METODE PEMERAHAN
ABSTRAK
Sapi perah merupakan salah satu ternak yang produksi utamanya
adalah susu. Usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif
karena masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara ketersediaan dan
permintaan susu. Kebutuhan protein hewani yang berasal dari susu di Indonesia
sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi hanya sekitar 32 % dipenuhi dari produksi
dalam negeri dan sisanya sekitar 68 % harus diimpor. Proses pemerahan
merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena
susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik,
maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Tujuan dari praktikum Metode Pemerahan yaitu untuk mengetahui
tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan
yang dapat dilakukan pemerahan air susu. Materi yang digunakan pada praktikum
Metode Pemerahan yaitu mesin pemerahan dan alat peranga sapi. Metode yang
digunakan pada praktikum Metode Pemerahan yaitu melakukan diskusi. Teknik
Pemerahan dapat terbagi menjadi 2 yaitu teknik pemerahan dengan menggunakan
mesin dan teknik pemerahan secara manual.
Kata Kunci : Sapi Perah,
Anaatomi, Metode Pemerahan, Syarat-Syarat
Pemerahan
PENDAHULUAN
Sapi perah merupakan salah
satu ternak yang produksi utamanya adalah susu. Usaha sapi perah untuk
menghasilkan susu segar sangat prospektif karena masih terdapat kesenjangan
yang cukup besar antara ketersediaan dan permintaan susu. Kebutuhan protein
hewani yang berasal dari susu di Indonesia sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi
hanya sekitar 32 % dipenuhi dari produksi dalam negeri dan sisanya sekitar 68 %
harus diimpor. Perkembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun, salah satunya akibat peningkatan permintaan susu
dan daging. Peningkatan permintaan sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk
dan kesadaran masyarakat terhadap gizi seimbang akan sumber protein (Priska, et.al, 2013).
Proses pemerahan merupakan aspek penting
dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena susu adalah produk utama
dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang
dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Susu sebagai
bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah
berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa
material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau
yang ada. Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika,
dan setelah proses pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus
segera ditangani dengan baik dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk
menghindari kerusakan pada produk susu yang telah diperah.
Pada proses pemerahan dibutuhkan
penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan ternak, demikian
juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik dan benar, tentu
tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu yang telah
diperah. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum Manajemen
Ternak Perah mengenai Metode Pemerahan
TUJUAN DAN
KEGUNAAN
Tujuan dari praktikum Metode Pemerahan
yaitu untuk mengetahui tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak
perah dan teknik pemerahan yang dapat dilakukan pemerahan air susu serta
bagian-bagian mesin perah (Milking Machine).
Kegunaan dari praktikum Metode Pemerahan
yaitu sebagai sumber informasi terhadap mahasiswa maupun masyarakat mengenai
tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan
yang dapat dilakukan pemerahan air susu serta bagian-bagian mesin perah
(Milking Machine).
METODOLOGI
PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah di
laksanakan pada hari senin pukul 15.00 WITA-selesai, bertempat di Laboratorium
Manajemen Ternak Perah dan Laboratorium Manajemen Ternak Potong dan Kerja
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Materi
Praktikum
Materi yang digunakan pada praktikum
Metode Pemerahan yaitu mesin pemerahan dan alat peranga sapi.
Metode Praktiukum
Metode yang digunakan pada praktikum Metode
Pemerahan yaitu melakukan diskusi antara praktikan dan asisten serta melakukan
tanya jawab kepada praktikan megenai metode pemerahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Anatomi, Mekanisme dan Pembentukan Ambing

Sumber : Wikantadi (1978)
Berdasarkan hasil diskusi mengenai anatomi ambing diperoleh hasil
bahwa ambing terdiri dari 4 puting dan 4 kuartir ambing. Satu kuartir ambing
terdiri dari jaringan glandular, saluran susu, lobe dan puting. Jika dilihat
pada satu penampang lobe, terdapat lobus yang menyerupai tulang-tulang pada
daun, terdapat alveol sebagai tempat penyimpanan susu, ada akar-akar lobe yang
disebut milk duck. Milk duck ada dua yaitu primer sebagai saluran darah dan
sekunder sebagai saluran susu. Puting memiliki tiga bagian yaitu yang masuk di
dalam ambing disebut glancistern, bagian yang di luar ambing disebut teat
cistern, dan pembungkus teat cistern disebut teat meatus. Pada pembesaran
lobus, terdapat saluran darah, sel muscle, sel epitel dan alveolus. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sutopo (2001) yang menyatakan bahwa pembagian ambing
menjadi empat bagian meliputi jaringan kelenjar dan sistem saluran yang lebih
mirip dua pohon yang saling berdekatan di antara ranting dan serta dahannya
saling terkait namun masing-masing mempunyai ciri sendiri.
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan, dikatakan bahwa
mekanisme dan pembentukan air susu yaitu di mulai dari hipotalamus mensekresi
hormon GnRH, kemudian GnRH menstimulasi hipofisa anterior yang akan
menghasilkan hormone prolaktin, kemudian hormone prolaktin memerintahkan darah agar
masuk kesaluran darah pada lobus. Setelah itu darah akan diserap oleh sel
muscel yang hanya menyerap protein, kemudian sel epitel lebih menyerap protein
pada darah setelah itu prolaktin bekerja lagi untuk mengubah protein darah
menjadi air susu yang dibawah ke alveolus kemudian air susu akan ditampung di alveoli.
Ketika terjadi rangsangan dari putting oleh pedet ataupun rangsangannya
lainnya, hipotalamus kemudian kembali mensekresi hormone GnRH, kemudian GnRH yang
akan mengstimulasi hipofisa anterior yang untuk menghasilkan hormone oksitosin
yang akan ke milk duct kemudian dari milk duct susu menuju putting dan setelah itu keluarlah
air susu dari putting. Hal ini sesuai dengan pendapat Wikantadi (1978), yang
mengatakan bahwa Lobus anterior hypophyse sangat diperlukan untuk mengatur
pertumbuhan kelenjar susu. Kelenjar mi mempengaruhi sekresi estrogen dan
progesteron oleh ovarium. Disamping itu lobus anterior hypophyse dapat
mempengaruhi kelenjar susu secara langsung dengan sekresi prolactin dan growth hormone
dan secara tak langsung dengan mengeluarkan TSH dan ACTH yang mempengaruhi
sekresi thyroxin dan hormon-hormon cortex adrenal. Prolactin, ACTH, growth hormone, placenta dan corticoid-corticoid
adrenal merangsang pertumbuhan kelenjar susu. Sebaliknya, thyroxin dan cortison
menghambat pertumbuhan kelenjar susu.
Syarat-syarat dan
Persiapan Pemerahan
Berdasarkan hasil
diskusi yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa syarat-syarat dan persiapan
pemerahan yaitu :
1.
Terlebih dahulu kuku peugas
dibersihkan (dipotong) agar ambing sapi tidak terluka pada saat pemerahan
2.
Melaksanakan sanitasi
kandang dengam membersihkan kandang pemerahan
3.
Sanitasi ternak dengan
memandikan ternak terlebih dahulu
4.
Memperthatikan kesehatan ternak
5.
Memperhatikan kebersihan kamar susu
6.
Melaksanakan pemerahan yang teratur
Hal ini sesuai dengan pendapat Firman, (2010) yang mengatakan bahwa sebelum melakukan
pemerahan, pertama kali
yang harus dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan ternak perah yang sedang
laktasi. Pemeriksaan kesehatan ini penting agar susu yang dihasilkan
berkualitas dan tidak mengandung bibit penyakit. Selain ternak perah yang harus
sehat, peternak yang memerah pun harus dalam keadaan sehat karena penyakit dari
manusia ke ternak atau sebaliknya bisa saling menyebarkan satu sama lain. Hal
ini juga didukung oleh pendapat Siregar,
et, al (1996), yang mengatakan bahwa peralatan dalam pemerahan maupun alat penampungan susu
harus terbuat dari bahan yang anti karat, tahan lama, dan mudah dibersihkan.
Bahan atau alat tersebut pada umumnya terbuat dari stainless atau aluminium.
Hal ini juga didukung oleh pendapat Ako (2013), yang mengatakan bahwa persiapan
yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum melakukan proses pemerahan,
khususnya menggunakan tangan ialah menyediakan peralatan, membersihkan kandang
sapi, mengikat dan menenangkan sapi, menyediakan air hangat, mencuci tangan,
melicingkan puting dan merangsang keluarnya air susu
Teknik
Pemerahan Manual
Dari
hasil diskusi yang di peroleh dikatakan bahwa teknik pemerahan manual ada 2 cara
yaitu dengan menggunakan 2 jari dan menggunakan5 jari. Dengan menggunakan 2
jari yaitu Puting diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk kemudian menarik atau mengurut
putting dari pangkal ke kebawah hingga air susu keluar dari puting. Teknik ini dilakukan
pada putting yang kecil dan pada tahap akhir pemerahan dikarenakan jumlah air
susu yang tinggal sedikit
Sedangkan pada
teknik 5 jari yaitu dengan cara penuh
tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini sering dilakukan jika
pemerah merasa lelah, dengan menggunakan teknik 5 jari
kita dapat mengontrol kondisi putting ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat (Syarief dan Harianto, 2011). yang
menyatakan bahwa dengan menggunakan teknik 2 jari puting diletakkan diantara ibu jari dan
telunjuk yang digeserkan dari pangkal puting ke bawah sambil memijat. Dengan
demikian air susu tertekan ke luar melalui lubang puting. Pijatan dikendorkan
lagi sambil menyodok ambing sedikit ke atas, agar air susu di dalam cistern
(rongga susu). Pijatan dan geseran ke bawah diulangi lagi. Cara ini dilakukan hanya untuk
pemerahan penghabisan dan untuk puting yang kecil atau pendek yang sukar
dikerjakan dengan cara lain, sedangkan dengan menggunakan teknik 5 jari cara ini sama
dengan cara penuh tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini
sering dilakukan jika pemerah merasa lelah. Lama-kelamaan bungkul ibu jari menebal lunak dan
tidak menyakiti puting. Teknik ini hanya dilakukan pada sapi yang memiliki
puting pendek.
Mesin
Perah
1.
Gambar Mesin
Perah

Sumber
: Himam, 2008
2.
Keterangan
1. Trolly
2. Cluster
3. Manifold
4. Vacuum
Regulator
5. Vacuum
Gauge
6. Vaccum
nipple
7. Pulsator
8. Pulsator
Adaptor
9. Bucket
25 liter
10. Bucket
Lid
11. Bucket
Lid Gusket
12. Rubber
Handie Cap
13. Rubber
Feet Cap
14. Cluster
Eirm
15. Milk
Tube
16. Single
Pulse Tube
17. Tube
Clip
18. Air
Pulse Clip
19. Vaccum
Unit
20. Pinc
Valve
21. Teat
Cup
22. Shell
23. Liner
24. Short
Pulse Tube
25. Short
Tube Pulse
26. Milk
Claw
27. Milk
Claw Upper Part
28. Vacuum
Inlet
29. Claw
Gasket
30. Bowl
Milk Claw
31. Milk
Out Let
32. Wear
Plug Milk Claw
33. Valve
34. Air
Bleed
3.
Prinsip Kerja
Prinsip kerja
dari mesin ini yaitu menghisap susu dari putting sapi secara otomatis sehingga
kontaminasi bakteri dapat diminimalisir. Menurut Nababan (2008) cara
pengoperasian mesin ini yaitu di ruang pemerahan mengangkat cluster di jeter
cup biarkan tergantung. Ubah krantogel koposisi pemerahan (kiri kebawah),
(kanan ke atas) bila ada susu kolostrum kembalikan posisi keraha yang
berlawanan dengan cepat. Angkat jeter cup sampai tutup terbalik dan putar saklar.
4.
Mekanisme Kerja
Cara kerja pemerahan menggunakan
mesin perah hampir sama dengan pemerahan menggunakan tangan, hanya bedanya
adalah pemerahan dilakukan dengan mesin. Sebelum pemerahan, ambing dibersihkan
dan dirangsang terlebih dahulu menggunakan rabaan tangan, kemudian diperiksa
pancaran pertama air susu dari masing-masing puting. Apabila ada penggumpalan,
bernanah, berdarah dan kelainan yang lain, menandakan puting ataupun ambing
dalam keadaan tidak sehat. Sebaiknya tidak dilakukan pemerahan dengan
menggunakan mesin (Abubakar et. al., 2009). Setalah ambing dipersiapkan
(dibersihkan, dirangsang dan diperiksa), kemudian mesin perah dipasangkan pada
masing-masing puting lalu mesin di jalankan (di “on” kan). Pemerahan berjalan
dan susu yang dihasilkan ditampung didalam ember ataupun tangki penampungan.
Lamanya pemerahan untuk setiap individu sapi kurang lebih selama delapan menit.
Hal ini tergantung pada banyaknya produksi susu yang dihasilkan dan kemampuan
mesin perah. Apabila corong mesin perah pada puting lepas, maka harus segera
dipasang kembali, dan apabila aliran susu mulai sedikit atau habis, maka segera
corong puting harus segera dilepaskan. Penuntasan sisa pemerahan dilakukan
dengan menggunakan tangan. Pembersihan dan disinfektan dilakukan pada
masing-masing puting ketika proses pemerahan telah selesai, hal ini untuk
mencegah infeksi dan radang ambing (mastitis) (Abubakar et. al., 2009).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikumyang telah
dilaksanakan, daoat di Tarik kesimpulan bahwa :
1. Anatomi
ambing bahwa ambing terdiri dari 4 puting dan 4 kuartir ambing. Satu kuartir
ambing terdiri dari jaringan glandular, saluran susu, lobe dan puting.
2. Mekanisme
dan pembentukan air susu yaitu di mulai dari hipotalamus mensekresi hormon
GnRH, kemudian GnRH menstimulasi hipofisa anterior yang akan menghasilkan
hormone prolaktin, kemudian hormone prolaktin memerintahkan darah agar masuk
kesaluran darah pada lobus. Setelah itu darah akan diserap oleh sel muscel yang
hanya menyerap protein, kemudian sel epitel lebih menyerap protein pada darah
setelah itu prolaktin bekerja lagi untuk mengubah protein darah menjadi air
susu yang dibawah ke alveolus kemudian air susu akan ditampung di alveoli.
Ketika terjadi rangsangan dari putting oleh pedet ataupun rangsangannya
lainnya, hipotalamus kemudian kembali mensekresi hormone GnRH, kemudian GnRH
yang akan mengstimulasi hipofisa anterior yang untuk menghasilkan hormone
oksitosin yang akan ke milk duct kemudian dari milk duct susu menuju putting dan setelah itu keluarlah
air susu dari putting.
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar,
C. Sunarko, B. Sutrasno, Siwi S., A. Kumalajati, H. Supriadi, A. Marsudi dan
Budiningsih. 2009. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah. Departemen
Pertanian. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah, Baturraden.
Ako. 2012. Ilmu Ternak Perah. IPB
Press. Bogor.
Himam,
S. 2008. Alat Pemerahan Susu (Milking Machine). Fakultas Peternakan Universitas
Brawijaya, Malang.
Nababan.
2008. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak. Fakultas Peternakan
Universitas Sumatera Utara.
Prihadi,
S. 1997. Tatalaksana dan Produksi Ternak Perah. Universitas
Wangsamangg ala, Yogyakarta.
Sutopo.
2001 Mastitis Pada Sapi Perah. Fakultas Pertanian Peternaka Universitas
Muhammadiyah Malang.
Syarief,
M. Z dan Harianto. 2011. Ternak Perah. C.V. Yasaguna, Jakarta.
Witakandi.
1978. Mekanisme Pembentukan Ambing. Balai Besar Penelitan dan Pengembangan
Pascapanen Pertanian, Bogor.
METODE PEMERAHAN
ABSTRAK
Sapi perah merupakan salah satu ternak yang produksi utamanya
adalah susu. Usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif
karena masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara ketersediaan dan
permintaan susu. Kebutuhan protein hewani yang berasal dari susu di Indonesia
sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi hanya sekitar 32 % dipenuhi dari produksi
dalam negeri dan sisanya sekitar 68 % harus diimpor. Proses pemerahan
merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena
susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik,
maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Tujuan dari praktikum Metode Pemerahan yaitu untuk mengetahui
tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan
yang dapat dilakukan pemerahan air susu. Materi yang digunakan pada praktikum
Metode Pemerahan yaitu mesin pemerahan dan alat peranga sapi. Metode yang
digunakan pada praktikum Metode Pemerahan yaitu melakukan diskusi. Teknik
Pemerahan dapat terbagi menjadi 2 yaitu teknik pemerahan dengan menggunakan
mesin dan teknik pemerahan secara manual.
Kata Kunci : Sapi Perah,
Anaatomi, Metode Pemerahan, Syarat-Syarat
Pemerahan
PENDAHULUAN
Sapi perah merupakan salah
satu ternak yang produksi utamanya adalah susu. Usaha sapi perah untuk
menghasilkan susu segar sangat prospektif karena masih terdapat kesenjangan
yang cukup besar antara ketersediaan dan permintaan susu. Kebutuhan protein
hewani yang berasal dari susu di Indonesia sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi
hanya sekitar 32 % dipenuhi dari produksi dalam negeri dan sisanya sekitar 68 %
harus diimpor. Perkembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia terus
meningkat dari tahun ke tahun, salah satunya akibat peningkatan permintaan susu
dan daging. Peningkatan permintaan sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk
dan kesadaran masyarakat terhadap gizi seimbang akan sumber protein (Priska, et.al, 2013).
Proses pemerahan merupakan aspek penting
dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena susu adalah produk utama
dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang
dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Susu sebagai
bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah
berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa
material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau
yang ada. Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika,
dan setelah proses pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus
segera ditangani dengan baik dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk
menghindari kerusakan pada produk susu yang telah diperah.
Pada proses pemerahan dibutuhkan
penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan ternak, demikian
juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik dan benar, tentu
tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu yang telah
diperah. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum Manajemen
Ternak Perah mengenai Metode Pemerahan
TUJUAN DAN
KEGUNAAN
Tujuan dari praktikum Metode Pemerahan
yaitu untuk mengetahui tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak
perah dan teknik pemerahan yang dapat dilakukan pemerahan air susu serta
bagian-bagian mesin perah (Milking Machine).
Kegunaan dari praktikum Metode Pemerahan
yaitu sebagai sumber informasi terhadap mahasiswa maupun masyarakat mengenai
tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan
yang dapat dilakukan pemerahan air susu serta bagian-bagian mesin perah
(Milking Machine).
METODOLOGI
PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah di
laksanakan pada hari senin pukul 15.00 WITA-selesai, bertempat di Laboratorium
Manajemen Ternak Perah dan Laboratorium Manajemen Ternak Potong dan Kerja
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Materi
Praktikum
Materi yang digunakan pada praktikum
Metode Pemerahan yaitu mesin pemerahan dan alat peranga sapi.
Metode Praktiukum
Metode yang digunakan pada praktikum Metode
Pemerahan yaitu melakukan diskusi antara praktikan dan asisten serta melakukan
tanya jawab kepada praktikan megenai metode pemerahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Anatomi, Mekanisme dan Pembentukan Ambing

Sumber : Wikantadi (1978)
Berdasarkan hasil diskusi mengenai anatomi ambing diperoleh hasil
bahwa ambing terdiri dari 4 puting dan 4 kuartir ambing. Satu kuartir ambing
terdiri dari jaringan glandular, saluran susu, lobe dan puting. Jika dilihat
pada satu penampang lobe, terdapat lobus yang menyerupai tulang-tulang pada
daun, terdapat alveol sebagai tempat penyimpanan susu, ada akar-akar lobe yang
disebut milk duck. Milk duck ada dua yaitu primer sebagai saluran darah dan
sekunder sebagai saluran susu. Puting memiliki tiga bagian yaitu yang masuk di
dalam ambing disebut glancistern, bagian yang di luar ambing disebut teat
cistern, dan pembungkus teat cistern disebut teat meatus. Pada pembesaran
lobus, terdapat saluran darah, sel muscle, sel epitel dan alveolus. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sutopo (2001) yang menyatakan bahwa pembagian ambing
menjadi empat bagian meliputi jaringan kelenjar dan sistem saluran yang lebih
mirip dua pohon yang saling berdekatan di antara ranting dan serta dahannya
saling terkait namun masing-masing mempunyai ciri sendiri.
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan, dikatakan bahwa
mekanisme dan pembentukan air susu yaitu di mulai dari hipotalamus mensekresi
hormon GnRH, kemudian GnRH menstimulasi hipofisa anterior yang akan
menghasilkan hormone prolaktin, kemudian hormone prolaktin memerintahkan darah agar
masuk kesaluran darah pada lobus. Setelah itu darah akan diserap oleh sel
muscel yang hanya menyerap protein, kemudian sel epitel lebih menyerap protein
pada darah setelah itu prolaktin bekerja lagi untuk mengubah protein darah
menjadi air susu yang dibawah ke alveolus kemudian air susu akan ditampung di alveoli.
Ketika terjadi rangsangan dari putting oleh pedet ataupun rangsangannya
lainnya, hipotalamus kemudian kembali mensekresi hormone GnRH, kemudian GnRH yang
akan mengstimulasi hipofisa anterior yang untuk menghasilkan hormone oksitosin
yang akan ke milk duct kemudian dari milk duct susu menuju putting dan setelah itu keluarlah
air susu dari putting. Hal ini sesuai dengan pendapat Wikantadi (1978), yang
mengatakan bahwa Lobus anterior hypophyse sangat diperlukan untuk mengatur
pertumbuhan kelenjar susu. Kelenjar mi mempengaruhi sekresi estrogen dan
progesteron oleh ovarium. Disamping itu lobus anterior hypophyse dapat
mempengaruhi kelenjar susu secara langsung dengan sekresi prolactin dan growth hormone
dan secara tak langsung dengan mengeluarkan TSH dan ACTH yang mempengaruhi
sekresi thyroxin dan hormon-hormon cortex adrenal. Prolactin, ACTH, growth hormone, placenta dan corticoid-corticoid
adrenal merangsang pertumbuhan kelenjar susu. Sebaliknya, thyroxin dan cortison
menghambat pertumbuhan kelenjar susu.
Syarat-syarat dan
Persiapan Pemerahan
Berdasarkan hasil
diskusi yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa syarat-syarat dan persiapan
pemerahan yaitu :
1.
Terlebih dahulu kuku peugas
dibersihkan (dipotong) agar ambing sapi tidak terluka pada saat pemerahan
2.
Melaksanakan sanitasi
kandang dengam membersihkan kandang pemerahan
3.
Sanitasi ternak dengan
memandikan ternak terlebih dahulu
4.
Memperthatikan kesehatan ternak
5.
Memperhatikan kebersihan kamar susu
6.
Melaksanakan pemerahan yang teratur
Hal ini sesuai dengan pendapat Firman, (2010) yang mengatakan bahwa sebelum melakukan
pemerahan, pertama kali
yang harus dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan ternak perah yang sedang
laktasi. Pemeriksaan kesehatan ini penting agar susu yang dihasilkan
berkualitas dan tidak mengandung bibit penyakit. Selain ternak perah yang harus
sehat, peternak yang memerah pun harus dalam keadaan sehat karena penyakit dari
manusia ke ternak atau sebaliknya bisa saling menyebarkan satu sama lain. Hal
ini juga didukung oleh pendapat Siregar,
et, al (1996), yang mengatakan bahwa peralatan dalam pemerahan maupun alat penampungan susu
harus terbuat dari bahan yang anti karat, tahan lama, dan mudah dibersihkan.
Bahan atau alat tersebut pada umumnya terbuat dari stainless atau aluminium.
Hal ini juga didukung oleh pendapat Ako (2013), yang mengatakan bahwa persiapan
yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum melakukan proses pemerahan,
khususnya menggunakan tangan ialah menyediakan peralatan, membersihkan kandang
sapi, mengikat dan menenangkan sapi, menyediakan air hangat, mencuci tangan,
melicingkan puting dan merangsang keluarnya air susu
Teknik
Pemerahan Manual
Dari
hasil diskusi yang di peroleh dikatakan bahwa teknik pemerahan manual ada 2 cara
yaitu dengan menggunakan 2 jari dan menggunakan5 jari. Dengan menggunakan 2
jari yaitu Puting diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk kemudian menarik atau mengurut
putting dari pangkal ke kebawah hingga air susu keluar dari puting. Teknik ini dilakukan
pada putting yang kecil dan pada tahap akhir pemerahan dikarenakan jumlah air
susu yang tinggal sedikit
Sedangkan pada
teknik 5 jari yaitu dengan cara penuh
tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini sering dilakukan jika
pemerah merasa lelah, dengan menggunakan teknik 5 jari
kita dapat mengontrol kondisi putting ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat (Syarief dan Harianto, 2011). yang
menyatakan bahwa dengan menggunakan teknik 2 jari puting diletakkan diantara ibu jari dan
telunjuk yang digeserkan dari pangkal puting ke bawah sambil memijat. Dengan
demikian air susu tertekan ke luar melalui lubang puting. Pijatan dikendorkan
lagi sambil menyodok ambing sedikit ke atas, agar air susu di dalam cistern
(rongga susu). Pijatan dan geseran ke bawah diulangi lagi. Cara ini dilakukan hanya untuk
pemerahan penghabisan dan untuk puting yang kecil atau pendek yang sukar
dikerjakan dengan cara lain, sedangkan dengan menggunakan teknik 5 jari cara ini sama
dengan cara penuh tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini
sering dilakukan jika pemerah merasa lelah. Lama-kelamaan bungkul ibu jari menebal lunak dan
tidak menyakiti puting. Teknik ini hanya dilakukan pada sapi yang memiliki
puting pendek.
Mesin
Perah
1.
Gambar Mesin
Perah
Gambar Mesin
Perah![]() |
Sumber
: Himam, 2008
2.
Keterangan
1. Trolly
2. Cluster
3. Manifold
4. Vacuum
Regulator
5. Vacuum
Gauge
6. Vaccum
nipple
7. Pulsator
8. Pulsator
Adaptor
9. Bucket
25 liter
10. Bucket
Lid
11. Bucket
Lid Gusket
12. Rubber
Handie Cap
13. Rubber
Feet Cap
14. Cluster
Eirm
15. Milk
Tube
16. Single
Pulse Tube
17. Tube
Clip
18. Air
Pulse Clip
19. Vaccum
Unit
20. Pinc
Valve
21. Teat
Cup
22. Shell
23. Liner
24. Short
Pulse Tube
25. Short
Tube Pulse
26. Milk
Claw
27. Milk
Claw Upper Part
28. Vacuum
Inlet
29. Claw
Gasket
30. Bowl
Milk Claw
31. Milk
Out Let
32. Wear
Plug Milk Claw
33. Valve
34. Air
Bleed
Wangsamangg ala, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar