam. Apabila pakan tambahan diberikan, ayam cenderung untuk
mengurangi mengkonsumsi pakan komplit sehingga ayam tidak menerima zat gizi
yang semestinya. Akibatnya ayam menjadi kekurangan gizi dan tingkat
pertumbuhanya atau produksi telurnya menurun.
Sistem
reproduksi ayam betina terdiri dari indung telur (ovarium) dan saluran yang
menghubungkan indung telur dan rahim (oviduk). Oviduk terdiri dari
infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina, dan kloaka (Bell dan Weaver,
2002).
Bell dan
Weaver (2002) menyatakan bahwa 11 hari sebelum ayam petelur mengeluarkan telur
pertamanya, perubahan struktur hormonal terjadi. Follicle Stimulating
Hormone (FSH) diproduksi oleh kelenjar otak bagian depan yang
menyebabkan ukuran folikel di ovarium membesar. Aktivitas ovarium mulai
membangkitkan hormon estrogen, progesteron, dan testosteron. Tingginya
kandungan estrogen pada plasma darah menginisiasi perkembangan medullary
bone untuk menstimulasi protein kuning telur dan pembentukan lemak
pada hati, meningkatkan ukuran oviduk, memungkinkan oviduk untuk memproduksi
protein putih telur, membran kerabang telur, kalsium karbonat untuk pembentukan
kerabang dan kutikula. Bahan pembuatan kuning telur diproduksi di hati dan
diangkut oleh sistem sirkulasi secara langsung untuk membentuk ovarium. Folikel
dikelilingi pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak,
stigma akan robek sehingga terjadi ovulasi.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
-
Buku
-
Alat tulis
-
Kamera
3.2 Cara Kerja
-
Mengamati ayam petelur
-
Mencatat pakan, jumalah populasi ,
jumlah pengeluaran , harga telur dan pemasaran
-
Mengambil gambar sebgai lampiran
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.2 Pembahasan
Jumlah
populasi ayam petelur dikandang pak warnoto sebanyak 1200 ekor dengan managemen
yang sesuai dengan uji kelayakan dari segi tempat yang jauh dari masyarakat,
air yang cukup dan tersedianya jalur transportasi yang mudah untuk pemasaran
telur. Jumlah telur per harinya untuk ayam sebanyak 1200 ekor yaitu 35 karper
dikalikan Rp. 35.000 dengan penghasilan per hari sekitar Rp. 1.050.000 . jika
dikurangkan dengan pengeluaran sebesar Rp. 850.000 jadi penghailan bersihnya
Rp. 200.000. Biasanya untuk pemasaran telur yang dihasilkan langsung kekonsumen
atau kewarung – warung setempat .
Adapun kontroling yang dilakukan yaitu
tempat air minumnya diganti menjadi ditengah dan pekerja diganti dari Eko
menjadi Wahyu .Lokasi kandang terletak di lahan kampus universitas Bengkulu
yang cukup straegis karena jauh dari pemukiman warga, mudah dijangkau
transportasi.
Usia maksimal ayam petelur yang dipelihara
adalah 1 tahun ,dengan skala peternakan skala rumah tangga dan berdasarkan
perhitungan jika dilihat hasil yang di peroleh perharinya sekitar Rp.200.000
menunjukkan bahwa penghasilan yang didapat tidak terlalu besar. Disamping itu
biaya yang harus dikeluarkan untuk pakan tergolong sangat besar hal inilah yang
memicu tertekannya penghasilan yang didapat. Namun jika ayam petelur yang
dipelihara dalam sekala yang besar bukan tidak mungkin akan mendapatkan
penghasilan yanag besar juga. Jika dilihat dari segi managemannya sudah sesuai
dengan standar .
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari
praktikum yang dilakukan dapat disimpukan bahwa, Produk utama daripeternakanayampetelur milik pak warnotoadalah ayam telur yang
berkualitas , yang mana di menagemen dengan baik oleh pekerja itu sendiri. Ayam
petelur yang dipelihara maksimal umur satu tahun dengan biaya produksi yang
cukup tinggi. Sekala peternakan Pak
Warnoto adalah skala rumah tangga.
5.2 Saran
Pelaksanaan
praktikum sebaiknya dilakukn lebih dari sehari agar informasi yang diperoleh
lebih banyak dan beragam sehingga dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan .Pengamatan seharusnya dilakukan dengan seksama agar
tidak ada satupun informasi yang terlewatkan .Peran aktif mahasiswa harus ditingkatkan lagi agar dapat
memahami dan mengaplikasikannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak
Unggas. Penerbit Universitas Indonesia (UO-Press). Jakarta.
Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Cetakan ke-1.
Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.
Boa-Amponsem, K., E. A. Dunnington
and P. B Siegal. 1991. Genotype, Feeding
Regimen and Diet Interaction in Meat Chicken. I. Growth, Organ Size and
Feed Utilization. Poultry Sci. 70 : 680-688.
Darminto.1995. Vaksinasi
Penyakit Tetelo Secara Kontak pada Ayam Buras: Perbandingan Analisis antara
Kondisi Laboraturium dan Lapangan.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner:
1(2):105-113.
LAMPIRAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar