Selasa, 28 Februari 2017

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN TERNAK UNGGAS




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmOtcSlUMHIBnUtHHSQmxh73cDSmCHqI_tqRsirAzCUWYnkxo_DkxYPt3HBDjXMcaSnTaCo4WPo16PLxiPB0-Ybb4c0kIuuWMe247SQ4emopeLXzb8Vu8YBslliA_qtOts4eWOfKttfZuE/s1600/Logo_Unib.png



Oleh :


Nama   :Tamrin Simbolon

NPM   : E1C014054

Co as   :  Eko Nurul Hadi

               Tri Haryono

Doson  : Johan Setianto

               Basyarudin Zain




Jurusan peternakan
Fakultas pertanian
Universitas Bengkulu
2016

Daftar Isi
















Kata Pengantar



            Puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan karunia dan hidayahNya sehingga kami masih  dapat menyelesaikan laporan Manajemen Ternak Unggas ini tanpa hambatan sedikitpun.ucapan terima kasih kepada Pak Johan dan Basyarudin sebagai dosen pengampu matakuliah Managemen Ternak Unggas  yang telah memberikan kami kesempatan untuk melakukan praktikum di salah satu usaha peternakan ayam petelur milik Pak Warnoto . Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman teman  yang telah membantu dalam menyukseskan  pelaksanaan praktikum Manageman Ternak Unggas , Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mau membantu dan berperan dalam mensukseskan praktikum guna  menyelesaikan laporan akhir ini .

Penulis juga meminta kritikan dan saran yang membangun guna untuk memperbaiki dan membantu menyempurnakan laporan akhir ini, Semoga laporan ini bisa bermanfaat untuk pembaca.


                                                                                                Bengkulu, 31 Mei 2016




                                                                                                            Penulis



















BAB I


PENDAHULUAN

 

1.1.Latar belakang


Sub sektor peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sektor pertanian-peternakan yang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. Kesadaran akan pentingnya kebutuhan pangan yang benilai gizi tinggi merupakan salah satu indikator dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang dapat dipenuhi dari protein hewani seperti daging, telur dan susu. Semakin meningkatnya jumlah penduduk, tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat akan menyebabkan meningkatnya permintaan akan produk hewani, sehingga perlu adanya peningkatan produksi untuk memenuhi permintaan tersebut. Oleh karena itu, dalam rangka pengadaan produk peternakan bagi kebutuhan masyarakat maka diperlukan pembangunan dibidang peternakan yang lebih cepat menghasilkan produk. Salah satu komoditas ternak yang cukup potensial dalam mencapai tujuan tersebut adalah sector  perunggasan dalam hal ini adalah ayam pedaging dan petelur.
Saat ini ayam masih merupakan komoditi peternakan yang cukup cepat diproduksi untuk kebutuhan pasar dibandingkan dengan produk ternak lainnya. Ayam pedaging dan petelur masih menjadi trend dalam pemenuhan kebutuhan protein  nabati di Indonesia ini walau saat ini pemerintah sedang gencar sosialisasi dan kampanye program swasembada daging sapi. Padahal Ayam ras pedaging memiliki kontribusi 68,1 persen terhadap total produksi daging nasional yang besarnya 1.203 ribu ton (Ditjennak, 2004). Fakta ini merefleksikan tingginya tingkat partisipasi pengusahaan oleh peternak. Secara kuantitatif  terdapat sekitar 75.000 peternak komersial skala kecil yang berperan dan menguasai sekitar 65% dari produksi unggas nasional.
Pengembangan sektor perunggasan tidak bisa di pandang sebelah mata karena terbukti mampu memenuhi kebutuhan daging dengan presentase diatas. Sehingga saat ini banyak sekali yang perlu dipelajari mengenai manajemen yang baik unutk mendapatkan hasil produksi yang maksimal sehingga bisa turut andil dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional.

 

1.2 Tujuan Praktikum


     Untuk mengetahui bagaimana cara memanagemen unggas petelur .

BAB II


TINJAUAN PUSTAKA


 Ayam ras adalah jenis ayam dari luar negeri yang bersifat unggul sesuai dengan tujuan pemeliharaan karena telah mengalami perbaikan mutu genetis. Jenis ayam ini ada dua tipe, yaitu tipe pedaging dan tipe petelur. Ayam tipe petelur memiliki karakteristik bersifat nervous atau mudah terkejut, bentuk tubuh ramping, cuping telinga berwarna putih. Karakteristik lainnya yaitu produksi telur tinggi (200 butir/ekor/tahun) efisiensi dalam penggunaan ransum untuk membentuk telur dan tidak memiliki sifat mengeram (Suprijatna.,2008).

Pemilihan bibit dapat dilakukan dengan memilih calon indukan yang sejenis, yaitu bentuk badan seragam, besar kecilnya seukuran dan umurnya tidak terpaut jauh. Sebaiknya calon induk telah berumur paling tidak 7 bulan. Calon bibit tersebut sebaiknya secara turun temurun memiliki sifat-sifat pembawaan yang baik dan sehat, tidak terdapat bagian tubuh yang cacat, berasal dari kelompok atau kawanan ayam yang terpilih, pertumbuhan badannya baik dan hasil telurnya banyak (Suharyanto, 2009).

Kandang adalah suatu bangunan yang digunakan oleh unggas sebagai tempat tinggal sejak awal pertumbuhan sampai masa produksi. Oleh karena itu kandang yang disediakan harus bisa menjamin kenyamanan dan kesehatan bagi penghuninya, sehingga unggas mampu berproduksi secara maksimal. Dalam pembuatan kandang harus memperhatukan karaktaristik biologis unggas, sehingga kandang yang tersedia nantinya tidak menimbulkan cekaman bagi unggas tapi bisa memberikan kenikmatan berproduksi. Dengan demikian kandang unggas dikatakan baik adalah suatu bangunan yang memenuhi karaktaristik biologis unggas, sehingga unggas mampu broroduksi sesuai dengan potensi genetikanya (Malik, 2001)

Kandang merupakan salah satu sarana yang terpenting untuk terselenggaranya peternakan secara intensif, disamping sarana-sarana lain yang mendukung. Berdasarkan tingkat umur ayam ad tiga macam kandang yang perlu diketahui yaitu kandang pembibitan, kandang pembesaran ayam dan kandang ayam dewasa yang sudah berproduksi yaitu kandang postal, kandang rend an kandang system batteray (Priyatno, 2002).

Pada peternakan modern kandang dibangun dengan system praktis dan tidak mengunakan tempat terlalu luas tetapi dapat berdayaguna semaksial mungkin, kandang ddibuat sesuai dengan selera masing-masing dengan memperhatikan tempat tinggal dan lokasi yang tersedia (Malik, 2006).

Mengingat peranan kandang sebagai sarana produksi usaha ternak ayam sangat penting, maka kandang harus dipersiapkan dengan baik  sehigga kendang tersebut benar-benar siap huni (Ginting, 2006).

Kontruksi kandanyang baik harus bisa menciptakan keamanan dan kenyamanabagayam yang dipelihara (Sudaryanidan Santosa, 2004).

Konstruksi kandang yang menjamin kelangsungan hidup ayam yaitu kandang yang memenuhi aspek kesehatan dan mempunyai daya tahan yang kuat dan lama, sehingga dapat dipakai untuk proses produksi berikutnya (Hartono, 1997).
Lebar bangunan kandang untuk ayam petelur saat fase layer sebaiknya sekitar 8 m apabila tipe kandang terbuka, jika lebar kandang 12 m maka perlu dilengkapi dengan ridge ventilation. Jika ventilasi kurang baik, amoniak dari ekskreta akan mejadi racun bagi ayam, menimbulkan gangguan pernafasan, penurunan produksi, dan penyakit cacing untuk ayam yang dipelihara di kandang litter. Pemberian cahaya sebaiknya 14 jam per hari, yaitu kombinasi antara cahaya matahari dan cahaya lampu sebagai tambahan, tujuannya untuk meningkatkan produksi telur, mempercepat dewasa kelamin, mengurangi sifat mengeram, dan memperlambat molting (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).

Jenis litter yang sering digunakan adalah sekam dan serbuk gergaji. Litter harus selalu dijaga agar tetap kering dan bersih. Litter yang basah dapatmeningkatkan kandungan amonia, menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit, dan menyebabkan bulu kotor (Fadilah, 2004).

Pakan untuk ayam petelur dibagi menjadi 5, (1) pakan pemula (starter feed) adalah pakan yang diberikan pada ayam umur 0 hari – 6 minggu, (2)pakan grower diberikan pada ayam umur 6 – 8 minggu, (3) pakan developer diberikan ayam pada umur 15 – 18 minggu, dan (5) pakan layer diberikan pada ayam betina yang sedang bertelur. Jangan mengganti sebagian pakan layer dengan pakan yang lain karena hal ini akan menurunkan kemampuan ayam dalam memproduksi telur menu pakan starter, grower, developer, dan layer diformulasikan dan dirancang sebagai satu-satunya pakan untuk makan ayam. Apabila pakan tambahan diberikan, ayam cenderung untuk mengurangi mengkonsumsi pakan komplit sehingga ayam tidak menerima zat gizi yang semestinya. Akibatnya ayam menjadi kekurangan gizi dan tingkat pertumbuhanya atau produksi telurnya menurun.

Sistem reproduksi ayam betina terdiri dari indung telur (ovarium) dan saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim (oviduk). Oviduk terdiri dari infundibulum, magnum, isthmus, uterus, vagina, dan kloaka (Bell dan Weaver, 2002).

Bell dan Weaver (2002) menyatakan bahwa 11 hari sebelum ayam petelur mengeluarkan telur pertamanya, perubahan struktur hormonal terjadi. Follicle Stimulating Hormone (FSH) diproduksi oleh kelenjar otak bagian depan yang menyebabkan ukuran folikel di ovarium membesar. Aktivitas ovarium mulai membangkitkan hormon estrogen, progesteron, dan testosteron. Tingginya kandungan estrogen pada plasma darah menginisiasi perkembangan medullary bone untuk menstimulasi protein kuning telur dan pembentukan lemak pada hati, meningkatkan ukuran oviduk, memungkinkan oviduk untuk memproduksi protein putih telur, membran kerabang telur, kalsium karbonat untuk pembentukan kerabang dan kutikula. Bahan pembuatan kuning telur diproduksi di hati dan diangkut oleh sistem sirkulasi secara langsung untuk membentuk ovarium. Folikel dikelilingi pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek sehingga terjadi ovulasi.


















BAB III


METODOLOGI


3.1  Alat dan Bahan

           
-          Buku
-          Alat tulis
-           Kamera


3.2  Cara Kerja


-          Mengamati ayam petelur
-          Mencatat pakan, jumalah populasi , jumlah pengeluaran , harga telur dan pemasaran
-          Mengambil gambar sebgai lampiran




























BAB IV


HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil



 

4.2 Pembahasan










































BAB V

 

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpukan bahwa, Produk utama daripeternakanayampetelur milik pak warnotoadalah ayam telur yang berkualitas , yang mana di menagemen dengan baik oleh pekerja itu sendiri. Ayam petelur yang dipelihara maksimal umur satu tahun dengan biaya produksi yang cukup tinggi.  Sekala peternakan Pak Warnoto adalah skala rumah tangga.

5.2 Saran

Pelaksanaan praktikum sebaiknya dilakukn lebih dari sehari agar informasi yang diperoleh lebih banyak dan beragam sehingga dapat dimanfaatkan  dan diaplikasikan .Pengamatan  seharusnya dilakukan dengan seksama agar tidak ada satupun informasi yang terlewatkan .Peran aktif  mahasiswa harus ditingkatkan lagi agar dapat memahami dan mengaplikasikannya.

DAFTAR PUSTAKA



                  Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas. Penerbit Universitas Indonesia (UO-Press). Jakarta.

Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Broiler. Cetakan ke-1. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.

Boa-Amponsem, K., E. A. Dunnington and P. B Siegal. 1991. Genotype, Feeding Regimen and Diet Interaction in Meat Chicken. I. Growth, Organ Size and Feed Utilization. Poultry Sci. 70 : 680-688.

Darminto.1995. Vaksinasi Penyakit Tetelo Secara Kontak pada Ayam Buras: Perbandingan Analisis antara Kondisi Laboraturium dan Lapangan.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner: 1(2):105-113.


















LAMPIRAN

 

 

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar