Minggu, 19 Februari 2017

LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI TERNAK DASAR (NTD)

LAPORAN PRAKTIKUM
NUTRISI TERNAK DASAR

Hasil gambar untuk unib 

NAMA                                               : TAMRIN SIMBOLON
NIM                                                    : E1C014054
NAMA DOSEN PENGASUH         : Dr. Ir. YOSI FENITA. MP
                                                              PROF. Dr. Ir. URIP SANTOSO. MSc



JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015



ABSTRAK
Dalam pelaksanaan praktikum yang sudah dilakukan kami berharap dapat menambah pengetahuan dan dapat mengambil inti dalam praktikun Nutrisi Ternak Dasar . Praktikum ini dilakukan agar mahasiswa mampu menganalisis bahan-bahan yang sudah disediakan. Dalam pelaksanaan praktikum banyak melakukan keteledoran dalam pelaksanaan kegiatan dikarenakan belum mengerti dari fungsi-fungsi alat praktikum yang akan dijalankan. Penentuan hasil dalam setiap penimbangan sangat sulit, karena sedikit saja kita melakukan kesalahan maka hasilnya pun berbeda, tetapi dalam praktikum yang kami lakukan dapat berjalan dengan lancar. Dalam penimbangan sampai keadaan konstan (stabil) mencapai waktu yang cukup lama, sebagai contohnya serat adalah zat non gizi, ada dua jenis serat yaitu serat makanan (dietry fiber) dan serat kasar (crude fiber). Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air, selulosa dan pektin. Dengan adanya serat, membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui saluran pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan serat, feses dengan kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran usus dan mengalami kesukaran melalui usus untuk dapat diekskresikan keluar karena gerakan-gerakan peristaltik usus besar menjadi lebih lamban. Kegiatan praktikum ini mencangkup analisis proksimat, penetapak kadar air, penetapan kada abu, penempatan kadar ekstrak eter ( lemak kasar ), penempatan kadar serat kasar, dan penetapan kadar protein kasar.

Analisis proksimat adalah suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan (pakan/pangan). Istilah proksimat mempunyai pengertian bahwa hasil analisis dari metode ini menunjukan nilai mendekati. hal ini disebabkan dalam satu fraksi hasil analisis masih terdapat zat lain yang berbeda sifatnya dalam jumlah yang sangat sedikit. Kadar air dalam suatu bahan makanan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari bahan pangan tersebut. Apabila kadar air bahan pangan tersebut tidak memenuhi syarat maka bahan pangan tersebut akan mengalami perubahan fisik dan kimiawi yang ditandai dengan tumbuhnya mikroorganisme pada makanan sehingga bahan pangan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi. Penentuan kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat. Penentuan kadar air dalam makanan dapat
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
Kelangsungan hidup ternak bergantung pada pakan. Pakan yang dikonsumsi oleh ternak harus mengandung gizi yang tinggi. Pakan yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan, produksi hidup pokok dan reproduksinya. Pakan yang diberikan harus sesuai dengan karakteristik, sistem dan fungsi saluran ternak. Pakan merupakan seluruh bahan makanan yang dibuat untuk kebutuhan ternak yang mengandung berbagai macam nutrisi meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air.  Analisis proksimat adalah suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan (pakan/pangan). Istilah proksimat mempunyai pengertian bahwa hasil analisis dari metode ini menunjukan nilai mendekati.
Penentuan kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat. Penentuan kadar air dalam makanan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode pengeringan (dengan oven biasa), metode destilasi, metode kimia, metode khusus. Metode pengeringan (dengan oven biasa) dilakukan untuk menentukan kadar air dari bahan pangan yang mengandung banyak air dan umumnya stabil terhadap pemanasan tinggi. Produk yang digunakan dapat pula digunakan untuk produk seperti pada metode oven vakum kecuali yang banyak mengandung sukrosa atau glukosa.
            Kadar abu merupakan bagian berat dari bahan yang didasarkan atas berat keringnya. Abu adalah zat organik yang tidak menguap, sisa dari proses pembakaran atau hasil oksidasi. Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan pangan terdiri dari 2 jenis garam, yaitu garam organik misalnya asetat, pektat, mallat, dan garam organik misalnya karbonat, posfat, sulfat dan nitrat. Proses untuk menentukan jumlah mineral sisa pembakaran disebut pengabuan. Kandungan dan komposisi abu atau mineral pada bahan tergantung dari jenis bahan dan pengabuannya.

Serat kasar sangat penting dalam penilaian kualitas bahan makanan karena angka ini merupakan indeks dan menentukan nilai gizi makanan tersebut. Selain itu, kandungan serat kasar dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses pengolahan, misalnya proses penggilingan atau proses pemisahan antara kulit dan kotiledon, dengan demikian persentase serat dapat dipakai untuk menentukan kemurniaan bahan atau efisiensi suatu proses. Sedangkan serat makanan adalah bagian dari bahan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan. Serat makanan adalah serat yang tetap ada dalam kolon atau usus besar setelah proses pencernaan, baik yang berbentuk serat yang larut dalam air maupun yang tidak larut dalam air. Mutu serat dapat dilihat dari komposisi komponen serat makanan, dimana komponen serat makanan terdiri dari komponen yang larut (Solube Dietary Fiber, SDF), dan komponen yang tidak larut (Insoluble Dietary Fiber, IDF). Serat yang tidak larut dalam air ada 3 macam, yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin.
            Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air, selulosa dan pektin. Dengan adanya serat, membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui saluran pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan serat, feses dengan kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran usus dan mengalami kesukaran melalui usus untuk dapat diekskresikan keluar karena gerakan-gerakan peristaltik usus besar menjadi lebih lamban.Serat kasar merupakan sisa-sisa sel tumbuhan yang  tahan terhadap  reaksi hidrolisis  enzim-enzim saluran pencernaan. Komponen utama penyusun serat kasar adalah berupa karbohidrat. Karena kandungan nutrisi serat kasar tergolong rendah, oleh sebab itu biasanya digunakan sebagai campuran pakan dalam jumlah yang sedikit, sekitar 7% saja. Bahan yang mengandung serat kasar cukup tinggi antara lain : tepung alfafa,  kulit kedelai, biji padi kering dan gandum. Sedangkan yang tergolong serat kasar rendah antara lain : beras giling, tepung tulang, jagung dan tepung ikan. Jumlah serat kasar pada pakan biasanya didasarkan atas feed intake (jumlah pakan yang dikonsumsi). Sedangkan feed intake sendiri akan dipengaruhi oleh palatabilitas (rasa enak) pakan yang dikonsumsi.

            Ekstrak eter(lemak kasar) adalah zat yang mengandung senyawa yang larut dalam eter, termasuk lipida dan zat yang tidak mengandung asam lemak. Ekstrak eter dalam bahan makanan ternak yang berasal dari hewan biasanya terdiri dari gliserol dan tiga asam lemak, yang biasa disebut lemak. Namun, bahan makanan ternak yang berasal dari tanaman, sterol, lilin, dan berbagai produk seperti vitamin A, vitamin D, karotin, seringkali menyusun sampai lebih dari 50% lemak makanan.

             

              Konsentrat merupakan makanan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung, bekatul dan bungkil-bungkilan. Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Untuk pembuatan konsentrat harus diperhatikan bahan pakan yang digunakan sebagai penyusun ransum, baik dalam cara penyediaan maupun kandungan gizinya. Pemberian konsentrat pada setiap ternak itu berbeda-beda sesuai dengan kemampuan pencernaan hewan ternak.

1.2  TUJUAN DAN MANFAAT  PRAKTIKUM
Ø  Melakukan penghitungan menggunakan analisis proksimat
Ø  Menentukan kadar penetapan kadar air
Ø  Menentukan kadar penetapan kadar abu,
Ø  Menentukan kadar penetapan kadar ekstrak eter ( lemak kasar ),
Ø  Menentukan kadar penetapan kadar serat kasar, 
Ø  Menentukan kadar penetapan kadar protein kasar.










METODOLOGI

1.      Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum Nutrisi Ternak Dasar ini dilaksanakan pada tanggal 1722 Desember 2012, bertempat di laboratorium jurusan peternakan Universitas Bengkulu.

2.      Alat dan Bahan

2.1  Alat
Ø  Penetapan kadar air
·         Cawan
·         Oven
·         Timbangan analitik listrik
·         Desikator
·         Tang penjepit
·         Spatula

Ø  Penetapan kadar abu
·         Silica disk
·         Tanur
·         Timbangan analitik listrik
·         Desikator
·         Tang penjepit
·         Spatula

Ø  Penetapan kadar ekstrak eter (lemak kasar)
·         Soklet sistem HT 2 ekxtraction Unit Tecator dan selongsongnya
·         labu penampung
·         Alat pendingin
·         Penangas/ waterbarth
·         Timbangan analitik
·         Spatula
·         Gelas arloji
·         Kertas saring bebas lemak
·         Oven


Ø  penetapan kadar serat kasar
·         Beaker glass 600 ml
·         Saringan dari linnen
·         Serat gelas(glass wool)
·         Alat penyaring buchner atau gooch crucible
·         Desikator
·         Tanur
·         Pompa vacum
·         Tang penjepit
·         Timbangan analitik listrik
·         Gelas ukur 100 ml
·         Corong gelas diameter 10 cm

2.2  Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
·         Tepung jagung kuning
·         H2SO4 1,25 %
·         NaOH 1,25%
·         Aquadest
·         Aceton
·         Etyl alkohol 95%




3.      Cara kerja

a.      Penetapan kadar air
1.      Mengeringkan cawan yang sudah bersih didalam oven pengering pada suhu 105 0C selama 1 jam dengan tutup lepas
2.      Kemudian mendinginkan didalam desikator dengan tutup dilepas selama 1  jam
3.      Sesudah dingin, menimbang dalam keadaan tertutup(x gram)
4.      Ditimbang contoh bahan (sampel) sebanyak 2 gram dalam cawan (y gram) dan mengeringkannya di dalam oven pengeringpada suhu 1050C selama 8 jam dengan tutup dilepas
5.      Kemudian mendinginkan ke dalam desikator selama 1 jam dengan tutup dilepas . setelah dingin , ditutup kembali dan ditimbang, penimbangan diulangi sampai 3 kali setiap jam sampai beratnya tetap(Z gram)


b.      Penetapan kadar abu
1.      Mengeringkan silica disc di dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam
2.      Kemudian mendinginkannya didalam desikator selama 1 jam. Selanjutnya menimbangnya (X gram)
3.      Menimbang contoh bahan kedalam silica disc (sampel) sebanyak 1,5 – 2 gram (Y gram) dan memasukkannya ke dalam tanur. Menaikkan temperatur sampai mencapai 6000C selama lebih dari 12 jam (memijarkan sampai contoh bahan berwarna putih)
4.      Kemudian mendinginkan diluar tanur pada tempat yang telah disediakan, sehingga suhunya turun menjadi  1200C, lalu memasukkannya dalam desikator selama 1 jam.
5.      Sesudah dingin, kemudian menimbang (z gram), abunya disimpan untuk penetapan kadar silica.






c.       Penetapan kadar ekstrak eter (lemak kasar)

1.      Menimbang kertas saring bebas lemak (a gram). Kemudian menambahkan sampel yang akan dianalisa kira-kira 1,5-2 gram(b gram) dan kemudian membungkus dengan baik sehingga tidak ada ceceran sampel(seperti membungkus obat puyer)
2.      Mengoven bungkusan sampel dengan temperatur 105 0C, selama 6 jam
3.      Setelah dioven, kemudian menimbangnya (dalam keadaan panas) dengan cepat(c gram), kemudian memasukkannya dalam soklet
4.      Labu penampung, memasang alat ekstraksi dan alat pendingin dan meletakkanya diatas penangas air. Kemudian memasukkan perroleum benzen(pelarut lemak) melalui lubang pendingin sampai petroleum benzen seluruhnya turn dan masuk kedalam labu penampung. Kemudian diisi lagi sampai setengah bagian dari alat ekstraksi.
5.      Mengaliri air pada labu pendingin, baru kemudian diikuti dengan pemanasan labu penampung (penangas/ waterbath)
6.      Doekstraksi selama 16 jam (sampai  petroleum benzen yang ada di dalam alat ekstraksi menjadi jernih / tidak berwarna
7.      Setelah diekstraksi dihentikan, mengeluarkan sampel dan meletakkan diatas gelas arloji, kemudian  menganginkan sampai kering.
8.      Mengoven bungkusan sampel dengan temperatur 1050C selama 6 jam
9.      Setelah dioven selanjutnya menimbang (dalam keadaan panas)dengan cepat(d gram).












d.      Penetapan kadar serat kasar
1.      Memasukkan sampel dari penentapan kadar lemak ke dalam beaker glass 600 ml ditambah 200 ml H2SO4 1,25% dan dipasang pada pemanas dan pendingin dialirkan, kemudian dididihkan selama 30 menit.
2.      Kemudian menyaring dengan menggunakan saringan linnen atau serat glass dengan menggunakan alat penyaring bucher atau Gooch crucible, dengan bantuan pompa vacum.Memasukkan hasil saringan ke dalam beaker glass dengan mencuci saringan linnen.
3.      Mencuci beaker glass, hasil saringan beserta serat kasar (kalau digunakan) memasukkan kedalam beaker glass dan ditambah dengan NaOH 1,25% dan mendidihkannya selama 30 menit
4.      Kemudian menyaring termasuk serat gelas dalam gooch crucible yang sudah dilapisi glasswool. Selanjutnya mencuci dengan beberapa ml air panas dan kemudian dengan 15 ml etyl alkohol 95%
5.      Menganginkan hasil saringan termasuk serat glass dalam gooch crucible sampai kering kemudian memasukkannya kedalam alat pengering dengan suhu 1050C selama satu malam,
6.      Setelah itu mengabukan didalam tanur dengan suhu 6000C selama 2 jam atau sampel berwarna putih (bebas karbon)
7.      Mengeluarkan dan membiarkan beberapa menit sampai suhunya turun menjadi 1200C, kemudian memasukkannya ke dalam desikator selama 1 jam, setelah dingin kemudian dmenimbang (Z gram).








HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL
Sampel yang digunakan pada praktikum Nutrisi Ternak Dasaar adalah dedak padi untuk pengujian analisis proksimat, kadar air, kadar abu, kadar ekstrak eter (lemak kasar), serat kasar.
            Analisis bahan makanan terutama bertujuan untuk dapat memperkirakan respon produktivitas dari ternak apabila diberi ransum dengan komposisi bahan makanan tertentu. Beberapa bahan makanan mempunyai komposisi yang bervariasi dengan berbagai sebab, dan tidak seorang pun yang dapat membantah bahwa hasil analisis aktual dari suatu bahan makanan yang akan digunakan dalam suatu ransum akan lebih akurat bila menggunakan data yang disusun dalam sebuah tabel. Kadar air bahan makanan bila diberikan kepada ternak sangat bervariasi. Oleh karena itu kadar dari suatu zat dalam bahan makanan akan jauh lebih baik bila dihitung bedasarkan Bahan Kering (BK) (Aminuddin Parakkasi, 1986).

Tabel 1.1 PENETAPAN KADAR AIR   ( Kelompok 3 )
Nama sampel



Pengamatan/ulangan ke
I
II
III
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
16,39
16,38
16,39
16,38
16,39
16,38
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
18,37
18,37
18,37
18,37
18,37
18,37
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
18,1403
18,1413
18,1366
18,1392
18,1342
18,1314
Kadar air (%)
11,6010
11,4924
11,7878
11,5979
11,9090
11,9899



Pengamatan/ulangan Perhitungan data kelompok 3
Pengulangan 1
I (18) =   (Y-Z)                   X  100 %                          II (23) = (18,37 – 18,1413)    100%
               (Y-X)                                                              (18,37 - 16,38)
          =  - (18,37 – 18,1403)    x 100 %
                  (18,37 – 16,39)                                         = 0,2287_  x 100 %
          =      0,2297  x 100 %                                            1,99
                    1,98
          =     11,6010 %                                                  = 11,4924 % 

Pengulangan 2
I (18) = ( 18,37 – 18,1366)  x 100 %              II (23) = (18,37 – 18,1314) x 100 %
             (18,37 - 16,39 )                                                  (18,37 – 16,38)
        =  0,2334 x 100 %                                               = 0,2308 x 100 %
              1,98                                                                     1,99
        =  11,7878 %                                                       = 11,5979 %

Pengulangan 3

I (18) = (18,37 – 18,1342) x 100 %                II (23) = (18,37 – 18,1314)  x 100 %
            (18,37 – 16,39)                                                   (18,37 – 16,38)
        = 0,2358 x 100 %                                                = 0,2386 x 100 %
             1,98                                                                    1,99
        = 11,9090 %                                                        = 11,9899 %





















Tabel 1.2. Kelompok 1
Nama sampel
10
21
10
21
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
17, 7900
18,5400
17,7900
18,5400
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
19,8000
20,5300
19,8000
20,5300
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
19,6253
20,3600
19,6261
20,3572
Kadar air (%)
8,7014
8,5427
8,6517
8,6834


Tabel  1.3. Kelompok 2
Nama sampel
31
35
31
35
31
35
Pengamatan/ulangan ke
I
II
III
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
21,0600
21,7200
21,0600
21,7200
21,0600
21,7200
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
23,0500
23,7200
23,0500
23,7200
23,0500
23,7200
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
22,8131
23,4755
22,8146
23,4738
22,8009
23,4657
Kadar air (%)
11,9045 %
12,2250 %
11,8291 %
12,3100%
12,1155%
12,7150 %


Tabel 1.4. Kelompok 4
Nama sampel
4
47
4
47
4
47
Pengamatan/ulangan ke
I
II
III
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
17,21
19,79
17,21
19,79
17,21
19,79
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
19,21
21,78
19,21
21,78
19,21
21,78
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
18,9774
21,5506
18,9760
21,5515
18,9713
21,5470
Kadar air (%)
11,63 %
11,52764 %
11,7 %
11,4824 %
11,935 %
11,7085%


Tabel 1.5. Kelompok 5
Nama sampel
Pur (3)


Pengamatan/ulangan ke
20      I     15
20            II         15
20           III             15
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
21,1400
17,6900
21,1400
17,6900
21,1400
17,6900
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
23,1300
9,6900
23,1300
19,6900
23,1300
19,6900
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
22,9093
19,4762
22,9072
19,4739
22,9027
18,3110
Kadar air (%)
11,09
10,69
11,196
10,805
11,422
68,95


Tabel 1.6. Kelompok 6
Nama sampel


Pengamatan/ulangan ke
I
II
III
I
II
III
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
21,3700
21,3700
21,3700
16,5900
16,5900
16,5900
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
23,3700
23,3700
23,3700
18,5900
18,5900
18,5900
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
23,1030
23,0980
23,0870
18,371
23,4738
18,3110
Kadar air (%)
13,35 %
13,6 %
14,15%
13,145%
935,31%
13,95%





Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel Ia=16,39, Ib = 16,38  dan sampel IIa = 16,39 , IIb = 16,38, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada pengulangan Ia = 18,1403 ,Ib= 18,1413 pengulangan IIa =18,1366, IIb= 18,1392 , dan pengulangan IIIa = 18,1342 ,IIIb = 18,1314. Data diatas didapat data pengulangan bahwa data Ia (18) = 11,6010%, Ib (23)= 11,4924%,IIa (18) =11,7878 %, IIb= 11,5979 % sedangakan sampel IIIa (18) = 11,9090 % dan IIIb = 11,9899 % .  menambahkan bahwa kadar bahan kering dalam pakan dihitung sebagai selisih antara 100% dengan persen air yang dipengaruhi oleh umur tanaman. (Soelistyono 1976).
Metode ini dilakukan dengan cara pengeringan bahan pangan dalam oven. Berat sampel yang dihitung setelah dikeluarkan dari oven harus didapatkan berat konstan, yaitu berat bahan yang tidak akan berkurang atau tetap setelah dimasukkan dalam oven. Berat sampel setelah konstan dapat diartikan bahwa air yang terdapat dalam sampel telah menguap dan yang tersisa hanya padatan dan air yang benar-benar terikat kuat dalam sampel. Setelah itu dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui persen kadar air dalam bahan (Crampton 1959).

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen. Kadar air juga merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air menyebabkan mudahnya bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pangan (Haryanto 1992). Kadar air adalah perbedaan antara berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini disebut dengan kadar air seimbang.



Tabel PENETAPAN KADAR ABU
 Tabel 2.1 Kelompok 3
Nama sampel (KODE)
16
2
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
19,12 gr
20,71 gr
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
21,11 gr
22,70 gr
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
19,2837 gr
20,9054 gr
Kadar abu (%)
8,4070 %
9,8190 %





Tabel 2.2 Kelompok 1
Nama sampel (KODE)
34
39
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
18,9900 gr
20,9900 gr
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
20,99  gr
22,9900 gr
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
19,2848 gr
21,2957 gr
Kadar abu (%)
14,74 %
15,285%




Tabel 2.3Kelompok 2

Nama sampel (KODE)
4
4
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
21,6100 gr
18,4200 gr
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
23,6100 gr
20,4200gr
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
21,6499 gr
18,4590 gr
Kadar abu (%)
1,9950 %
1,9500 %


Tabel 2.4 Kelompok 4
Nama sampel (KODE)
42
33
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
20,66 gr
19,47
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
22,66 gr
21,47 gr
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
20,7304 gr
19,5305 gr
Kadar abu (%)
3,52 %
3,025 %


Tabel 2.5 Kelompok 5
Nama sampel (KODE)
37
36
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
22,2500 gr
16,6000 gr
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
24,2500 gr
18,6000 gr
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
22,3675 gr
16,7157 gr
Kadar abu (%)
5,875 %
5,785 %





Tabel 2.6 Kelompok 6
Nama sampel (KODE)
8
13
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat cawan timbang kosong kering (Xg)
18,3700 gr
15,1000 gr
Berat cawan timbang  + sampel (Yg)
20,3700 gr
17,1000 gr
Berat cawan timbang  + sampel kering (Zg)
18,4919 gr
15,2223 gr
Kadar abu (%)
0,11195 %
6,115%






Pengamatan/ulangan Perhitungan data kelompok 3

Kadar Abu = (Z-X)   x100 %
                       (Y-Z)
                 (16)  =  (19,2873 – 19,12) x 100 %                        (2) = (20,9054 – 20,71) x 100 %
                              (21,11 – 19,12)                                                   (22,70 – 20,71)
                                                                                                      = 0,1954 x 100 %
                          = 0,1673 x 100 %                                                      1,99
                                 1,99                                                              = 9,8190 %
                          = 8,4070 %




Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel I =  19,12 gr dan sampel II =  20,71 gr dengan berat sampel pada pengulangan I =  21,11 gr dan sampel II = 22,70 gr, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada pengulangan I = 19,2837 gr dan pengulangan II = 20,9054 gr. Data diatas didapat data pengulangan bahwa data I (16) =8,4070 %, sedangakan sampel II (28) = 9,8190 %.  Menurut Tillman et al. (1998) bahwa komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai gizi yang penting melainkan hanya menentukan perhitungan BETN. Jika dilihat kadar abu yang tinggi kemungkinan bahan dasar Tepung Jagung kuning tersebut banyak mengandung mineral.
Kadar abu merupakan campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan pangan. Bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur juga dikenal sebagai zat rganic atau kadar abu. Kadar abu tersebut dapat menunjukan total mineral dalam suatu bahan pangan. Bahan-bahan rganic dalam proses pembakaran akan terbakar tetapi komponen anorganiknya tidak, karena itulah disebut sebagai kadar abu. Penentuan kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, rgani lain untuk menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan, mengetahui jenis bahan yang digunakan, dan sebagai penentu parameter nilai gizi suatu bahan makanan (Astuti, 2011).
Kadar abu yang yang terukur merupakan bahan-bahan anorganik yang tidak terbakar dalam proses pengabuan, sedangkan bahan-bahan organik terbakar. Kadar abu dalam suatu bahan pangan sangat mempengaruhi sifat dari bahan pangan tersebut. Kandungan abu dan komposisinya bergantung pada macam bahan dan cara pengabuan yang digunakan. Kandungan abu dari suatu bahan menunjukkan kadar mineral dalam bahan tersebut.(Wiranto, 2010)

Pada saat praktikum dilakukan pengukuran suhu mencapai 550, Hal ini sesuai dengan pendapat Sudarmaji (1996), bahwa prinsip dari pengabuan cara langsung yaitu dengan mengoksidasi semua zat rganic pada suhu tinggi, yaitu sekitar 500 – 600 oC dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut.







PENETAPAN KADAR EKSTRAK ETER (LEMAK KASAR)
Tabel 3.1Kelompok 3
Nama sampel (KODE)
3.1
3.2
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat kertas saring (a gram)
0,6941 gr
0,6850 gr
Berat kertas saring + sampel oven ( b gram)
2,6902gr
2,6802  gr
Berat kertas saring + sampel oven ( c gram)
2,3694 gr
2,3598 gr
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi ( d gram)
2,3650 gr
2,3546 gr
Kadar lemak (EE) (%)
0,2640%
0,2606%









Tabel 3.2 Kelompok 1
Nama sampel (KODE)
11
12
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat kertas saring (a gram)
0,677 gr
0,686 gr
Berat kertas saring + sampel oven ( b gram)
2,0905 gr
2,6650 gr
Berat kertas saring + sampel oven ( c gram)
2,3601 gr
2,3346 gr
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi ( d gram)
2,3568gr
2,3270 gr
Kadar lemak (EE) (%)
0,1489 %
0,3840 %

Tabel 3.3Kelompok 2
Nama sampel (KODE)
4
4
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat  kertas saring ( a gram)
0.6965gr
0.6956 gr
Berat kertas saring +  sampel ( b gram )
2.6660 gr
2.6963 gr
Berat kertas saring + sampel oven (z gram)
2. 3274gr
2.3518gr
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi  (d gram)
2,2787 gr
2,3039
Kadar serat kasar (EE)%
2,4727 %
2,3941 %

Tabel 3.4 Kelompok 4
Nama sampel (KODE)
41
42
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat kertas saring ( a gram)
0,6941 gr
0,6850 gr
Berat kertas saring + sampel (b gram)  
2,6903 gr
2,6903 gr
Berat kertas saring + sampel oven (c gram)
2,3560 gr
2,4005 gr
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi (d gram)
2,2972 gr
2,3470 gr
Kadar lemak (EE)%
2,9455 %
2,6679 %

Tabel 3.5 Kelompok 5
Nama sampel (KODE)
51
52
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat sampel ( x gram)
2,7000 gr
2,7100 gr
Berat penyaringan + residu kering (Yg)  
2,4040 gr
2,4136 gr
Berat penyaringan + abu (z gram)
2,3040 gr
2,3186 gr
Kadar serat kasar (EE)%
5,025%
4,7562 %
Berat kertas saring (a)
0,7100 gr
0,7000 gr




Tabel 3.6 Kelompok 6
Nama sampel (KODE)
61
62
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat kertas saring (a gram)
0,7500 gr
0,6900
Berat kertas saring + sampel (b gram)  
2,7500 gr
2,6900 gr
Berat kertas saring + sampel oven (c gram)
2,3222 gr
3,3123 gr
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi (D gram)
2,1756 gr
2,1868 gr
Kadar lemak (EE) %
7,33 %
6,275 %
Pengamatan/ulangan Perhitungan data kelompok 3
Kadar Lemak Kasar (EE) = (c-d) x 100%
                                             (b-a)
(EE) (3.1) = (2,3694 – 2,3650 )  x 100 %                  (EE) (3.2) = (2,3598 – 2,3546)  x 100%
                     (2,6902 -0,6941)                                                        (2,6802 – 0,6850)
                                                                                                    = 0,0052 x 100 %
                 = 0,0044 x 100 %                                                           1,9952
                     1,9961                                                                    = 0,2606 %   
     = 0,2640 %







Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel I =  0,5835 dan sampel II =  0,5683 dengan berat sampel pada pengulangan I =  2,0128 (b gam) dan sampel II = 2,0057 (b gram ). Setelah dimasukan ke dalam oven maka kertas saring + sampel oven (c gram ) pada sampel I adalah 2,3694 gr, sampel II adalah 2,3598 gr. Dan setelah itu ditambah dengan ampel oven ekstraksi (c gram) pada sampel I adalah 2,3650 gr dan sampel II adalah 2,3546 gr. Didapat kadar lemak (EE) pada sampel I : 0,2640 % sedangakan pada sampel II adalah 0,2606 %.

PENETAPAN KADAR SERAT KASAR
Tabel 4.1 Kelompok 3
Nama sampel (KODE)
(7)
(26)
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat kertas sampel (Xg)
2,0163 gr
2,0081 gr
Berat penyaring + residu kering (Y g)
28,1464 gr
29,8357 gr
Berat penyaring + abu (Z g)
27,8434 gr
29,5022 gr
Kadar lemak (SK) (%)
15,0275 %
16,6077 %









Tabel 4.2 Kelompok 1
Nama sampel (KODE)
(16)
(9)
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat kertas sampel (Xg)
1,9963 gr
2,002 gr
Berat penyaring + residu kering (Y g)
29,2497 gr
27,9776 gr
Berat penyaring + abu (Z g)
28,7084 gr
27,4432  gr
Kadar lemak (SK) (%)
27,1151  %
26,6933 %




Tabel 4.3Kelompok 2
Nama sampel (KODE)
4
4
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat sampel ( x gram)
1,9965 gr
1,9945 gr
Berat penyaringan + residu kering (x gram)  
26,5091 gr
26,7328 gr
Berat penyaringan + abu (z gram)
26,4367 gr
26,7328 gr
Kadar serat kasar (SK)%
3,6263 %
3,8856%



Tabel 4.4Kelompok 4
Nama sampel (KODE)
13
25
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat sampel ( x gram)
1,9896 gr
1,9971 gr
Berat penyaringan + residu kering (Yg)  
28,8117 gr
28,0276 gr
Berat penyaringan + abu (z gram)
28,0625 gr
27,4328 gr
Kadar serat kasar (SK)%
37,656%
29,783%




Tabel 4.5 Kelompok 5
Nama sampel (KODE)
8
21
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat sampel ( x gram)
1,9895 gr
2,004 gr
Berat penyaringan + residu kering (Yg)  
27,2962 gr
26,3231 gr
Berat penyaringan + abu (z gram)
27,2368 gr
26,2611 gr
Kadar serat kasar (SK)%
2,986 %
3,094 %


Tabel 4.6 Kelompok 6
Nama sampel (KODE)
24
15
Pengamatan/ulangan ke
I
II
Berat sampel ( x gram)
1,9986 gr
1,9992 gr
Berat penyaringan + residu kering (Yg)  
26,6594 gr
27,4393 gr
Berat penyaringan + abu (z gram)
26,4726 gr
27, 1506 gr
Kadar serat kasar (SK)%
0,0009%
14,4408 %

Pengamatan/ulangan  Perhitungan data kelompok 3
Kadar Serat Kasar (SK) =  Y – Z x 100%
                                              X
                                       = 28,1464 – 27,8434 x 100 %
 2,0163
                                       =   0,3030 x 100 %
                                             2,0163
                                      = 15,0275 %

Kadar Serat Kasar (SK) =  Y – Z x 100 %
                                             X
                                       = 29.8357 – 29,5022 x 100 %
                                                 2,0081
                                       = 0,3335 x 100 %
                                           2,0081
                                       = 16,6077 %




Tabel 2. Kandungan nilai gizi onggok
Kandungan zat
Nilai gizi (%)
Abu
Protein kasar
Serat kasar
Lemak kasar
TDN
Air
BETN
1,21
2,89
14,73
0,38
80,80
20,31 %
81,10 %

Sumber : Tillman et al., 1991.
Dari data diatas dapat didiskripsikan bahwa serat kasar pada no cawan 21 adalah 30,8% sedangkan pada cawan II hasilnya adaalah 29,0%.
Kadar dari serat kasar diketahui berdasarkan perbandingan berat sample dan kertas saring sebelum pengeringan dengan sesudah dikeringkan (gravimetri). Karena itulah kertas saring yang dipergunakan sudah diketahui bobot konstannya.Proses penyaringan harus dilakukan secepat mungkin setelah proses digestion selesai dilakukan, hal ini dikarenakan penundaan yang terlalu lama akan mengakibatkan hasil analisa menjadi lebih kecil karena terjadi pengerusakan serat lebih lanjut oleh bahan kimia yang dipakai.
Kandungan serat kasar dalam suatu bahan pangan merupakan suatu aspek yang penting dalam penilaian kualitas bahan pangan itu sendiri. Kandungan serat dapa digunakan untuk menganalisa suatu proses pengolahan bahan panan. Serat juga merupakan suatu indikasi untuk menentukan nilai gizi dari suatu bahan pangan. (Jarwindo, 2008).


Dari semua data diatas dapat dikelompokan sebagai berikut :
      Tabel 1. Kandungan Nutrisi

Kandungan Nutrisi
Hasil Praktikum*
Sampel 1
Sampel 2
Kadar Air
11,6010   %
11,4924%
Kadar Abu
8,4070%
9,8190 %
Kadar Serat Kasar
15,0275%
16,6077%
Kadar Lemak Kasar

0,2640 %
0,2606%

Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa kadar lemak pada analisis proksimat ditentukan dengan jalan mengekstraksi bahan pakan dengan pelarut dietyl ether. Ditambahkan pendapat Anggorodi (1990) bahwa kadar lemak kasar merupakan campuran dari beberapa senyawa yang larut dalam senyawa pelarut lemak.

Serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat yang larut ( serat halus)dan serat yang tidak larut ( serat kasar). Komponen serat bahan pangan larut air dapat membentuk gel dengan cara menyerap air. Contoh serat bahan pangan yang larut dalam air adalah pectin, gum, musilase, asam alginate dan agar- agar. Sedangkan serat yang tidak larut dalam air akan menuju saluran pencernaan menyebabkan penggumpalan pada fesef sehingga feses dapat keluar dengan lancer. Contoh dari serat bahan pangan yang tidak larut dalam air adalah lignin dan selulosa. (Herman Supanji,2009)
Serat makanan hanya terdapat dalam bahan pangan nabati, dan kadarnya bervariasi menurut jenis bahan. Kadar serat dalam makanan dapat mengalami perubahan akibat pengolahan yang dilakukan terhadap bahan asalnya. Sebagai contoh, padi yang digiling menjadi beras putih mempunyai kadar serat yang lebih rendah daripada padi yang ditumbuk secara tradisionil. Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu muncul dedak padi di pasaran yang dikatakan sebagai obat berbagai macam penyakit. (Iksan, 2011)

PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel Ia = 16,39, Ib = 16,38  sampel IIa =16,39, IIb = 16,38 sampel IIIa = 16,39 , IIIb = 16,38  dengan berat sampel pada pengulangan I =  2,0119 dan sampel II = 20,5997, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada pengulangan I = 23,0348 dan pengulangan II adalah 22,4964. Data diatas didapat data pengulangan bahwa data I (18) = 11,6010%, sedangakan sampel II (23) = 11,4924%.  
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel I =  19,12 gr dan sampel II =  20,71 gr, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada pengulangan I = 19,2873 gr dan pengulangan II = 20,9054gr. Data diatas didapat data pengulangan bahwa data I (16) =8,4070%, sedangakan sampel II (2) = 9,8190 %.  
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel I =  0,5835 dan sampel II =  0,5683 dengan berat sampel pada pengulangan I =  2,6902gr (b gam) dan sampel II = 2,6802 gr (b gram ). Setelah dimasukan ke dalam oven maka kertas saring + sampel oven (c gram ) pada sampel I adalah 2,3694 gr, sampel II adalah 2,3598 gr. Dan setelah itu ditambah dengan ampel oven ekstraksi (c gram) pada sampel I adalah 2,3650 gr dan sampel II adalah 2,3546 gr. Didapat kadar lemak (EE) pada sampel I : 0,2640% sedangakan pada sampel II adalah 0,2606%.
Pada  serat kasar pada no cawan 7 adalah 15,0275% sedangkan pada cawan II hasilnya adaalah 16,6077%.

4.2 SARAN
Dalam pelaksanaan praktikum sebainya sebelum dimulai praktikum , Coass menjelaskan alat-alat apa, kegunaan, dan fungsi dari alat praktikum agar tidak ada kesalahan dalam pelaksanaan praktikum. Dan bagi mahasiswa harus memahami prosedur kerja yang akan dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Soelistyono.1976. Kadar Air Dalam Pakan Ternak: SNI 01-3549-1994. Jakarta: Dewan
Standardisasi  Nasional.
Tillman et al. 1998. Biokimia Umum .Departemen Tekhnologi Hasil Ternak, Fakultas
Peternakan, IPB, Bogor.
Parakkasi, 1995. Fundamental of Nutrition. USA: Freeman and Company.
Anggorodi .1990. Analisa Bahan makanan dan Pertanian. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Tillman et al., 1991. Analisa Bahan Makanan  dan Pertanian. Yogyakarta : Liberty.
Aminuddin Parakkasi, 1986 . Kandungan Kadar Air dalam suatu bahan makanan. PT
Gramedia : Jakarta
Soelistyono 1976. Analisis Bahan Makanan bahan kering pada ternak. A.Hadyana
Pudjaatmaka Ph.D.Erlangga.Jakarta.
Astuti, 2011. Biokimia Umum. Departemen Perindustrian dan Perdagangan: Bogor
Jarwindo, 2008. Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi Ke-4. IPB Press, Bogor




Tidak ada komentar:

Posting Komentar