LAPORAN PRAKTIKUM
NUTRISI TERNAK DASAR
NAMA :
TAMRIN SIMBOLON
NIM :
E1C014054
NAMA DOSEN PENGASUH :
Dr. Ir. YOSI FENITA. MP
PROF. Dr. Ir. URIP SANTOSO. MSc
JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
ABSTRAK
Dalam pelaksanaan praktikum yang sudah dilakukan kami berharap dapat
menambah pengetahuan dan dapat mengambil inti dalam praktikun Nutrisi Ternak
Dasar . Praktikum ini dilakukan agar mahasiswa mampu menganalisis bahan-bahan yang sudah
disediakan. Dalam pelaksanaan praktikum banyak melakukan keteledoran dalam
pelaksanaan kegiatan dikarenakan belum mengerti dari fungsi-fungsi alat
praktikum yang akan dijalankan. Penentuan hasil dalam setiap penimbangan sangat sulit, karena sedikit saja kita
melakukan kesalahan maka hasilnya pun berbeda, tetapi dalam praktikum yang kami
lakukan dapat berjalan dengan lancar. Dalam penimbangan sampai keadaan konstan (stabil) mencapai waktu yang
cukup lama, sebagai contohnya serat adalah zat non gizi, ada dua jenis serat yaitu serat
makanan (dietry fiber) dan serat kasar (crude fiber). Peran utama dari serat
dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air, selulosa dan pektin.
Dengan adanya serat, membantu mempercepat sisa-sisa makanan melalui saluran
pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan serat, feses dengan
kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran usus dan mengalami
kesukaran melalui usus untuk dapat diekskresikan keluar karena gerakan-gerakan
peristaltik usus besar menjadi lebih lamban. Kegiatan praktikum ini mencangkup
analisis proksimat, penetapak kadar air, penetapan kada abu, penempatan kadar
ekstrak eter ( lemak kasar ), penempatan kadar serat kasar, dan penetapan kadar
protein kasar.
Analisis proksimat adalah suatu
metode analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu
bahan (pakan/pangan). Istilah proksimat mempunyai pengertian bahwa hasil
analisis dari metode ini menunjukan nilai mendekati. hal ini disebabkan dalam
satu fraksi hasil analisis masih terdapat zat lain yang berbeda sifatnya dalam
jumlah yang sangat sedikit. Kadar air dalam suatu bahan makanan sangat
mempengaruhi kualitas dan daya simpan dari bahan pangan tersebut. Apabila kadar
air bahan pangan tersebut tidak memenuhi syarat maka bahan pangan tersebut akan
mengalami perubahan fisik dan kimiawi yang ditandai dengan tumbuhnya
mikroorganisme pada makanan sehingga bahan pangan tersebut tidak layak untuk
dikonsumsi. Penentuan kadar air
dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian
mendapat penanganan yang tepat. Penentuan kadar air dalam makanan dapat
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kelangsungan hidup
ternak bergantung pada pakan. Pakan yang dikonsumsi oleh ternak harus
mengandung gizi yang tinggi. Pakan yang dikonsumsi digunakan untuk pertumbuhan,
produksi hidup pokok dan reproduksinya. Pakan yang diberikan harus sesuai
dengan karakteristik, sistem dan fungsi saluran ternak. Pakan merupakan seluruh
bahan makanan yang dibuat untuk kebutuhan ternak yang mengandung berbagai macam
nutrisi meliputi karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Analisis proksimat adalah suatu metode analisis kimia untuk
mengidentifikasi kandungan zat makanan dari suatu bahan (pakan/pangan). Istilah
proksimat mempunyai pengertian bahwa hasil analisis dari metode ini menunjukan
nilai mendekati.
Penentuan kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam
proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat.
Penentuan kadar air dalam makanan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu
metode pengeringan (dengan oven biasa), metode destilasi, metode kimia, metode
khusus. Metode pengeringan (dengan oven biasa) dilakukan untuk menentukan kadar
air dari bahan pangan yang mengandung banyak air dan umumnya stabil terhadap
pemanasan tinggi. Produk yang digunakan dapat pula digunakan untuk produk
seperti pada metode oven vakum kecuali yang banyak mengandung sukrosa atau
glukosa.
Kadar
abu merupakan bagian berat dari bahan yang didasarkan atas berat keringnya. Abu
adalah zat organik yang tidak menguap, sisa dari proses pembakaran atau hasil
oksidasi. Penentuan kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan.
Mineral yang terdapat dalam suatu bahan pangan terdiri dari 2 jenis garam,
yaitu garam organik misalnya asetat, pektat, mallat, dan garam organik misalnya
karbonat, posfat, sulfat dan nitrat. Proses untuk menentukan jumlah mineral
sisa pembakaran disebut pengabuan. Kandungan dan komposisi abu atau mineral
pada bahan tergantung dari jenis bahan dan pengabuannya.
Serat kasar sangat penting dalam penilaian kualitas bahan makanan karena
angka ini merupakan indeks dan menentukan nilai gizi makanan tersebut. Selain
itu, kandungan serat kasar dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses
pengolahan, misalnya proses penggilingan atau proses pemisahan antara kulit dan
kotiledon, dengan demikian persentase serat dapat dipakai untuk menentukan
kemurniaan bahan atau efisiensi suatu proses. Sedangkan serat makanan adalah bagian dari bahan yang tidak dapat
dihidrolisis oleh enzim-enzim
pencernaan. Serat makanan
adalah serat yang tetap ada dalam kolon atau usus besar setelah proses
pencernaan, baik yang berbentuk serat yang larut dalam air maupun yang tidak
larut dalam air. Mutu serat dapat dilihat dari komposisi komponen serat
makanan, dimana komponen serat makanan terdiri dari komponen yang larut (Solube
Dietary Fiber, SDF), dan komponen yang tidak larut (Insoluble Dietary Fiber,
IDF). Serat yang tidak larut
dalam air ada 3 macam, yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin.
Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air,
selulosa dan pektin. Dengan adanya serat, membantu mempercepat sisa-sisa
makanan melalui saluran pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan
serat, feses dengan kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran
usus dan mengalami kesukaran melalui usus untuk dapat diekskresikan keluar
karena gerakan-gerakan peristaltik usus besar menjadi lebih lamban.Serat kasar merupakan sisa-sisa
sel tumbuhan yang tahan terhadap reaksi hidrolisis
enzim-enzim saluran pencernaan. Komponen utama penyusun serat kasar adalah
berupa karbohidrat. Karena kandungan nutrisi serat kasar tergolong rendah, oleh
sebab itu biasanya digunakan sebagai campuran pakan dalam jumlah yang sedikit,
sekitar 7% saja. Bahan yang mengandung serat kasar cukup tinggi antara lain :
tepung alfafa, kulit kedelai, biji padi kering dan gandum. Sedangkan yang
tergolong serat kasar rendah antara lain : beras giling, tepung tulang, jagung
dan tepung ikan. Jumlah serat kasar pada pakan biasanya didasarkan atas feed
intake (jumlah pakan yang dikonsumsi). Sedangkan feed intake sendiri akan
dipengaruhi oleh palatabilitas (rasa enak) pakan yang dikonsumsi.
Ekstrak
eter(lemak kasar) adalah zat yang mengandung senyawa yang larut dalam eter,
termasuk lipida dan zat yang tidak mengandung asam lemak. Ekstrak eter dalam
bahan makanan ternak yang berasal dari hewan biasanya terdiri dari gliserol dan
tiga asam lemak, yang biasa disebut lemak. Namun, bahan makanan ternak yang berasal
dari tanaman, sterol, lilin, dan berbagai produk seperti vitamin A, vitamin D,
karotin, seringkali menyusun sampai lebih dari 50% lemak makanan.
Konsentrat merupakan
makanan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein seperti jagung,
bekatul dan bungkil-bungkilan. Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi dua golongan yaitu
konsentrat sebagai sumber energi dan sebagai sumber protein. Untuk pembuatan konsentrat harus diperhatikan bahan
pakan yang digunakan sebagai penyusun ransum, baik dalam cara penyediaan maupun
kandungan gizinya. Pemberian konsentrat pada setiap ternak
itu berbeda-beda sesuai dengan kemampuan pencernaan hewan ternak.
1.2 TUJUAN DAN
MANFAAT PRAKTIKUM
Ø Melakukan
penghitungan menggunakan analisis proksimat
Ø Menentukan kadar penetapan kadar air
Ø Menentukan kadar penetapan kadar abu,
Ø Menentukan
kadar penetapan kadar ekstrak eter ( lemak kasar ),
Ø Menentukan
kadar penetapan kadar serat kasar,
Ø Menentukan
kadar penetapan kadar protein kasar.
METODOLOGI
1.
Waktu dan Tempat praktikum
Praktikum Nutrisi Ternak Dasar ini dilaksanakan pada tanggal 17 –
22 Desember 2012, bertempat di laboratorium jurusan peternakan Universitas
Bengkulu.
2.
Alat dan Bahan
2.1 Alat
Ø Penetapan
kadar air
·
Cawan
·
Oven
·
Timbangan
analitik listrik
·
Desikator
·
Tang
penjepit
·
Spatula
Ø Penetapan
kadar abu
·
Silica
disk
·
Tanur
·
Timbangan
analitik listrik
·
Desikator
·
Tang
penjepit
·
Spatula
Ø Penetapan
kadar ekstrak eter (lemak kasar)
·
Soklet
sistem HT 2 ekxtraction Unit Tecator dan selongsongnya
·
labu
penampung
·
Alat
pendingin
·
Penangas/
waterbarth
·
Timbangan
analitik
·
Spatula
·
Gelas
arloji
·
Kertas
saring bebas lemak
·
Oven
Ø penetapan
kadar serat kasar
·
Beaker
glass 600 ml
·
Saringan
dari linnen
·
Serat
gelas(glass wool)
·
Alat
penyaring buchner atau gooch crucible
·
Desikator
·
Tanur
·
Pompa
vacum
·
Tang
penjepit
·
Timbangan
analitik listrik
·
Gelas
ukur 100 ml
·
Corong
gelas diameter 10 cm
2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
·
Tepung
jagung kuning
·
H2SO4
1,25 %
·
NaOH
1,25%
·
Aquadest
·
Aceton
·
Etyl
alkohol 95%
3. Cara
kerja
a. Penetapan
kadar air
1.
Mengeringkan
cawan yang sudah bersih didalam oven pengering pada suhu 105 0C
selama 1 jam dengan tutup lepas
2.
Kemudian mendinginkan
didalam desikator dengan tutup dilepas selama 1
jam
3.
Sesudah
dingin, menimbang dalam keadaan tertutup(x gram)
4.
Ditimbang
contoh bahan (sampel) sebanyak 2 gram dalam cawan (y gram) dan mengeringkannya
di dalam oven pengeringpada suhu 1050C selama 8 jam dengan tutup
dilepas
5.
Kemudian mendinginkan
ke dalam desikator selama 1 jam dengan tutup dilepas . setelah dingin , ditutup
kembali dan ditimbang, penimbangan diulangi sampai 3 kali setiap jam sampai
beratnya tetap(Z gram)
b. Penetapan
kadar abu
1.
Mengeringkan
silica disc di dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam
2.
Kemudian mendinginkannya
didalam desikator selama 1 jam. Selanjutnya menimbangnya (X gram)
3.
Menimbang
contoh bahan kedalam silica disc (sampel) sebanyak 1,5 – 2 gram (Y gram) dan memasukkannya
ke dalam tanur. Menaikkan temperatur sampai mencapai 6000C selama
lebih dari 12 jam (memijarkan sampai contoh bahan berwarna putih)
4.
Kemudian mendinginkan
diluar tanur pada tempat yang telah disediakan, sehingga suhunya turun menjadi
1200C, lalu memasukkannya dalam
desikator selama 1 jam.
5.
Sesudah dingin, kemudian menimbang (z gram),
abunya disimpan untuk penetapan kadar silica.
c. Penetapan kadar ekstrak eter (lemak kasar)
1.
Menimbang
kertas saring bebas lemak (a gram). Kemudian menambahkan sampel yang akan
dianalisa kira-kira 1,5-2 gram(b gram) dan kemudian membungkus dengan baik
sehingga tidak ada ceceran sampel(seperti membungkus obat puyer)
2.
Mengoven
bungkusan sampel dengan temperatur 105 0C, selama 6 jam
3.
Setelah
dioven, kemudian menimbangnya (dalam keadaan panas) dengan cepat(c gram),
kemudian memasukkannya dalam soklet
4.
Labu
penampung, memasang alat ekstraksi dan alat pendingin dan meletakkanya diatas
penangas air. Kemudian memasukkan perroleum benzen(pelarut lemak) melalui
lubang pendingin sampai petroleum benzen seluruhnya turn dan masuk kedalam labu
penampung. Kemudian diisi lagi sampai setengah bagian dari alat ekstraksi.
5.
Mengaliri
air pada labu pendingin, baru kemudian diikuti dengan pemanasan labu penampung
(penangas/ waterbath)
6.
Doekstraksi
selama 16 jam (sampai petroleum benzen
yang ada di dalam alat ekstraksi menjadi jernih / tidak berwarna
7.
Setelah
diekstraksi dihentikan, mengeluarkan sampel dan meletakkan diatas gelas arloji,
kemudian menganginkan sampai kering.
8.
Mengoven
bungkusan sampel dengan temperatur 1050C selama 6 jam
9.
Setelah
dioven selanjutnya menimbang (dalam keadaan panas)dengan cepat(d gram).
d. Penetapan
kadar serat kasar
1.
Memasukkan
sampel dari penentapan kadar lemak ke dalam beaker glass 600 ml ditambah 200 ml
H2SO4 1,25% dan dipasang pada pemanas dan pendingin
dialirkan, kemudian dididihkan selama 30 menit.
2.
Kemudian menyaring
dengan menggunakan saringan linnen atau serat glass dengan menggunakan alat
penyaring bucher atau Gooch crucible, dengan bantuan pompa vacum.Memasukkan hasil
saringan ke dalam beaker glass dengan mencuci saringan linnen.
3.
Mencuci beaker
glass, hasil saringan beserta serat kasar (kalau digunakan) memasukkan
kedalam beaker glass dan ditambah dengan NaOH 1,25% dan mendidihkannya selama
30 menit
4.
Kemudian menyaring
termasuk serat gelas dalam gooch crucible yang sudah dilapisi glasswool.
Selanjutnya mencuci dengan beberapa ml air panas dan kemudian dengan 15 ml etyl
alkohol 95%
5.
Menganginkan
hasil saringan termasuk serat glass dalam gooch crucible sampai kering kemudian
memasukkannya kedalam alat pengering dengan suhu 1050C selama satu
malam,
6.
Setelah
itu mengabukan didalam tanur dengan suhu 6000C selama 2 jam atau
sampel berwarna putih (bebas karbon)
7.
Mengeluarkan
dan membiarkan beberapa menit sampai suhunya turun menjadi 1200C,
kemudian memasukkannya ke dalam desikator selama 1 jam, setelah dingin kemudian
dmenimbang (Z gram).
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL
Sampel yang digunakan pada praktikum Nutrisi Ternak Dasaar
adalah dedak padi untuk pengujian analisis proksimat, kadar air, kadar abu,
kadar ekstrak eter (lemak kasar), serat kasar.
Analisis bahan makanan terutama bertujuan untuk dapat memperkirakan respon
produktivitas dari ternak apabila diberi ransum dengan komposisi bahan makanan
tertentu. Beberapa bahan makanan mempunyai komposisi yang bervariasi dengan
berbagai sebab, dan tidak seorang pun yang dapat membantah bahwa hasil analisis
aktual dari suatu bahan makanan yang akan digunakan dalam suatu ransum akan
lebih akurat bila menggunakan data yang disusun dalam sebuah tabel. Kadar air
bahan makanan bila diberikan kepada ternak sangat bervariasi. Oleh karena itu
kadar dari suatu zat dalam bahan makanan akan jauh lebih baik bila dihitung
bedasarkan Bahan Kering (BK) (Aminuddin Parakkasi, 1986).
Tabel 1.1 PENETAPAN KADAR AIR ( Kelompok 3 )
|
Nama
sampel
|
|
|
|
|||
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
III
|
|||
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
16,39
|
16,38
|
16,39
|
16,38
|
16,39
|
16,38
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
18,37
|
18,37
|
18,37
|
18,37
|
18,37
|
18,37
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
18,1403
|
18,1413
|
18,1366
|
18,1392
|
18,1342
|
18,1314
|
|
Kadar
air (%)
|
11,6010
|
11,4924
|
11,7878
|
11,5979
|
11,9090
|
11,9899
|
Pengamatan/ulangan
Perhitungan data kelompok 3
Pengulangan 1
I (18)
= (Y-Z) X 100
% II
(23) = (18,37 – 18,1413) 100%
(Y-X) (18,37
- 16,38)
= - (18,37 – 18,1403) x
100 %
(18,37 – 16,39) = 0,2287_ x 100 %
= 0,2297 x
100 %
1,99
1,98
= 11,6010 % = 11,4924 %
Pengulangan 2
I (18) = (
18,37 – 18,1366) x 100 % II (23) = (18,37 – 18,1314)
x 100 %
(18,37 - 16,39 ) (18,37 – 16,38)
=
0,2334 x 100 % =
0,2308 x 100 %
1,98 1,99
=
11,7878 % =
11,5979 %
Pengulangan 3
I (18) = (18,37
– 18,1342) x 100 % II
(23) = (18,37 – 18,1314) x 100 %
(18,37 – 16,39) (18,37 – 16,38)
= 0,2358 x 100 % =
0,2386 x 100 %
1,98 1,99
= 11,9090 % = 11,9899 %
Tabel 1.2. Kelompok 1
|
Nama
sampel
|
10
|
21
|
10
|
21
|
||
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
||||
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
17, 7900
|
18,5400
|
17,7900
|
18,5400
|
||
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
19,8000
|
20,5300
|
19,8000
|
20,5300
|
||
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
19,6253
|
20,3600
|
19,6261
|
20,3572
|
||
|
Kadar
air (%)
|
8,7014
|
8,5427
|
8,6517
|
8,6834
|
||
Tabel 1.3. Kelompok
2
|
Nama
sampel
|
31
|
35
|
31
|
35
|
31
|
35
|
|||
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
III
|
||||||
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
21,0600
|
21,7200
|
21,0600
|
21,7200
|
21,0600
|
21,7200
|
|||
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
23,0500
|
23,7200
|
23,0500
|
23,7200
|
23,0500
|
23,7200
|
|||
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
22,8131
|
23,4755
|
22,8146
|
23,4738
|
22,8009
|
23,4657
|
|||
|
Kadar
air (%)
|
11,9045 %
|
12,2250 %
|
11,8291 %
|
12,3100%
|
12,1155%
|
12,7150 %
|
|||
Tabel 1.4. Kelompok 4
|
Nama
sampel
|
4
|
47
|
4
|
47
|
4
|
47
|
|||
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
III
|
||||||
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
17,21
|
19,79
|
17,21
|
19,79
|
17,21
|
19,79
|
|||
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
19,21
|
21,78
|
19,21
|
21,78
|
19,21
|
21,78
|
|||
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
18,9774
|
21,5506
|
18,9760
|
21,5515
|
18,9713
|
21,5470
|
|||
|
Kadar
air (%)
|
11,63 %
|
11,52764 %
|
11,7 %
|
11,4824 %
|
11,935 %
|
11,7085%
|
|||
Tabel 1.5. Kelompok 5
|
Nama
sampel
|
Pur (3)
|
|
|
|||
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
20
I
15
|
20 II
15
|
20 III 15
|
|||
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
21,1400
|
17,6900
|
21,1400
|
17,6900
|
21,1400
|
17,6900
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
23,1300
|
9,6900
|
23,1300
|
19,6900
|
23,1300
|
19,6900
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
22,9093
|
19,4762
|
22,9072
|
19,4739
|
22,9027
|
18,3110
|
|
Kadar
air (%)
|
11,09
|
10,69
|
11,196
|
10,805
|
11,422
|
68,95
|
Tabel 1.6. Kelompok 6
|
Nama
sampel
|
|
|
|||||||
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
III
|
I
|
II
|
III
|
|||
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
21,3700
|
21,3700
|
21,3700
|
16,5900
|
16,5900
|
16,5900
|
|||
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
23,3700
|
23,3700
|
23,3700
|
18,5900
|
18,5900
|
18,5900
|
|||
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
23,1030
|
23,0980
|
23,0870
|
18,371
|
23,4738
|
18,3110
|
|||
|
Kadar
air (%)
|
13,35 %
|
13,6 %
|
14,15%
|
13,145%
|
935,31%
|
13,95%
|
|||
Berdasarkan data bahwa
berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel Ia=16,39, Ib = 16,38 dan sampel IIa = 16,39 , IIb = 16,38, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan
timbang pada pengulangan Ia = 18,1403 ,Ib= 18,1413 pengulangan IIa =18,1366, IIb= 18,1392 , dan pengulangan
IIIa = 18,1342 ,IIIb = 18,1314. Data diatas didapat
data pengulangan bahwa data Ia (18) = 11,6010%, Ib (23)= 11,4924%,IIa (18) =11,7878 %, IIb= 11,5979
% sedangakan sampel IIIa (18) = 11,9090 % dan IIIb = 11,9899 % . menambahkan
bahwa kadar bahan kering dalam pakan dihitung sebagai selisih antara 100%
dengan persen air yang dipengaruhi oleh umur tanaman. (Soelistyono 1976).
Metode ini dilakukan
dengan cara pengeringan bahan pangan dalam oven. Berat sampel yang dihitung
setelah dikeluarkan dari oven harus didapatkan berat konstan, yaitu berat bahan
yang tidak akan berkurang atau tetap setelah dimasukkan dalam oven. Berat
sampel setelah konstan dapat diartikan bahwa air yang terdapat dalam sampel
telah menguap dan yang tersisa hanya padatan dan air yang benar-benar terikat
kuat dalam sampel. Setelah itu dapat dilakukan perhitungan untuk mengetahui
persen kadar air dalam bahan (Crampton 1959).
Kadar air merupakan
banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang dinyatakan dalam satuan persen.
Kadar air juga merupakan karakteristik yang sangat penting dalam bahan pangan
karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta ikut menentukan
kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air menyebabkan mudahnya
bakteri, kapang dan khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan pangan (Haryanto 1992). Kadar air adalah perbedaan antara
berat bahan sebelum dan sesudah dilakukan pemanasan. Setiap bahan bila
diletakkan dalam udara terbuka kadar airnya akan mencapai keseimbangan dengan
kelembaban udara disekitarnya. Kadar air ini disebut dengan kadar air seimbang.
Tabel PENETAPAN KADAR ABU
Tabel 2.1 Kelompok 3
|
Nama
sampel (KODE)
|
16
|
2
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
19,12 gr
|
20,71 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
21,11 gr
|
22,70 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
19,2837 gr
|
20,9054 gr
|
|
Kadar
abu (%)
|
8,4070 %
|
9,8190 %
|
Tabel 2.2 Kelompok 1
|
Nama
sampel (KODE)
|
34
|
39
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
18,9900 gr
|
20,9900 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
20,99 gr
|
22,9900 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
19,2848 gr
|
21,2957 gr
|
|
Kadar
abu (%)
|
14,74 %
|
15,285%
|
Tabel 2.3Kelompok 2
|
Nama
sampel (KODE)
|
4
|
4
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
21,6100 gr
|
18,4200 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
23,6100 gr
|
20,4200gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
21,6499 gr
|
18,4590 gr
|
|
Kadar
abu (%)
|
1,9950 %
|
1,9500 %
|
Tabel 2.4 Kelompok 4
|
Nama
sampel (KODE)
|
42
|
33
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
20,66 gr
|
19,47
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
22,66 gr
|
21,47 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
20,7304 gr
|
19,5305 gr
|
|
Kadar
abu (%)
|
3,52 %
|
3,025 %
|
Tabel 2.5 Kelompok 5
|
Nama sampel
(KODE)
|
37
|
36
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
22,2500 gr
|
16,6000 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
24,2500 gr
|
18,6000 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
22,3675 gr
|
16,7157 gr
|
|
Kadar
abu (%)
|
5,875 %
|
5,785 %
|
Tabel 2.6 Kelompok 6
|
Nama
sampel (KODE)
|
8
|
13
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
cawan timbang kosong kering (Xg)
|
18,3700 gr
|
15,1000 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel (Yg)
|
20,3700 gr
|
17,1000 gr
|
|
Berat
cawan timbang + sampel kering (Zg)
|
18,4919 gr
|
15,2223 gr
|
|
Kadar
abu (%)
|
0,11195 %
|
6,115%
|
Pengamatan/ulangan Perhitungan data kelompok 3
Kadar Abu = (Z-X)
x100 %
(Y-Z)
(16) = (19,2873 – 19,12) x 100 % (2) = (20,9054 – 20,71)
x 100 %
(21,11 – 19,12)
(22,70 – 20,71)
= 0,1954 x 100 %
= 0,1673 x 100 % 1,99
1,99 = 9,8190 %
= 8,4070 %
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg)
pada sampel I = 19,12 gr dan sampel II
= 20,71 gr dengan berat sampel pada
pengulangan I = 21,11 gr dan sampel II =
22,70 gr, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada
pengulangan I = 19,2837 gr dan pengulangan II = 20,9054 gr. Data diatas didapat
data pengulangan bahwa data I (16) =8,4070
%, sedangakan sampel II (28) = 9,8190 %. Menurut Tillman et al. (1998) bahwa komponen
abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai gizi yang penting melainkan
hanya menentukan perhitungan BETN. Jika dilihat kadar abu yang tinggi
kemungkinan bahan dasar Tepung Jagung kuning tersebut banyak mengandung
mineral.
Kadar abu merupakan
campuran dari komponen anorganik atau mineral yang terdapat pada suatu bahan
pangan. Bahan pangan terdiri dari 96% bahan anorganik dan air, sedangkan
sisanya merupakan unsur-unsur mineral. Unsur juga dikenal sebagai zat rganic
atau kadar abu. Kadar abu tersebut dapat menunjukan total mineral dalam suatu
bahan pangan. Bahan-bahan rganic dalam proses pembakaran akan terbakar tetapi
komponen anorganiknya tidak, karena itulah disebut sebagai kadar abu. Penentuan
kadar abu total dapat digunakan untuk berbagai tujuan, rgani lain untuk
menentukan baik atau tidaknya suatu pengolahan, mengetahui jenis bahan yang
digunakan, dan sebagai penentu parameter nilai gizi suatu bahan makanan
(Astuti, 2011).
Kadar abu yang yang terukur merupakan bahan-bahan anorganik yang tidak
terbakar dalam proses pengabuan, sedangkan bahan-bahan organik terbakar. Kadar
abu dalam suatu bahan pangan sangat mempengaruhi sifat dari bahan pangan
tersebut. Kandungan abu dan komposisinya bergantung pada macam bahan dan cara
pengabuan yang digunakan. Kandungan abu dari suatu bahan menunjukkan kadar
mineral dalam bahan tersebut.(Wiranto, 2010)
Pada saat praktikum
dilakukan pengukuran suhu mencapai 550, Hal ini sesuai dengan pendapat
Sudarmaji (1996), bahwa prinsip dari pengabuan cara langsung yaitu dengan
mengoksidasi semua zat rganic pada suhu tinggi, yaitu sekitar 500 – 600 oC
dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses
pembakaran tersebut.
PENETAPAN KADAR EKSTRAK ETER (LEMAK KASAR)
Tabel 3.1Kelompok 3
|
Nama
sampel (KODE)
|
3.1
|
3.2
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
kertas saring (a gram)
|
0,6941 gr
|
0,6850 gr
|
|
Berat
kertas saring + sampel oven ( b gram)
|
2,6902gr
|
2,6802 gr
|
|
Berat
kertas saring + sampel oven ( c gram)
|
2,3694 gr
|
2,3598 gr
|
|
Berat
kertas saring + sampel oven ekstraksi ( d gram)
|
2,3650 gr
|
2,3546 gr
|
|
Kadar
lemak (EE) (%)
|
0,2640%
|
0,2606%
|
Tabel 3.2 Kelompok 1
|
Nama
sampel (KODE)
|
11
|
12
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
kertas saring (a gram)
|
0,677 gr
|
0,686 gr
|
|
Berat
kertas saring + sampel oven ( b gram)
|
2,0905 gr
|
2,6650 gr
|
|
Berat
kertas saring + sampel oven ( c gram)
|
2,3601 gr
|
2,3346 gr
|
|
Berat
kertas saring + sampel oven ekstraksi ( d gram)
|
2,3568gr
|
2,3270 gr
|
|
Kadar
lemak (EE) (%)
|
0,1489 %
|
0,3840 %
|
Tabel 3.3Kelompok 2
|
Nama
sampel (KODE)
|
4
|
4
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat kertas saring ( a gram)
|
0.6965gr
|
0.6956 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel ( b gram )
|
2.6660 gr
|
2.6963 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel oven (z gram)
|
2. 3274gr
|
2.3518gr
|
|
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi (d gram)
|
2,2787 gr
|
2,3039
|
|
Kadar serat kasar (EE)%
|
2,4727 %
|
2,3941 %
|
Tabel 3.4 Kelompok 4
|
Nama
sampel (KODE)
|
41
|
42
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat kertas saring ( a gram)
|
0,6941 gr
|
0,6850 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel (b gram)
|
2,6903 gr
|
2,6903 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel oven (c gram)
|
2,3560 gr
|
2,4005 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi (d
gram)
|
2,2972 gr
|
2,3470 gr
|
|
Kadar lemak (EE)%
|
2,9455 %
|
2,6679 %
|
Tabel 3.5 Kelompok 5
|
Nama
sampel (KODE)
|
51
|
52
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat sampel ( x gram)
|
2,7000 gr
|
2,7100 gr
|
|
Berat penyaringan + residu kering (Yg)
|
2,4040 gr
|
2,4136 gr
|
|
Berat penyaringan + abu (z gram)
|
2,3040 gr
|
2,3186 gr
|
|
Kadar serat kasar (EE)%
|
5,025%
|
4,7562 %
|
|
Berat kertas saring (a)
|
0,7100 gr
|
0,7000 gr
|
Tabel 3.6 Kelompok 6
|
Nama
sampel (KODE)
|
61
|
62
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat kertas saring (a gram)
|
0,7500 gr
|
0,6900
|
|
Berat kertas saring + sampel (b gram)
|
2,7500 gr
|
2,6900 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel oven (c gram)
|
2,3222 gr
|
3,3123 gr
|
|
Berat kertas saring + sampel oven ekstraksi (D gram)
|
2,1756 gr
|
2,1868 gr
|
|
Kadar lemak (EE) %
|
7,33 %
|
6,275 %
|
Pengamatan/ulangan Perhitungan data kelompok 3
Kadar Lemak Kasar (EE) = (c-d) x 100%
(b-a)
(EE) (3.1) =
(2,3694 – 2,3650 ) x 100 %
(EE) (3.2) = (2,3598 – 2,3546)
x 100%
(2,6902 -0,6941) (2,6802 – 0,6850)
= 0,0052 x 100 %
= 0,0044 x 100 % 1,9952
1,9961 = 0,2606 %
= 0,2640 %
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg)
pada sampel I = 0,5835 dan sampel II = 0,5683 dengan berat sampel pada pengulangan I = 2,0128 (b gam) dan
sampel II = 2,0057
(b gram ). Setelah dimasukan ke dalam oven maka kertas saring + sampel oven (c
gram ) pada sampel I adalah 2,3694 gr, sampel II adalah 2,3598 gr.
Dan setelah itu ditambah dengan ampel oven ekstraksi (c gram) pada sampel I
adalah 2,3650 gr dan sampel II adalah 2,3546 gr.
Didapat kadar lemak (EE) pada sampel I : 0,2640
% sedangakan pada sampel II adalah 0,2606 %.
PENETAPAN KADAR SERAT
KASAR
Tabel 4.1 Kelompok 3
|
Nama
sampel (KODE)
|
(7)
|
(26)
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
kertas sampel (Xg)
|
2,0163 gr
|
2,0081 gr
|
|
Berat
penyaring + residu kering (Y g)
|
28,1464 gr
|
29,8357 gr
|
|
Berat
penyaring + abu (Z g)
|
27,8434 gr
|
29,5022 gr
|
|
Kadar
lemak (SK) (%)
|
15,0275 %
|
16,6077 %
|
Tabel 4.2 Kelompok 1
|
Nama
sampel (KODE)
|
(16)
|
(9)
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat
kertas sampel (Xg)
|
1,9963 gr
|
2,002 gr
|
|
Berat
penyaring + residu kering (Y g)
|
29,2497 gr
|
27,9776 gr
|
|
Berat
penyaring + abu (Z g)
|
28,7084 gr
|
27,4432 gr
|
|
Kadar
lemak (SK) (%)
|
27,1151
%
|
26,6933 %
|
Tabel 4.3Kelompok 2
|
Nama
sampel (KODE)
|
4
|
4
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat sampel ( x gram)
|
1,9965 gr
|
1,9945 gr
|
|
Berat penyaringan + residu kering (x gram)
|
26,5091 gr
|
26,7328 gr
|
|
Berat penyaringan + abu (z gram)
|
26,4367 gr
|
26,7328 gr
|
|
Kadar serat kasar (SK)%
|
3,6263 %
|
3,8856%
|
Tabel 4.4Kelompok 4
|
Nama
sampel (KODE)
|
13
|
25
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat sampel ( x gram)
|
1,9896 gr
|
1,9971 gr
|
|
Berat penyaringan + residu kering (Yg)
|
28,8117 gr
|
28,0276 gr
|
|
Berat penyaringan + abu (z gram)
|
28,0625 gr
|
27,4328 gr
|
|
Kadar serat kasar (SK)%
|
37,656%
|
29,783%
|
Tabel 4.5 Kelompok 5
|
Nama
sampel (KODE)
|
8
|
21
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat sampel ( x gram)
|
1,9895 gr
|
2,004 gr
|
|
Berat penyaringan + residu kering (Yg)
|
27,2962 gr
|
26,3231 gr
|
|
Berat penyaringan + abu (z gram)
|
27,2368 gr
|
26,2611 gr
|
|
Kadar serat kasar (SK)%
|
2,986 %
|
3,094 %
|
Tabel 4.6 Kelompok 6
|
Nama
sampel (KODE)
|
24
|
15
|
|
Pengamatan/ulangan
ke
|
I
|
II
|
|
Berat sampel ( x gram)
|
1,9986 gr
|
1,9992 gr
|
|
Berat penyaringan + residu kering (Yg)
|
26,6594 gr
|
27,4393 gr
|
|
Berat penyaringan + abu (z gram)
|
26,4726 gr
|
27, 1506 gr
|
|
Kadar serat kasar (SK)%
|
0,0009%
|
14,4408 %
|
Pengamatan/ulangan Perhitungan data kelompok 3
Kadar Serat Kasar (SK) = Y – Z x 100%
X
= 28,1464 – 27,8434 x
100 %
2,0163
= 0,3030 x
100 %
2,0163
= 15,0275 %
Kadar Serat Kasar (SK) = Y – Z x 100 %
X
= 29.8357 – 29,5022 x
100 %
2,0081
= 0,3335 x 100 %
2,0081
= 16,6077 %
Tabel 2. Kandungan nilai gizi onggok
|
Kandungan zat
|
Nilai gizi (%)
|
|
Abu
Protein kasar
Serat kasar
Lemak kasar
TDN
Air
BETN
|
1,21
2,89
14,73
0,38
80,80
20,31 %
81,10 %
|
Sumber : Tillman et al., 1991.
Dari data diatas dapat didiskripsikan bahwa serat kasar pada no cawan 21
adalah 30,8% sedangkan pada cawan II hasilnya adaalah 29,0%.
Kadar dari serat kasar diketahui berdasarkan perbandingan berat sample dan
kertas saring sebelum pengeringan dengan sesudah dikeringkan (gravimetri).
Karena itulah kertas saring yang dipergunakan sudah diketahui bobot konstannya.Proses
penyaringan harus dilakukan secepat mungkin setelah proses digestion selesai
dilakukan, hal ini dikarenakan penundaan yang terlalu lama akan mengakibatkan
hasil analisa menjadi lebih kecil karena terjadi pengerusakan serat lebih
lanjut oleh bahan kimia yang dipakai.
Kandungan serat kasar dalam suatu bahan pangan merupakan suatu aspek yang
penting dalam penilaian kualitas bahan pangan itu sendiri. Kandungan serat dapa
digunakan untuk menganalisa suatu proses pengolahan bahan panan. Serat juga
merupakan suatu indikasi untuk menentukan nilai gizi dari suatu bahan pangan.
(Jarwindo, 2008).
Dari
semua data diatas dapat dikelompokan sebagai berikut :
Tabel 1. Kandungan Nutrisi
|
Kandungan Nutrisi
|
Hasil Praktikum*
|
|
|
Sampel 1
|
Sampel 2
|
|
|
Kadar Air
|
11,6010 %
|
11,4924%
|
|
Kadar Abu
|
8,4070%
|
9,8190 %
|
|
Kadar Serat Kasar
|
15,0275%
|
16,6077%
|
|
Kadar Lemak Kasar
|
0,2640 %
|
0,2606%
|
Tillman et al. (1998)
menyatakan bahwa kadar lemak pada analisis proksimat ditentukan dengan jalan
mengekstraksi bahan pakan dengan pelarut dietyl ether. Ditambahkan pendapat Anggorodi (1990)
bahwa kadar lemak kasar merupakan campuran dari beberapa senyawa yang larut
dalam senyawa pelarut lemak.
Serat terbagi menjadi dua jenis yaitu serat yang larut ( serat halus)dan
serat yang tidak larut ( serat kasar). Komponen serat bahan pangan larut air
dapat membentuk gel dengan cara menyerap air. Contoh serat bahan pangan yang
larut dalam air adalah pectin, gum, musilase, asam alginate dan agar- agar.
Sedangkan serat yang tidak larut dalam air akan menuju saluran pencernaan
menyebabkan penggumpalan pada fesef sehingga feses dapat keluar dengan lancer.
Contoh dari serat bahan pangan yang tidak larut dalam air adalah lignin dan
selulosa. (Herman Supanji,2009)
Serat makanan hanya
terdapat dalam bahan pangan nabati, dan kadarnya bervariasi menurut jenis
bahan. Kadar serat dalam makanan dapat mengalami perubahan akibat pengolahan
yang dilakukan terhadap bahan asalnya. Sebagai contoh, padi yang digiling
menjadi beras putih mempunyai kadar serat yang lebih rendah daripada padi yang
ditumbuk secara tradisionil. Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu muncul
dedak padi di pasaran yang dikatakan sebagai obat berbagai macam penyakit.
(Iksan, 2011)
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg)
pada sampel Ia = 16,39, Ib =
16,38 sampel IIa =16,39, IIb = 16,38 sampel IIIa = 16,39 ,
IIIb = 16,38 dengan berat sampel pada
pengulangan I = 2,0119 dan sampel II =
20,5997, berat sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada
pengulangan I = 23,0348 dan pengulangan II adalah 22,4964. Data diatas didapat
data pengulangan bahwa data I (18) = 11,6010%, sedangakan sampel
II (23) = 11,4924%.
Berdasarkan data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg)
pada sampel I = 19,12 gr dan
sampel II = 20,71 gr, berat
sampel kering (Zg) dan ditambah dengan berat cawan timbang pada pengulangan I =
19,2873 gr
dan pengulangan II = 20,9054gr. Data diatas didapat data pengulangan
bahwa data I (16) =8,4070%, sedangakan sampel II (2) = 9,8190 %.
Berdasarkan
data bahwa berat cawan timbang kosong kering (Xg) pada sampel I = 0,5835 dan
sampel II = 0,5683 dengan berat sampel pada pengulangan I = 2,6902gr (b gam) dan
sampel II = 2,6802 gr
(b gram ). Setelah dimasukan ke dalam oven maka kertas saring + sampel oven (c
gram ) pada sampel I adalah 2,3694 gr, sampel II adalah 2,3598 gr.
Dan setelah itu ditambah dengan ampel oven ekstraksi (c gram) pada sampel I
adalah 2,3650 gr dan sampel II adalah 2,3546 gr.
Didapat kadar lemak (EE) pada sampel I : 0,2640% sedangakan pada sampel II adalah 0,2606%.
Pada serat kasar pada no cawan 7 adalah 15,0275% sedangkan pada cawan
II hasilnya adaalah 16,6077%.
4.2 SARAN
Dalam pelaksanaan praktikum sebainya sebelum dimulai praktikum ,
Coass menjelaskan alat-alat apa, kegunaan, dan fungsi dari alat praktikum agar
tidak ada kesalahan dalam pelaksanaan praktikum. Dan bagi mahasiswa harus
memahami prosedur kerja yang akan dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Soelistyono.1976. Kadar Air Dalam Pakan Ternak:
SNI 01-3549-1994. Jakarta: Dewan
Standardisasi Nasional.
Tillman et al.
1998. Biokimia Umum .Departemen
Tekhnologi Hasil Ternak, Fakultas
Peternakan, IPB, Bogor.
Parakkasi, 1995. Fundamental of Nutrition. USA:
Freeman and Company.
Anggorodi .1990. Analisa Bahan makanan dan Pertanian. Jakarta: PT Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Tillman et al., 1991. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.
Yogyakarta : Liberty.
Aminuddin Parakkasi,
1986 . Kandungan Kadar Air dalam suatu
bahan makanan. PT
Gramedia : Jakarta
Soelistyono 1976. Analisis
Bahan Makanan bahan kering pada ternak. A.Hadyana
Pudjaatmaka Ph.D.Erlangga.Jakarta.
Astuti, 2011. Biokimia Umum. Departemen Perindustrian dan Perdagangan:
Bogor
Jarwindo, 2008. Fisiologi Nutrisi. Vol. I. Edisi Ke-4. IPB Press, Bogor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar