Kamis, 02 Juni 2016

LAPORAN PRAKTIKUM INDIVIDU MANAJEMEN TERNAK PERAH








METODE PEMERAHAN
















ABSTRAK
Sapi perah merupakan salah satu ternak yang produksi utamanya adalah susu. Usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif karena masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara ketersediaan dan permintaan susu. Kebutuhan protein hewani yang berasal dari susu di Indonesia sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi hanya sekitar 32 % dipenuhi dari produksi dalam negeri dan sisanya sekitar 68 % harus diimpor. Proses pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Tujuan dari praktikum Metode Pemerahan yaitu untuk mengetahui tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan yang dapat dilakukan pemerahan air susu. Materi yang digunakan pada praktikum Metode Pemerahan yaitu mesin pemerahan dan alat peranga sapi. Metode yang digunakan pada praktikum Metode Pemerahan yaitu melakukan diskusi. Teknik Pemerahan dapat terbagi menjadi 2 yaitu teknik pemerahan dengan menggunakan mesin dan teknik pemerahan secara manual.

Kata Kunci    : Sapi Perah, Anaatomi, Metode Pemerahan, Syarat-Syarat Pemerahan

PENDAHULUAN
Sapi perah merupakan salah satu ternak yang produksi utamanya adalah susu. Usaha sapi perah untuk menghasilkan susu segar sangat prospektif karena masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara ketersediaan dan permintaan susu. Kebutuhan protein hewani yang berasal dari susu di Indonesia sebesar 5 kg/kapita/tahun, tetapi hanya sekitar 32 % dipenuhi dari produksi dalam negeri dan sisanya sekitar 68 % harus diimpor. Perkembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, salah satunya akibat peningkatan permintaan susu dan daging. Peningkatan permintaan sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat terhadap gizi seimbang akan sumber protein (Priska, et.al, 2013).
Proses pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada. Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu yang telah diperah.
Pada proses pemerahan dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu yang telah diperah. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum Manajemen Ternak Perah mengenai Metode Pemerahan

TUJUAN DAN KEGUNAAN
Tujuan dari praktikum Metode Pemerahan yaitu untuk mengetahui tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan yang dapat dilakukan pemerahan air susu serta bagian-bagian mesin perah (Milking Machine).
Kegunaan dari praktikum Metode Pemerahan yaitu sebagai sumber informasi terhadap mahasiswa maupun masyarakat mengenai tahapan dalam proses pemerahan air susu pada ternak perah dan teknik pemerahan yang dapat dilakukan pemerahan air susu serta bagian-bagian mesin perah (Milking Machine).  

METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat
            Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah di laksanakan pada hari senin pukul 15.00 WITA-selesai, bertempat di Laboratorium Manajemen Ternak Perah dan Laboratorium Manajemen Ternak Potong dan Kerja Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Materi Praktikum
Materi yang digunakan pada praktikum Metode Pemerahan yaitu mesin pemerahan dan alat peranga sapi.
Metode Praktiukum
Metode yang digunakan pada praktikum Metode Pemerahan yaitu melakukan diskusi antara praktikan dan asisten serta melakukan tanya jawab kepada praktikan megenai metode pemerahan.




HASIL DAN PEMBAHASAN
Anatomi, Mekanisme dan Pembentukan Ambing
Sumber  : Wikantadi (1978)
Berdasarkan hasil diskusi mengenai anatomi ambing diperoleh hasil bahwa ambing terdiri dari 4 puting dan 4 kuartir ambing. Satu kuartir ambing terdiri dari jaringan glandular, saluran susu, lobe dan puting. Jika dilihat pada satu penampang lobe, terdapat lobus yang menyerupai tulang-tulang pada daun, terdapat alveol sebagai tempat penyimpanan susu, ada akar-akar lobe yang disebut milk duck. Milk duck ada dua yaitu primer sebagai saluran darah dan sekunder sebagai saluran susu. Puting memiliki tiga bagian yaitu yang masuk di dalam ambing disebut glancistern, bagian yang di luar ambing disebut teat cistern, dan pembungkus teat cistern disebut teat meatus. Pada pembesaran lobus, terdapat saluran darah, sel muscle, sel epitel dan alveolus. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutopo (2001) yang menyatakan bahwa pembagian ambing menjadi empat bagian meliputi jaringan kelenjar dan sistem saluran yang lebih mirip dua pohon yang saling berdekatan di antara ranting dan serta dahannya saling terkait namun masing-masing mempunyai ciri sendiri.
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan, dikatakan bahwa mekanisme dan pembentukan air susu yaitu di mulai dari hipotalamus mensekresi hormon GnRH, kemudian GnRH menstimulasi hipofisa anterior yang akan menghasilkan hormone prolaktin, kemudian hormone prolaktin memerintahkan darah agar masuk kesaluran darah pada lobus. Setelah itu darah akan diserap oleh sel muscel yang hanya menyerap protein, kemudian sel epitel lebih menyerap protein pada darah setelah itu prolaktin bekerja lagi untuk mengubah protein darah menjadi air susu yang dibawah ke alveolus kemudian air susu akan ditampung di alveoli. Ketika terjadi rangsangan dari putting oleh pedet ataupun rangsangannya lainnya, hipotalamus kemudian kembali mensekresi hormone GnRH, kemudian GnRH yang akan mengstimulasi hipofisa anterior yang untuk menghasilkan hormone oksitosin yang akan ke milk duct kemudian dari milk duct  susu menuju putting dan setelah itu keluarlah air susu dari putting. Hal ini sesuai dengan pendapat Wikantadi (1978), yang mengatakan bahwa Lobus anterior hypophyse sangat diperlukan untuk mengatur pertumbuhan kelenjar susu. Kelenjar mi mempengaruhi sekresi estrogen dan progesteron oleh ovarium. Disamping itu lobus anterior hypophyse dapat mempengaruhi kelenjar susu secara langsung dengan sekresi prolactin dan growth hormone dan secara tak langsung dengan mengeluarkan TSH dan ACTH yang mempengaruhi sekresi thyroxin dan hormon-hormon cortex adrenal. Prolactin, ACTH, growth hormone, placenta dan corticoid-corticoid adrenal merangsang pertumbuhan kelenjar susu. Sebaliknya, thyroxin dan cortison menghambat pertumbuhan kelenjar susu.
Syarat-syarat dan Persiapan Pemerahan
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa syarat-syarat dan persiapan pemerahan yaitu :
1.      Terlebih dahulu kuku peugas dibersihkan (dipotong) agar ambing sapi tidak terluka pada saat pemerahan
2.      Melaksanakan sanitasi kandang dengam membersihkan kandang pemerahan
3.      Sanitasi ternak dengan memandikan ternak terlebih dahulu
4.      Memperthatikan kesehatan ternak
5.      Memperhatikan kebersihan kamar susu
6.      Melaksanakan pemerahan yang teratur
Hal ini sesuai dengan pendapat Firman, (2010) yang mengatakan bahwa sebelum melakukan pemerahan, pertama kali yang harus dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan ternak perah yang sedang laktasi. Pemeriksaan kesehatan ini penting agar susu yang dihasilkan berkualitas dan tidak mengandung bibit penyakit. Selain ternak perah yang harus sehat, peternak yang memerah pun harus dalam keadaan sehat karena penyakit dari manusia ke ternak atau sebaliknya bisa saling menyebarkan satu sama lain. Hal ini juga didukung oleh pendapat Siregar, et, al (1996), yang mengatakan bahwa peralatan dalam pemerahan maupun alat penampungan susu harus terbuat dari bahan yang anti karat, tahan lama, dan mudah dibersihkan. Bahan atau alat tersebut pada umumnya terbuat dari stainless atau aluminium. Hal ini juga didukung oleh pendapat Ako (2013), yang mengatakan bahwa persiapan yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum melakukan proses pemerahan, khususnya menggunakan tangan ialah menyediakan peralatan, membersihkan kandang sapi, mengikat dan menenangkan sapi, menyediakan air hangat, mencuci tangan, melicingkan puting dan merangsang keluarnya air susu
Teknik Pemerahan Manual
            Dari hasil diskusi yang di peroleh dikatakan bahwa teknik pemerahan manual ada 2 cara yaitu dengan menggunakan 2 jari dan menggunakan5 jari. Dengan menggunakan 2 jari yaitu Puting diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk kemudian menarik atau mengurut putting dari pangkal ke kebawah hingga air susu keluar dari puting. Teknik ini dilakukan pada putting yang kecil dan pada tahap akhir pemerahan dikarenakan jumlah air susu yang tinggal sedikit
Sedangkan pada teknik 5 jari yaitu dengan cara penuh tangan, tetapi dengan membengkokan ibu jari, cara ini sering dilakukan jika pemerah merasa lelah, dengan menggunakan teknik 5 jari kita dapat mengontrol kondisi putting ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat (Syarief dan Harianto, 2011). yang menyatakan bahwa dengan menggunakan teknik 2 jari puting diletakkan diantara ibu jari dan telunjuk yang digeserkan dari pangkal puting ke bawah sambil memijat. Dengan demikian air susu tertekan ke luar melalui lubang puting. Pijatan dikendorkan lagi sambil menyodok ambing sedikit ke atas, agar air susu di dalam cistern (rongga susu). Pijatan dan geseran ke bawah diulangi lagi. Cara ini dilakukan hanya untuk pemerahan penghabisan dan untuk puting yang kecil atau pendek yang sukar dikerjakan dengan cara lain, sedangkan dengan menggunakan teknik 5 jari cara ini sama dengan cara penuh tangan, tetapi dengan  membengkokan ibu jari, cara ini sering dilakukan jika pemerah merasa lelah. Lama-kelamaan bungkul ibu jari menebal lunak dan tidak menyakiti puting. Teknik  ini hanya dilakukan pada sapi yang memiliki puting pendek. 
Mesin Perah
1.        Gambar Mesin Perah









 












Sumber : Himam, 2008
2.        Keterangan

1.      Trolly
2.      Cluster
3.      Manifold
4.      Vacuum Regulator
5.      Vacuum Gauge
6.      Vaccum nipple
7.      Pulsator
8.      Pulsator Adaptor
9.      Bucket 25 liter
10.  Bucket Lid
11.  Bucket Lid Gusket
12.  Rubber Handie Cap
13.  Rubber Feet Cap
14.  Cluster Eirm
15.  Milk Tube
16.  Single Pulse Tube
17.  Tube Clip
18.  Air Pulse Clip
19.  Vaccum Unit
20.  Pinc Valve
21.  Teat Cup
22.  Shell
23.  Liner
24.  Short Pulse Tube
25.  Short Tube Pulse
26.  Milk Claw
27.  Milk Claw Upper Part
28.  Vacuum Inlet
29.  Claw Gasket
30.  Bowl Milk Claw
31.  Milk Out Let
32.  Wear Plug Milk Claw
33.  Valve
34.  Air Bleed

3.        Prinsip Kerja
Prinsip kerja dari mesin ini yaitu menghisap susu dari putting sapi secara otomatis sehingga kontaminasi bakteri dapat diminimalisir. Menurut Nababan (2008) cara pengoperasian mesin ini yaitu di ruang pemerahan mengangkat cluster di jeter cup biarkan tergantung. Ubah krantogel koposisi pemerahan (kiri kebawah), (kanan ke atas) bila ada susu kolostrum kembalikan posisi keraha yang berlawanan dengan cepat. Angkat jeter cup sampai tutup terbalik  dan putar saklar.
4.        Mekanisme Kerja
            Cara kerja pemerahan menggunakan mesin perah hampir sama dengan pemerahan menggunakan tangan, hanya bedanya adalah pemerahan dilakukan dengan mesin. Sebelum pemerahan, ambing dibersihkan dan dirangsang terlebih dahulu menggunakan rabaan tangan, kemudian diperiksa pancaran pertama air susu dari masing-masing puting. Apabila ada penggumpalan, bernanah, berdarah dan kelainan yang lain, menandakan puting ataupun ambing dalam keadaan tidak sehat. Sebaiknya tidak dilakukan pemerahan dengan menggunakan mesin (Abubakar et. al., 2009). Setalah ambing dipersiapkan (dibersihkan, dirangsang dan diperiksa), kemudian mesin perah dipasangkan pada masing-masing puting lalu mesin di jalankan (di “on” kan). Pemerahan berjalan dan susu yang dihasilkan ditampung didalam ember ataupun tangki penampungan. Lamanya pemerahan untuk setiap individu sapi kurang lebih selama delapan menit. Hal ini tergantung pada banyaknya produksi susu yang dihasilkan dan kemampuan mesin perah. Apabila corong mesin perah pada puting lepas, maka harus segera dipasang kembali, dan apabila aliran susu mulai sedikit atau habis, maka segera corong puting harus segera dilepaskan. Penuntasan sisa pemerahan dilakukan dengan menggunakan tangan. Pembersihan dan disinfektan dilakukan pada masing-masing puting ketika proses pemerahan telah selesai, hal ini untuk mencegah infeksi dan radang ambing (mastitis) (Abubakar et. al., 2009).



KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikumyang telah dilaksanakan, daoat di Tarik kesimpulan bahwa :
1.    Anatomi ambing bahwa ambing terdiri dari 4 puting dan 4 kuartir ambing. Satu kuartir ambing terdiri dari jaringan glandular, saluran susu, lobe dan puting.
2.    Mekanisme dan pembentukan air susu yaitu di mulai dari hipotalamus mensekresi hormon GnRH, kemudian GnRH menstimulasi hipofisa anterior yang akan menghasilkan hormone prolaktin, kemudian hormone prolaktin memerintahkan darah agar masuk kesaluran darah pada lobus. Setelah itu darah akan diserap oleh sel muscel yang hanya menyerap protein, kemudian sel epitel lebih menyerap protein pada darah setelah itu prolaktin bekerja lagi untuk mengubah protein darah menjadi air susu yang dibawah ke alveolus kemudian air susu akan ditampung di alveoli. Ketika terjadi rangsangan dari putting oleh pedet ataupun rangsangannya lainnya, hipotalamus kemudian kembali mensekresi hormone GnRH, kemudian GnRH yang akan mengstimulasi hipofisa anterior yang untuk menghasilkan hormone oksitosin yang akan ke milk duct kemudian dari milk duct  susu menuju putting dan setelah itu keluarlah air susu dari putting.
DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, C. Sunarko, B. Sutrasno, Siwi S., A. Kumalajati, H. Supriadi, A. Marsudi dan Budiningsih. 2009. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah. Departemen Pertanian. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah, Baturraden.

Ako. 2012. Ilmu Ternak Perah. IPB Press. Bogor.

Himam, S. 2008. Alat Pemerahan Susu (Milking Machine). Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.

Nababan. 2008. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Sumatera Utara.

Prihadi, S. 1997. Tatalaksana dan Produksi Ternak Perah. Universitas
Wangsamangg ala, Yogyakarta.

Sutopo. 2001 Mastitis Pada Sapi Perah. Fakultas Pertanian Peternaka Universitas Muhammadiyah Malang.

Syarief, M. Z dan Harianto. 2011. Ternak Perah. C.V. Yasaguna, Jakarta.

Witakandi. 1978. Mekanisme Pembentukan Ambing. Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar