LAPORAN PRAKTIKUM
Reproduksi
dan Inseminasi Buatan
Seleksi
Ternak Jantan Sebagai Pejantan
NAMA
: Tamrin Simbolon
NPM
: E1C010054
KELAS
: B
JURUSAN
PETERNAKAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
BENGKULU
2015
BAB
I
Pendahuluan
1.1. Latar
belakang
IB adalah proses
memasukkan sperma ke dalam saluran reproduksi betina dengan tujuan untuk
membuat betina jadi bunting tanpa perlu terjadi perkawinan alami. Konsep dasar
dari teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi
puluhan milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk
membuahi satu sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya
satu spermatozoon. Potensi terpendam yang dimiliki seekor pejantan sebagai
sumber informasi genetik, apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara efisien
untuk membuahi banyak betina.
Pejantan yang akan
diambil semennya untuk dikoleksi haruslah pejantan yang unggul, dalam artian
memiliki penampilan fisik yang bagus dan prilaku yang menunjukakan bahwasanya
pejantan itu adalah pejantan yang baik. Untuk mengetahui keunggulan seekor
pejantan bisa dilakukan dengan melalui pengamatan langsung dilapangan. Seleksi
pejantan dilaksanakan agar nantinya didapatkan keturunan yang unggul dari hasil
IB yang dilakukan dengan menggunakan semen dari pejantan itu. Jika tidak
dilakukan seleksi dikhawatirkan nantinya keturunan yang dihasilakn tidak sesuai
dengan yang diinginkan, atau inseminasi yang dilakukan tidak berhasil karena
semen yang dipakai bukan semen dari pejantan yang unggul.
1.2. Tujuan
Praktikum ini
dilaksanakan dengan tujuan,melakukan seleksi ternak jantan dari jenis
ruminansia kecil dan besar serta unggas dengan pengamatan langsung secara
visual dilapangan.
BAB
II
Tinjauan
Pustaka
Konsep dasar dari
teknologi ini adalah bahwa seekor pejantan secara alamiah memproduksi puluhan
milyar sel kelamin jantan (spermatozoa) per hari, sedangkan untuk membuahi satu
sel telur (oosit) pada hewan betina diperlukan hanya satuspermatozoon. Potensi
terpendam yang dimiliki seekor pejantan sebagai sumber informasi genetik,
apalagi yang unggul dapat dimanfaatkan secara efisien untuk membuahi banyak
betina (Hafez, 1993).
Penerapan bioteknologi
IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen beku, ternak
betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga pelaksana (inseminator) dan
pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini berhubungan satu dengan yang
lain dan bila salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil IB juga akan
rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal
(Toelihere, Penerapan bioteknologi IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor
utama, yaitu semen beku, ternak betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga
pelaksana (inseminator) dan pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini
berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan
menyebabkan hasil IB juga akan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan
reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).
Seekor pejantan bisa
diakatakan sebagai pejantan yang unggul, dan semennya bisa dikoleksi untuk
program inseminasi buatan dapat dilihat dari performa fisik atau morfologi dari
pejantan itu sendiri, selain itu bisa juga dilihat dari recording atau catatan
performa reproduksi.
BAB III
Metodologi praktikum
3.1. Alat dan bahan
Alat
Alat yang digunakan
dalam praktikum ini adalah :
Tape(alat ukur)
Timbangan badan
Bahan
Bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah:
Sapi jantan
Domba jantan
Kambing jantan
3.2. Langkah kerja
Ternak
jantan dikendalikan dengan baik
Mengamati
bentuk tubuh ternak jantan :proposional, kelengkapan anggota badan
Menimbang
berat badan ternak jantan dan mencatat hasil penimbangan
Mengamati
bentuk dan kelengkapan organ reproduksi eksternal
Mengukur
lingkar scrotum (scrotum circumference) menggunakan pita ukur dan mencatat
hasil pengukuran
Melepas
liarkan ternak jantan dikawanan ternak jantan lainnya , mengamati tingkah laku
ternak jantan , agresivitas , kelainan seksual dsb.
Melepas
liarkan ternak jantan dikawanan ternak betina. Mengamati tingkah laku ternak
jantan: libido, agrevitas dsb..
Mencatat
hasil pengamatan pada lembar kerja.
BAB IV
Hasil dan pembahasan
4.1. Hasil
Hasil yang diperoleh
dalam praktikum adalah sebagai berikut:
Identitas sampel
Sapi
1
Lingkar
scrotum 18 cm
Scrotum
simetris
Tubuh
lengkap
Proposional
Agresif
Sapi
2
Scrotum
tidak simetris
Agresif
Tubuh
lengkap
Proposional
Sapi
3
Scrotum
tidak simetris
Tubuh
lengkap
Tidak
proposional
Jinak/
tidak agresif
Kambing
satu
Scrotum
simetris
Lingkar
scrotum 7 cm
Agresif
Organ
tubuh lengkap
Tidak
proposional
Kambing
2
Scrotum
simetris
Tubuh
tidak proposional
Lingkar
scrotum 6 cm
Belum
memiliki tanduk
Kambig
3
Scrotum
simetris
Lingkar
scrotum 23 cm
Agresif
Organ
tubuh lengkap
Proposional
memiliki tanduk
Domba
1
Scrotum
simetris
Lingkar
scrotum 25 cm
Tubuh
lengkap
Proposional
Tidak
agresif
Warna
putih
Domba
2
Warna
hitam putih
Agresif
Badan
kecil dan kurus
Lingkar
scrotum 17 cm
Tubuh lengkap
Domba
3
Lingkar
scrotum 22 cm
Scrotum
simetris
Agresif
Warna
coklat
Gemuk
Proposional
4.2. Pembahasan
Dilihat dari hasil
praktikum, bangsa sapi untuk pejantan nomor 1 bisa dikatakan sebagai pejantan
yang unggul, karena semua ciri –ciri fisik atau penampilan morfologinya
semuanya terlihat baik. Namun tidak demikian dengan pejantan nomor 2 dan 3,
kedua pejantan ini memiliki penampilan fisik yang kurang mendukung untuk bisa
dijadikan sebagai seekor pejantan karena keduanya memilki scrotum yang tidak
simetris, sedangkan bentuk dan ukuran scrotum menunjukan kemampuan si pejantan
dalam menghasilkan semen.
Untuk bangsa kambing
pejantan nomor 1 dan 2 tidak bisa dijadikan pejantan karena keduanya memilki
ukuran tubuh yang sangat tidak proposional. Keduanya juga memiliki bbetuk dan
ukuran scrotum yang masih sangat jauh dari kata normal. Sedangkan untuk
pejantan nomor 3 dilihat dari penampilan fisiknya dan keagresifannya bisa
dijadikan sebagi pejantan unggulan.
Pada bangsa domba, untuk
pejantan nomor 1 tidak bisa dijadiikan sebagi pejantan karena sikap
keagresifannya kurang. Sedangkan untuk pejantan nomor 2 dan 3 bisa dijadikan
sebagai pejantan karena kedua – duanya memiliki penampilan fisik dan sifat
keagresifan yang sempurna dan tinggi.
BAB V
PENUTUP
5.1 kesimpulan
Dari hasil praktikum
dapat disimpulkan bahwa:
o Seekor
pejantan bisa dijadikan sebagai penjantan yang bisa diambil semennya untuk
dikoleksi harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya memiliki penampilan
fisik atau morfologi yang baik dan bagus.
5.2. Saran
Alangkah
lebih baiknya, jika peralatan praktikum dilengkapi lagi, dan pengamatan yang
dilakukan lebih mendetail lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Hafez, E.S.E. 1993.
Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals.
6th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. pp. 424-439.
Toelihere, M.R. 1985.
Inseminasi Buatan pada Ternak. Edisi ke-2. Angkasa, Bandung. 292 hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar